Chapter Seventeen
Debu
POV: Damar
Setelah Pak Wignyo, aku tidak punya kerja tetap lagi selama empat bulan.
Yang tersisa cuma harian: pasar subuh dari jam dua sampai enam, lalu apa pun yang ada dari jam sembilan sampai sore. Aku menyebutnya “apa pun” karena memang begitu. Ada bulan di mana aku mengerjakan tujuh jenis pekerjaan berbeda.
Aku pernah mengecat pagar. Aku pernah membersihkan selokan. Aku pernah menjadi orang yang berdiri di depan toko elektronik memegang papan bertuliskan diskon, delapan jam, dua puluh lima ribu, dan itu adalah pekerjaan paling melelahkan yang pernah kukerjakan seumur hidup meskipun aku tidak mengangkat apa-apa.
Yang paling sering: bongkar bangunan.
Wonoyoso sedang banyak yang merenovasi waktu itu. Rumah-rumah lama dibongkar bagian belakangnya, ditambah kamar, ditinggikan atapnya. Untuk bagian merobohkannya, orang tidak menyewa tukang; itu pekerjaan kasar, dibayar harian, siapa saja bisa.
Empat puluh ribu sehari.
Debu tembok lama itu bukan debu biasa. Warnanya abu-abu kekuningan dan halus sekali, dan begitu godam pertama mengenai tembok, debunya tidak jatuh — dia naik, mengisi seluruh ruangan, dan tidak turun-turun sampai satu jam kemudian.
Kami bekerja di dalam ruangan itu.
Aku pakai kaus yang kuikat menutupi hidung. Itu tidak membantu banyak, tapi Haryo bilang lebih baik daripada tidak.
Kejadiannya di rumah Pak Haji Salim, hari ketiga, bulan April.
Kami membongkar dapur belakang. Temboknya batu bata lama dengan plester tebal, dan plester lama itu yang paling parah debunya.
Aku sedang mengangkat karung berisi puing waktu batuknya mulai.
Awalnya biasa. Batuk kering, dua tiga kali, seperti yang terjadi setiap hari sejak Februari.
Lalu tidak berhenti.
Aku menaruh karungnya. Aku membungkuk dan bertumpu pada lutut dan batuk terus, dan setiap kali aku mencoba menarik napas untuk berhenti, napas itu masuk membawa debu dan memulai lagi dari awal.
Aku tidak tahu berapa lama. Rasanya lama sekali. Ada titik di mana aku tidak bisa mengambil napas sama sekali dan aku ingat berpikir, dengan sangat tenang, bahwa ini agak memalukan.
Lalu ada tangan yang menarik kerah kausku dari belakang dan menyeretku keluar.
Haryo mendudukkanku di teras, di bawah, di lantai, dan menyiramkan air dari botol ke tengkukku.
“Ambegan sing landhung. Ojo cepet-cepet.” (“Napas yang panjang. Jangan buru-buru.”)
Butuh mungkin dua menit.
Waktu akhirnya berhenti, dadaku sakit seperti habis dipukul dan mataku berair dan ada rasa besi di belakang lidahku.
Haryo jongkok di depanku.
“Wis suwe?” (“Sudah lama?”)
“Nggak.”
“Damar.”
Dia jarang memakai namaku. Dia selalu memanggilku “Le” atau “cah SMA” atau, kalau sedang jengkel, “bocah”.
“Februari,” kataku.
“Rong sasi.” (“Dua bulan.”)
“Cuma debu, Mas.”
“Aku wis sewelas taun ngisep debu. Aku ora tau kaya ngono.” (“Saya sudah sebelas tahun mengisap debu. Saya tidak pernah seperti itu.”)
Aku mengelap wajahku dengan lengan.
“Sesuk mrono,” katanya. “Puskesmas. Buka jam wolu.” (“Besok ke sana. Puskesmas. Buka jam delapan.”)
“Besok saya kerja.”
“Yo prei sedina.” (“Ya libur sehari.”)
Dan aku tertawa.
Itu bukan tawa yang sopan. Aku tertawa karena tubuhku menganggap kalimat itu lucu sebelum kepalaku sempat menyaringnya, dan begitu suaranya keluar aku sudah tidak bisa menariknya kembali.
Haryo tidak ikut tertawa.
Dia duduk di lantai teras di sebelahku, mengeluarkan rokok, dan tidak menyalakannya karena melihat aku masih terengah.
“Piro sedina, Le?” (“Berapa sehari, Nak?”)
“Empat puluh.”
“Puskesmas iku telung ewu. Obate paling sepuluh ewu.” (“Puskesmas itu tiga ribu. Obatnya paling sepuluh ribu.”)
“Iya.”
“Dadi sing ilang patang puluh telu.” (“Jadi yang hilang empat puluh tiga.”)
“Iya.”
“Patang puluh telu iku pira dina mangan?” (“Empat puluh tiga itu berapa hari makan?”)
Aku diam.
“Rong dina,” jawabnya sendiri. “Kowe wis ngitung. Aku ngerti kowe wis ngitung. Kowe ngitung kabeh.” (“Dua hari. Kamu sudah menghitung. Saya tahu kamu sudah menghitung. Kamu menghitung semuanya.”)
Aku memandang ke halaman rumah Pak Haji Salim, ke tumpukan puing yang harus selesai dipindah sebelum jam empat.
“Le.”
“Hm.”
“Kowe kuwi wong paling bodho sing tak kenal.” (“Kamu itu orang paling bodoh yang saya kenal.”)
Aku menoleh.
“Tenanan.” Dia memutar-mutar rokoknya di antara jari. “Sewelas taun aku neng kene. Aku wis ndelok atusan wong. Sing males, akeh. Sing ngapusi, akeh. Sing nyolong, ana.”
(“Serius. Sebelas tahun saya di sini. Saya sudah lihat ratusan orang. Yang malas, banyak. Yang menipu, banyak. Yang mencuri, ada.”)
“Terus?”
“Terus kowe. Kowe ora tau njaluk apa-apa.”
(“Terus kamu. Kamu tidak pernah minta apa-apa.”)
Dia menoleh kepadaku.
“Wingi Pak Salim nawakke tambahan rong puluh ewu merga kowe lembur. Kowe nolak. Ngapa?” (“Kemarin Pak Salim menawarkan tambahan dua puluh ribu karena kamu lembur. Kamu menolak. Kenapa?”)
“Kesepakatannya empat puluh.”
“Kowe lembur rong jam.”
“Saya yang lambat, Mas. Bukan dia yang nambah kerjaan.”
Haryo menatapku lama sekali.
Lalu dia berkata sesuatu yang aku ingat selama sepuluh tahun, dan yang baru aku mengerti sepenuhnya di umur dua puluh tujuh, di sebuah koridor rumah sakit:
“Le. Wong sing ora tau njaluk kuwi dudu wong sing kuwat.” Dia menyalakan rokoknya akhirnya. “Kuwi wong sing ora ngerti nek awake dhewe kalebu wong.” (“Nak. Orang yang tidak pernah meminta itu bukan orang yang kuat. Itu orang yang tidak tahu bahwa dirinya sendiri termasuk orang.”)
Aku pergi ke puskesmas hari Sabtu.
Aku tidak memberitahu Haryo. Aku juga tidak memberitahu Kanaya; aku bilang aku kerja di Ngadirejo dan pulang sore.
Puskesmas Wonoyoso buka jam delapan dan antrenya sudah dimulai jam enam. Aku datang jam setengah tujuh dan dapat nomor dua puluh tiga.
Aku duduk di bangku besi di koridor.
Di depanku ada papan pengumuman. Tarif pelayanan. Jadwal imunisasi. Dan satu poster besar dengan gambar paru-paru berwarna merah muda di sebelah kiri dan paru-paru berwarna abu-abu kehitaman di sebelah kanan, dengan tulisan tentang batuk lebih dari dua minggu, tentang keringat malam, tentang berat badan turun.
Aku membacanya sampai selesai.
Lalu aku membacanya lagi.
Aku sudah tidak menimbang berat badanku sejak sekolah. Aku tidak punya timbangan. Tapi celana yang kubeli Oktober sudah harus diikat dengan tali rafia di dalam ikat pinggang sejak Januari, dan aku sudah tahu itu, dan aku sudah memutuskan sejak Januari bahwa itu karena kerja berat.
Nomor sembilan dipanggil.
Aku duduk di bangku besi itu dan aku mengerjakan hitungan yang sudah kuhafal luar kepala.
Kalau ini sesuatu, mereka akan menyuruhku rontgen. Rontgen tidak ada di puskesmas; harus ke rumah sakit. Rumah sakit itu artinya masuk lagi ke gedung yang sama, ke loket yang sama, ke petugas yang mungkin masih mengingat namaku dari sisa tagihan yang baru lunas bulan lalu.
Kalau ini sesuatu, mereka akan menyuruhku berobat enam bulan. Enam bulan berarti kontrol rutin. Kontrol rutin berarti izin kerja. Izin kerja berarti dianggap sakit-sakitan. Dan orang yang dianggap sakit-sakitan tidak dipanggil lagi kalau ada bongkaran.
Kalau ini sesuatu, mereka akan bilang aku harus istirahat.
Dan itu satu-satunya kata di seluruh perbendaharaan bahasa Indonesia yang tidak bisa kupakai.
Nomor lima belas dipanggil.
Aku memikirkan Kanaya, yang tahun depan masuk SMA, dan biaya masuk SMA di Wonoyoso satu juta dua ratus.
Aku memikirkan Alina, yang giginya mulai berlubang dan sudah dua kali bilang sakit dan dua kali bilang sudah tidak sakit.
Aku memikirkan tujuh amplop di kaleng biskuit dan aku tahu persis, tanpa perlu melihat, isi masing-masing.
Nomor dua puluh dipanggil.
Aku berdiri.
Aku berjalan keluar dari koridor itu, melewati loket, melewati parkiran, ke jalan raya, dan aku naik angkot pulang.
Aku sampai di gang Sidomulyo jam sembilan lewat.
Bu Ratih memanggilku dari warungnya.
“Le! Mrene sik!” (“Nak! Sini dulu!”)
Aku menghampiri.
“Ana telpon nggo kowe. Mau esuk, jam pitu.” (“Ada telepon untuk kamu. Tadi pagi, jam tujuh.”)
“Dari siapa, Bu?”
“Bocah wadon. Eliza, jarene.” Bu Ratih menyeka tangannya. “Jarene arep pamitan.” (“Anak perempuan. Eliza, katanya. Katanya mau pamit.”)
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu reading
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku