Chapter Twenty Four
Peluk
POV — Damar Alvaro
Kirana menemukan satu kelemahanku lalu langsung menyalahgunakannya.
Pelukan.
“Mar.”
“Hm?”
“Peluk.”
Kami sedang di perpustakaan.
Aku menatap sekeliling.
“Kirana.”
“Aku capek.”
“Ini perpustakaan.”
“Di luar.”
Lima menit kemudian kami berdiri di tangga darurat.
Kirana membuka tangan.
Aku menatapnya.
“Ini pemerasan.”
“Ya.”
Aku memeluk.
Dia langsung menyandarkan wajah ke dada.
Tanganku sekarang sudah tahu harus ke mana. Punggung. Kadang kepala. Tidak lagi kaku seperti pertama kali.
“Berapa?”
Kirana diam.
“Nilainya.”
“Delapan.”
Aku mendengus.
“Naik setengah doang?”
“Kamu nanya berarti peduli.”
Aku hendak melepas.
Kirana mengencangkan pelukan.
“Belum.”
“Katanya cuma peluk.”
“Ini masih peluk.”
Aku tidak punya argumen.
Beberapa detik kemudian aku sadar aku juga tidak ingin cepat melepas.
Kirana akhirnya mundur.
Wajahnya lebih ringan.
“Terima kasih.”
Aku mengusap rambutnya yang agak berantakan.
Refleks.
Dia langsung diam.
Aku menarik tangan.
“Apa?”
“Nggak.”
“Kok lihat?”
“Senang.”
Jawaban itu membuatku salah tingkah lebih parah daripada godaan.
Setelah itu physical affection masuk ke hubungan kami seperti air.
Pelan, lalu tiba-tiba sudah ada di mana-mana.
Kirana menggandeng lenganku saat berjalan.
Menyandarkan kepala di bus.
Menarik ujung kemeja kalau aku terlalu cepat.
Aku masih jarang memulai.
Tapi tidak lagi membeku.
Suatu hari dia lupa menggandeng karena sibuk membalas pesan.
Aku berjalan dua langkah.
Merasa ada yang kurang.
Tanganku bergerak sendiri mencari tangannya.
Kirana langsung melihat.
Aku hampir melepas.
Dia menggenggam lebih kuat.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Damar yang nyari tangan aku.”
“Jalan.”
“Ini hari bersejarah.”
“Kirana.”
Dia tertawa sepanjang koridor.
Malamnya Keisha tahu entah dari mana.
“Kakak udah pegangan tangan?”
Aku hampir menjatuhkan gelas.
“Kenapa nanya begitu?”
“Berarti udah.”
“Keisha.”
“Tenang. Aku nggak minta detail.”
“Memang nggak ada detail.”
“Bagus.”
Dia sedang memberi makan Moka di belakang rumah.
Kucing belang itu sudah jauh lebih sehat.
“Jangan banyak-banyak.”
“Dia lapar.”
“Kita juga.”
Keisha menatapku.
Aku menghela napas dan mengambil sedikit ikan dari dapur.
“Ini terakhir.”
Keisha tersenyum.
“Kakak kalau sayang emang gampang.”
Kalimat itu membuatku diam.
“Kenapa?”
“Nggak.”
Aku duduk dekat pintu.
Moka makan.
“Namanya Moka,” kata Keisha.
“Siapa yang kasih?”
“Kak Kirana.”
Aku menoleh.
“Kalian chat lagi?”
“Rahasia.”
Aku mulai merasa kehilangan kendali atas dua perempuan dalam hidupku.
Anehnya tidak buruk.
Besoknya Kirana datang membawa foto Moka yang dikirim Keisha.
“Kalian gosip apa?”
“Rahasia.”
Dia menyandarkan kepala ke bahuku.
Aku membiarkan.
Di sela kelas dan kerja, hubungan kami mulai terasa normal.
Kirana tidak meminta hadiah.
Tidak minta pergi ke tempat mahal.
Date kami bisa makan mi, duduk di taman, atau menemaniku membeli plastik untuk Keisha.
Suatu kali aku harus membatalkan rencana karena murid les meminta jadwal tambahan.
Aku menunggu marah.
Kirana hanya berkata, “Aku kecewa, tapi nggak marah.”
Aku berhenti.
“Beda?”
“Beda.”
Dia menatapku.
“Aku boleh kecewa. Tapi aku juga tahu kamu nggak sengaja bikin aku kecewa.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Kalau aku bilang nggak apa-apa padahal kesel, itu juga nggak sehat.”
“Ya.”
“Jadi aku kecewa.”
“Maaf.”
“Diterima.”
Lalu dia tersenyum.
“Gantinya peluk dua kali.”
Aku tertawa.
“Tawar-menawar.”
“Hubungan sehat butuh negosiasi.”
Malam itu aku memikirkan kalimatnya.
Kirana bisa kecewa tanpa pergi.
Bisa kesal tanpa membuat semuanya berakhir.
Konsep yang sederhana untuk orang lain.
Buatku, baru.
Aku tumbuh dengan pengalaman bahwa orang bisa berhenti bertahan.
Jadi setiap kekecewaan terasa seperti ancaman kecil.
Kirana perlahan mengajarkan bahwa kecewa bukan berarti meninggalkan.
Besok kami bertemu lagi.
Aku datang lebih dulu.
Kirana berjalan dari ujung koridor.
Tanpa berpikir, aku membuka satu tangan.
Dia berhenti.
Lalu senyum yang muncul begitu besar sampai aku malu sendiri.
“Ini apa?”
“Katanya dua peluk.”
“Yang kemarin utang satu.”
“Ya udah.”
Dia masuk.
Aku memeluk.
Kali ini tidak kaku.
Tidak melihat sekitar.
Tidak menghitung berapa detik.
Aku hanya memeluk pacarku.
Ketika lepas, Kirana tidak langsung bergerak.
“Mar.”
“Hm?”
“Sekarang sembilan.”
“Pelukannya?”
“Iya.”
“Kenapa belum sepuluh?”
“Biar ada ruang tumbuh.”
Aku tertawa kecil.
“Licik.”
“Romantis.”
Aku hendak pergi ketika dia memegang lenganku.
“Yang kedua?”
Aku lupa.
Kirana tersenyum kemenangan.
Aku menghela napas lalu menariknya kembali.
Pelukan kedua lebih singkat.
Tapi kali ini aku yang memulai.
Kirana membeku satu detik.
Aku langsung tahu dia sadar.
Ketika lepas, pipinya merah.
Akhirnya.
“Kenapa sekarang kamu diem?”
Dia menunjukku.
“Jangan senang.”
“Aku belum ngomong.”
“Wajahmu ngomong.”
Aku tertawa.
Mungkin begini rasanya belajar menjadi nyaman.
Bukan ketika semua rasa gugup hilang.
Tapi ketika rasa gugup tidak lagi membuatku ingin mundur.
Aku masih Damar yang sama.
Masih takut pada banyak hal.
Tapi sekarang, kalau aku ingin memeluk Kirana, aku bisa melakukannya tanpa mencari alasan.
Dan ternyata itu cukup membuat hari biasa terasa berbeda.
Beberapa hari setelah itu, Kirana datang ke kafe menjelang tutup.
Aku sedang mengelap meja.
Dia duduk dekat counter, membaca sesuatu di ponsel.
Begitu pelanggan terakhir pergi, aku mendekat.
“Kamu nunggu?”
“Iya.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Kalau bilang nanti kamu bilang jangan.”
Aku tidak bisa membantah.
“Kamu udah makan?”
“Belum.”
Aku melihat jam.
Hampir sebelas.
Aku masuk ke belakang, mengambil dua roti sisa yang boleh dibawa pegawai.
Kirana menatap.
“Romantis.”
“Gratis.”
“Lebih romantis. Hemat.”
Kami makan di meja kecil dekat jendela.
Kirana menguap dua kali.
“Ngantuk?”
“Sedikit.”
“Pulang.”
“Aku nunggu kamu.”
“Aku udah selesai.”
Dia menyandarkan kepala ke bahuku lagi.
Kali ini aku tidak kaku.
Aku justru menggeser sedikit supaya lebih nyaman.
Kirana langsung membuka satu mata.
“Wah.”
“Apa?”
“Adaptasi.”
Aku menahan senyum.
Dia menutup mata lagi.
Beberapa menit kemudian napasnya lebih tenang.
Aku sadar Kirana hampir tertidur.
Tanganku bergerak ke kepalanya, mengelus rambut pelan.
Tidak ada alasan.
Tidak ada penonton.
Cuma aku ingin.
Kirana tidak membuka mata.
Tapi dia tersenyum.
Saat itu aku mengerti physical affection bukan selalu sesuatu yang harus membuat jantung berlari.
Kadang justru membuat semuanya diam.
Aku suka versi itu.
Sebelum pulang, Kirana memelukku lagi.
Tidak meminta.
Aku yang membuka tangan duluan.
Dia langsung masuk.
“Nah,” katanya.
“Apa?”
“Nilainya naik.”
“Berapa?”
“Sembilan.”
Aku tertawa.
“Kapan sepuluh?”
“Kita lihat performa semester depan.”
Aku menggeleng.
Di halte, busnya terlambat.
Kami bergandengan sambil berdiri.
Kirana memainkan jariku satu-satu.
“Mar.”
“Hm?”
“Kalau nanti aku terlalu manja, bilang.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Biar kamu nggak ngerasa harus nurutin semua.”
Aku diam.
Dia masih ingat masalahku.
“Aku bisa bilang.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Kalau aku minta peluk?”
“Masih aman.”
“Kalau dua?”
“Negosiasi.”
“Kalau lima?”
“Kamu bayar.”
Kirana tertawa.
“Katanya pacaran mahal.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu pernah terasa berat.
Sekarang, dari mulutnya, terdengar seperti lelucon kecil milik kami.
Aku hampir membalas, tapi menahan.
Belum waktunya untuk mengubah arti kalimat itu sepenuhnya.
Bus datang.
Kirana naik.
Aku berdiri sampai bus bergerak.
Ponselku berbunyi.
Makasih pelukannya.
Aku membalas:
Sama-sama.
Lalu, sebelum sempat berpikir terlalu panjang:
Kalau capek, bilang.
Balasannya:
Siap, pacar.
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Aneh.
Dulu aku takut kedekatan akan membuat hidup terasa lebih berat.
Justru sekarang, setelah hari yang panjang, beberapa menit memeluk Kirana membuat tubuhku terasa sedikit lebih ringan.
Mungkin karena untuk pertama kalinya aku tidak selalu menjadi orang yang harus menopang.
Kadang aku juga boleh berdiri diam dan membiarkan seseorang bersandar.
Di perjalanan pulang aku baru sadar satu hal lain: sekarang aku tidak cuma menerima perhatian Kirana, aku mulai mencarinya. Dan ketika menyadari itu, refleks lamaku tidak muncul. Tidak ada dorongan untuk mundur. Hanya rasa hangat kecil karena besok aku tahu ada seseorang yang akan menanyakan kabarku, dan untuk pertama kalinya aku tidak merasa harus membalas dengan sesuatu yang lebih besar. Kehadiran ternyata tidak selalu perlu dibayar. Kadang cukup diterima. Aku masih belum tahu apakah aku akan pernah menjadi orang yang otomatis memeluk tanpa berpikir. Tapi sekarang aku tahu aku ingin belajar. Bukan karena Kirana menuntut, melainkan karena setiap kali dia mendekat, ada bagian dari diriku yang akhirnya berhenti berjaga-jaga.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk reading
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga