Chapter Twenty Two
Hari Pertama Punya Pacar
POV — Kirana Prameswari
Hari pertama punya pacar bernama Damar Alvaro ternyata tidak membuat Damar berubah menjadi manusia romantis.
Pukul tujuh lewat dua belas pagi, pesan pertamanya adalah:
Kelas pindah ke 302.
Aku menatap layar sambil tertawa. Bukan selamat pagi. Bukan sudah bangun. Bukan aku kangen. Informasi ruang kelas.
Aku membalas:
Selamat pagi juga, pacar.
Tiga titik muncul.
Pagi.
Aku:
Gitu doang?
Damar:
Kelas pindah ke 302.
Aku menutup wajah dengan bantal.
Menyebalkan.
Tapi ketika sampai kampus, ada susu cokelat di kursiku. Damar duduk di sebelahnya sambil membuka laptop.
“Ini apa?”
“Susu.”
“Aku tahu. Buat siapa?”
Dia menatapku seperti pertanyaanku bodoh.
“Kamu.”
“Kenapa?”
“Pacarku suka.”
Aku membeku.
Damar kembali ke layar.
“Mar.”
“Hm?”
“Kamu barusan bilang apa?”
“Nggak ada.”
“Ulang.”
“Nggak.”
Aku menarik lengan kemejanya.
“Pacarmu siapa?”
Dia menutup mata. Aku tertawa. Telinganya merah.
Aku menang telak.
Setidaknya sampai siang.
Kami makan di kantin. Aku sedang mengeluh soal tugas ketika Damar berkata, “Kamu kalau ngomel lucu.”
Aku berhenti.
“Apa?”
Dia makan seperti tidak baru saja menyerang.
“Mar.”
“Hm?”
“Kamu bilang aku lucu?”
“Katanya tugasnya susah.”
“Jangan alihin.”
Damar melihatku.
“Lucu.”
Sekarang aku yang diam.
Sudut bibirnya naik.
“Kok diem?”
Aku menunjuknya dengan sendok.
“Kamu curang.”
“Kenapa?”
“Kalau nyerang nggak kasih aba-aba.”
Dia tertawa.
Begitulah aku belajar pola baru kami.
Aku menggoda banyak. Damar membalas sedikit. Sekali membalas, aku yang kehilangan kata.
Setelah kelas kami punya dua puluh lima menit sebelum dia kerja. Kami duduk di tangga belakang gedung.
Aku menyandarkan kepala ke bahunya.
Damar langsung kaku.
“Nggak boleh?”
“Boleh.”
“Terus kenapa kayak tiang listrik?”
“Nggak biasa.”
Aku kembali bersandar.
“Biasain.”
Beberapa detik pertama bahunya tegang. Lalu perlahan turun.
Tanganku ada di antara kami. Damar melihat. Tidak menyentuh. Aku tidak memaksa.
Beberapa menit kemudian jarinya menyentuh jariku. Pelan. Lalu menggenggam.
Aku tidak komentar. Damar juga tidak.
Kami duduk begitu sampai alarm ponselnya berbunyi.
“Aku harus pergi.”
“Ya.”
Damar berdiri lalu mengulurkan tangan untuk membantuku bangun.
Setelah berdiri, aku tidak langsung melepas.
“Mar.”
“Hm?”
“Peluk boleh?”
Wajahnya berubah.
“Kalau belum mau nggak apa-apa.”
Damar melihat koridor yang sepi. Lalu membuka tangan sedikit.
Aku langsung masuk.
Pelukan pertama kami canggung. Tanganku melingkar di pinggangnya. Tangan Damar awalnya seperti tidak tahu harus diletakkan di mana, lalu akhirnya berada di punggungku.
Hangat.
Tidak lama.
Aku melepaskan duluan.
“Gimana?”
“Apa?”
“Pelukannya.”
“Normal.”
Aku menatap.
“Normal?”
“Iya.”
Aku mendekat lagi seolah mau memeluk kedua kali. Damar mundur setengah langkah.
Aku tertawa.
“Takut?”
“Aku telat kerja.”
“Alasan.”
“Beneran.”
Malamnya aku mengirim:
Pelukan tadi 6/10.
Balasannya cepat.
Kenapa?
Kurang lama.
Lama.
Besok perbaikan.
Aku menatap layar. Damar Alvaro baru saja menjadwalkan pelukan.
Aku:
Jam berapa?
Damar:
Kirana.
Aku:
Profesional. Perlu kalender.
Damar:
Tidur.
Besoknya dia benar-benar memperbaiki.
Setelah kelas, sebelum berpisah, Damar menarik ujung tasku. Aku menoleh. Dia membuka satu tangan.
Aku masuk sambil tersenyum.
Kali ini tangannya langsung melingkar. Lebih yakin. Lebih lama.
Ketika lepas, aku berkata, “Tujuh setengah.”
“Masih kurang?”
“Biar ada motivasi.”
Dia menggeleng.
Sebelum pergi, dia mengusap puncak kepalaku satu kali.
Aku membeku.
Damar sudah berjalan.
“MAR.”
Dia tidak menoleh. Telinganya merah.
Aku pulang dengan senyum bodoh.
Sore itu aku menyadari Damar tidak berubah menjadi pacar lain hanya karena status kami berubah. Dia masih sibuk, irit kata, dan sering menjawab godaanku dengan tatapan lelah.
Tapi sekarang ada ruang baru.
Aku boleh menyentuh lengannya tanpa bertanya apakah aku terlalu dekat. Dia boleh mencariku tanpa berpura-pura kebetulan. Kami boleh mengatakan kangen, walaupun Damar masih perlu latihan.
Malam berikutnya aku mencoba.
Mar.
Hm?
Aku kangen.
Kemarin ketemu.
Aku langsung mengetik:
SALAH JAWAB.
Tiga titik muncul.
Lama sekali.
Akhirnya:
Aku juga.
Aku berhenti.
Dua kata.
Cukup membuat seluruh omelanku hilang.
Aku:
Nah. Pintar.
Damar:
Jangan dibiasain.
Aku:
Terlambat.
Aku meletakkan ponsel di dada.
Hari pertama punya pacar ternyata tidak dramatis.
Ada kelas. Ada tugas. Ada shift. Ada susu cokelat. Ada pelukan canggung. Ada dua kata aku juga.
Dan aku tidak membutuhkan lebih.
Aku ingin menikmati semuanya satu-satu.
Besok pagi Damar kembali mengirim pesan soal kelas. Kali ini ada tambahan kecil di bawahnya.
Pagi.
Aku tersenyum.
Kemajuan.
Aku membalas dengan foto wajah baru bangun dan tulisan:
Pagi, pacar.
Balasannya lama.
Kirana, hapus.
Kenapa?
Aku jelek?
Bukan.
Terus?
Lama lagi.
Aku menyimpan fotonya.
Aku duduk tegak.
Apa?
Damar:
Jangan mulai.
Aku tertawa keras.
Sekali lagi dia menang dengan satu kalimat.
Dan sekali lagi aku sadar aku sangat menyukai cara orang ini mencintaiku: tidak ramai, tidak sempurna, tapi penuh detail kecil yang selalu terasa dipilih.
Aku tahu perjalanan kami baru mulai. Aku juga tahu Damar masih membawa banyak takut yang tidak hilang hanya karena kami resmi. Tapi hari itu aku tidak ingin menyembuhkan atau mengubahnya. Aku cuma ingin menjadi pacarnya, tertawa bersamanya, dan membiarkan dia belajar bahwa kedekatan tidak selalu berakhir dengan kehilangan.
Siang berikutnya aku sengaja menguji satu hal lain.
“Mar, nanti makan?”
Damar melihat jadwal di ponsel.
“Aku cuma punya dua puluh menit.”
“Ya udah.”
Dia tampak menunggu protes.
Aku memasukkan buku ke tas.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Wajahmu ngomong.”
“Aku kira kamu bakal bilang sebentar banget.”
Aku mengangkat bahu.
“Dua puluh menit sama pacar tetap dua puluh menit sama pacar.”
Damar diam.
Kami membeli nasi bungkus dan makan di bangku dekat gedung. Tidak ada meja. Tidak ada tempat bagus. Damar makan cepat karena terbiasa mengejar waktu.
Aku menyentuh pergelangan tangannya.
“Pelan.”
“Nanti telat.”
“Masih dua belas menit.”
Dia melihat jam, lalu benar-benar memperlambat.
Hal kecil lagi.
Setelah selesai, dia mengumpulkan bungkus makanan kami.
“Kira.”
“Hm?”
“Makasih.”
“Buat apa?”
“Nggak bikin semuanya susah.”
Aku langsung tahu apa yang dia maksud.
Aku menatapnya.
“Mar, aku pacaran sama kamu. Bukan sama versi kamu yang punya uang banyak dan waktu kosong.”
Dia tidak menjawab.
“Kalau aku pengin sesuatu dan kamu nggak bisa, aku bisa ngomong. Kalau aku kecewa, aku juga bisa ngomong.”
“Ya.”
“Jangan tebak-tebak terus.”
“Ya.”
Aku tersenyum.
“Pintar.”
“Kamu ngomong kayak Keisha.”
“Berarti dua perempuan hebat sepakat.”
Damar mendengus.
Alarm ponselnya berbunyi.
Dia berdiri.
Aku ikut.
Kali ini aku tidak meminta peluk.
Aku hanya melambaikan tangan.
Damar berjalan dua langkah.
Berhenti.
Berbalik.
Lalu kembali kepadaku.
“Apa?”
Dia membuka tangan.
Aku tersenyum begitu lebar sampai pipi sakit.
Aku masuk ke pelukannya.
“Ini bonus?”
“Biar nilainya naik.”
Aku tertawa di dadanya.
Ketika lepas, aku berkata, “Delapan.”
Damar menatap tidak percaya.
“Cuma naik setengah?”
“Besok coba lagi.”
Dia menggeleng sambil pergi.
Aku melihat punggungnya.
Itulah yang paling membuatku bahagia.
Bukan pelukannya.
Damar kembali.
Dulu aku yang selalu harus mendekat. Sekarang dia bisa berjalan pergi, berubah pikiran, lalu memilih kembali sendiri.
Aku ingin mengingat versi kecil dari keberanian itu.
Karena mungkin suatu hari kami akan menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada dua puluh menit dan pelukan di koridor.
Untuk sekarang, aku hanya ingin memastikan setiap kali Damar berani kembali, dia menemukan aku tidak sedang menghitung berapa banyak yang kurang.
Aku sedang menghargai apa yang dia bawa.
Malam itu Keisha tiba-tiba mengirim pesan.
Kak Kirana.
Ya?
Kak Damar senyum sendiri. Tolong bertanggung jawab.
Aku tertawa sampai hampir jatuh dari kasur.
Aku:
Tidak menerima komplain setelah barang dibeli.
Keisha:
Barangnya cacat dari awal.
Aku:
Aku suka.
Balasan Keisha tidak langsung datang.
Akhirnya:
Ya udah.
Dua kata sederhana itu membuatku tersenyum berbeda.
Bukan karena aku butuh izin Keisha untuk mencintai Damar.
Tapi karena untuk pertama kalinya adiknya mengakui bahwa aku mungkin benar-benar akan tinggal cukup lama untuk ikut menerima semua kekurangan kakaknya.
Aku menyimpan ponsel.
Hari pertama menjadi pacar Damar ternyata juga berarti pelan-pelan mengenal cara menjadi bagian dari dunia yang sudah dibangun dua bersaudara itu jauh sebelum aku datang.
Aku tidak ingin terburu-buru.
Ada banyak hari di depan.
Setidaknya, aku berharap begitu.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar reading
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga