← Kakak Sudah Makan

Chapter Twenty Eight

Toko Sinar Jaya

POV: Damar

Toko material Sinar Jaya buka jam tujuh dan aku selalu datang jam tujuh, karena kalau lewat jam delapan antreannya panjang dan aku sudah harus di proyek.

Hari itu aku datang untuk keramik.

Bukan untukku; aku tidak pernah membeli apa pun untuk petak nomor empat yang harganya lebih dari lima puluh ribu. Aku datang mewakili Pak Tarno, mandor, karena aku yang paling hafal spesifikasi dan yang paling jarang salah hitung.

Aku sedang berdiri di depan tumpukan sak semen, mengecek ulang catatanku, waktu ada suara dari arah kasir.

“Pak, saya minta yang C, bukan yang B.”

“Ini sama aja, Bu. Bedanya cuma merek.”

“Beda ketebalannya.”

“Nggak ada bedanya, Bu. Saya jualan sepuluh tahun.”

Aku tidak menoleh. Ada perempuan berdebat dengan Pak Slamet setiap dua hari sekali di toko itu; biasanya soal harga, kadang soal jumlah.

“Pak, yang B itu tujuh milimeter. Yang C sembilan.”

“Sama, Bu.”

“Nggak sama.”

“Bu, ini buat rumah? Buat lantai rumah mah B juga kuat.”

Dan aku, karena aku bodoh, ikut bicara tanpa menoleh.

“Yang B nggak boleh buat teras, Pak.”

Toko itu diam sebentar.

“Damar.”

“Yang kena hujan sama panas gantian itu harus yang sembilan,” kataku, masih sambil membaca catatanku. “Yang tujuh pecah di tahun kedua. Yang di rumah Pak Haji Salim dulu, itu yang B, sekarang udah retak semua di bagian teras.”

Aku mengangkat kepalaku.

Dan perempuan yang berdiri di depan kasir sedang menatapku.


Aku tidak langsung mengenalinya.

Aku ingin menuliskan itu apa adanya, karena bagian ini penting dan aku sudah berkali-kali digoda soal ini sesudahnya.

Yang kulihat pertama adalah: perempuan, tiga puluhan, kemeja putih dengan lengan digulung rapi, celana panjang, sepatu kets bersih. Rambut diikat. Membawa map dan tabung gambar.

Orang kantoran. Orang yang tidak pernah masuk toko material sebelum punya alasan.

Aku mengenalinya di detik ketiga.

Bukan dari wajahnya. Dari cara dia berdiri — bahu sedikit maju, kepala miring, seperti orang yang sedang bersiap untuk tidak mengalah.

Dia berdiri seperti itu di depan loket TU sekolah kami sepuluh tahun lalu.

“Liz.”

Dan aku langsung merasa bodoh, karena kemungkinan besar aku salah dan kemungkinan besar perempuan ini akan bertanya siapa dan aku harus menjelaskan.

Dia tidak bertanya siapa.

Dia menaruh mapnya di meja kasir.

“Kamu,” katanya.

“Iya.”

“Damar.”

“Iya.”

Dan kami berdiri di antara tumpukan sak semen dan rak keramik di Toko Sinar Jaya, Wonoyoso, jam tujuh lewat sepuluh pagi, dan tidak ada yang bicara selama mungkin empat detik.

Pak Slamet melihat kami bergantian.

“Kenal?”

“Temen sekolah,” kata Eliza.

“Oh.” Pak Slamet mengangguk. “Ya udah, Bu, saya ambilin yang C.”


Kami menyalami tangan.

Itu bagian yang aku ingat paling aneh, karena aku tidak pernah bersalaman dengan siapa pun sejak entah kapan. Orang di proyek tidak bersalaman. Kami menepuk bahu atau mengangkat dagu.

Tangannya kecil dan kering dan bersih.

Tanganku tidak.

Aku sadar itu waktu sudah terlambat — waktu tanganku sudah keluar dan sudah disambut — dan aku ingat berpikir dengan sangat jelas: seharusnya tadi dilap dulu.

Dia tidak melepasnya di detik yang seharusnya.

Aku sudah melonggarkan pegangan. Aku menunggu. Dan tangannya masih di sana, satu detik lebih lama, dan aku tidak tahu harus berbuat apa jadi aku diam saja sampai dia melepasnya.

“Kamu di sini,” katanya.

“Iya. Selalu.”

“Aku kira—“ Dia berhenti. “Nggak. Nggak apa-apa.”

“Kamu balik kapan?”

“Bulan lalu.”

“Lama?”

“Nggak tahu.” Dia mengambil mapnya lagi, lalu meletakkannya lagi. “Bapakku pensiun. Terus stroke ringan Februari kemarin. Jadi kami balik ke rumah yang lama.”

“Yang di Griya Asri.”

Dia menoleh.

“Kamu inget?”

“Iya.”

“Kamu ke sana sekali.”

“Nggak. Aku nganter kamu sampai mulut gang doang.” Aku menggeser tas semen dengan kaki karena aku butuh sesuatu untuk dikerjakan tangan dan kakiku. “Kamu yang naik angkot.”

Eliza tidak bicara selama beberapa detik.

Lalu dia berkata, “Iya. Bener.”


Rumah itu tiga puluh lima tahun dan tidak pernah direnovasi.

Dia menceritakannya sambil kami berjalan ke luar toko, karena Pak Slamet butuh dua puluh menit untuk mengangkat keramiknya dan tidak ada tempat duduk di dalam.

Atap bocor di tiga titik. Instalasi listrik masih yang lama. Kamar mandi harus dibongkar total karena bapaknya sekarang pakai tongkat dan tidak bisa naik turun.

“Aku arsitek,” katanya. “Jadi harusnya ini gampang buat aku.”

“Harusnya?”

“Aku bisa gambar. Aku bisa hitung volume. Aku nggak bisa cari orang yang bener.” Dia mengangkat bahu. “Dua tukang udah aku pecat. Yang pertama dua minggu nggak muncul, yang kedua ngerjain nggak sesuai gambar terus bilang lebih bagus versinya dia.”

“Yang kedua itu Pak Yanto?”

“Kok kamu tahu?”

“Cuma nebak.”

“Damar.”

“Yang tebak kayak gitu di Wonoyoso ini nggak banyak, Liz.”

Dan dia tertawa.

Aku tidak siap dengan itu. Aku tidak tahu kenapa aku tidak siap; orang tertawa di depanku setiap hari, Haryo tertawa sepanjang hari.

Yang membuatnya berbeda mungkin karena tawanya sama persis seperti sepuluh tahun lalu, dan selama sepuluh tahun itu semua yang lain berubah — kota ini, aku, kedua anak itu, semuanya — dan tawa itu tidak berubah sama sekali.

“Aku butuh orang,” katanya.

“Iya.”

“Yang tahu material. Yang ngerti gambar. Yang nggak ngerjain seenaknya.”

“Iya.”

“Yang bisa aku percaya.”

“Iya.”

Aku mengangguk.

Lalu aku berkata:

“Aku kasih nomornya Mas Haryo. Dia mandor. Kerjanya rapi, orangnya jujur, harganya nggak main-main tapi nggak nakal.”

Eliza berhenti berjalan.

“Apa?”

“Mas Haryo. Dia bisa pegang yang kayak gitu. Kalau kamu mau, nanti aku bilangin, dia—“

“Damar.”

“Hm?”

Dia menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kuartikan sama sekali.

“Nggak,” katanya akhirnya. “Nggak apa-apa. Boleh, kasih nomornya.”


Aku tidak punya telepon genggam.

Aku pernah punya, satu, empat tahun lalu, dari Kanaya waktu dia masih kuliah dan dapat uang saku beasiswa. Barang bekas, layar hitam putih. Aku memakainya delapan bulan lalu jatuh di proyek dan retak dan aku tidak menggantinya.

Kanaya menawarkan lagi tahun lalu. Aku bilang tidak usah, buat apa, orang yang perlu menghubungiku ada di dalam jarak dua kilometer semua.

Jadi waktu Eliza bertanya nomorku, aku bilang tidak punya.

“Nggak punya HP?”

“Nggak.”

“Sama sekali?”

“Kalau perlu, orang telepon ke warung.”

“Warung mana?”

“Warungnya Bu Ratih. Di mulut gang.”

Eliza berdiri diam.

Lalu dia mengeluarkan teleponnya dari saku dan membukanya dan menggeser layarnya beberapa kali.

Lalu dia membalikkannya ke arahku.

Di layar itu ada sebuah kontak.

Namanya bukan namaku.

Namanya: WARUNG BU RATIH — WONOYOSO

Dan di bawahnya, nomor telepon rumah dengan kode area yang sudah tidak dipakai lagi sejak lima tahun terakhir karena semua nomor di Wonoyoso ditambah angka di depannya.

“Ini masih aktif?” tanyanya.

Aku menatap layar itu.

“Kurang satu angka,” kataku. “Sekarang ditambah tujuh di depan.”

“Oh.”

“Nomor rumahnya masih sama.”

“Oh.”

Dia menutup teleponnya dan memasukkannya ke saku.

Kami berdiri di depan Toko Sinar Jaya, di trotoar, jam setengah delapan pagi, dengan truk-truk lewat.

“Liz.”

“Hm.”

“Kamu simpen nomor itu dari kapan?”

Dan Eliza Wirawan — yang sepuluh tahun lalu berdiri di koridor lantai satu dan mengulurkan tangannya dan berkata sini, biar aku yang kasih — menoleh kepadaku dan berkata:

“Keramikku udah selesai kayaknya.”

Lalu dia masuk ke toko.