Chapter Forty Six
Tiga Orang Lagi
POV — Keisha Alvaro
Aku tahu mereka mulai chat lagi karena Kak Damar jadi menyebalkan.
Lebih sering senyum ke ponsel.
Déjà vu.
Bedanya sekarang dia tidak menyangkal.
“Kak Kira?”
“Iya.”
Aku hampir jatuh dari kursi.
“Wah.”
“Apa?”
“Dewasa.”
“Kamu dokter, bukan komentator.”
“Bisa dua-duanya.”
Aku tidak ikut campur.
Serius.
Setidaknya tiga hari.
Hari keempat Kak Kira datang ke klinik membawa dokumen CSR.
Alasan profesional.
Tentu.
“Kak.”
“Hm?”
“Kopi sama Kak Damar gimana?”
Dia menatap.
Aku tersenyum manis.
“Kamu katanya nggak ikut campur.”
“Aku cuma nanya kabar.”
“Baik.”
“Terus?”
“Keisha.”
Aku tertawa.
Kami duduk di ruang belakang.
Ada pasien kosong satu jam.
Kak Kira melihat foto Moka yang masih kupajang.
“Masih simpan.”
“Iya.”
Dia menyentuh bingkai.
“Kangen.”
“Aku juga.”
Sunyi sebentar.
Lalu aku berkata, “Kak Damar simpan sandal.”
Kak Kira membeku.
Aku langsung sadar mulutku.
“Kei.”
“Maaf.”
“Sandal apa?”
Aku menutup wajah.
“Ya ampun.”
“Kak.”
“Kak Damar bakal bunuh aku.”
“Kak.”
Aku menyerah.
“Yang hitam.”
Wajah Kak Kira berubah.
“Enam tahun?”
“Di kardus.”
Dia tertawa kecil.
Matanya berkaca.
Aku menyesal dan tidak menyesal.
“Dia nggak pernah bilang.”
“Ya jangan bilang aku yang bilang.”
“Kamu baru aja—”
“Pokoknya.”
Kak Kira tertawa.
Beberapa hari kemudian aku sengaja? Tidak.
Kebetulan? Sedikit.
Mengajak mereka berdua makan setelah klinik tutup.
Damar datang membawa makanan.
Kirana datang membawa minum.
Aku menyediakan tempat.
Tiga orang.
Lagi.
Begitu semua duduk, kami sadar.
Meja klinik kecil.
Tiga kotak makan.
Aku melihat Kak Damar.
Dia melihat Kak Kira.
Kak Kira melihat aku.
Aku berkata, “Jangan dramatis.”
Mereka tertawa.
Bagus.
Kami makan.
Percakapan surprisingly normal.
Aku cerita pasien kucing galak.
Kak Kira cerita kantornya.
Kak Damar cerita bug yang membuat tim begadang.
Lalu Kak Kira berkata, “Kamu masih begadang?”
Aku langsung melihat.
Kak Damar mengangkat tangan.
“Kadang. Bukan tiap hari.”
Aku tertawa.
Kak Kira juga.
“Bagus.”
Ada sesuatu yang hangat.
Bukan kembali ke masa lalu.
Kami semua berbeda.
Aku bukan anak SMA jualan keripik.
Kak Damar bukan mahasiswa yang kerja tiga tempat.
Kak Kira bukan perempuan yang terus mengetuk pintu orang takut.
Tapi ritme bertiga itu masih ada.
Setelah makan aku pura-pura ada urusan di depan.
Memberi mereka waktu.
Bukan ikut campur.
Strategi ruang.
Lima belas menit kemudian aku kembali.
Mereka masih bicara.
Tidak canggung.
Aku senang.
Lalu takut.
Refleks lama.
Kalau mereka mencoba lagi dan gagal lagi, aku juga akan kehilangan sesuatu.
Kak Kira melihat wajahku.
“Kei.”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Nggak.”
Dua suara bersamaan:
“Bohong.”
Aku menatap mereka.
Sial.
Masih kompak.
Aku duduk.
“Aku cuma...”
Sulit.
Kak Damar menunggu.
Kak Kira juga.
“Aku nggak mau kalian balik cuma karena nostalgia.”
Sunyi.
Kak Damar mengangguk.
“Aku juga nggak.”
Kak Kira berkata, “Aku juga.”
“Dan kalau nggak balik juga nggak apa-apa.”
Kalimat itu lebih sulit.
Kak Damar menatapku.
Aku mengusap meja.
“Aku udah gede. Aku nggak butuh keluarga kita persis kayak dulu.”
Kak Kira langsung berkaca.
“Jangan nangis.”
“Aku nggak.”
“Bohong.”
Kami tertawa kecil.
Aku menarik napas.
“Aku cuma mau kalau ada apa-apa, jangan pakai aku jadi alasan.”
Aku melihat kakakku.
Kak Damar tersenyum sedih.
“Ya.”
“Beneran.”
“Beneran.”
Aku melihat Kak Kira.
“Dan Kakak jangan balik karena kasihan.”
Dia langsung menjawab, “Nggak akan.”
Bagus.
Aku merasa lebih ringan.
Malam itu kami berpisah di depan klinik.
Kak Kira naik mobil.
Kak Damar ke motor.
Aku mengunci pintu.
Sebelum pergi, Kak Damar bertanya, “Besok makan?”
Aku menatap.
“Bertiga?”
Dia mengangkat bahu.
“Kalau bisa.”
Aku tersenyum.
“Boleh.”
Kak Kira dari mobil menurunkan kaca.
“Kei!”
“Hm?”
“Besok aku bawa ayam.”
Aku tertawa.
Tradisi lagi.
Besok kami benar-benar makan ayam.
Tiga piring.
Kali ini di ruang belakang klinik.
Tidak ada yang menangis.
Tidak ada yang memberi simbolisme keras.
Kami cuma makan.
Aku melihat dua orang di depanku dan menyadari sesuatu.
Dulu aku ingin mereka bersama karena aku takut kehilangan Kak Kira.
Sekarang aku tidak.
Aku sudah punya hubungan sendiri dengannya.
Apa pun yang terjadi dengan Kak Damar, dia tetap seseorang yang pernah menjadi kakakku dan mungkin selalu sedikit begitu.
Itu membuatku bisa melepaskan hasil.
Kalau mereka balikan, bagus.
Kalau tidak, kami bertiga tetap pernah menjadi keluarga.
Tidak semua keluarga harus punya bentuk yang sama selamanya.
Tapi saat Kak Damar mengambil paha ayam paling kecil, aku menendang kakinya.
“Kak.”
“Apa?”
“Ambil yang gede.”
Kak Kira langsung menatap.
Kak Damar menghela napas.
Lalu menukar.
Aku tersenyum.
Beberapa kebiasaan tetap perlu diawasi.
Dokter atau bukan, aku masih adiknya.
Kak Damar akhirnya tahu aku membocorkan sandal.
Aku sedang menyuntik vaksin ketika ponsel terus bergetar.
Setelah pasien selesai, aku buka.
Kak Damar: Kei.
Aku langsung tahu.
Aku: Apa?
Kak Damar: Sandal.
Sial.
Aku: Sandal apa?
Kak Damar: Jangan pura-pura.
Aku menutup wajah.
Kak Kira pasti tidak sengaja menyebut.
Atau sengaja.
Aku menelepon.
“Kak.”
“Kenapa kamu cerita?”
“Keceplosan.”
“Enam tahun aku simpan.”
“Nah, itu justru aneh.”
“Kei.”
Aku tertawa.
“Marah?”
Hening.
“Malunya.”
Aku tertawa lebih keras.
Kak Damar menutup telepon.
Lima menit kemudian pesan masuk.
Kak Damar: Jangan cerita yang lain.
Aku:
Aku: Banyak yang lain?
Tidak dibalas.
Aku puas.
Tapi momen lucu itu membuatku sadar sesuatu.
Kak Damar sekarang bisa malu pada sentimentalitasnya.
Dulu dia mungkin akan marah karena merasa rahasia terbuka.
Perasaan tidak lagi ancaman baginya.
Beberapa minggu setelah makan bertiga, aku melihat mereka mulai menemukan ritme sendiri.
Aku tidak lagi tahu semua detail.
Bagus.
Kak Damar kadang bilang, “Makan sama Kirana.”
Bukan “ada urusan.”
Kemajuan yang sangat terlambat.
Kak Kira kadang datang ke klinik lalu berkata, “Nanti ketemu Damar.”
Tidak ada kode.
Mereka tidak resmi.
Tapi mereka juga tidak bersembunyi dari kenyataan bahwa sedang saling mengenal lagi.
Aku menjaga satu aturan.
Tidak pernah bertanya “kapan balikan?”
Pertanyaan itu menekan.
Aku tahu karena semua orang bertanya kapan aku buka klinik sendiri dan aku ingin melempar stetoskop.
Suatu malam Kak Damar duduk di ruang belakang setelah klinik tutup.
“Kak.”
“Hm?”
“Takut?”
Dia tahu maksudku.
“Iya.”
“Bagus.”
Dia menatap.
Aku tertawa.
“Maaf. Kebiasaan Kak Kira.”
Kak Damar tersenyum.
“Aku takut kalau kami coba lagi, aku bikin salah yang sama.”
“Bisa.”
Dia menatap tajam.
“Apa?”
“Ya bisa.”
Aku mengangkat bahu.
“Orang bisa regress.”
“Terus?”
“Bedanya sekarang kalau Kakak mulai aneh, aku sama Kak Kira bisa ngomong.”
Aku berhenti.
“Dan Kakak harus denger.”
Dia mengangguk.
“Ya.”
“Kak.”
“Hm?”
“Dulu aku juga bikin salah.”
“Apa?”
“Aku terlalu ikut hubungan kalian.”
“Kamu anak kecil.”
“Aku udah SMA.”
“Masih kecil.”
Aku mendengus.
“Aku pakai Kak Kira sebagai alat buat maksa Kakak berubah.”
Damar diam.
“Aku waktu itu takut.”
“Semua takut.”
“Ya.”
Aku melihat meja.
“Kalau sekarang kalian nggak jadi, aku nggak akan marah.”
Kak Damar menatap.
“Beneran?”
“Sedih mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena lucu.”
“Kamu nggak waras.”
Aku tertawa.
“Tapi aku nggak akan anggap keluarga gagal.”
Dia diam lama.
“Makasih.”
Aku mengangguk.
Itu mungkin hal terakhir yang perlu kulepaskan.
Gagasan bahwa kebahagiaan mereka adalah tanggung jawabku.
Aku dokter hewan.
Bukan terapis hubungan dua orang keras kepala.
Walau jujur, pasien kucing galak kadang lebih mudah.
Sebelum pulang malam itu, aku melihat tiga kotak makan kosong di meja klinik. Aku tidak memotret. Tidak perlu. Dulu aku takut harus menyimpan bukti setiap kali kami bertiga lengkap karena kebahagiaan terasa rapuh. Sekarang aku tahu satu pertemuan tidak perlu dijadikan jimat. Kalau hubungan ini sehat, kami akan punya kesempatan lain. Kalau tidak, kenangan hari ini tetap tidak menjadi sia-sia. Dan kali ini, aku tidak takut menunggu. Apa pun hasil akhirnya nanti, aku ingin tiga orang ini bergerak karena pilihan masing-masing, bukan karena rasa takut kehilangan satu sama lain.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi reading
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga