← Kakak Sudah Makan

Chapter Nine

Pekerjaan Orang Tua

POV: Damar

Aku menulis Wiraswasta lebih dulu.

Bukan di formulirnya. Di kertas buram, di halaman belakang buku tulis Alina yang masih kosong, karena aku sudah belajar dari surat pengunduran diri itu bahwa aku tidak boleh menulis langsung.

Wiraswasta.

Kata itu enak dilihat. Kata itu punya tiga suku kata dan huruf-huruf yang berdiri tegak dan tidak menuntut penjelasan apa pun. Wiraswasta bisa berarti orang yang punya toko. Bisa berarti orang yang punya bengkel. Bisa berarti hampir semua orang, dan itulah gunanya.

Aku menatapnya beberapa saat.

Lalu aku menulis di bawahnya: Karyawan Swasta.

Itu juga tidak bohong-bohong amat. Aku dibayar. Yang membayarku adalah orang, dan orang itu swasta.

Aku menulis yang ketiga: Buruh.

Yang keempat: Buruh angkut.

Empat kata itu berjajar di halaman belakang buku tulis anak kelas tiga SD, di petak nomor empat, jam sepuluh malam.

Aku duduk memandanginya cukup lama.

Ini yang aku pikirkan, dan aku tidak tahu apakah ini pemikiran yang benar; aku tujuh belas tahun dan aku tidak punya siapa-siapa untuk kutanyai.

Kalau aku menulis Wiraswasta, tidak akan ada yang tahu. Tidak Bu Hesti, tidak dinas, tidak siapa pun. Berkas itu akan masuk ke lemari dan tidak dibuka lagi selama enam tahun.

Tapi berkasnya akan diisi ulang tahun depan. Dan tahun depannya. Dan waktu Alina masuk SMP, dan waktu dia masuk SMA. Dan setiap kali aku menulis Wiraswasta, aku sedang mengajari satu hal kepada anak itu: bahwa yang dikerjakan keluarganya adalah sesuatu yang perlu dibungkus dulu sebelum disebutkan.

Kalau dia belajar itu di umur delapan, dia akan membawanya sampai dua puluh delapan.

Aku tidak ingin adikku besar dengan rasa malu yang aku sendiri yang ajarkan.

Jadi aku mengambil formulirnya, dan di kolom Pekerjaan Orang Tua/Wali, aku menulis dengan huruf yang jelas dan lurus:

Buruh angkut pasar.

Aku menulisnya rapi, seperti kebiasaanku sekarang, dan aku menutup mapnya, dan aku tidur di tikar dengan perasaan bahwa aku baru saja melakukan sesuatu yang benar.

Aku tidak menyesalinya. Bahkan sesudahnya, aku tidak menyesalinya.

Tapi kalau aku boleh mengubah satu hal dari sepuluh tahun itu — satu saja, satu hari, satu keputusan kecil — aku akan kembali ke malam itu, ke petak nomor empat, jam sepuluh malam, dan aku akan menanyakan satu pertanyaan tambahan kepada diriku sendiri:

Nanti dibacanya di mana?


Alina pulang hari Rabu dengan wajah yang sedikit berbeda.

Aku tidak langsung menyadarinya. Dia tetap bicara — Alina selalu bicara — tapi urutannya salah. Biasanya dia mulai dari yang paling seru dan menurun. Hari itu dia mulai dari makan siang.

“Nasinya di kulkas?”

“Nggak ada kulkas, Lin.”

“Oh iya.” Dia menaruh tasnya. “Di tudung?”

“Di tudung.”

Dia makan. Dia bercerita soal Sinta yang tempat pensilnya patah engselnya. Dia bercerita soal ulangan IPA hari Jumat. Dia bercerita soal kucing di depan gerbang.

Lalu, di tengah kalimat tentang kucing itu, dia berhenti dan bertanya:

“Ayah, buruh angkut itu apa?”

Aku sedang mencuci gelas. Aku ingat itu. Aku ingat tanganku di bawah air keran dan aku ingat aku tidak mematikannya.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Nanya aja.”

“Buruh angkut itu orang yang ngangkut barang. Kayak Ayah, di pasar. Barang dari truk diangkat, dibawa ke tempat jualannya.”

“Berat?”

“Lumayan.”

“Bayarannya per barang?”

“Iya. Per keranjang.”

Alina mengangguk. Dia mengaduk nasinya dengan sendok tapi tidak memasukkannya ke mulut.

“Lin.”

“Hm?”

“Tadi ada apa di sekolah?”

Dan dia bercerita. Dia bercerita dengan gembira, karena dia memang gembira, dan itu bagian yang paling tidak bisa kutanggung.

Bu Guru membagikan formulir yang sudah dikumpulkan untuk dicek ulang. Ada beberapa yang isiannya salah kolom. Untuk mempercepat, Bu Guru menyuruh anak-anak membacakan isian mereka satu per satu dari bangku masing-masing sementara beliau mencentang di daftar.

Nama ayah. Nama ibu. Pekerjaan orang tua.

Satu per satu, dua puluh delapan anak.

Wiraswasta. Pegawai negeri. Karyawan swasta. Wiraswasta. Petani. Wiraswasta. Guru. Karyawan swasta.

Lalu giliran bangku ketiga dari belakang.

“Terus aku bacain,” kata Alina, dengan mulut penuh. “Buruh angkut pasar.”

“Terus?”

“Terus ada yang ketawa.”

Aku mematikan kerannya.

“Siapa?”

“Nggak tahu. Di belakang.” Dia mengangkat bahu. “Terus ada yang bilang ’kuli’ terus ketawa lagi. Terus Bu Guru marah, terus mereka diem.”

“Terus kamu?”

“Aku duduk.”

Alina menyendok nasinya dan memasukkannya ke mulut, dan mengunyah, dan menelan.

Lalu dia berkata, dengan nada yang sangat biasa, seperti sedang mengoreksi jawaban ulangan:

“Aku bingung, sih.”

“Bingung kenapa?”

“Kenapa lucu.”

Dia menatapku. Betulan menatap, dengan dahi yang berkerut, dengan kesungguhan penuh seorang anak delapan tahun yang sedang menghadapi soal yang tidak ada di buku.

“Kan itu kerja,” katanya. “Kerja itu bagus. Kan?”

Aku berdiri di dapur selebar satu setengah meter itu, dengan tangan basah, dan aku tidak bisa bicara.

“Iya,” kataku akhirnya. “Bagus.”

“Ya kan.” Dia kembali ke nasinya, puas, kasusnya selesai. “Makanya aku bingung.”


Dia tidur jam sembilan.

Aku duduk di tikar dan aku tidak menghitung uang malam itu. Aku cuma duduk.

Kanaya keluar dari kamar sekitar setengah sepuluh, dengan buku dan pulpen, dan duduk di lantai di dekat pintu di mana lampunya paling terang. Dia belajar di situ setiap malam sejak kami pindah.

Dia tidak bicara. Aku juga tidak.

Sepuluh menit. Lima belas.

“Kakak.”

“Hm.”

“Aku dengar tadi.”

Aku menoleh. Dia tidak mengangkat kepalanya dari buku.

“Yang mana?”

“Yang Alina cerita.”

Aku mengangguk pelan, meskipun dia tidak melihat.

“Kakak salah nulis nggak?” tanyaku.

Bolpoin Kanaya berhenti.

Dia mengangkat kepalanya. Dan ini yang aku ingat sampai sekarang, sepuluh tahun kemudian, dengan jelas seperti kejadiannya baru kemarin: anak dua belas tahun itu menatapku dengan ekspresi yang sama sekali tidak cocok dengan umurnya, dan menjawab tanpa ragu satu detik pun.

“Nggak.”

“Kalau Kakak tulis wiraswasta, nggak ada yang—“

“Nggak, Kakak.” Dia menutup bukunya. “Kalau Kakak tulis wiraswasta, terus suatu hari ada yang tanya wiraswasta apa, Alina harus bohong. Terus dia harus inget bohongnya. Terus tahun depan dia harus bohong yang sama.”

Dia mengatakannya dengan datar, seperti membacakan aturan yang sudah tertulis di suatu tempat.

“Lebih capek,” katanya.

Aku hampir tertawa. Bukan karena lucu.

“Kamu belajar itu dari mana?”

“Dari Ibu.”

Kami diam.

Lampu di ruang depan cuma satu, lima watt, dan cahayanya kuning dan sedikit bergoyang kalau ada yang menyalakan pompa air di pintu nomor dua.

“Kakak,” katanya lagi.

“Hm.”

“Yang ketawa itu tadi anak kelas tiga.”

“Iya.”

“Umurnya sembilan.”

“Iya.”

Kanaya menatap pintu.

“Yang ngajarin mereka ketawa bukan mereka,” katanya.

Lalu dia membuka bukunya lagi dan melanjutkan belajar, dan tidak bicara apa-apa lagi sampai jam sebelas.

Aku berbaring di tikar dan menatap langit-langit dan berpikir bahwa aku baru saja dihibur, dengan sangat efektif, oleh seorang anak yang tidak dapat mencapai keran tanpa bangku plastik.

Dan aku juga berpikir — dan ini yang membuatku tidak tidur sampai jam satu — bahwa dua bulan lalu anak itu belum bisa berpikir seperti itu.

Dua bulan lalu dia masih anak-anak.

Aku tidak tahu di hari yang mana persisnya itu berubah. Aku bahkan tidak tahu apakah ada satu hari, atau apakah itu terjadi sedikit demi sedikit, setiap malam, di lantai dekat pintu, sementara aku sedang di pasar mengangkat keranjang keempat puluh satu.

Yang kutahu cuma: aku tidak melihatnya terjadi.

Dan aku tidak akan bisa mengembalikannya.