Chapter One
Tanah yang Belum Kering
POV: Damar
Yang paling kuingat dari hari itu bukan tangisan siapa-siapa. Yang paling kuingat adalah suara cangkul.
Ada empat orang yang bergantian menimbun. Tanahnya merah dan berat karena semalam hujan, dan setiap kali cangkul itu turun, bunyinya seperti seseorang menutup pintu di ruangan yang jauh. Aku menghitung sampai tiga puluh tujuh, lalu berhenti, karena aku sadar aku sedang menghitung supaya tidak perlu memikirkan apa pun.
Aku memakai seragam.
Bukan karena aku baru pulang sekolah. Aku sudah tiga hari tidak masuk. Aku memakai seragam karena hanya kemeja itu satu-satunya yang putih dan masih layak, dan Mbak Laras sendiri yang menyetrikanya Minggu lalu, waktu dia masih ada dan masih mengomel karena aku menaruh sepatu di atas meja.
Orang-orang di sekitarku memakai baju koko dan kerudung hitam. Aku memakai seragam SMA dengan badge OSIS yang belum sempat kulepas. Ada bapak-bapak yang meliriknya dua kali. Aku tahu apa yang dia pikirkan, dan aku tidak punya tenaga untuk menjelaskan.
Di sebelah kananku, Alina memegang ujung kemejaku. Bukan tanganku. Ujung kemejaku, di bagian pinggang, digenggam dengan lima jari kecil yang seharian tidak dilepas sekali pun.
“Om Damar.”
“Iya.”
“Ibu pulangnya kapan?”
Umurnya delapan tahun. Dia bertanya dengan nada yang sama persis seperti kalau dia menanyakan kapan air panas selesai dijerang. Tidak ada sesenggukan, tidak ada mata basah. Dia bertanya karena dia benar-benar ingin tahu, dan karena tidak ada satu orang pun sejak kemarin yang menjawabnya dengan jujur.
Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.
Bu Ratih, yang berdiri di belakang kami, meletakkan tangan di kepala Alina. “Sik, yo, Nduk. Sabar sik.” (“Nanti, ya, Nak. Sabar dulu.”)
Alina mengangguk, puas, dan kembali menatap tanah merah itu. Aku menoleh ke Bu Ratih dan Bu Ratih tidak menoleh kepadaku. Bibirnya bergerak tanpa suara sepanjang doa.
Di sebelah kiriku, Kanaya tidak memegang apa-apa.
Dia berdiri dengan punggung lurus, kerudung hitam yang kebesaran, dan wajah yang sama sekali kosong. Umurnya dua belas. Sejak subuh kemarin, sejak aku pulang dari rumah sakit dan mengucapkan satu kalimat di ambang pintu, dia belum menangis sekali pun. Tidak waktu jenazah dimandikan. Tidak waktu keranda diangkat. Tidak waktu ada tetangga yang memeluknya sambil menangis keras-keras sampai kerudung Kanaya melorot.
Yang dia lakukan cuma satu: menggenggam tangan Alina. Terlalu erat. Jari Alina sampai memutih di ujungnya, dan Alina tidak protes.
Aku sempat berpikir untuk mengatakan sesuatu. Sesuatu seperti nggak apa-apa, nangis aja. Lalu aku sadar aku sendiri belum menangis, dan siapa aku, menyuruh anak dua belas tahun melakukan hal yang aku sendiri tidak bisa.
Doa selesai. Orang-orang mulai bubar. Tanah itu belum kering.
Rumah kami penuh sampai jam sembilan malam.
Kami tinggal di Kampung Sidomulyo, di gang yang cukup untuk satu motor dan satu orang berpapasan kalau salah satunya mau miring. Rumah kami rumah kontrakan, dua kamar, ruang depan yang merangkap ruang makan, dapur di belakang yang atapnya bocor di satu titik dan sudah tiga tahun ditadahi ember biru.
Malam itu, ruang depan itu diisi entah berapa puluh orang. Tikar digelar sampai ke teras. Ada yang membawa gula, ada yang membawa beras, ada yang membawa amplop dan menyelipkannya ke tanganku dengan cara yang membuatku ingin menghilang.
Aku duduk di dekat pintu. Aku disuruh duduk di depan, di dekat Pak Modin, karena aku laki-laki dan aku keluarga. Aku bilang aku di sini saja. Tidak ada yang memaksa.
Dari tempatku duduk, aku bisa melihat foto Mbak Laras yang disandarkan di meja, di antara dua gelas teh yang mulai dingin. Fotonya foto lama, foto KTP yang diperbesar sampai buram. Di foto itu dia tidak tersenyum, karena memang tidak boleh tersenyum di foto KTP, dan itu membuatku marah dengan cara yang tidak masuk akal.
Mbak Laras selalu tersenyum. Bahkan waktu marah. Terutama waktu marah.
Kalau kuhitung, aku hidup dengan dia lebih lama daripada aku hidup dengan siapa pun. Bapak dan Ibu meninggal waktu aku tujuh tahun, dua-duanya, dalam jarak empat bulan. Aku tidak ingat banyak dari masa itu. Yang kuingat cuma Mbak Laras datang menjemputku dengan Kanaya yang masih dua tahun di gendongannya, dan bilang, ”Ayo, Le. Melu Mbak.” (“Ayo, Nak. Ikut Mbak.”)
Dia dua puluh empat tahun waktu itu. Sudah punya anak. Sudah punya suami yang mulai jarang pulang. Dan dia menambah satu anak laki-laki tujuh tahun ke dalam rumahnya tanpa pernah, sekali pun, dalam sepuluh tahun berikutnya, menyebut itu sebagai beban.
Aku memikirkan itu sambil menatap gelas teh yang dingin, dan itu titik pertama sepanjang hari di mana dadaku terasa penuh.
“Le.”
Bu Ratih berjongkok di sebelahku, membawa piring. Nasi, sepotong ayam, sambal di pinggir.
“Mangan sik.” (“Makan dulu.”)
“Nanti, Bu.”
“Nanti kapan? Wingi bengi yo ora mangan.” (“Nanti kapan? Semalam juga tidak makan.”)
“Nanti, Bu. Beneran.”
Dia menatapku agak lama. Lalu meletakkan piring itu di lantai di sebelah kakiku dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi, yang mana lebih menyakitkan daripada kalau dia memaksa.
Piring itu masih di sana sampai orang terakhir pulang. Nasinya sudah keras di pinggir.
Aku mengangkatnya, membawanya ke dapur, dan memasukkannya ke tudung saji.
Besok pagi masih bisa dimakan.
Kanaya sedang mencuci gelas ketika aku masuk ke dapur.
Ada tiga puluhan gelas menumpuk di bak, sisa tamu. Dia berdiri di atas bangku plastik supaya tangannya sampai ke keran, kerudung sudah dilepas, rambutnya diikat asal-asalan. Air keran mengalir kecil karena jam segitu tekanannya selalu turun.
“Nay.”
Dia tidak menoleh. “Iya.”
“Udah. Besok aja.”
“Besok Kakak kerja.”
Aku berhenti di ambang pintu dapur.
Aku belum kerja. Aku belum pernah kerja. Aku kelas dua SMA dan pekerjaan terberat yang pernah kulakukan adalah membantu Pak Yatno mengangkat galon setiap Sabtu untuk uang jajan. Tapi Kanaya mengatakannya seperti itu fakta yang sudah lama diketahui semua orang, sambil terus menggosok gelas, dan aku tidak membantahnya.
Aku berjalan ke bak dan mengambil gelas dari tangannya.
“Aku bisa,” katanya.
“Kakak tahu kamu bisa.” Aku menaruh gelas itu di rak. “Bukan itu masalahnya.”
Dia diam. Air mengalir. Di ruang depan, kipas angin yang dipinjam dari sebelah masih berputar karena tidak ada yang ingat mematikannya.
“Nay.”
“Hm.”
“Kamu nggak apa-apa?”
Pertanyaan bodoh. Aku tahu itu pertanyaan bodoh bahkan sebelum selesai kuucapkan. Tapi aku tujuh belas tahun dan seluruh kosakataku untuk situasi seperti ini habis kemarin.
Kanaya mematikan keran. Dia turun dari bangku plastik. Lalu dia berdiri menghadapku, dan untuk pertama kalinya sejak subuh kemarin, dia menatap wajahku betulan.
“Kakak,” katanya, “besok Alina sekolah nggak?”
Aku tidak siap dengan pertanyaan itu.
“Nggak usah dulu,” kataku. “Seminggu, mungkin.”
“Kalau nggak masuk seminggu, dia ketinggalan perkalian.” Suaranya datar. “Bulan depan ada ujian. Dia belum hafal yang enam.”
“Nay—“
“Terus SPP-nya belum dibayar dua bulan.” Dia mengelap tangannya ke celana. “Ibu belum sempat.”
Aku menatapnya. Anak ini dua belas tahun. Dua belas. Kemarin pagi dia kehilangan ibunya dan malam ini yang dia pikirkan adalah perkalian enam dan tunggakan SPP, dan dia mengatakannya dengan wajah yang sama sekali tidak bergerak, seperti sedang membacakan daftar belanja.
Ada sesuatu yang harus kukatakan. Aku tahu ada sesuatu yang harus kukatakan.
Yang keluar cuma, “Iya. Nanti Kakak urus.”
Kanaya mengangguk sekali. Lalu dia naik lagi ke bangku plastik dan menghidupkan keran.
Aku berdiri di sebelahnya dan mengelap gelas satu per satu, dan kami tidak bicara lagi sampai selesai.
Alina tidur di kamar depan, di kasur yang biasanya ditempati Mbak Laras.
Dia tidur miring, memeluk bantal yang bukan bantalnya. Mulutnya sedikit terbuka. Ada bekas kerupuk di sudut bibirnya yang tidak sempat dilap siapa-siapa.
Aku berdiri di pintu agak lama.
Besok dia akan bangun dan bertanya lagi. Aku tahu itu. Dia akan bertanya dengan nada yang sama, karena bagi anak umur delapan tahun, orang yang pergi adalah orang yang belum pulang, dan belum pulang adalah keadaan yang bisa berubah kapan saja.
Aku belum punya jawabannya. Aku juga belum punya jawaban untuk perkalian enam, atau untuk SPP dua bulan, atau untuk tagihan rumah sakit yang stafnya sudah menanyakannya dua kali dengan sangat sopan sambil menyodorkan map.
Aku menutup pintu kamar pelan-pelan dan duduk di ruang depan yang sekarang kosong.
Tikar masih tergelar. Foto KTP yang diperbesar itu masih bersandar di meja. Dua gelas teh yang dingin masih di sana.
Aku menariknya mendekat dan menatap wajah kakakku yang tidak tersenyum, dan akhirnya, jam sebelas lewat, di rumah yang sudah sepi, dadaku pecah.
Aku menangis dengan tangan menutup mulut supaya tidak ada yang dengar. Aku menangis seperti orang yang takut ketahuan mencuri.
Dan yang paling kuingat dari tangisan itu bukan rasa kehilangannya. Yang paling kuingat adalah kalimat yang terus berputar di kepalaku, berulang-ulang, tanpa bisa kuhentikan:
Mbak, aku belum sempat balas apa-apa.
Pagi berikutnya, jam delapan lewat sedikit, ada yang mengetuk pintu.
Aku pikir tetangga. Aku pikir mau mengambil kipas angin, atau termos, atau salah satu dari sekian banyak barang pinjaman yang masih menumpuk di sudut.
Aku membuka pintu dengan piring di tangan — piring semalam, nasi yang sudah keras di pinggirnya, yang akhirnya kumakan pagi itu supaya tidak mubazir.
Di depan pintu berdiri seorang perempuan berumur empat puluhan, berkemeja rapi, dengan tas selempang dan map plastik biru di dekapan.
Di belakangnya, Bu Ratih berdiri dengan wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
“Selamat pagi,” kata perempuan itu, ramah sekali. “Betul ini rumahnya almarhumah Ibu Laras Prasetya?”
“Betul.”
“Saya dari Dinas Sosial.” Dia tersenyum. “Boleh saya bicara dengan walinya anak-anak?”
Aku memegang piring itu dengan dua tangan.
“Saya,” kataku.
Senyumnya tidak hilang. Tapi matanya turun sebentar — ke seragam yang masih kupakai, karena aku memang tidak punya kemeja lain — lalu naik lagi.
“Adik,” katanya, pelan, “umur berapa?”
- 1 Tanah yang Belum Kering reading
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku