← Kakak Sudah Makan

Chapter Sixteen

Tiga Orang

POV: Alina

Lomba menggambarnya hari Sabtu dan temanya “Keluargaku”.

Bu Guru menulisnya di papan pakai kapur, huruf besar semua, terus dilingkari dua kali. Kertasnya dibagikan dari sekolah jadi tidak usah beli, dan itu bagus, soalnya kertas gambar yang bagus harganya seribu lima ratus dan aku sudah memutuskan tidak akan minta.

Yang tidak dibagikan itu krayonnya.

Krayonku ada dua belas warna, sisa dari kelas dua, dan yang warna kulit sudah habis sampai tinggal seujung kuku. Sinta punya yang dua puluh empat. Dia mau pinjamin, tapi cuma kalau dia sudah selesai, dan Sinta itu kalau menggambar lama sekali karena dia suka menggambar rumput satu-satu.

Jadi aku mulai duluan pakai punyaku.

Aku menggambar rumah. Rumahnya aku gambar rumah yang dulu, yang ada pohonnya di depan, bukan yang sekarang, soalnya yang sekarang kalau digambar cuma kotak.

Terus aku menggambar orangnya.

Aku menggambar aku, di sebelah kiri. Rambut dikuncir dua. Aku selalu menggambar diriku dikuncir dua padahal aku hampir tidak pernah dikuncir dua.

Terus aku menggambar Mbak Kanaya di tengah. Aku bikin lebih tinggi. Aku juga bikin dia senyum, walaupun kalau dipikir-pikir Mbak jarang senyum, cuma di gambar kan boleh.

Terus aku menggambar orang ketiga di sebelah kanan.

Aku menggambarnya paling tinggi. Aku menggambar rambutnya pendek. Aku menggambar tangannya panjang sampai ke pundakku dan pundak Mbak, soalnya kalau tangannya cuma di samping badan kelihatannya jauh.

Terus aku selesai.

Terus aku lihat kertasnya.

Terus aku sadar ada masalah.


Masalahnya, di kertas itu ada tulisan yang harus diisi di bawah gambar. Bu Guru bilang harus ditulis siapa saja yang ada di gambarnya.

Aku menulis: Alina. Gampang.

Aku menulis: Kakakku Kanaya. Gampang juga.

Terus aku sampai di orang ketiga.

Dan pensilku berhenti.

Ini bukan soal aku tidak tahu. Aku tahu. Aku memanggilnya Ayah sejak bulan Oktober dan sudah tidak pernah salah lagi sejak itu.

Cuma di kertas itu bedanya.

Soalnya kalau di rumah, yang dengar cuma kami. Kalau di kertas, nanti dibaca Bu Guru. Terus digantung di lorong depan kelas, soalnya semua gambar digantung, menang atau kalah.

Terus nanti ada yang baca.

Terus nanti ada yang bilang, “itu kan bukan ayahmu.”

Dan aku sudah tahu, dari kejadian formulir dulu, bahwa ada hal-hal yang di rumah biasa saja tapi kalau dibawa ke sekolah jadi lucu buat orang.

Aku duduk di bangku itu lama sekali sampai Sinta nanya kenapa.

Terus akhirnya aku tulis: Om Damar.

Terus aku kumpulkan.


Aku tidak menang. Yang menang Bagas, yang gambarnya ada mobilnya.

Gambarku digantung di lorong, nomor sebelas dari kiri, agak tinggi jadi harus mendongak.

Hari Senin, waktu istirahat, aku berdiri di depannya sendirian.

Aku lihat tulisan Om Damar itu, dan aku merasa aneh sekali. Kayak ada yang salah di perut.

Terus aku pikir: ya sudah, cuma tulisan.

Terus aku pikir lagi: tapi ini gambarku.

Terus hari Rabu gambarnya diturunkan dan dikembalikan, dan aku bawa pulang, dan di jalan aku berhenti di depan warung Bu Ratih dan aku pinjam pulpennya.

Aku coret Om.

Coretannya jelek. Kertas gambar itu kalau kena pulpen jadi tebal dan pulpennya bocor sedikit.

Terus aku tulis di atasnya: Ayah Damar.

Terus aku pulang.


Waktu sampai rumah, Mbak Kanaya belum pulang dan Ayah lagi tidur di tikar. Dia kerja subuh terus kerja siang, jadi dia tidurnya jam-jam segini.

Aku pelan-pelan.

Aku ambil lem dari tas. Aku tempel gambar itu di pintu lemari plastik, di bagian yang datar, setinggi mataku.

Terus aku duduk di depannya dan aku lihat lagi.

Bagus.

Cuma rumahnya salah, soalnya itu rumah yang dulu. Tapi orangnya benar.

“Lin.”

Aku kaget sampai lompat.

Ayah sudah bangun. Dia duduk di tikar, rambutnya berantakan sebelah, mukanya masih muka orang bangun tidur.

“Eh. Ayah bangun.”

“Itu apa?”

“Gambar.”

Dia berdiri dan jalan mendekat. Dia berdiri di belakangku dan melihat pintu lemari itu.

Terus dia diam lama sekali.

Lama banget sampai aku jadi tidak enak.

“Nggak menang,” kataku. “Yang menang Bagas. Gambarnya ada mobilnya.”

Dia tidak menjawab.

“Ayah?”

“Iya.”

“Ayah nggak suka?”

“Suka.”

Suaranya aneh. Kayak orang yang lagi flu tapi belum flu.

Terus dia jongkok. Dia selalu jongkok kalau mau bicara sama aku, jadi mukanya sama tinggi.

Cuma kali ini dia jongkok menghadap lemari, bukan menghadap aku. Jadi aku cuma lihat sampingnya.

Dia mengangkat tangan dan menyentuh sudut kertas itu, yang lemnya belum kering, dan menekannya supaya nempel lebih rapi.

“Ini yang di tengah Mbak Nay?”

“Iya.”

“Kok senyum?”

“Kan boleh.”

Ayah mengeluarkan bunyi dari hidungnya, kayak ketawa tapi bukan.

Terus dia bilang, “Rumahnya yang dulu, ya.”

“Iya. Yang sekarang jelek kalau digambar.”

“Iya,” katanya. “Emang jelek.”

Terus dia diam lagi.

Terus dia berdiri dan masuk ke dapur, dan aku dengar keran dinyalakan, dan aku dengar dia cuci muka lama sekali, lebih lama dari biasanya.

Aku tidak tanya kenapa.

Soalnya aku sudah mulai tahu, waktu itu, bahwa di rumah ini ada tiga tempat orang pergi kalau mau menangis: kamar mandi umum, dapur kalau kerannya dinyalakan, dan di depan pintu setelah semua tidur.

Aku sudah tahu dua yang pertama.

Yang ketiga baru aku tahu bertahun-tahun kemudian.


Yang soal makan itu mulainya bukan karena aku pintar.

Mulainya karena aku salah hitung.

Jadi begini. Aku sudah tahu Ayah suka bilang sudah makan padahal belum. Aku tahu itu dari lama. Aku bukan bayi.

Jadi aku pikir gampang: aku bilang aja aku kenyang, terus nasinya sisa, terus Ayah makan.

Aku coba hari Senin.

“Aku kenyang.”

“Habisin, Lin.”

“Aku kenyang beneran.”

“Nggak boleh nyisain.”

Terus dia berdiri, ambil piringku, dan memindahkan sisa nasiku ke piring Mbak Kanaya.

Yang jelas bukan tujuanku.

Jadi hari Selasa aku ganti cara.

Aku sisakan lauknya doang. Bukan nasinya. Soalnya kalau nasi bisa dipindah, tapi kalau tempe setengah, orang biasanya makan sendiri.

“Aku kenyang.”

“Tempenya kenapa?”

“Kekenyangan.”

Ayah lihat piringku. Terus lihat aku.

Dan mukanya waktu itu — aku ingat sampai sekarang — mukanya kayak orang yang lagi mengerjakan soal dan tiba-tiba dapat jawabannya, terus jawabannya bikin sedih.

Terus dia bilang, “Ya udah.”

Terus dia ambil tempe setengah itu dan dia makan.

Dan waktu dia makan, dia lihat aku. Sekali. Cuma sebentar.

Dan aku lihat balik.

Dan kami berdua tahu.

Dia tahu aku bohong. Aku tahu dia tahu aku bohong. Dia tahu aku tahu dia tahu.

Dan tidak ada yang bilang apa-apa.

Kami melakukan itu terus, hampir tiap hari, selama sepuluh tahun. Sampai aku delapan belas. Sampai aku sudah tidak perlu lagi dan tetap melakukannya.

Dan tidak sekali pun kami membicarakannya.


Malamnya aku bangun karena ada suara.

Bukan suara yang keras. Suara batuk.

Batuknya dari ruang depan. Batuk yang ditahan, yang bunyinya masuk ke dalam bukan keluar, kayak orang batuk sambil menutup mulut pakai bantal.

Aku dengar tiga kali. Terus berhenti. Terus dua kali lagi.

Terus lama diam.

Terus ada suara orang bangun, dan suara langkah ke dapur, dan suara keran dinyalakan kecil.

Aku miring dan menghadap Mbak Kanaya.

Mata Mbak terbuka.

Kami tidak bicara. Kami cuma saling lihat, di dalam gelap, dan aku tahu Mbak juga dengar.

Terus Mbak menarik selimut sampai ke bahuku dan menepuk lenganku dua kali, pelan, yang artinya tidur.

Jadi aku tidur.

Besoknya aku tanya, waktu sarapan.

“Ayah batuk, ya?”

“Nggak.”

“Semalem aku denger.”

“Keselek.” Dia menyendokkan nasi ke piringku. “Kebanyakan debu di proyek.”

“Oh.”

Terus aku makan.

Aku percaya, waktu itu. Sumpah aku percaya.

Aku sembilan tahun dan orang yang bilang itu adalah orang yang tidak pernah sekali pun berbohong kepadaku tentang hal-hal besar, dan aku belum tahu bahwa itu justru bukan alasan yang bagus untuk percaya.