← Piring Ketiga

Chapter Eleven

Sedikit Lebih Sering

POV — Kirana Prameswari

Setelah mengakui pada diri sendiri bahwa aku menyukai Damar, ternyata dunia tidak berubah.

Langit tetap biru. Tugas tetap banyak. Dosen tetap suka memberi deadline berdekatan seolah mereka punya grup khusus untuk bersekongkol.

Yang berubah cuma satu.

Aku jadi lebih sadar setiap kali Damar ada.

Dan, mungkin, sedikit lebih sengaja mencari alasan untuk berada dekat dengannya.

Sedikit.

Sangat sedikit.

“Mar.”

“Hm?”

“Kamu makan siang di mana?”

Damar masih melihat layar laptop.

“Kantin.”

“Jam berapa?”

Dia akhirnya menoleh.

“Kenapa?”

“Karena manusia biasanya makan siang di jam makan siang.”

“Kamu nanya tempat.”

“Ya sekarang aku nanya jam.”

Damar menyipit sedikit.

Aku mempertahankan ekspresi biasa.

“Jam dua belas.”

“Oke.”

“Oke apa?”

“Aku ikut.”

Dia menatapku dua detik.

“Teman-temanmu?”

“Mereka punya kehidupan sendiri.”

“Biasanya kamu makan sama Sinta.”

“Dia ada rapat.”

Damar kembali ke layar.

“Ya.”

Aku menahan senyum.

Tidak ada musik romantis.

Tidak ada kemenangan besar.

Cuma satu kata.

Ya.

Tapi anehnya, satu kata dari Damar sering terasa lebih berarti daripada paragraf dari orang lain.

Jam dua belas kami benar-benar makan bersama.

Bukan pertama kali.

Tapi kali ini aku sadar aku sengaja memilih duduk di depannya, bukan kebetulan karena kursi lain penuh.

Damar pesan nasi ayam paling murah.

Aku memperhatikan tanpa komentar.

Dia memperhatikan pesananku juga.

“Pedas?”

Aku melihat sambal di piring.

“Sedikit.”

“Jangan level lima.”

Aku tertawa.

“Kamu masih trauma?”

“Keisha bilang jangan kasih level lima ke orang yang belum tanda surat wasiat.”

“Adikmu lucu.”

“Jangan bilang ke dia.”

“Kenapa?”

“Nanti sombong.”

Aku menyimpan kalimat itu.

Adikmu lucu.

Aku belum benar-benar kenal Keisha, tapi namanya semakin sering muncul dalam percakapan kami.

Dan setiap kali Damar menyebutnya, nada suaranya berubah sedikit. Lebih longgar. Lebih rumah.

Aku suka mendengar versi Damar yang itu.

Setelah makan, aku menemaninya ke perpustakaan.

Harusnya aku pulang ke kos.

Tapi aku tidak punya kelas sampai sore.

Damar duduk di meja pojok yang sama seperti biasa.

Aku duduk di seberang.

Dia mengangkat alis.

“Kamu nggak ada tugas?”

“Ada.”

“Kerjain.”

“Kamu galak.”

“Biar cepat selesai.”

Aku membuka laptop.

Kami bekerja hampir empat puluh menit tanpa bicara.

Anehnya nyaman.

Aku biasanya sulit diam kalau ada orang lain. Dengan Damar, aku bisa.

Kadang aku mengangkat kepala dan menemukan dia sedang mengernyit ke layar.

Kadang dia menyentuh ujung pulpen ke bibir saat berpikir.

Kadang dia memijat leher seolah baru sadar tubuhnya capek.

Aku tidak suka melihat yang terakhir.

“Mar.”

“Hm?”

“Kamu tidur berapa jam semalam?”

“Cukup.”

“Angka.”

Damar diam.

“Mar.”

“Lima.”

Aku menatapnya.

“Lima itu bukan cukup.”

“Bisa.”

“Bisa bukan berarti bagus.”

Dia menutup satu tab.

“Kamu sekarang dokter?”

“Belum.”

“Keisha aja belum.”

Aku tersenyum.

“Aku lebih galak.”

“Mustahil.”

Aku tertawa.

Dia ikut tersenyum.

Aku memandangnya sedikit terlalu lama.

Damar sadar.

“Apa?”

“Nggak.”

“Kamu lihat.”

“Aku punya mata.”

“Itu jawaban aku.”

“Sekarang aku pinjam.”

Damar menggeleng.

Aku kembali ke layar.

Jantungku sedikit lebih cepat dari yang seharusnya.

Sore harinya, sebelum dia pergi kerja, aku berkata, “Mar.”

Dia sudah berdiri.

“Hm?”

“Besok kamu masuk pagi?”

“Iya.”

“Jam tujuh?”

“Iya.”

Aku membuat wajah prihatin.

“Turut berduka.”

“Terima kasih.”

“Aku juga masuk.”

“Ya.”

“Dudukin kursi.”

Damar menatapku.

“Kamu bisa datang duluan.”

“Aku bisa. Tapi aku nggak mau.”

“Kenapa?”

“Karena aku tahu kamu datang duluan.”

Dia menghela napas.

“Ya.”

Aku tersenyum.

Malamnya aku mengirim meme tentang mahasiswa Informatika yang tidur sambil memeluk laptop.

Damar membalas tiga menit kemudian.

Nggak akurat.

Aku mengetik.

Kenapa?

Laptopnya mahal. Takut jatuh.

Aku tertawa sendiri.

Aku kirim lagi.

Besok aku bawain kopi.

Jangan.

Kenapa?

Aku bisa bikin sendiri.

Aku menatap pesan itu.

Tentu saja.

Aku mengetik:

Kalau aku yang mau bawain?

Lama.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Akhirnya:

Ya udah.

Aku tersenyum.

Besok paginya aku datang membawa dua kopi kalengan dari minimarket.

Damar sudah duduk.

Aku meletakkan satu di depannya.

Dia melihatnya.

“Ini bukan kopi buatanmu.”

“Kamu bilang bisa bikin sendiri.”

“Terus?”

“Aku nggak mau kompetisi.”

Damar membuka kalengnya.

“Makasih.”

Aku duduk.

“Mar.”

“Hm?”

“Kamu selalu bilang makasih ke aku sekarang.”

“Harusnya nggak?”

“Nggak. Bagus.”

Dia melirik.

Aku membuka laptop.

Sebenarnya aku ingin bilang sesuatu yang lain.

Aku suka kalau kamu menerima sesuatu dariku.

Tapi terlalu cepat.

Jadi aku diam.

Beberapa hari berikutnya, pola kami berubah sedikit.

Aku lebih sering mengirim pesan tanpa alasan tugas.

Foto makanan.

Keluhan dosen.

Screenshot error.

Damar membalas tidak selalu cepat, tapi selalu membalas.

Kadang pendek.

Kadang mengejutkan.

Aku pernah mengirim:

Capek.

Damar membalas:

Tidur.

Aku:

Nggak bisa. Tugas.

Damar:

Kerjain 30 menit. Habis itu tidur. Kalau belum selesai, kirim ke aku bagian yang susah.

Aku menatap pesan itu lama.

Tidak romantis.

Tapi sangat Damar.

Aku suka.

Sinta akhirnya berkata saat kami sedang beli makan, “Lo udah mulai gerak, ya?”

Aku pura-pura tidak tahu.

“Gerak apa?”

“Ke Damar.”

Aku membuka botol minum.

“Aku cuma sering ngobrol.”

“Sering.”

“Ya.”

“Dan sering makan.”

“Teman makan.”

“Dan duduk sebelahan.”

“Kursinya nyaman.”

Sinta tertawa.

“Kir, lo kalau bohong lucu.”

Aku akhirnya ikut tertawa.

“Oke.”

“Jadi?”

Aku melihat meja tempat Damar biasa duduk dari kejauhan.

Kosong.

Dia belum datang.

Aku mengangkat bahu.

“Aku suka dia.”

Mengatakannya keras-keras terasa berbeda.

Lebih nyata.

Sinta tersenyum.

“Terus?”

“Aku nggak mau buru-buru.”

“Kenapa?”

Aku berpikir sebentar.

“Karena dia kayak orang yang kalau ada orang datang terlalu cepat, refleksnya nutup pintu.”

Sinta menatapku.

“Dalam.”

“Terima kasih.”

“Terus strategi?”

“Ketuk pelan-pelan.”

Sinta tertawa.

Aku juga.

Lima menit kemudian Damar muncul di ujung koridor.

Mataku langsung menemukannya.

Sinta melihat reaksiku.

“Nah.”

“Apa?”

“Ketemu.”

Aku tidak membantah.

Damar berjalan mendekat.

Aku mengangkat tangan.

Dia membalas dengan anggukan kecil.

Dan entah kenapa, itu cukup membuat hariku terasa sedikit lebih baik.

Sore itu aku baru sadar ada perbedaan antara mencari alasan untuk dekat dan benar-benar memperhatikan hidup seseorang.

Damar tidak pernah mengeluh soal jadwalnya, tapi jadwalnya selalu terlihat di sela-sela percakapan. Dia tahu jam bus terakhir. Tahu hari mana kafe biasanya ramai. Tahu kapan murid lesnya ujian. Bahkan tahu hari apa Keisha harus mengirim pesanan paling banyak.

Aku mulai menyadari kalau waktunya bukan ruang kosong yang bisa kuisi semaunya.

Jadi aku mengubah cara mendekat.

Bukan dengan meminta dia tinggal lebih lama.

Aku mulai masuk ke ritmenya.

Kalau dia cuma punya dua puluh menit sebelum shift, aku tidak memaksa makan lama. Kami beli roti di minimarket.

Kalau dia bilang harus pulang cepat karena bantu Keisha packing, aku tidak memasang wajah kecewa.

Suatu kali aku bahkan berkata, “Kirim foto produknya dong. Aku mau lihat.”

Damar menatapku seperti sedang memastikan aku tidak bercanda.

“Keripik?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena aku penasaran.”

Malamnya dia benar-benar mengirim foto.

Kemasan sederhana dengan label merah.

Aku membalas:

Lucu.

Damar:

Itu makanan, bukan gantungan kunci.

Aku:

Aku ngomong kemasannya.

Beberapa detik kemudian:

Keisha yang desain.

Aku langsung tahu dari satu kalimat itu bahwa dia bangga.

Aku mengetik:

Bagus banget.

Damar tidak menjawab hampir lima menit.

Lalu:

Nanti aku bilang.

Aku tersenyum lama.

Aku tidak tahu apakah ini pendekatan yang benar.

Tapi setidaknya aku tidak merasa sedang memaksa diri masuk.

Aku cuma sedang mengetuk.

Pelan-pelan.

Dan setiap kali Damar menjawab, meski cuma satu kata, rasanya pintunya terbuka sedikit lagi.

Sebelum kelas terakhir hari itu, Damar ternyata benar-benar menyisakan kursi.

Tidak pakai tas.

Tidak pakai buku.

Cuma kursi kosong di sebelahnya.

Ada orang yang sempat mau duduk, lalu Damar bilang, “Teman aku di sini.”

Aku mendengarnya dari pintu.

Teman aku.

Dua kata biasa.

Tapi aku duduk sambil menahan senyum hampir lima menit.

Aku tidak menggodanya.

Belum.

Ada momen yang terlalu manis untuk dirusak dengan candaan.