Chapter Thirty Four
Ayam untuk Bertiga
POV — Kirana Prameswari
Kami semua lolos.
Bukan di hari yang sama.
Damar lebih dulu mendapat kabar bahwa dia diterima magang software berbayar.
Keisha seminggu kemudian lolos tryout dengan nilai yang membuatnya benar-benar punya peluang masuk Kedokteran Hewan.
Aku sendiri mendapat email magang dua hari setelahnya.
Tiga kabar baik.
Tiga alasan untuk makan ayam.
Keisha yang paling heboh.
“Kita jadi beli, kan?”
Damar menatap harga ayam goreng di aplikasi.
“Ada promo.”
“Mar.”
“Hm?”
“Jangan lihat promo terus.”
“Kenapa?”
“Karena hari ini kita boleh senang.”
Dia menatapku.
Keisha ikut menatap.
Damar menghela napas.
“Ya udah.”
Kami tetap pakai promo.
Tentu saja.
Tapi kami membeli satu paket yang sedikit lebih besar dari biasanya.
Saat pesanan datang, Keisha membuka kotak dengan ekspresi seperti menerima penghargaan negara.
“Aku paha.”
“Kenapa langsung klaim?” tanya Damar.
“Karena aku paling muda.”
“Logikanya?”
“Prioritas generasi penerus.”
Aku tertawa.
Kami makan di meja kecil.
Tiga piring.
Tiga gelas.
Ayam hangat.
Tidak ada dekorasi.
Tidak ada lilin.
Tidak ada restoran.
Tapi suasananya terasa seperti perayaan sungguhan.
Keisha mengangkat gelas.
“Untuk kita.”
Damar mengangkat.
Aku ikut.
“Untuk apa?” tanyaku.
Keisha berpikir.
“Untuk nggak mati sejauh ini.”
Damar hampir tersedak.
“Kei.”
“Apa? Jujur.”
Aku tertawa sampai perut sakit.
Akhirnya Damar berkata, “Untuk masa depan.”
Kami bertiga mengangkat gelas lagi.
“Untuk masa depan.”
Kata itu terdengar indah malam itu.
Belum menakutkan.
Belum punya harga.
Cuma kemungkinan.
Setelah makan, Keisha mengeluarkan tiga kertas kecil.
“Apa ini?” tanyaku.
“Target.”
Dia membagikan.
Punyaku kosong.
Punya Damar kosong.
Punya Keisha juga kosong.
“Kita tulis satu hal yang mau dicapai setahun lagi.”
Damar langsung terlihat tidak nyaman.
“Kenapa harus setahun?”
“Karena kalau lima tahun kepanjangan.”
Aku tersenyum.
“Boleh.”
Aku menulis:
Belajar banyak di magang tanpa kehilangan diri sendiri.
Keisha menulis:
Masuk Kedokteran Hewan.
Damar menulis paling lama.
Akhirnya dia membalik kertas.
Aku membaca.
Jadi lebih baik.
Aku tertawa.
“Apaan ini?”
“Apa?”
“Generik.”
“Ya target.”
Keisha memicingkan mata.
“Lebih baik apanya?”
Damar mengangkat bahu.
“Semua.”
Aku menyentuh lengannya.
“Mar.”
“Hm?”
“Target bukan hukuman.”
Dia melihatku.
Aku tahu cara pikirnya.
Lebih baik berarti kerja lebih banyak.
Hasil lebih besar.
Uang lebih aman.
Semua orang lebih terjamin.
Aku mengambil pulpennya.
“Tambah satu.”
“Apa?”
Aku menulis di bawahnya.
Belajar menikmati hidup.
Damar menatap.
Keisha langsung setuju.
“Bagus.”
“Kalian kompak.”
“Benar.”
Dia hampir mencoret.
Aku menahan tangannya.
“Jangan.”
Damar menghela napas.
Akhirnya membiarkan.
Kami menempel tiga kertas itu di sisi kulkas.
Di bawah magnet iklan lama.
Sangat tidak estetik.
Tapi aku suka.
Malam makin larut.
Keisha masuk kamar.
Aku dan Damar duduk di depan rumah.
Sandal hitamku ada di kaki.
Moka tidur dekat pot.
Damar memegang tanganku.
“Senang?” tanyaku.
“Iya.”
“Beneran?”
“Iya.”
Aku menyandarkan kepala.
“Mar.”
“Hm?”
“Kalau nanti kita semua sibuk, jangan takut.”
Dia diam.
“Aku nggak takut.”
“Bohong.”
Damar tidak menyangkal.
“Aku juga takut sedikit,” kataku.
Dia menoleh.
“Apa?”
“Semua berubah.”
“Terus?”
“Terus ya berubah.”
Aku mengangkat bahu.
“Yang penting ngomong.”
Damar menggenggam lebih kuat.
“Ya.”
Aku mencium pipinya.
“Pintar.”
Dia mencium keningku sebagai balasan.
Tidak lagi malu.
Tidak lagi perlu lihat sekitar.
Aku tersenyum.
Damar sekarang jauh lebih berbahaya.
Beberapa hari kemudian, jadwal baru mulai berlaku.
Aku magang dua hari seminggu.
Damar juga.
Keisha semakin banyak belajar.
Kami tidak lagi makan bertiga sesering dulu.
Awalnya aku sedih.
Tapi ketika akhirnya bisa berkumpul lagi Jumat malam, rasanya lebih hangat.
Keisha membawa nilai tryout terbaru.
Damar membawa roti sisa kafe.
Aku membawa capek.
Kami duduk.
Tidak ada yang perlu menjelaskan kenapa minggu ini jarang bertemu.
Kami hanya kembali.
Itu ternyata cukup.
Suatu malam aku datang paling akhir.
Begitu membuka pintu, Keisha berteriak dari dalam.
“Kak Kira, piringnya udah disiapin!”
Aku berhenti.
Damar sedang menaruh lauk.
Di meja ada tiga piring.
Sudah menunggu.
Bukan aku yang mengambil.
Bukan kebetulan.
Disiapkan.
Dadaku mendadak penuh.
Aku melepas sepatu lalu memakai sandal hitam.
Masuk.
Duduk di tempatku.
“Kenapa?” tanya Damar.
Aku menggeleng.
“Nggak.”
Keisha menyipit.
“Wajah Kak Kira.”
Aku tertawa.
“Senang aja.”
Kami makan.
Aku melihat mereka berdua.
Kakak-adik yang dulu hanya punya satu sama lain.
Sekarang memberiku kursi tanpa perlu ditanya.
Aku tidak tahu berapa lama hidup akan tetap sesederhana ini.
Tidak tahu apa yang akan datang.
Tapi malam itu, aku punya satu keyakinan yang terasa kuat.
Aku bukan sedang berkunjung.
Aku pulang.
Dan rumah itu punya tiga piring.
Setelah makan, aku membantu Keisha mengecek formulir pendaftaran. Damar duduk di sebelah sambil membuka laptop magangnya.
Tiga layar.
Tiga jadwal.
Tiga orang yang mulai berjalan ke arah masa depan masing-masing.
Keisha tiba-tiba berkata, “Kalau nanti kita sibuk semua, Jumat tetap makan bareng.”
Damar menoleh.
“Setiap Jumat?”
“Kalau bisa.”
Aku tersenyum.
“Setuju.”
Damar memandang kami berdua.
“Kenapa lihat?”
“Nggak.”
“Wajahmu ngomong.”
Dia akhirnya mengangguk.
“Kalau bisa.”
Keisha langsung menunjuk.
“Jangan ‘kalau bisa’ doang. Usaha.”
Damar menghela napas.
“Usaha.”
Aku tertawa.
Tidak ada satu pun dari kami yang sadar bahwa janji-janji kecil paling terasa justru ketika hidup mulai membuatnya sulit ditepati.
Malam itu kami cuma tahu satu hal.
Kami ingin tetap kembali ke meja yang sama.
Dan untuk sementara, keinginan itu terasa cukup.
Sebelum pulang malam itu, Keisha mengambil foto meja.
Bukan kami.
Cuma tiga piring kosong dan kotak ayam yang sudah habis.
“Buat apa?” tanyaku.
“Dokumentasi.”
“Dokumentasi apa?”
“Entah.”
Dia menyimpan.
Aku ikut memotret.
Damar menggeleng.
“Kalian aneh.”
Aku melihat hasil foto.
Tidak cantik.
Lampunya kuning.
Mejanya penuh noda kecil yang tidak bisa hilang.
Tapi ada sesuatu yang ingin kusimpan.
Mungkin karena hidup sering baru terasa penting setelah berubah.
Aku tidak ingin menunggu kehilangan untuk mengingat bahwa malam ini pernah ada.
Aku kirim foto ke grup kecil kami bertiga.
Keisha menamai grup itu TIGA ORANG WARAS.
Damar langsung mengganti:
DUA ORANG WARAS + KEISHA.
Keisha membalas stiker marah.
Aku tertawa.
Lalu mengganti lagi:
PIRING KETIGA.
Tidak ada yang mengubah setelah itu.
Damar cuma mengirim:
Kenapa?
Aku:
Bagus.
Keisha:
Setuju.
Damar kalah suara.
Nama itu bertahan.
Waktu itu hanya lelucon.
Aku belum tahu betapa tepatnya nama itu untuk kami.
Setelah grup itu dibuat, Jumat malam berubah sedikit.
Bukan jadi kewajiban keras. Kalau salah satu benar-benar tidak bisa, kami tidak memaksa.
Tapi kami mulai menjaga malam itu seperti orang menjaga janji kecil.
Kadang Damar datang terlambat karena shift.
Kadang aku membawa makanan dari tempat magang.
Kadang Keisha sudah terlalu lelah belajar dan cuma duduk sambil menyender ke meja.
Tidak selalu menyenangkan.
Ada malam kami bertiga sama-sama capek dan hampir tidak bicara.
Ternyata itu juga enak.
Tidak semua kebersamaan harus diisi tawa.
Suatu Jumat, aku datang membawa wajah kusut setelah dimarahi supervisor.
Damar tidak bertanya panjang.
Dia cuma menggeser piring ke depanku.
Keisha berkata, “Makan dulu. Baru ngamuk.”
Aku makan.
Lima menit kemudian baru cerita.
Mereka mendengarkan.
Tidak memberi nasihat sebelum diminta.
Aku pulang malam itu sambil sadar bahwa rumah ini bukan cuma tempatku ikut bahagia.
Aku juga mulai membawa hari-hari buruk ke sini.
Dan mereka tetap membuka pintu.
Mungkin itu perbedaan terbesar antara tempat nyaman dan rumah.
Tempat nyaman kita datangi saat sedang baik-baik saja.
Rumah adalah tempat kita berani datang dengan muka jelek, nilai jelek, kabar jelek, lalu tetap diberi piring.
Aku menatap nama grup di ponsel sebelum tidur.
PIRING KETIGA.
Awalnya lucu.
Sekarang terasa seperti sesuatu yang ingin kujaga.
Bukan piringnya.
Ruang yang disediakan di meja.
Ruang untuk pulang.
Ruang untuk capek.
Ruang untuk tidak sempurna.
Dan malam itu aku tertidur dengan keyakinan yang sangat sederhana:
besok boleh berubah.
Asal kami masih tahu cara kembali. Bersama, tanpa harus terburu-buru.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga reading
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga