Chapter Thirty Two
Sekrup
POV: Damar
Kacamataku dua puluh lima ribu, dibeli di pasar malam tiga tahun lalu, di lapak yang menjual sepuluh model dengan tiga pilihan ketebalan.
Cara membelinya: ambil satu, coba, baca tulisan di kardus yang digantung penjualnya, kalau jelas berarti cocok.
Aku mencoba tujuh sebelum ketemu.
Aku tidak pernah ke optik. Aku sudah menghitungnya dulu — periksa mata di optik gratis kalau beli kacamatanya di sana, dan kacamatanya paling murah tiga ratus ribu, dan itu tiga ratus ribu untuk sesuatu yang fungsinya sudah bisa didapat dengan dua puluh lima.
Yang aku butuhkan cuma untuk dekat. Nota, gambar kerja, angka kecil.
Untuk jauh aku masih bagus. Aku masih bisa membaca plat nomor dari seberang jalan.
Gagang kanannya patah tahun lalu di sambungan engselnya. Aku mengikatnya dengan benang jahit — benang dari kotak jahit Mbak Laras, yang masih ada, yang sekarang dipakai Kanaya untuk menjahit kancing.
Aku melilitnya delapan belas kali dan menyimpulnya dua kali.
Kalau lilitannya kendur, aku ganti. Tiga bulan sekali.
Rumah keluarga Wirawan di Griya Asri, blok C, nomor sebelas.
Mas Haryo yang pegang. Aku ikut sebagai tukang, seperti biasa, tapi Mas Haryo menyuruhku yang membaca gambar karena dia bilang matanya sudah tidak bisa membaca huruf sekecil itu dan aku sudah punya kacamata.
Jadi selama tiga minggu, aku yang berdiri di dekat Eliza setiap pagi jam delapan sambil memegang gambar kerja.
Aku ingin mencatat bahwa ini kebetulan.
Aku tidak mengaturnya. Mas Haryo yang mengatur, dan Mas Haryo mengaturnya karena matanya memang sudah tidak bisa, dan aku baru menyadari bertahun-tahun kemudian bahwa Mas Haryo bisa membaca label semen dari jarak dua meter tanpa masalah sama sekali.
Hari Rabu, minggu ketiga, jam sembilan pagi.
Kami membahas kamar mandi. Bagian yang paling rumit karena lantainya harus turun tiga sentimeter dan pintunya harus dilebarkan supaya muat tongkat, dan pipa pembuangannya harus pindah.
Aku membuka gambarnya di atas tumpukan bata.
Aku mengeluarkan kacamata dari saku dada.
Dan gagangnya, yang benangnya sudah kendur sejak Senin dan belum sempat kuganti, lepas begitu aku membukanya.
Lensanya jatuh ke bata.
Tidak pecah. Bata itu masih ada pasirnya, jadi mendarat lunak.
“Aduh,” kata Eliza.
“Nggak apa-apa.”
Aku memungutnya. Aku meniupnya. Aku mulai melilitkan benangnya kembali dengan jari, di tempat, sambil berdiri, karena aku sudah melakukan itu mungkin dua belas kali dan tanganku hafal.
Dan waktu aku mengangkat kepalaku untuk melanjutkan, Eliza sedang menatapku.
Bukan menatap kacamatanya.
Menatap aku.
“Kenapa?”
“Nggak,” katanya. “Lanjut aja.”
Aku melanjutkan.
Kami membahas kamar mandi selama empat puluh menit dan aku memegang kacamata itu di tangan sepanjang waktu karena lilitannya belum jadi.
Hari Kamis, jam delapan pagi, dia datang membawa kotak kecil.
Bukan kotak kado. Kotak plastik bening, seukuran telapak tangan, dengan sekat-sekat di dalamnya.
Isinya sekrup. Puluhan. Berbagai ukuran.
“Sini kacamatanya.”
“Liz—“
“Sini.”
Aku memberikannya.
Dia duduk di tumpukan bata yang sama, meletakkan kotak itu di pahanya, dan mengeluarkan obeng.
Obeng betulan. Kecil, presisi, yang gagangnya hitam dengan ujung yang bisa diputar.
“Kamu bawa obeng?”
“Aku selalu bawa obeng.”
“Buat apa?”
“Buat semuanya.” Dia sudah memiringkan kacamataku ke arah cahaya. “Kamu tahu berapa kali aku harus benerin engsel lemari klien karena tukangnya pasang kebalik?”
“Nggak.”
“Enam kali. Tahun ini.”
Dia melepas benangnya. Delapan belas lilitan, dua simpul. Dia melepasnya pelan-pelan, tidak dipotong, dan menggulungnya dan menaruhnya di sekat kosong di kotaknya.
“Kenapa nggak dibuang?”
“Nggak tahu,” katanya.
Dia mencari sekrupnya. Butuh empat kali coba. Yang pertama terlalu panjang, yang kedua terlalu tebal, yang ketiga masuk tapi kepalanya menonjol.
Yang keempat pas.
Dia memutar obengnya delapan kali, pelan-pelan, sambil menahan gagangnya dengan ibu jari.
Lalu dia membuka dan menutup gagang itu tiga kali untuk mengecek.
“Nah.”
Dan lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga.
Dia tidak menyerahkannya kepadaku.
Dia berdiri, melangkah satu langkah, dan memasangkannya langsung ke wajahku.
Dua tangannya.
Satu di gagang kiri, satu di gagang kanan, dan dia menurunkannya dari atas, dan ujung jarinya menyentuh pelipisku waktu menempatkan gagangnya di belakang telinga.
Kanan dulu, lalu kiri.
Lalu dia membetulkan posisinya di batang hidungku dengan satu jari.
Dua detik, mungkin tiga.
Aku tidak bergerak sama sekali.
Aku tidak bergerak bukan karena apa-apa. Aku tidak bergerak karena aku tidak tahu ke mana harus bergerak, dan karena tubuhku sedang tidak menerima instruksi dari mana pun, dan karena jarak antara wajahku dan wajahnya waktu itu adalah jarak yang belum pernah kualami dengan siapa pun sejak umur tujuh belas.
Eliza mundur satu langkah.
“Gimana?”
Aku menelan.
“Kenceng.”
“Ya emang harusnya kenceng.”
“Iya.”
“Kalau kendur nanti aku kencengin lagi.”
“Iya.”
Dia menutup kotak sekrupnya dan memasukkannya ke tas.
Aku berdiri di halaman rumah blok C nomor sebelas dengan gambar kerja di tangan dan kacamata dua puluh lima ribu yang sekarang punya sekrup betulan.
“Liz.”
“Hm?”
“Makasih.”
“Itu sekrup lima ratus perak, Damar.”
“Iya.”
“Kamu bilang makasih buat sekrup lima ratus perak.”
“Iya.”
Dia menatapku sebentar.
Lalu dia bilang, “Ya udah. Ayo, yang kamar mandi belum selesai.”
Aku memakainya seharian.
Aku ingin mencatat itu karena aku baru menyadari keanehannya di malam hari.
Aku memakai kacamata itu dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Bukan cuma waktu membaca gambar. Aku lupa melepasnya.
Aku memakainya waktu mengaduk semen. Aku memakainya waktu naik ke atap. Bejo menegur dua kali dan bertanya apakah aku sekarang jadi insinyur.
Aku bahkan memakainya waktu pulang naik motor, dan baru sadar di lampu merah, dan tidak melepasnya.
Aku sudah punya kacamata itu tiga tahun.
Selama tiga tahun, aku memakainya rata-rata mungkin dua puluh menit sehari, dan sisanya di saku dada, dan setiap kali aku memasukkannya ke saku aku melipat gagangnya dengan hati-hati karena benangnya bisa kendur.
Hari itu aku memakainya delapan jam.
Kanaya pulang jam enam kurang. Aku sedang bersiap berangkat shift.
Dia menaruh tasnya. Dia melepas sepatunya dan menaruhnya di rak, sejajar, ujungnya rata.
Lalu dia berbalik dan melihat aku.
Dan dia berhenti.
“Kak.”
“Hm.”
“Kacamatanya.”
Aku menyentuhnya. Aku bahkan lupa masih memakainya.
“Oh. Iya.”
“Udah dibenerin?”
“Iya.”
“Di mana?”
“Nggak di mana-mana. Diganti sekrupnya.”
“Sama siapa?”
“Temen.”
Kanaya menatapku.
“Temen siapa?”
“Yang punya rumah yang lagi dikerjain. Temen SMA dulu.”
“Cewek?”
Aku menoleh.
“Iya.”
“Oh.”
Dan dia masuk ke kamar.
Itu saja.
Aku berangkat shift jam enam dan mencuci piring sampai jam sebelas dan pulang dan tidur dan tidak memikirkannya lagi sama sekali.
Aku tidak menyadari apa-apa. Aku ingin menegaskan itu.
Aku tidak menyadari bahwa anak itu berdiri di ambang pintu kamar selama beberapa detik setelah aku berangkat.
Aku tidak menyadari bahwa dia menanyakan tiga pertanyaan berturut-turut tentang sesuatu yang sama sekali tidak penting, yang mana adalah hal yang tidak pernah dilakukan Kanaya seumur hidupnya kecuali kalau dia sedang mengumpulkan sesuatu.
Aku tidak menyadari bahwa malam itu, waktu Alina pulang jam delapan, Kanaya menunggunya di ruang depan dan bertanya:
“Lin, kamu tahu nama temen SMA Kakak yang perempuan?”
Dan bahwa Alina, yang sedang membuka sepatunya, berhenti dan mengangkat kepalanya dengan sangat pelan.
Dan bahwa dua orang itu duduk di lantai petak nomor empat sampai jam sepuluh malam, sementara aku sedang mencuci piring delapan ratus meter dari sana, dan tidak satu pun dari mereka memberitahuku apa yang mereka bicarakan.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup reading
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku