← Kakak Sudah Makan

Chapter Thirty Four

Metode Alina

POV: Alina

Metode Mbak Kanaya itu wawancara.

Metodeku bukan.

Aku tidak pernah menyusun pertanyaan. Aku tidak pernah menghitung apa pun. Aku bahkan tidak pernah menyebutnya operasi sampai Mbak Kanaya yang menyebutnya begitu, dan waktu dia menyebutnya begitu aku bilang “hah?” dan dia bilang “nggak jadi.”

Metodeku sederhana.

Aku muncul.


Sejarah singkat, biar adil.

Rika, tahun ketujuh, adiknya Pak Bejo. Umurnya dua puluh dua, aku lima belas. Dia datang ke rumah tiga kali membawa makanan dengan alasan dititipin kakaknya.

Ketiga kalinya, aku membuka pintu dan berkata: “Mbak, Ayah lagi tidur. Dia baru pulang jam sebelas malem. Tiap hari. Kalau Mbak mau nunggu, nunggu aja, tapi biasanya dia bangun jam satu terus langsung ke pasar.”

Aku mengatakannya dengan sangat ramah. Aku bahkan tersenyum.

Rika berdiri di teras dengan rantang di tangan dan wajahnya berubah pelan-pelan, dan aku tahu persis dia sedang membayangkan sesuatu untuk pertama kalinya, dan bahwa yang dia bayangkan itu bukan bayangan yang enak.

Dia tidak datang lagi.

Mbak Kanaya bilang itu kejam.

Aku bilang aku cuma menyebutkan jamnya. Semua yang aku bilang benar.

Mbak Kanaya bilang, “Iya. Itu bagian kejamnya.”


Sekarang bagian yang mau aku ceritakan.

Hari Jumat, minggu pertama Desember.

Aku sedang di kampus. Kelas selesai jam satu. Fitri mengajak makan di luar karena ada tempat baru di jalan Diponegoro yang katanya enak dan katanya murah, dan dua kata itu kalau digabung biasanya bohong tapi kami tetap pergi.

Kami sampai jam setengah dua.

Dan waktu masuk, hal pertama yang aku lihat, di meja nomor empat dari pintu, di dekat jendela:

Ayah.

Duduk. Makan. Dengan Mbak Eliza.


Aku berhenti di ambang pintu selama mungkin dua detik.

Fitri menabrak punggungku.

“Lin, kenapa—“

Dan aku sudah bergerak.

Aku ingin mencatat bahwa aku tidak memutuskan apa-apa. Tidak ada satu detik pun di mana aku menimbang pilihan. Badanku bergerak sendiri, seperti waktu ada nyamuk dan tanganmu sudah menepuk sebelum kamu sadar.

Aku menyeberangi ruangan itu.

Dan dari jarak sekitar enam meter — enam meter, di ruangan yang isinya mungkin dua puluh orang, jam setengah dua siang — aku berteriak:

“AYAAAAH!”


Semua orang menoleh.

Semua orang. Termasuk dua pelayan. Termasuk bapak-bapak di meja pojok yang sedang menelepon.

Ayah menoleh dan hampir menjatuhkan sendoknya.

“Lin—“

“AYAH DI SINI?”

“Lin, jangan—“

Aku sudah sampai. Aku menarik kursi dari meja sebelah, menyeretnya dengan bunyi yang sangat panjang di lantai keramik, dan menaruhnya di ujung meja mereka.

Aku duduk.

“Aku juga laper,” kataku.

Fitri berdiri di belakangku dengan wajah orang yang sedang menyaksikan kecelakaan.

“Duduk, Fit.”

“Lin, kayaknya—“

“Duduk.”

Fitri duduk.


“Alina,” kata Ayah. “Ini Mbak Eliza. Temen—“

“Kenal kok.”

“Kamu kenal?”

“Belum ketemu.” Aku menoleh ke Mbak Eliza dan tersenyum lebar. “Tapi kenal.”

Mbak Eliza menaruh sendoknya.

Dia tidak kelihatan terkejut. Itu hal pertama yang membuatku sedikit jengkel.

“Halo, Alina,” katanya.

“Halo, Mbak.”

“Mbak Eliza yang punya rumah yang lagi dikerjain Ayah,” kata Ayah.

“Oh, iya. Yang di Griya Asri.”

“Iya.”

“Yang atapnya bocor tiga titik.”

Ayah berhenti.

“Kamu tahu dari mana?”

“Ayah cerita.”

“Kakak cerita?”

“Iya. Hari Selasa.” Aku menyandarkan punggung ke kursi. “Terus hari Kamis. Terus Jumat kemarin, waktu makan malem, Ayah cerita soal kusen yang gambarnya harus diulang.”

Ada jeda kecil.

Dan aku melihat — aku melihat dengan sangat jelas — Mbak Eliza menahan sesuatu di sudut mulutnya.

Sialan.


Aku memesan makanan yang paling mahal di menu.

Empat puluh dua ribu. Ayam geprek keju. Aku tidak suka keju.

“Lin, kamu bawa uang?”

“Bawa.”

“Berapa?”

“Cukup.”

Itu bohong. Aku punya dua puluh ribu.

Dan aku tahu apa yang akan terjadi, dan aku ingin itu terjadi, dan itulah kenapa aku memesannya.

Ayah akan membayar.

Dan kalau Ayah membayar, artinya di meja ini ada satu orang yang dia tanggung, dan itu jadi kelihatan, dan orang yang duduk di seberang jadi harus melihatnya.

Itu metodeku. Aku tidak pernah bilang metodeku halus.


Aku menanyai Mbak Eliza sepanjang makan.

Bukan pertanyaan Mbak Kanaya. Pertanyaanku beda jenis.

“Mbak umur berapa?”

“Dua puluh tujuh.”

“Sama kayak Ayah.”

“Iya.”

“Mbak belum nikah?”

“Alina.”

“Nanya doang, Yah.”

“Belum,” kata Mbak Eliza.

“Kenapa?”

“ALINA.”

“Ya nanya!”

Mbak Eliza menaruh gelasnya dan menjawab, dengan wajah biasa: “Karena aku belum ketemu yang cocok. Terus aku kerja terus. Terus umur dua puluh lima bapakku sakit.”

“Oh.”

“Kamu?”

“Hah?”

“Kamu punya pacar?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dan aku membuka mulut dan tidak ada yang keluar, dan Fitri di sebelahku mengeluarkan bunyi seperti orang tersedak.


Baiklah. Aku akan menuliskan bagian ini juga meskipun aku tidak keluar dengan bagus.

Jam dua kurang seperempat, waktu piring sudah kosong dan tinggal minum, aku mengeluarkan senjata terakhir.

Aku memakainya sejak umur sebelas. Aku sudah memakainya di depan Yuni, di depan Mbak Tanti, di depan Rika, di depan Mbak Novi.

Angka keberhasilannya seratus persen.

Aku menyandarkan kepalaku ke bahu Ayah — di depan umum, di rumah makan, sengaja — dan berkata dengan suara keras:

“Yah. Kalau nggak ada yang cocok, aku aja deh yang jadi pacar Ayah.”

Dan Ayah — tanpa menoleh, tanpa berhenti mengaduk esnya, dengan nada orang yang sudah mendengar kalimat ini kira-kira empat ratus kali sejak anaknya berumur sebelas tahun — mengangkat tangannya, mengusap kepalaku dengan punggung tangannya, dan berkata:

“Iya, iya. Habisin dulu minumnya.”

Fitri tertawa sampai batuk.

Dan aku duduk di situ dengan kepala di bahunya dan wajahku panas, karena selama tujuh tahun kalimat itu selalu membuat lawan mainku diam, dan hari ini yang diam malah aku.


Mbak Eliza tidak tertawa.

Itu yang membuatku memperhatikannya.

Semua orang tertawa waktu aku mengucapkan itu. Selalu. Yuni tertawa canggung. Mbak Tanti tertawa dan bilang “aduh, lucunya.” Mbak Novi tertawa dan langsung mengalihkan topik ke pelajaran.

Ketawa mereka semua sama, dan artinya juga sama, dan artinya adalah: ini anak kecil yang ngomong.

Mbak Eliza tidak tertawa.

Dia cuma melihat kami berdua — aku, dengan kepala di bahu Ayah, dan Ayah, dengan tangan masih di kepalaku — dan wajahnya tidak berubah sama sekali.

Terus dia bilang, “Kamu manggil dia Ayah dari kapan?”

Aku mengangkat kepalaku.

Nah.

Ini pertanyaan yang aku tunggu. Ini pertanyaan yang selalu datang, cepat atau lambat, dari semua orang.

Dan setelah pertanyaan ini, selalu ada kalimat kedua. Kalimatnya berbeda-beda bentuknya tapi isinya sama:

Kan sebenarnya omnya, ya?

Nanti kalau udah gede jangan gitu, dong.

Ntar orang salah paham lho.

Aku sudah menyiapkan jawaban untuk ketiganya sejak umur dua belas.

“Delapan tahun,” kataku. “Umur delapan.”

“Oh.”

Dan aku menunggu.

Aku menunggu kalimat keduanya.

Mbak Eliza mengangguk sekali, mengambil gelasnya, dan berkata:

“Aku duluan ya, Damar. Jam tiga aku ada ketemu tukang listrik.”

Terus dia berdiri.

Terus dia bilang, “Alina, Fitri, duluan ya,” dan menyalami kami satu-satu.

Terus dia pergi.


Itu saja.

Tidak ada kalimat kedua.

Aku duduk di rumah makan di jalan Diponegoro dengan Fitri di sebelahku dan Ayah di sebelahku dan sisa es teh yang mencair, dan aku merasa seperti orang yang mengayunkan tinju sekuat tenaga ke arah sesuatu yang ternyata tidak ada di sana.

“Lin.”

“Hm.”

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Ayah memanggil pelayan dan membayar. Empat puluh dua ribu punyaku, dua puluh delapan punya Fitri yang aku paksa pesan juga, dan punyanya sendiri yang ternyata cuma nasi rames dua puluh dua ribu.

Sembilan puluh dua ribu.

Aku melihat dia mengeluarkan uangnya dari dompet lipat yang sudah pecah di sudutnya, dan aku menghitung lembar yang tersisa di dalamnya, dan tinggal tiga.

Aku sudah tahu itu akan terjadi. Aku merencanakannya.

Aku tidak merencanakan bagian di mana aku merasa mual.


Di motor, dalam perjalanan pulang, Ayah bicara satu kali.

Di lampu merah pertigaan pasar, tanpa menoleh:

“Lin.”

“Hm.”

“Kamu nggak suka Mbak Eliza?”

Aku memegang bagian belakang kausnya dengan dua tangan.

“Bukan nggak suka.”

“Terus?”

Dan aku tidak menjawab, karena jawabannya adalah sesuatu yang baru aku sadari sepuluh menit sebelumnya di rumah makan itu dan yang belum bisa aku susun jadi kalimat sampai berbulan-bulan kemudian.

Empat orang sebelumnya, semuanya, memperlakukan kata “Ayah” seperti masalah yang harus diselesaikan nanti.

Dan Mbak Eliza mendengarnya dua kali dalam empat puluh menit, dari mulut perempuan berumur delapan belas tahun, di depan umum, dan tidak sekali pun mengoreksinya.

Bahkan tidak dengan mata.

Lampunya hijau.

“Nggak apa-apa, Yah,” kataku. “Aku laper aja tadi.”

“Kamu makan ayam geprek keju satu porsi.”

“Ya kan tadi laper.”

“Kamu nggak suka keju.”

“Siapa bilang.”

“Kamu ngeluarin kejunya ke pinggir piring, Lin. Semuanya. Kakak lihat.”

Dan aku tidak punya jawaban untuk itu, jadi aku menempelkan keningku ke punggungnya dan tidak bicara sampai gang.