Chapter Forty One
Sepuluh Tahun Angkatan
POV: Eliza
Undangannya masuk grup WhatsApp angkatan bulan Februari.
REUNI 10 TAHUN — SMA NEGERI 1 WONOYOSO — Sabtu, 12 April, 18.00 — Aula Sekolah.
Ada dua ratus tiga puluh orang di grup itu. Aku sudah keluar-masuk grup itu tiga kali dalam tujuh tahun.
Aku menanyakannya ke Damar hari Rabu, di teras rumahku, waktu dia sedang membereskan perkakas.
“Damar.”
“Hm.”
“Dua belas April kamu kerja?”
“Kerja.”
“Sabtu malem?”
“Cuci piring.”
“Bisa izin?”
Dia mengangkat kepalanya. “Ada apa?”
“Reuni angkatan.”
Dan dia kembali ke perkakasnya.
“Nggak, Liz.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Nggak usah.”
“Damar—“
“Aku bukan alumni.”
Dan dia mengatakannya dengan sangat biasa, sambil menggulung kabel, tanpa satu pun nada pahit — dan itu yang membuatku harus berdiri dan pura-pura mencari sesuatu di dalam rumah selama dua menit.
Aku mencobanya tiga kali dalam sepuluh hari dan gagal tiga kali.
Yang pertama aku bilang cuma dua jam.
Yang kedua aku bilang banyak yang nanyain kamu. Itu bohong; tidak ada yang menanyakannya, karena tidak ada yang tahu dia masih di Wonoyoso.
Yang ketiga aku bilang aku yang bayar tiketnya. Dia bilang bukan itu masalahnya, dan dia benar, dan aku tahu dia benar sebelum kalimatnya selesai.
Yang berhasil adalah yang keempat, dan aku menemukannya secara tidak sengaja.
Kami sedang mengukur ulang kusen kamar depan hari Kamis dan aku sedang jengkel karena hal lain, dan yang keluar dari mulutku adalah:
“Ya udah. Aku nggak jadi dateng.”
Dia menoleh.
“Kenapa?”
“Males sendirian.”
“Kamu kan kenal semua.”
“Iya, kenal.” Aku memegangi ujung meteran. “Terus nanti aku duduk di meja sama tujuh orang yang udah nikah semua dan punya anak semua, terus mereka nanya aku kenapa belum, terus aku jawab pertanyaan itu dua puluh kali dalam tiga jam.”
Damar diam.
“Ya udah,” katanya. “Aku izin.”
Aku hampir menjatuhkan meterannya.
“Apa?”
“Sabtu. Aku izin sama Pak Rahmat.” Dia menandai kusen itu dengan pensil. “Tapi cuma sampai jam sembilan. Setelah jam sembilan aku tetep masuk.”
Dan itu yang aku pelajari tentang laki-laki itu setelah empat bulan, dan yang seharusnya aku pelajari sepuluh tahun lebih awal:
Dia menolak setiap hal yang diberikan kepadanya.
Dia tidak pernah, sekali pun, bisa menolak orang yang butuh.
Dia datang ke rumah jam setengah enam sore hari Sabtu.
Kemeja batik cokelat, motif parang, lengan panjang, dengan satu kancing yang warnanya beda.
Aku sudah pernah melihat kemeja itu di foto. Alina yang menunjukkannya, tanpa alasan, di rumah makan bulan Desember — foto dari belakang, di halaman kampus di Semarang, laki-laki dengan bahu kemeja kebesaran berdiri sendirian di antara ratusan orang.
“Kemejanya bagus,” kataku.
“Punya Mas Haryo.”
“Oh.”
“Dia yang maksa.”
“Dia tahu kamu ke reuni?”
“Semua orang tahu.” Dia mengangkat bahu. “Mas Haryo, Bejo, Bu Ratih. Kanaya nyetrikain. Alina yang milih sepatunya.”
Aku menatapnya.
“Alina milih sepatu kamu?”
“Dia bilang yang safety nggak boleh.”
Aula SMA Negeri 1 Wonoyoso muat empat ratus orang dan malam itu ada mungkin seratus tiga puluh.
Ada spanduk. Ada meja bundar dengan taplak putih. Ada panggung kecil dengan dua MC yang dulu anak OSIS dan sekarang salah satunya notaris.
Kami masuk jam enam lewat.
Dan di ambang pintu, Damar berhenti.
Cuma setengah detik. Kalau aku tidak berjalan tepat di sebelahnya aku tidak akan sadar.
Aku menggandeng lengannya.
Aku tidak merencanakan itu. Aku juga tidak akan berpura-pura itu romantis, karena bukan. Aku menggandengnya seperti orang memegangi pintu supaya tidak menutup.
Dia tidak menarik lengannya.
Dia juga tidak menoleh kepadaku, dan kami berjalan masuk seperti itu, dan aku merasakan otot lengannya keras seperti tali sampai kami sampai di meja.
Malam itu berjalan seperti semua reuni berjalan.
Ada yang berteriak nama orang dari seberang ruangan. Ada yang tidak dikenali dan harus menyebut nama tiga kali. Ada foto angkatan yang ditayangkan di proyektor dan seluruh ruangan tertawa waktu wajah masing-masing muncul.
Damar duduk di sebelahku dan tidak banyak bicara dan tidak kelihatan tersiksa, dan aku terus memeriksanya setiap beberapa menit seperti orang memeriksa panci di kompor.
Yang menyapa duluan Bagas — dulu ketua kelas, sekarang di bank.
“Damar?”
“Bagas.”
“ANJIR, DAMAR!”
Dan dia memeluknya, betulan memeluk, dan menariknya berdiri, dan berteriak ke meja sebelah bahwa Damar datang.
Empat orang menoleh. Tiga menghampiri.
Aku duduk di kursiku dan aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat dalam empat bulan.
Damar tertawa.
Bukan senyum yang dia pakai untuk semua hal. Tertawa, betulan, dengan kepala sedikit ke belakang, waktu Bagas menceritakan kejadian di kelas satu yang aku sendiri sudah lupa.
Dua puluh menit itu, dia baik-baik saja.
Lalu pertanyaannya datang, seperti yang selalu datang.
“Lu sekarang di mana, Mar?”
Yang bertanya bukan orang jahat. Namanya Yoga, dulu duduk di depan, sekarang punya dua apotek.
Damar meletakkan gelasnya.
“Di sini.”
“Di sini gimana?”
“Wonoyoso.”
“Kerja apa?”
Dan aku merasakan seluruh badanku menegang, dan aku sudah menyiapkan tiga kalimat untuk menyela, dan aku sudah membuka mulut.
Damar menjawab duluan.
“Bangunan,” katanya. “Tukang. Sama di pasar subuh, sama cuci piring di rumah makan malemnya.”
Tidak ada satu pun kata tambahan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada sementara ini. Tidak ada sambil nyari yang lain.
Meja itu diam kira-kira dua detik.
Dan lalu Bagas — yang ketua kelas, yang di bank, yang sepuluh tahun lalu tidak pernah bicara dengan Damar lebih dari lima kalimat — berkata:
“Mar, lu inget nggak, yang dulu bikin lu berhenti sekolah itu—“
“Bagas,” kata Yoga.
“Nggak, aku serius nanya.”
“Bagas.”
“Nggak apa-apa,” kata Damar.
Dan dia menceritakannya.
Empat kalimat. Kakaknya meninggal, ada dua keponakan, tidak ada keluarga lain, dia berhenti.
Empat kalimat untuk sepuluh tahun.
Dan waktu selesai, tidak ada yang tahu harus berkata apa, dan itu bagian yang paling menyakitkan dari seluruh malam itu: enam orang dewasa berumur dua puluh tujuh tahun berdiri mengelilingi meja dan tidak satu pun dari mereka punya kalimat yang pantas.
Yang menyelamatkan situasinya adalah Damar sendiri.
Dia bertanya kepada Yoga apakah apoteknya yang di jalan Diponegoro atau yang di dekat pasar, dan Yoga menjawab, dan percakapan berjalan lagi.
Dia yang menyelamatkan mereka.
Jam delapan, MC naik ke panggung untuk segmen yang sudah pasti ada di setiap reuni.
“Oke, sekarang kita nostalgia! Siapa yang masih inget cita-citanya waktu kelas dua?”
Ruangan itu ribut.
Orang berteriak. Ada yang bilang mau jadi astronot. Ada yang bilang mau jadi pemain bola. Ada yang berdiri dan mengaku dulu ingin masuk kedokteran dan sekarang jualan sepatu online, dan seluruh aula tertawa.
Aku tidak tertawa.
Aku menoleh ke sebelahku.
Damar duduk dengan kedua tangan di pangkuan, menghadap panggung, dan wajahnya tidak berubah sama sekali.
Dan aku ingat trotoar itu. Bulan Desember. Lutut menyentuh lutut. Dua puluh detik diam dan lalu:
Aku ngisi formulirnya. Bulan Agustus. Aku inget ngisi.
Terus tanggal sembilan belas Agustus Mbak Laras masuk rumah sakit.
Aku nggak inget aku nulis apa, Liz. Aku beneran nggak inget.
Segmen itu berlangsung sepuluh menit.
Dia tidak sekali pun berhenti tersenyum ke arah panggung.
Setelah itu MC menyebut daftar guru yang hadir.
Ada empat. Yang kelima disebut terakhir.
“Dan Bapak Umar Setiadi, wali kelas dua IPS satu — beliau titip salam, nggak bisa hadir karena sedang dirawat.”
Ruangan itu mengeluarkan suara aaah bersamaan.
Aku menoleh.
Kursi di sebelahku kosong.
Aku menemukannya di luar, di koridor lantai satu, di depan ruang kelas yang pintunya digembok.
Dia berdiri dengan tangan di saku, membaca papan kecil di sebelah pintu.
XI IPS 1
“Damar.”
“Liz.”
“Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa.”
Aku berdiri di sebelahnya.
Koridor itu gelap; yang menyala cuma lampu di ujung dekat tangga. Dari aula terdengar musik dan suara orang tertawa, teredam.
“Kelasnya masih dipakai?”
“Kayaknya,” kataku. “Nomornya masih sama.”
Dia mengangguk.
“Aku duduk di deret tiga,” katanya. “Dari jendela. Bangku keempat.”
“Aku deret dua.”
“Iya. Aku tahu.”
Aku menoleh kepadanya.
Dia masih menatap papan itu.
“Liz.”
“Hm.”
“Boleh nanya?”
“Boleh.”
“Pak Umar sakit apa?”
“Aku nggak tahu.”
“Oh.”
Dan dia diam cukup lama.
Lalu dia berkata, dengan suara yang sangat biasa:
“Sepuluh tahun aku ngelewatin sekolah ini kira-kira dua ribu kali.”
Aku tidak bicara.
“Tiap hari lewat kalau ke proyek yang di utara. Kadang dua kali sehari.” Dia mengangkat bahu. “Nggak pernah masuk.”
“Kenapa?”
Dan dia menjawabnya dengan cara yang membuatku harus menahan napas, karena dia menjawabnya seperti orang yang sudah menyusun jawabannya bertahun-tahun dan sedang menyerahkannya, sekali, kepada satu orang:
“Karena kalau aku masuk, aku harus mikirin apa yang aku tinggalin di sini.”
Dia mengetuk papan itu sekali dengan buku jari.
“Dan aku nggak boleh mikirin itu, Liz. Sepuluh tahun aku nggak boleh mikirin itu. Kalau aku mulai, aku nggak akan bisa bangun jam satu pagi besoknya.”
Aku ingin menuliskan ini dengan tepat, karena aku sudah menceritakannya kepada diriku sendiri berkali-kali sesudahnya.
Aku tidak jatuh cinta karena kasihan.
Aku sudah menyingkirkan kasihan bulan Desember, di kafe di dekat alun-alun, waktu adik keponakannya mengintrogasiku selama empat puluh menit dan aku mengaku terus terang bahwa aku pernah kasihan dan bahwa kasihan itu sudah tidak ada.
Aku juga tidak jatuh cinta karena kagum.
Kagum itu sudah ada sejak sepuluh tahun lalu, di bangku beton di bawah pohon mangga, waktu aku melihat anak tujuh belas tahun merobek tiga lembar buku tulis supaya surat pengunduran dirinya rapi.
Yang terjadi di koridor itu adalah hal lain.
Yang terjadi adalah aku berdiri di sebelah laki-laki yang baru saja mengaku bahwa dia sudah melewati gedung ini dua ribu kali dan tidak pernah masuk — dan aku menyadari, dengan sangat jelas dan sangat tiba-tiba, bahwa dia mengatakannya kepadaku.
Bukan kepada Kanaya, yang membayar kontrakannya.
Bukan kepada Alina, yang memotong kukunya tiap minggu selama delapan tahun.
Bukan kepada Haryo, yang mengenalnya sebelas tahun.
Kepadaku.
Dan aku sadar bahwa dalam empat bulan, aku sudah jadi satu-satunya orang di dunia yang boleh mendengar hal-hal yang tidak boleh dia pikirkan.
Itu bukan kagum. Itu bukan kasihan.
Aku tidak punya nama lain untuk itu.
Kami pulang jam sembilan kurang seperempat karena dia harus masuk shift.
Aku menyetir. Dia duduk di kursi penumpang dengan helm di pangkuan, karena motornya ditinggal di rumahku dan dia akan mengambilnya nanti.
Sepuluh menit pertama kami bicara tentang kusen.
Lalu dia diam.
Dan di lampu merah pertigaan pasar, aku menoleh, dan dia sudah tidur.
Kepalanya miring ke kiri. Ke arahku.
Lampunya hijau. Aku menjalankan mobil.
Dan di tikungan berikutnya, karena tikungannya ke kanan dan gaya sentrifugalnya ke kiri, kepalanya turun dan berhenti di bahuku.
Aku menyetir dua puluh menit seperti itu.
Aku bisa menepi. Aku bisa membangunkannya. Rumah makan itu delapan menit dari pertigaan pasar kalau lewat jalan biasa.
Aku lewat jalan memutar.
Aku menambah dua belas menit ke perjalanan delapan menit, jam sembilan malam, dengan kepala laki-laki berumur dua puluh tujuh tahun di bahuku dan tanganku di setir dan aku tidak menggeser bahuku sedikit pun sampai bahuku kebas.
Dia bangun sendiri, dua ratus meter sebelum rumah makan itu.
Dia menegakkan kepalanya cepat sekali.
“Maaf.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku ketiduran.”
“Iya.”
“Berapa lama?”
Aku memperlambat mobil dan berbelok ke pinggir jalan di depan rumah makan Padang itu, dan aku menjawabnya sambil menatap ke depan, karena aku tidak sanggup menoleh.
“Bentar,” kataku. “Lima menit.”
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan reading
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku