← Piring Ketiga

Chapter Four

Jangan Goblok

POV — Keisha Alvaro

Kak Damar punya satu kebiasaan buruk yang bahkan lebih menyebalkan daripada menyimpan masalah sendiri.

Dia suka membuat keputusan untukku lalu memberi tahu setelah semuanya selesai.

Aku tahu itu ketika menemukan formulir pendaftaran universitas terlipat di tempat sampah.

Hari itu aku baru pulang sekolah. Kak Damar belum pulang karena mengajar les. Aku hendak membuang plastik bungkus pesanan keripik ketika melihat sudut kertas dengan logo universitas.

Aku menariknya keluar.

Formulir pendaftaran.

Sudah diisi.

Belum dibayar.

Di bagian bawah ada tanggal batas pembayaran tiga hari lagi.

Aku langsung menelepon.

Tidak diangkat.

Aku menelepon lagi.

Tidak diangkat.

Kali ketiga baru tersambung.

“Kenapa?” suara Kak Damar berbisik.

“Di mana?”

“Les.”

“Jam berapa pulang?”

“Nanti.”

“Jam.”

Hening sebentar. “Setengah sembilan.”

“Oke.”

“Ada apa?”

“Nanti.”

Aku memutus telepon.

Rasanya menyenangkan menggunakan kata terkutuk itu kepadanya.

Aku sebenarnya sudah mencurigai rencana Kak Damar sejak beberapa minggu sebelumnya.

Teman-temannya sibuk membahas kampus. Ada yang ikut bimbingan tes. Ada yang datang ke rumah membawa brosur. Setiap kali topik universitas muncul, Kak Damar mendadak punya pekerjaan lain.

Suatu malam aku melihatnya membuka situs pendaftaran di laptop tua kami.

Begitu aku masuk, halaman itu ditutup.

“Porn?” tanyaku.

Dia hampir tersedak teh.

“Bahasamu!”

“Kalau bukan, kenapa ditutup?”

“Lagi baca.”

“Baca apa?”

“Artikel.”

“Judul?”

“Keisha, sana belajar.”

Aku pergi, tapi rasa curiga tidak ikut.

Aku tahu Kak Damar ingin kuliah. Dia tidak pernah bicara banyak soal itu, tetapi aku pernah melihatnya berhenti lama di depan toko komputer. Dia suka mengutak-atik laptop tua kami, memperbaiki Wi-Fi tetangga, dan membuat spreadsheet pesanan keripikku hanya karena katanya buku tulisku “rawan bencana”.

Orang yang tidak punya mimpi tidak akan melihat brosur jurusan Informatika seperti dia melihatnya.

Karena itu tabungan dalam kotak biskuit bukan keputusan spontan.

Setiap kali keuntungan keripik masuk, aku menyisihkan sedikit.

Lima ribu.

Sepuluh ribu.

Dua puluh kalau sedang ramai.

Aku pernah hampir memakai uang itu untuk membeli sepatu baru karena sol sepatuku mulai tipis.

Tidak jadi.

Kak Damar kemudian mengetahui sepatuku rusak dan membelikan yang murah tetapi kuat.

Aku marah karena dia memakai uang.

Dia marah karena aku jalan dengan sepatu rusak.

Kami tidak bicara satu jam.

Lalu makan malam seperti biasa.

Begitulah kami.

Saling menyelamatkan sambil sama-sama kesal karena diselamatkan.

Makanya ketika menemukan formulir itu di tempat sampah, aku tidak cuma marah karena dia mau batal kuliah.

Aku marah karena setelah semua yang kami lakukan bersama, dia masih menganggap masa depannya adalah barang pertama yang boleh dipotong dari anggaran.

Dan saat dia akhirnya duduk di depanku malam itu, aku sudah memutuskan satu hal: untuk sekali ini, keputusan tentang hidup Kak Damar tidak boleh dibuat oleh Kak Damar sendirian.

Jam delapan lewat empat puluh, Kak Damar masuk rumah.

Aku sudah menunggu di meja makan dengan formulir di depan.

Dia berhenti.

Wajah bersalahnya hampir tidak terlihat kalau tidak mengenalnya belasan tahun.

Aku mengenalnya belasan tahun.

“Duduk.”

“Kamu kerasukan wali kelas?”

“Duduk.”

Dia duduk.

Aku mendorong formulir.

“Jelaskan.”

“Nggak ada yang perlu dijelasin.”

“Kenapa dibuang?”

“Nggak jadi daftar.”

“Kenapa?”

“Mau kerja dulu.”

“Berapa lama?”

“Setahun mungkin.”

“Terus?”

“Daftar tahun depan.”

“Bohong.”

Kak Damar menarik napas.

“Kei.”

“Kalau Kakak kerja penuh, uangnya buat apa?”

Dia tidak menjawab.

“Buat aku, kan?”

“Kamu mau masuk SMA.”

“Aku udah masuk SMA.”

“Maksudku biaya ke depan.”

“Terus kuliah Kakak?”

“Bisa nanti.”

“Nanti kapan?”

“Kei.”

“Nanti kapan?”

Dia akhirnya meninggikan suara sedikit. “Aku bilang bisa nanti.”

Dadaku panas.

Bukan karena takut.

Karena marah.

Selama dua tahun, aku melihat kakakku bangun lebih pagi daripada aku dan pulang lebih malam. Aku melihatnya memakai sepatu sampai solnya menipis. Aku melihatnya belajar untuk ujian sambil berdiri di bus. Aku melihatnya pura-pura kenyang.

Dan sekarang dia mau membuang universitas seperti kertas itu karena menganggap hidupku lebih penting daripada hidupnya.

“Tunggu.”

Aku berdiri dan masuk kamar.

Di bawah tumpukan kaus ada kotak biskuit lama.

Kubawa ke meja dan kutaruh di depannya.

“Apa ini?”

“Buka.”

Isinya uang.

Tidak banyak kalau dibandingkan biaya kuliah empat tahun.

Tapi cukup untuk pendaftaran, beberapa kebutuhan awal, dan menyisakan sedikit.

Kak Damar menatap uang itu lama.

“Dari mana?”

“Jualan.”

“Kei.”

“Apa?”

“Ini tabungan kamu.”

“Iya.”

“Buat kamu.”

“Aku yang nabung. Aku yang tentuin buat siapa.”

Dia mendorong kotak itu kembali. “Nggak.”

Aku mendorong lagi.

“Iya.”

“Keisha.”

“Damar.”

Dia menatap tajam.

Aku balas menatap.

“Aku kakaknya.”

“Aku tahu. Dari akta lahir juga kelihatan.”

“Kamu butuh ini nanti.”

“Kakak juga butuh sekarang.”

“Aku bisa kerja.”

“Aku juga bisa jualan.”

“Sekolahmu—”

“Sekolah Kakak juga.”

Dia diam.

Aku maju sedikit.

“Dengerin aku. Kalau Kakak nggak kuliah gara-gara aku, aku berhenti sekolah.”

Mata Kak Damar membesar. “Jangan goblok.”

“Nah.”

“Nah apa?”

“Berarti kita sepakat.”

“Sepakat apa?”

“Jangan goblok.”

Untuk beberapa detik dia hanya menatapku.

Lalu tangannya menutup wajah.

Aku tidak tahu dia sedang kesal atau menahan tertawa.

Ternyata keduanya.

“Kamu nyebelin banget.”

“Turunan.”

“Dari siapa?”

“Kakak.”

Dia menurunkan tangan dan menatap kotak biskuit lagi.

“Aku ganti.”

“Apa?”

“Uangnya. Nanti aku ganti.”

“Nggak perlu.”

“Kei.”

“Kalau mau ganti, lulus.”

Dia diam.

“Terus dapat kerja bagus.”

“Itu doang?”

“Sama beliin aku makanan kucing premium kalau udah kaya.”

Dia mendengus. “Permintaanmu makin lama makin spesifik.”

“Aku punya visi.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, kami membicarakan masa depan tanpa hanya membahas tagihan bulan berikutnya.

Kak Damar menunjukkan jurusan Informatika yang dia incar.

Aku bilang kedengarannya membosankan.

Dia bilang dokter hewan berarti kuliah lebih lama.

Aku menyuruhnya jangan menghitung biaya.

Dia bilang alisnya memang begini.

Aku hampir melempar pulpen.

Tiga hari kemudian, pembayaran pendaftarannya selesai.

Kak Damar mengikuti tes.

Aku menunggu hasilnya lebih tegang daripada dia.

Ketika pengumuman keluar, dia sedang bekerja di kafe.

Aku yang membuka halaman hasil.

Namanya ada.

Damar Alvaro.

Diterima.

Aku menjerit begitu keras sampai kucing belang di belakang rumah kabur.

Aku menelepon Kak Damar.

Dia mengangkat setelah dua kali.

“Kenapa?”

“KAK.”

“Apa?”

“DITERIMA.”

Hening.

“Kak?”

“Serius?”

“Aku bohong soal banyak hal, tapi nggak soal ini.”

Aku bisa mendengar suara mesin kopi dan orang bicara di belakangnya.

Lalu suara Kak Damar berubah.

Lebih pelan.

“Kei.”

“Apa?”

“Makasih.”

Aku langsung ingin menangis.

Jadi tentu saja aku memilih marah.

“Jangan lebay. Cepet pulang. Kita beli ayam.”

“Uangnya?”

“Aku traktir.”

“Nggak usah.”

“Kakak baru diterima kuliah masih pelit.”

Dia tertawa di telepon.

Malamnya kami membeli dua potong ayam goreng dan sebotol minuman dingin.

Meja makan masih sama.

Rumah masih sama.

Tagihan tetap ada.

Kami belum mendadak aman.

Tapi ada sesuatu yang berubah.

Untuk pertama kalinya sejak orangtua kami pergi, masa depan terasa seperti tempat yang benar-benar mungkin kami datangi.

Kak Damar duduk di seberangku dan membagi potongan ayam supaya bagian yang lebih besar ada di piringku.

Aku langsung menukar piring.

“Kei.”

“Apa?”

“Balikin.”

“Nggak.”

“Aku kakaknya.”

“Aku yang traktir.”

Dia tidak punya argumen.

Aku menang lagi.

Setelah makan, kami duduk di teras dengan dua gelas teh.

Jalan depan rumah sudah sepi.

Kak Damar bertanya, “Takut nggak?”

“Apa?”

“Aku kuliah nanti. Jadwal bakal makin berantakan.”

Aku mengangkat bahu.

“Kita udah pernah lebih berantakan.”

Dia tersenyum tipis.

Aku menyenggol lengannya.

“Kak.”

“Hm?”

“Kita berdua aja cukup.”

Kak Damar menoleh.

Aku tidak bermaksud mengatakan kami tidak membutuhkan siapa pun. Aku hanya ingin dia tahu bahwa kalau dunia kembali memutuskan pergi, masih ada satu orang yang tidak akan melakukannya.

Aku.

Dia mengusap rambutku sampai berantakan.

“Iya.”

Aku menepis tangannya.

“Rambutku.”

“Kenapa?”

“Baru disisir.”

“Nggak kelihatan.”

Aku menendang betisnya pelan.

Dia tertawa.

Aku ikut tertawa.

Dua anak yang ditinggalkan orangtuanya.

Dua gelas teh.

Dua piring bekas makan malam masih ada di dalam.

Saat itu aku benar-benar percaya dua sudah cukup.