← Piring Ketiga

Chapter Forty Five

Kopi Tanpa Dinosaurus

POV — Kirana Prameswari

Pertemuan kedua kami setelah enam tahun terjadi di kafe.

Bukan kafe lama.

Tempat itu sudah tutup.

Aku tahu karena pernah mencarinya satu tahun setelah pulang ke kota.

Tidak tahu kenapa.

Mungkin nostalgia.

Damar mengirim pesan tiga hari setelah acara klinik.

Mar: Kamu masih suka kopi susu?

Aku membaca lima kali.

Aku: Masih.

Mar: Besok pulang kantor sempat?

Jantungku langsung kembali menjadi mahasiswa.

Memalukan.

Aku: Jam 6 bisa.

Mar: Ya.

Tidak ada kata date.

Bagus.

Aku belum siap.

Besoknya aku datang pukul enam lewat dua.

Damar sudah ada.

Tentu.

Dia berdiri ketika melihatku.

Lebih dewasa.

Lebih tenang.

Tapi cara tangannya menyentuh gelas ketika gugup masih sama.

Aku duduk.

Di depanku sudah ada kopi susu.

Aku menatap.

“Ini buat aku?”

“Iya.”

“Kenapa tahu pesananku?”

Damar diam.

Aku mengangkat alis.

“Keisha?”

“Nggak.”

“Terus?”

Dia melihat minumannya.

“Masih ingat.”

Dadaku kena.

Enam tahun.

Dia masih ingat aku tidak suka kopi terlalu pahit.

Aku duduk lebih pelan.

“Makasih.”

Kami bicara tentang hal aman.

Kerja.

Keisha.

Kota.

Teman kampus yang sudah menikah.

Bayu yang ternyata punya dua anak.

Sinta yang pindah luar negeri.

Lalu percakapan mulai masuk ke wilayah yang tidak aman.

“Kamu pernah ke kota trainee lagi?” tanya Damar.

“Sering.”

“Suka?”

“Iya.”

“Aku dulu takut kamu nggak balik.”

Aku berhenti.

Dia mengatakannya biasa.

Tidak dramatis.

Jujur.

“Kenapa sekarang bisa bilang?”

Damar tersenyum kecil.

“Latihan enam tahun.”

Aku tertawa.

“Lama.”

“Lumayan.”

Aku menatapnya.

Ada begitu banyak pertanyaan.

Apakah dia pernah pacaran lagi?

Apakah dia masih memikirkan aku?

Apakah sandal hitam itu dibuang?

Pertanyaan terakhir paling bodoh.

Aku memilih yang pertama.

“Kamu...”

Berhenti.

Damar menunggu.

“Pernah pacaran lagi?”

Wajahnya tidak berubah banyak.

“Nggak.”

Dadaku langsung bergerak.

Aku benci.

“Kenapa?”

Dia mengangkat bahu.

“Belum pengin.”

“Enam tahun?”

“Kerja. Kuliah. Hidup.”

Aku hampir bilang alasan lama.

Tapi dia melanjutkan.

“Dan aku nggak mau masuk hubungan kalau masih pakai orang lain buat nutup sesuatu.”

Aku diam.

Itu jawaban yang berbeda.

“Kamu?” tanyanya.

Aku melihat kopi.

“Pernah dekat.”

Damar mengangguk.

“Terus?”

“Nggak jadi.”

“Kenapa?”

Aku tersenyum.

“Bukan kamu alasannya.”

Dia terlihat lega sekaligus sesuatu yang lain.

Aku tertawa.

“Wajahmu.”

“Apa?”

“Nggak.”

Kami kembali ke kopi.

Damar tiba-tiba berkata, “Aku minta maaf.”

Aku tahu tanpa penjelasan.

“Mar.”

“Aku tahu sudah lama.”

“Iya.”

“Aku tetap mau bilang dengan kepala yang lebih benar.”

Aku menunggu.

“Dulu aku pikir melepaskan kamu itu bentuk cinta.”

Suaranya tenang.

“Padahal sebagian besar cuma takut.”

Aku menelan ludah.

“Aku takut kamu lihat aku gagal. Takut kamu harus ikut susah. Takut aku butuh kamu terlalu banyak.”

Aku diam.

“Terus aku bikin semua ketakutan itu jadi keputusan buat kamu.”

Mataku mulai panas.

Aku tidak mau menangis di kafe.

Sial.

Damar melanjutkan.

“Aku nggak minta kamu maafin sekarang.”

“Aku udah maafin dari lama.”

Dia berhenti.

“Beneran?”

“Iya.”

Aku tersenyum kecil.

“Yang belum aku tahu itu apakah aku percaya lagi.”

Damar mengangguk.

Tidak membela diri.

Tidak bilang aku berubah.

Tidak menjual dirinya.

“Oke.”

Satu kata.

Aku hampir menangis justru karena itu.

“Oke aja?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena itu bukan sesuatu yang bisa aku minta.”

Aku melihat lelaki di depanku.

Bukan Damar mahasiswa yang selalu siap mengambil beban.

Masih Damar.

Tapi ada ruang di wajahnya sekarang.

Ruang untuk orang lain punya jawaban berbeda.

Kami duduk sampai kopi habis.

Tidak ada ciuman.

Tidak ada pegangan tangan.

Saat hendak pulang, Damar berkata, “Kira.”

“Hm?”

“Aku boleh chat lagi?”

Aku tersenyum.

“Boleh.”

“Besok?”

Aku tertawa.

“Kamu kayak minta jadwal les.”

“Kebiasaan.”

“Boleh.”

Dia mengangguk.

Kami berpisah.

Di mobil ojek, aku membuka chat.

Ada foto masuk.

Gelas kopiku tadi.

Di permukaan foam ada bentuk yang sangat jelek.

Aku tidak sadar karena terlalu gugup.

Mar: Aku coba bikin dinosaurus.

Aku tertawa keras.

Aku: ITU APA.

Mar: Katanya dinosaurus.

Aku: Enam tahun dan tetap gagal.

Mar: Konsisten.

Aku menutup wajah.

Critical hit.

Masih.

Malam itu aku membuka folder foto lama.

Latte dinosaurus pertama.

Yang bahkan lebih jelek.

Aku menaruh foto baru di sebelahnya.

Aku tidak tahu apakah ini second chance.

Aku belum berani memberi nama.

Tapi untuk pertama kalinya sejak pulang ke kota, masa lalu tidak terasa seperti sesuatu yang hanya boleh dikenang.

Mungkin ada hal-hal yang bisa dibangun ulang.

Bukan dari titik tempat mereka hancur.

Dari dua orang baru yang kebetulan masih mengenali nama lama satu sama lain.

Setelah kopi pertama itu, Damar tidak menghubungiku malamnya.

Aneh.

Dulu aku mungkin gelisah.

Sekarang aku justru menghargai.

Kami baru membuka sesuatu yang lama tertutup.

Tidak harus langsung diisi.

Besok siang pesan datang.

Mar: Kemarin makasih.

Aku: Buat kopinya?

Mar: Buat datang.

Aku berhenti bekerja beberapa detik.

Damar versi dulu jarang menyebut kebutuhan sejelas itu.

Aku: Sama-sama.

Aku hampir menambah aku senang.

Lalu memutuskan jujur.

Aku: Aku juga senang.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada “terus kita apa?”

Hanya hati kecil? Tidak. Damar tetap Damar.

Mar: Ya.

Aku tertawa.

Beberapa minggu kami bertemu sesekali.

Kopi.

Makan siang.

Satu kali menemani Keisha beli peralatan klinik.

Tidak ada physical affection.

Itu batas yang terasa sehat.

Kadang tanganku refleks ingin menarik lengannya.

Aku menahan.

Bukan karena tidak mau.

Karena aku ingin tubuh kami juga belajar bahwa dekat tidak otomatis berarti kembali ke pola lama.

Suatu sore hujan turun ketika kami keluar kantor klien.

Damar membawa payung.

Tentu.

Kami berdiri di bawah satu payung.

Memori datang terlalu cepat.

Kampus.

Bahu basah.

Bagi rata.

Aku melihat payung.

Damar juga.

Dia menggeser ke tengah tanpa perlu diingatkan.

Aku tersenyum.

“Kamu ingat?”

“Apa?”

“Dulu kamu selalu bikin bahu sendiri basah.”

Damar melihat bahunya.

“Bodoh.”

“Lumayan.”

Kami berjalan.

Sedikit hujan kena kami berdua.

Tidak ada yang mengorbankan diri demi kering sempurna.

Simbolisme terlalu jelas sampai aku hampir tertawa.

Damar bertanya, “Kenapa?”

“Nggak.”

“Wajahmu.”

Aku menatap.

“Kei ngajarin kamu semua kalimat aku ya?”

“Enam tahun.”

Kami tertawa.

Di halte ojek aku berkata, “Mar.”

“Hm?”

“Dulu waktu putus, aku marah sama satu hal.”

“Banyak.”

“Ya.”

Aku tersenyum.

“Tapi satu yang paling lama.”

Dia menunggu.

“Kamu bilang membiarkan aku pergi karena aku harus pergi.”

Damar mengangguk pelan.

“Aku benci itu.”

“Aku tahu sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena kamu nggak minta dilepas.”

Dadaku terasa ringan mendengarnya.

“Ya.”

Damar menatap hujan.

“Aku pakai keputusan kamu sebagai bukti bahwa ketakutanku benar.”

Aku diam.

“Kalau kamu sukses jauh dari aku, berarti aku benar pergi dari jalan.”

Dia tertawa pahit.

“Padahal kamu bisa sukses dan tetap sayang aku. Dua hal itu nggak bertentangan.”

Mataku panas.

“Sekarang ngerti?”

“Sekarang.”

“Lambat.”

“Banget.”

Ojekku datang.

Aku hampir pergi.

Lalu berbalik.

“Mar.”

“Hm?”

“Aku nggak menyesal pergi.”

Dia menatap.

“Aku juga nggak.”

Aku terkejut sedikit.

Damar menjelaskan.

“Kalau kamu tinggal, mungkin kita bakal makin buruk.”

Aku mengangguk.

“Aku juga pikir begitu.”

Itu salah satu percakapan paling menyembuhkan yang pernah kami punya.

Bukan karena kami menghapus penyesalan.

Karena kami bisa mengakui perpisahan itu perlu tanpa menjadikannya bukti cinta kami gagal.

Aku pulang dengan hati tenang.

Mungkin second chance yang sehat bukan menganggap putus dulu adalah kesalahan.

Mungkin mengakui bahwa versi kami waktu itu memang belum sanggup.

Dan kalau ada kesempatan baru, ia harus diberikan kepada dua orang yang sekarang.

Bukan kepada kenangan.

Aku pulang sambil menyadari satu hal lain. Damar tidak berusaha membuktikan bahwa dirinya sudah berubah. Dia membiarkan perubahan itu terlihat lewat cara dia mendengar, berhenti, dan menerima jawabanku. Itu jauh lebih meyakinkan daripada seribu janji. Mungkin kepercayaan memang kembali seperti itu: tidak dengan pidato, tapi lewat banyak momen kecil yang tidak lagi menyakitkan. Aku mulai percaya lagi. Pelan-pelan, tanpa janji besar. Lagi.