Chapter Forty Seven
Lampu Putih
POV: Damar
RSUD Wonoyoso jam tujuh pagi hari Kamis sudah penuh.
Antrean pendaftaran BPJS mengular sampai ke luar pintu. Mas Haryo yang mengambil nomor karena aku sedang di loket lain mengurus rujukan, dan waktu aku kembali dia sudah memegang tiga kertas dan berdiri di antrean seolah dia sudah melakukan ini seumur hidupnya.
“Mas pernah ke sini?”
“Bojoku telung taun kepungkur. Kista.” (“Istri saya tiga tahun lalu. Kista.”)
“Sekarang?”
“Wis apik.” (“Sudah baik.”)
Dia tidak bercerita lebih dari itu dan aku tidak bertanya, dan kami berdiri di antrean itu selama satu jam sepuluh menit.
Foto thorax jam sembilan.
Aku disuruh melepas baju dan menempelkan dada ke papan dingin dan menahan napas.
“Tarik napas. Tahan. Jangan gerak.”
Klik.
“Sudah, Pak.”
Sesederhana itu. Dua puluh detik untuk sesuatu yang aku hindari sepuluh tahun.
Ambil darah jam setengah sepuluh. Dahak diambil tiga kali — dua di rumah sakit, satu harus dibawa besok pagi dalam pot kecil yang mereka berikan.
Lalu menunggu.
Mas Haryo menunggu bersamaku sampai jam dua belas.
Dia tidak bicara banyak. Dia beli dua nasi bungkus dari kantin dan menaruh satu di pangkuanku dan tidak mengatakan apa-apa waktu aku bilang aku sudah makan, dan bungkus itu tetap di pangkuanku dan aku akhirnya memakannya.
Jam dua belas nomorku dipanggil.
Dan waktu aku berdiri, dia berdiri juga.
“Mas.”
“Aku melu.” (“Saya ikut.”)
“Mas Haryo.”
“Damar.”
“Aku sendiri, Mas.”
Dan dia berdiri di koridor itu dan menatapku cukup lama, dan aku tahu persis apa yang dia pikirkan, dan aku tahu dia tahu apa yang akan kulakukan.
Lalu dia duduk lagi.
“Yo wis,” katanya. (“Ya sudah.”)
Poli Paru, ruang tiga.
Dokternya laki-laki, empat puluhan, dengan kacamata yang dinaikkan ke kepala dan diturunkan lagi setiap kali dia berganti antara layar dan kertas.
Namanya dr. Purnomo, Sp.P.
“Damar Prasetya. Dua puluh delapan tahun?”
“Dua puluh tujuh, Dok.”
“Oh, iya. Dua puluh tujuh.” Dia mengetik. “Kerja apa?”
“Bangunan. Sama pasar. Sama cuci piring.”
“Berapa lama?”
“Sepuluh tahun.”
“Bangunan yang mana? Ngecor, bongkar, atau finishing?”
“Semuanya, Dok.”
Dia berhenti mengetik.
“Bongkar tembok lama?”
“Sering.”
“Pakai masker?”
“Kaus, Dok. Diiket.”
Dia mengangguk pelan dan tidak mengatakan apa-apa, dan aku sudah cukup sering bicara dengan orang untuk tahu apa artinya anggukan yang seperti itu.
Dia menyalakan lampu putih di dinding dan menyelipkan foto itu.
Foto thorax. Hitam putih. Aku pernah melihat gambar seperti itu di poster puskesmas dan di iklan rokok.
Aku belum pernah melihat punyaku sendiri.
“Ini paru-paru Bapak.”
“Iya.”
“Yang kiri,” dia menunjuk dengan pulpennya, “ini bagus. Ini normal. Ini yang kita mau.”
Aku melihatnya. Warnanya gelap, rata, dengan garis-garis halus seperti ranting.
“Sekarang yang kanan.”
Dan dia menggeser pulpennya.
Aku tidak tahu apa-apa tentang membaca foto rontgen.
Aku tidak perlu tahu.
Bagian kanan atas gambar itu putih. Bukan seperti kabut; seperti sesuatu yang tumpah dan mengering. Dan di dalam putihnya ada bentuk-bentuk bulat dengan tepi tebal, beberapa, berkelompok, seperti sarang.
“Bapak lihat bedanya?”
“Iya, Dok.”
“Ini namanya bronkiektasis. Saluran napasnya melebar dan rusak permanen, terus dindingnya menebal.” Dia menunjuk bentuk-bentuk bulat itu satu per satu. “Ini di lobus kanan atas sama sebagian tengah. Luas.”
“Iya.”
“Dan ini,” dia menunjuk garis-garis putih tebal di sekitarnya, “ini jaringan parut. Bekas.”
“Bekas apa?”
Dr. Purnomo menoleh kepadaku.
“Bapak pernah TB.”
“Nggak pernah, Dok.”
“Bapak pernah diobati TB?”
“Nggak pernah.”
“Nah.” Dia melepas kacamatanya. “Itu masalahnya.”
Dia menaruh kacamatanya di meja.
“Dari gambarannya, ini bekas lama. Lima sampai tujuh tahun. Mungkin lebih.” Dia menunjuk lagi. “Bapak kena TB, Bapak nggak tahu, Bapak nggak diobati, dan badan Bapak melawannya sendiri.”
“Terus sembuh?”
“Infeksinya berhenti. Iya.” Dia bersandar. “Tapi yang melawan itu badan Bapak, bukan obat. Dan cara badan melawan itu dengan merusak. Dia bakar daerah yang kena.”
Dia menunjuk bagian putih itu.
“Yang di sini sudah nggak ada gunanya lagi, Pak. Sudah bukan paru-paru. Sudah jadi kantong.”
“Kantong itu ngumpulin lendir,” katanya. “Lendirnya nggak bisa keluar karena salurannya rusak. Terus jadi tempat kuman.”
Dia menggambar sesuatu di kertas resep dengan pulpen, cepat, seperti orang yang sudah menggambar ini ratusan kali.
“Makanya Bapak batuk terus. Bukan karena debu.”
“Debunya nggak ngaruh?”
“Ngaruh. Debunya yang bikin makin cepet rusak.” Dia menaruh pulpennya. “Tapi debu nggak bikin gambaran kayak gini dalam sepuluh tahun. Yang bikin gambaran kayak gini itu TB yang nggak diobati.”
Aku menatap lampu putih itu.
“Berdarahnya?”
“Nah. Itu yang bahaya.” Dia menunjuk daerah putih itu lagi. “Di sekitar kantong-kantong ini pembuluh darahnya numbuh nggak normal. Melebar, tipis. Kalau ada infeksi atau Bapak batuk keras, bisa pecah.”
“Yang kemarin itu sedikit, Dok.”
“Yang kemarin sedikit,” katanya. “Iya.”
Dan dia diam sebentar.
“Yang saya khawatirkan bukan yang kemarin.”
Dia menjelaskannya selama sepuluh menit dan aku akan meringkasnya.
Rusaknya permanen. Tidak bisa dikembalikan. Tidak ada obat yang membuat paru-paru tumbuh lagi.
Yang bisa dilakukan: obat kalau ada infeksi, fisioterapi napas setiap hari, dan berhenti menghirup debu.
Kalau perdarahannya berulang atau banyak, ada tindakan. Ada yang namanya embolisasi — menutup pembuluh darahnya dari dalam. Dan kalau itu gagal atau kalau kerusakannya terlalu terkumpul di satu tempat, bagian paru itu diangkat.
Operasi.
“Diangkat gimana, Dok?”
“Dipotong. Lobus kanan atasnya, mungkin sama sebagian tengah.” Dia mengatakannya biasa saja. “Bapak masih bisa hidup normal dengan sisanya. Banyak yang begitu.”
“Kapan?”
“Belum sekarang.” Dia menulis. “Sekarang kita obati infeksinya dulu, kita lihat tiga bulan. Kalau nggak berdarah lagi, kita pertahankan.”
“Kalau berdarah lagi?”
“Kita bicara lagi.”
Lalu dia meletakkan bolpoinnya dan melihat kepadaku dengan cara yang berbeda dari sepuluh menit sebelumnya.
“Pak Damar.”
“Iya, Dok.”
“Ada tiga hal yang saya butuh Bapak lakukan. Dan saya mau jujur: dua di antaranya biasanya nggak dilakukan pasien seperti Bapak.”
“Apa, Dok?”
“Satu, minum obatnya sampai habis. Ini gampang.”
“Iya.”
“Dua, kontrol tiga minggu lagi. Bawa dahaknya besok pagi.”
“Iya.”
“Tiga.” Dia mencondongkan badan. “Bapak harus berhenti kerja di tempat berdebu.”
Aku tidak menjawab.
“Berhenti total, Pak. Bukan dikurangi. Bukan pakai masker.”
“Dok—“
“Saya tahu apa yang Bapak mau bilang.”
Dan aku menutup mulutku.
“Bapak mau bilang Bapak nggak bisa, karena Bapak nanggung orang.” Dia menghela napas. “Saya sepuluh tahun di poli ini. Saya sudah dengar kalimat itu mungkin dua ribu kali.”
Dia mengambil kertas resep dan mulai menulis.
“Dan saya juga sudah lihat apa yang terjadi ke orang yang bilang gitu.”
Aku bertanya satu hal sebelum keluar.
Aku sudah menahannya sejak lampu putih itu dinyalakan.
“Dok.”
“Ya?”
“Kalau saya periksa lebih awal.”
Dr. Purnomo mengangkat kepalanya.
“Maksudnya?”
“Waktu itu.” Aku memegang pinggiran kursi. “Sepuluh tahun lalu. Waktu batuknya mulai. Saya sempat ke puskesmas, Dok. Saya sempat antre.”
Dia menunggu.
“Nomor saya dua puluh tiga. Sampai nomor dua puluh.” Aku menatap meja. “Terus saya pulang.”
Ruangan itu diam.
“Kalau saya masuk waktu itu, gimana?”
Dan dokter itu — yang sudah sepuluh tahun di poli itu, yang sudah mendengar kalimat saya nanggung orang dua ribu kali — menaruh bolpoinnya.
“Pak.”
“Iya, Dok.”
“Saya nggak akan jawab itu.”
“Dok—“
“Bukan karena saya nggak tahu jawabannya.” Dia melepas kacamatanya lagi. “Karena Bapak nggak butuh tahu.”
Aku menatapnya.
“Yang lewat itu sudah lewat, dan Bapak nggak bisa apa-apa sama itu,” katanya. “Yang bisa Bapak apa-apain cuma yang di depan. Dan yang di depan itu tergantung tiga hal yang tadi saya bilang.”
Dia menyerahkan resepnya.
“Kalau Bapak habiskan hari ini buat mikirin antrean sepuluh tahun lalu, saya jamin Bapak nggak akan ngerjain yang nomor tiga.”
Mas Haryo berdiri waktu aku keluar.
“Piye?” (“Bagaimana?”)
Dan aku menyerahkan resep kepadanya, karena resep boleh dilihat, dan aku menyimpan hasil rontgen dan salinan catatan medis di dalam amplop cokelat rumah sakit yang terlipat di tanganku.
“Infeksi, Mas.”
“Infeksi apa?”
“Paru-paru. Dikasih antibiotik dua minggu.”
Dia membaca resep itu. Dia tidak bisa membaca tulisan dokter, tapi dia membacanya cukup lama.
“Kudu opname?”
“Nggak.”
“Kudu leren kerja?”
Dan aku bilang, “Nggak, Mas.”
Sebelas tahun.
Sebelas tahun orang itu berdiri di sebelahku setiap hari, dan menyeretku ke puskesmas dengan memegang lengan atasku, dan berhenti di pinggir jalan raya sampai bannya menggeser kerikil karena aku bilang tidak ada yang repot kalau aku mati.
Dan aku berbohong kepadanya di koridor RSUD Wonoyoso jam satu siang.
Dia melipat resep itu dan memasukkannya ke saku bajuku sendiri, dan menepuk saku itu dua kali dengan telapak tangannya.
“Yo wis,” katanya. “Sokur.” (“Ya sudah. Syukur.”)
Aku sampai di rumah jam dua.
Kosong. Kanaya kerja, Alina kuliah.
Aku duduk di tikar dengan amplop rumah sakit di pangkuanku dan aku membukanya dan aku melihat foto itu lagi.
Di rumah, tanpa lampu putih, gambarnya jadi lebih gelap dan bagian putihnya jadi lebih jelas.
Aku menatapnya mungkin sepuluh menit.
Lalu aku memasukkannya kembali ke amplop dan menaruhnya di kotak biskuit yang kecil, di bawah kartu keluarga, di bawah akta kelahiran, di tempat yang tidak pernah dibuka siapa pun kecuali kalau ada urusan surat.
Lalu aku mengambil kaleng biskuit yang besar.
Amplop itu di dasar. Di bawah tujuh amplop harian yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai karena sistemnya sudah tidak perlu lagi tapi tetap kusimpan.
KULIAH LIN.
Delapan tahun.
Aku menuangkan isinya ke tikar dan menghitungnya.
Aku menghitungnya dua kali, seperti biasa.
Tujuh juta seratus empat puluh ribu.
Aku duduk memandanginya cukup lama.
Lalu aku mengerjakan hitungannya, karena aku selalu mengerjakan hitungannya sampai selesai.
Alina masih enam semester. Dua koma empat per semester.
Empat belas juta empat ratus ribu.
Yang ada tujuh juta seratus empat puluh.
Kurang tujuh juta dua ratus enam puluh ribu.
Aku menghitungnya lagi karena aku ingin salah.
Aku tidak salah.
Delapan tahun aku memasukkan uang ke amplop itu, lima ribu, sepuluh ribu, kadang lima puluh, dan mengeluarkannya lagi setiap kali ada apa-apa, dan hasil dari delapan tahun itu adalah setengah.
Setengah dari yang dibutuhkan anak itu untuk selesai.
Dan aku masih punya tiga tahun untuk mencari setengahnya lagi, dan aku sedang memegang resep antibiotik dua minggu dan kertas yang menyuruhku berhenti kerja di tempat berdebu.
Ini bagian yang harus aku tuliskan dengan jujur karena kalau tidak, seluruh bab ini jadi bohong.
Aku memikirkannya.
Aku duduk di tikar itu dengan tujuh juta seratus empat puluh ribu di depanku, dan aku memikirkan berapa biaya kontrol tiga minggu sekali, berapa biaya fisioterapi napas yang disebut dokter itu, berapa biaya kalau nanti ada tindakan.
BPJS menanggung sebagian besar. Aku tahu itu. Anak itu sudah mengurusnya sepuluh bulan lalu dan membayar iurannya setahun di muka dan menempelkan kertas kecil di belakang kartunya.
Tapi ada yang tidak ditanggung. Selalu ada.
Dan yang paling tidak ditanggung siapa pun adalah bulan-bulan aku tidak bekerja.
Aku memikirkannya selama mungkin dua puluh menit.
Tujuh juta seratus empat puluh ribu.
Cukup untuk kontrol setahun. Cukup untuk fisioterapi. Cukup untuk menutup tiga bulan tidak bekerja kalau kami hemat.
Aku memikirkan itu semua dengan sangat serius dan sangat rinci, seperti aku memikirkan semua hal.
Lalu aku mengumpulkan uangnya.
Aku merapikannya jadi satu tumpuk dan mengetuknya ke tikar supaya rata, dan aku memasukkannya kembali ke amplop, dan aku melipat ujung amplopnya dua kali seperti yang sudah kulakukan delapan tahun.
Dan aku menaruhnya kembali di dasar kaleng.
Kalau ada yang bertanya kenapa, aku sudah punya jawabannya, dan jawabannya bukan jawaban yang bagus.
Bukan karena aku mulia.
Karena aku pernah menulis satu amplop lagi, sembilan tahun sebelumnya, dengan nama yang berbeda. Dan aku membiarkannya kosong tiga tahun karena aku sudah menghitung dan aku tahu tidak akan cukup.
Dan anak yang namanya tertulis di amplop itu lulus dengan beasiswa penuh, tercepat di angkatannya, dan berdiri di panggung sendirian karena aku duduk di baris ketiga dari belakang dengan kemeja pinjaman.
Aku sudah gagal sekali.
Dan aku sudah menghitung, di tikar itu, sore itu, dengan foto paru-paruku sendiri di kotak biskuit di sebelahku:
Kalau aku pakai uang ini, aku gagal dua kali.
Dan aku tidak sanggup gagal dua kali.
Aku menutup kaleng biskuit itu jam setengah tiga.
Aku menebus resepnya di apotek jam tiga, dan aku membuang kotaknya di tempat sampah luar dan memasukkan strip-nya ke saku celana kerja, karena obat batuk warung juga bentuknya strip dan tidak ada yang pernah bertanya.
Aku berangkat shift jam enam.
Dan waktu aku pulang jam setengah dua belas malam, Alina masih bangun di ruang depan, dan dia tidak menoleh waktu aku masuk.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih reading
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku