← Kakak Sudah Makan

Chapter Twenty Three

Tiga Hari

POV: Bu Salma, wali kelas X-3 · Tahun kedelapan

Saya mengajar Biologi dan jadi wali kelas X-3, dan Alina Santika adalah anak yang setiap wali kelas berdoa dapatkan.

Bukan karena dia paling pintar. Nilainya bagus, tidak istimewa. Yang membuatnya berharga adalah dia memperbaiki suasana ruangan hanya dengan masuk ke dalamnya.

Anak itu berisik, ramah ke semua orang termasuk ke anak-anak yang biasanya tidak diajak bicara siapa pun, dan punya kebiasaan tertawa dengan seluruh badannya sampai harus memegang meja.

Dalam delapan bulan saya jadi wali kelasnya, saya tidak pernah sekali pun melihat Alina Santika marah.

Saya tulis itu supaya jelas.


Kejadiannya hari Rabu, minggu ketiga bulan Februari, sekitar pukul sebelas.

Alina lolos seleksi kabupaten untuk lomba karya tulis. Bukan hal besar; setiap tahun sekolah mengirim empat anak. Tapi ada berkasnya, dan berkasnya butuh tanda tangan wali, dan wali harus datang karena ada surat pernyataan bermaterai.

Walinya datang jam sepuluh pagi.

Saya sudah tahu ceritanya sebagian, dari berkas dan dari kasak-kusuk kantor. Kedua orang tua tidak ada. Yang mengasuh adiknya ibu, laki-laki, masih muda.

Yang saya tidak siap adalah semudanya.

Laki-laki itu masuk ke ruang tamu sekolah dengan kemeja lengan panjang yang jelas bukan miliknya — kebesaran di bahu, lengannya dilipat dua kali — dan sepatu yang disemir sampai mengkilat tapi solnya sudah menganga sedikit di ujung kanan.

Rambutnya basah. Dia baru mandi. Jam sepuluh pagi.

“Selamat pagi, Bu. Saya Damar, walinya Alina.”

Kami mengurus berkasnya dua puluh menit. Dia membaca setiap lembar sebelum tanda tangan. Setiap lembar. Sampai selesai. Termasuk bagian syarat dan ketentuan yang saya sendiri belum pernah baca.

“Ini yang tanggal dua puluh delapan, Bu?”

“Iya, Pak.”

“Berangkatnya dari sekolah?”

“Dari sekolah, jam enam pagi.”

“Pulangnya?”

“Sore, sekitar jam empat.”

Dia mengangguk dan mencatatnya di kertas kecil yang dia keluarkan dari saku. Kertas itu sudah penuh tulisan lain.

Waktu selesai, dia bertanya satu hal lagi.

“Bu, ini ada biayanya nggak?”

“Nggak ada, Pak. Dari sekolah.”

“Konsumsi? Transport?”

“Ditanggung.”

Dia diam sebentar. Lalu dia bilang, “Kalau ada, tolong dikabari saya, Bu. Jangan ke Alina.”

Saya mengangguk.

Baru bertahun-tahun kemudian saya mengerti kenapa saya masih ingat kalimat itu: karena dia mengatakannya dengan sangat tenang, seperti orang yang sudah mengucapkannya di banyak tempat sebelumnya, dan tahu persis bahwa itu perlu dikatakan.


Ruang guru kami bersebelahan dengan ruang tamu, dipisahkan pintu kaca dan tirai.

Kalau ada yang bicara di ruang guru dengan suara normal, orang di ruang tamu tidak dengar. Kalau ada yang bicara agak keras, dengar.

Pak Gito bicara agak keras.

Pak Gito guru honorer, mengajar Prakarya, sudah sembilan tahun honorer dan sudah tiga kali gagal tes. Umurnya empat puluh dua. Gajinya, kalau boleh saya sebutkan, kurang dari upah minimum kabupaten.

Saya menulis itu bukan untuk membelanya. Saya menulisnya karena saya rasa itu penting.

Orang yang merasa dirinya diinjak biasanya butuh mencari orang yang lebih rendah, supaya ada tempat berpijak.

Yang dia katakan begini, kira-kira, sambil menuang air panas ke gelasnya:

Bahwa dia tadi berpapasan di parkiran. Bahwa dia mengira itu tukang. Bahwa sekarang wali murid bisa siapa saja. Bahwa pantas anaknya begitu, kalau yang mengasuh kuli.

Lalu ada yang tertawa. Bukan Pak Gito. Guru lain, yang saya tidak akan sebutkan namanya karena beliau sudah pensiun dan sudah meminta maaf kepada saya dua kali sesudahnya, dan saya rasa itu cukup.

Saya berdiri untuk menegur.

Saya tidak sempat.


Alina Santika ada di koridor.

Saya tidak tahu sejak kapan. Dia seharusnya di kelas; jam kesembilan itu Bahasa Inggris. Mungkin dia izin ke belakang. Mungkin dia mencari walinya. Saya tidak pernah menanyakannya.

Pintu ruang guru terbuka dari luar.

Dan yang masuk bukan anak yang saya kenal delapan bulan.

Saya sudah mengajar tiga belas tahun waktu itu. Saya sudah pernah melihat murid marah. Anak SMA marah itu bunyinya keras dan gerakannya besar dan biasanya selesai dalam dua menit.

Ini bukan itu.

Alina berjalan lurus ke meja Pak Gito dan berhenti sekitar setengah meter di depannya, dan dia tidak berteriak. Suaranya justru rendah, dan gemetar, dan itu yang membuat seisi ruangan berhenti.

“Bapak bilang apa tadi.”

“Alina—“ saya berdiri.

“Bapak bilang apa tadi, Pak.”

Pak Gito meletakkan gelasnya. Wajahnya berubah, dan saya lihat dengan jelas bahwa dia langsung menyesal, dan saya lihat juga bahwa dia tidak tahu cara keluar dari itu tanpa kehilangan muka di depan delapan guru.

“Nak, Bapak nggak—“

“Bapak tahu dia jam berapa bangun?”

Ruangan itu sunyi.

“Jam satu,” kata Alina. “Jam satu pagi. Terus ke pasar sampai jam enam. Terus nganter aku sekolah. Terus proyek sampai jam empat. Terus cuci piring sampai jam sebelas malam.”

Tangannya gemetar. Dia tidak menangis. Itu bagian yang paling tidak bisa saya lupakan — dia sama sekali tidak menangis.

“Aku nggak pernah lihat dia beli baju,” katanya. “Sekali pun. Delapan tahun. Kemeja yang tadi itu pinjaman.”

“Alina, cukup—“

“Dia batuk tiap malam.” Suaranya naik untuk pertama kalinya. “Tiap malam, Pak. Dari aku kelas tiga SD. Aku dengar dari kamar. Dia pergi ke dapur terus nyalain keran biar nggak kedengeran.”

Ada guru yang menutup mulut dengan tangan.

“Dan dia nggak pernah ke dokter. Nggak pernah. Karena kalau dia ke dokter, nanti disuruh istirahat, terus kalau dia istirahat kita nggak makan.”

Alina menarik napas.

“Terus Bapak bilang pantas.”

Yang terjadi berikutnya berlangsung mungkin dua detik.

Di meja Pak Gito ada tumpukan lembar jawaban ulangan, mungkin tiga kelas, dan gelas yang baru diisi air panas.

Alina menyapu tumpukan itu dengan lengannya.

Kertas beterbangan. Gelasnya jatuh dan pecah dan airnya kena celana Pak Gito, tidak parah, tapi cukup untuk membuat beliau melompat berdiri.

Dan Alina berteriak — untuk pertama dan satu-satunya kali dalam delapan bulan saya mengenalnya:

“BAPAK NGGAK TAHU APA-APA!”


Sekolah memberinya skorsing tiga hari.

Saya ikut rapatnya. Saya membela sebisa saya; saya sampaikan konteksnya, saya sampaikan bahwa ada provokasi dari pihak guru. Kepala sekolah mendengarkan dengan baik.

Tapi ada delapan orang di ruangan itu waktu kejadian, ada barang pecah, dan ada anak yang membentak guru.

Tiga hari. Dengan pemanggilan wali.

Pak Gito diberi teguran lisan. Tidak tertulis. Saya keberatan dan keberatan saya dicatat, dan itu semua yang bisa saya lakukan.


Walinya datang hari Jumat, jam sembilan pagi.

Kemeja yang sama. Sepatu yang sama.

Dia sudah tahu ceritanya, karena kami sudah menelepon lewat nomor warung yang beliau tinggalkan.

Kami duduk di ruang tamu: kepala sekolah, saya, Pak Gito, dan Damar. Alina disuruh menunggu di luar.

Kepala sekolah menjelaskan dengan panjang. Damar mendengarkan dan tidak memotong sekali pun.

Waktu giliran bicara, dia berkata:

“Saya minta maaf, Bu, Pak.”

Lalu dia berdiri.

Dan dia membungkuk.

Bukan mengangguk. Membungkuk, dari pinggang, ke arah Pak Gito. Cukup dalam. Cukup lama.

“Saya minta maaf, Pak. Alina salah. Saya yang nggak bisa didik dia.”

Saya melihat wajah Pak Gito waktu itu dan saya berharap saya tidak pernah melihatnya.

Beliau ingin sekali laki-laki itu tidak membungkuk. Saya yakin itu. Saya melihat tangannya bergerak setengah, seperti mau menahan, lalu berhenti karena kepala sekolah ada di ruangan dan beliau sudah kepalang berdiri di sisi yang salah.

“Ya, ya. Sudah,” kata Pak Gito. “Sudah.”

“Nanti saya bicara sama dia di rumah.”

“Iya. Sudah, Mas. Sudah.”

Damar tetap berdiri sampai dipersilakan duduk.

Dia tidak sekali pun menyebutkan apa yang dikatakan Pak Gito.

Tidak sekali pun.

Saya menunggunya. Saya menunggu dia bilang tapi, Pak, atau saya dengar, atau apa pun. Saya bahkan sudah siap mendukungnya kalau dia mengatakannya.

Dia tidak mengatakannya.

Dan waktu rapat selesai, dia berterima kasih kepada kami bertiga satu per satu, termasuk kepada Pak Gito, dan berjalan keluar.


Ini bagian terakhir dan sebenarnya inilah kenapa saya masih mengingat semuanya setelah bertahun-tahun.

Ruang tamu kami menghadap ke parkiran, dan dari jendela saya bisa melihat sampai ke gerbang.

Alina menunggu di bangku semen di dekat pos satpam.

Walinya keluar dan menghampirinya. Mereka bicara sebentar — saya tidak dengar, terlalu jauh — dan Alina menunduk.

Lalu mereka berjalan ke gerbang.

Dan di dekat gerbang, anak itu mulai menangis.

Bukan menangis anak SMA yang cari perhatian. Dia berhenti berjalan, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan bahunya naik turun, di tempat, di depan pos satpam, jam sepuluh pagi.

Dan walinya berdiri di sebelahnya.

Berdiri saja.

Saya lihat tangan kanannya terangkat. Sampai setengah. Ke arah bahu anak itu.

Lalu berhenti.

Lalu turun lagi.

Dia berdiri di sana, setengah meter dari anak yang menangis karena membela dirinya, dengan kedua tangan di samping badan, dan tidak menyentuhnya.

Saya berdiri di jendela ruang tamu SMA Negeri 2 Wonoyoso dan saya tidak mengerti apa yang saya lihat.

Saya pikir laki-laki itu tidak tahu cara menghibur.

Saya pikir mungkin dia canggung, atau marah, atau terlalu lelah.

Saya baru mengerti dua tahun kemudian, waktu Alina — yang sudah lulus, yang datang berkunjung membawa kue lebaran — menceritakan hal-hal yang tidak pernah dia ceritakan waktu masih jadi murid saya.

Dan waktu saya mengerti, saya menutup pintu ruang guru dan duduk di kursi saya sendiri selama sepuluh menit.

Mereka naik angkot yang sama, hari itu, dan tidak berbicara sepatah kata pun sepanjang jalan pulang.

Alina yang menceritakan itu kepada saya.

Bukan diam yang marah, katanya. Bukan diam yang canggung.

Diam orang yang tidak punya satu kalimat pun yang aman untuk diucapkan.