Chapter Thirty Nine
Panci
POV: Kanaya
Aku pulang jam sebelas kurang malam itu karena ada rapat cabang yang molor dua jam.
Hujan sejak sore. Aku turun dari angkot di jalan raya dan berjalan masuk gang dengan payung yang setengah rusak, dan sepatuku basah dari mata kaki ke bawah.
Petak nomor empat gelap.
Alina menginap di kos Fitri karena ada tugas kelompok. Om Damar shift sampai jam sebelas, jadi seharusnya belum pulang.
Aku membuka pintu pelan-pelan supaya tidak berbunyi, karena itu kebiasaan yang tidak pernah hilang meskipun tidak ada siapa-siapa untuk dibangunkan.
Lampu ruang depan mati.
Lampu dapur menyala.
Rumah makan Padang itu tutup lebih awal kalau hujan besar. Aku tahu itu. Aku sudah tahu itu bertahun-tahun.
Aku berdiri di ruang depan dengan payung basah di tangan dan aku melihat ke dapur.
Dapur kami lebarnya satu setengah meter. Kalau ada orang berdiri di dalamnya, punggungnya menutupi hampir seluruh pintu.
Om Damar berdiri membelakangi pintu.
Dia masih memakai kaus kerjanya. Rambutnya basah.
Dan dia sedang makan.
Dia makan dari panci.
Berdiri. Panci nasi masih di atas kompor yang sudah mati, tutupnya diletakkan miring di sebelahnya. Dia memegang sendok nasi — sendok nasi, yang besar, yang plastik — dan dia memakannya langsung dari panci.
Cepat sekali.
Itu yang membuatku tidak bisa bergerak. Bukan pancinya. Kecepatannya.
Dia menyendok, memasukkan ke mulut, mengunyah tiga kali, menelan, menyendok lagi. Tanpa jeda. Tanpa duduk. Tanpa piring.
Seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu yang harus selesai sebelum ada yang datang.
Aku berdiri di ruang depan yang gelap, di belakangnya, dengan payung menetes ke lantai.
Dan aku menghitung.
Aku tidak bisa berhenti menghitung; aku sudah mencoba dan aku tidak bisa. Sepuluh tahun otakku dilatih untuk mengubah semua yang kulihat jadi angka, dan malam itu angkanya datang sendiri tanpa kupanggil:
Sepuluh tahun.
Tiga ribu enam ratus lima puluh hari.
Kakak sudah makan.
Dan ini bentuknya.
Aku sudah membayangkan bentuknya berkali-kali.
Aku ingin mencatat itu, karena aku bukan anak yang naif dan aku sudah tahu sejak umur dua belas bahwa kalimat itu bohong.
Yang aku bayangkan adalah dia makan di luar. Nasi bungkus sendirian di warung. Atau sisa dari rumah makan tempat dia bekerja. Atau tidak makan sama sekali — aku juga membayangkan yang itu, dan aku pikir yang itu yang paling buruk.
Aku salah.
Yang paling buruk bukan tidak makan.
Yang paling buruk adalah ini: makan sambil berdiri, dari panci, dengan sendok nasi, secepat mungkin, di dapur selebar satu setengah meter, jam sebelas malam, di rumahnya sendiri.
Karena kalau dia duduk, itu jadi makan.
Kalau itu jadi makan, itu jadi kejadian.
Dan kalau itu jadi kejadian, seseorang bisa melihatnya, dan seseorang bisa menghitungnya, dan seseorang bisa tahu berapa lama dia belum makan.
Dia tidak sedang menghemat waktu.
Dia sedang menghapus jejak.
Aku menaruh payungku di lantai.
Aku melepas sepatuku dan tidak menaruhnya di rak, yang mana adalah hal pertama dalam sepuluh tahun yang tidak kulakukan.
Aku berjalan ke dapur.
Dia tidak mendengar. Dia tidak pernah mendengarku masuk ke mana pun; itu berlaku dua arah, ternyata.
Aku berhenti di belakangnya.
Dan aku memeluknya.
Aku tidak memutuskan apa-apa.
Aku ingin menuliskan itu dengan jelas karena aku sudah memikirkan malam itu ratusan kali dan aku selalu berhenti di titik yang sama: tidak ada keputusan.
Sepuluh tahun aku memegang satu aturan tanpa sekali pun melanggarnya. Aku memutuskannya di umur dua belas, di malam pertama di rumah ini, waktu mendengar engsel pintu dan suara yang ditahan di balik telapak tangan.
Kalau aku bangun, Kakak nggak akan berani nangis lagi.
Aturan itu tumbuh. Aturan itu berubah dari jangan bangun jadi jangan lihat jadi jangan sentuh jadi jangan pernah bikin dia harus menjelaskan apa pun.
Sepuluh tahun.
Dan malam itu aku melanggarnya tanpa satu detik pun jeda, dan tanganku sudah melingkar di badannya sebelum aku sadar aku sedang berjalan.
Dia berhenti.
Sendok itu berhenti di tengah jalan ke mulutnya.
Seluruh badannya kaku — seluruhnya, dari bahu ke bawah, seperti orang yang mendengar sesuatu di belakangnya di jalan yang gelap.
“Nay?”
Aku tidak menjawab.
Aku menempelkan keningku ke punggungnya, di antara kedua tulang belikat, di kaus yang masih basah dari hujan dan bau minyak dari dapur rumah makan.
“Nay.”
Aku menggeleng.
Aku menggeleng di punggungnya, dan aku tahu dia merasakannya, karena badannya bergerak sedikit.
Dia meletakkan sendok itu ke panci.
“Kamu sakit?”
Dan itu.
Itu yang menghancurkanku.
Sepuluh tahun. Anak yang dia besarkan sejak umur dua belas memeluknya untuk pertama kalinya di dapur rumahnya sendiri, dan hal pertama yang muncul di kepala laki-laki itu bukan kenapa, bukan ada apa, bukan bahkan kaget.
Yang muncul adalah: pasti ada yang salah.
Karena di rumah ini, orang tidak memeluk tanpa alasan.
Karena satu-satunya pengalaman dia dengan disentuh tanpa diminta adalah waktu ada yang sakit, atau ada yang menangis, atau ada yang perlu digendong.
Karena sepuluh tahun tidak ada satu orang pun yang memeluknya, dan otaknya sudah menyimpulkan bahwa kalau itu terjadi, artinya ada keadaan darurat.
Aku menggeleng lagi.
“Nay, kamu—“
“Nggak,” kataku.
Suaraku keluar salah dan aku menutupnya dengan menekan wajahku lebih dalam ke punggungnya.
“Nggak sakit.”
Kami berdiri seperti itu di dapur selebar satu setengah meter.
Aku tidak tahu berapa lama. Aku menghitung semuanya dan aku tidak menghitung yang ini.
Tangannya tidak tahu harus ke mana.
Aku merasakan itu. Aku merasakan tangan kanannya naik — sampai ke sisi badanku, ke arah tanganku yang melingkar — lalu berhenti, lalu turun ke sisi badannya sendiri.
Lalu naik lagi.
Lalu berhenti lagi.
Empat kali.
Empat kali orang itu mengangkat tangannya dan tidak tahu apakah dia diizinkan, di dapurnya sendiri, dengan anak yang dia besarkan sepuluh tahun.
Dan akhirnya yang dia lakukan adalah menepuk lenganku.
Dua kali. Dengan punggung tangannya.
Seperti orang menepuk bahu rekan kerja.
Dan di situlah aku merasakannya.
Aku memeluknya dengan lengan melingkar di depan, di bawah dada, di tempat yang biasa.
Dan aku bisa merasakan tulang rusuknya.
Bukan samar. Bukan seperti orang kurus biasa. Aku bisa menghitungnya dengan lengan bawahku, satu per satu, lewat kaus yang basah.
Dan aku ingat — dengan sangat jelas, dan aku membenci betapa jelasnya — bahwa waktu umurku empat belas tahun, aku pernah dibonceng sepeda hijau itu dan aku memegang pinggangnya karena hujan dan jalanan licin.
Dan waktu itu tidak begitu.
Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya. Bahkan di detik itu, dengan wajah menempel di punggungnya, otakku mengerjakan yang hanya bisa dikerjakannya:
Dua puluh tujuh tahun. Tinggi seratus tujuh puluh tiga. Kerja tujuh belas jam.
Dan aku tidak tahu berat badannya. Aku tidak pernah tahu. Sepuluh tahun aku mencatat setiap struk apotek dan setiap kuitansi SPP dan setiap rupiah yang keluar untuk kami berdua, dan aku tidak pernah sekali pun menimbang orang ini.
“Nay.”
“Iya.”
“Kamu udah makan?”
Aku menutup mataku di punggungnya.
“Belum.”
“Ya udah, sana duduk.” Suaranya sudah normal lagi, sudah rapi lagi, sudah jadi suara yang dipakainya selama sepuluh tahun. “Kakak ambilin. Masih anget.”
Aku melepaskan pelukanku.
Dia berbalik.
Dan dia tidak menatapku — dia langsung mengambil piring dari rak dan membuka panci itu lagi dan menyendok nasi ke dalamnya, dengan sendok yang sama yang tadi masuk ke mulutnya.
“Sayurnya udah abis. Ada telur.”
“Iya.”
“Kamu mau digoreng apa didadar?”
“Terserah.”
“Ya udah, dadar.”
Dan dia menyalakan kompor dan memecahkan telur ke mangkuk dan mengaduknya dengan garpu, membelakangi aku, dan tidak sekali pun berbalik selama tiga menit berikutnya.
Aku makan di lantai ruang depan.
Dia duduk di tikar dan tidak makan, karena dia sudah makan, dan aku tidak mengatakan apa-apa tentang itu.
Kami membicarakan hal lain. Aku tidak ingat apa. Aku ingat aku menjawab beberapa pertanyaan tentang rapat cabang dan bahwa aku menjawabnya dengan lengkap dan tidak satu pun jawabanku benar-benar keluar dari kepalaku.
Jam setengah dua belas dia masuk ke kamar mandi.
Aku mencuci piringku.
Dan waktu aku sampai di panci itu — panci yang masih di atas kompor, dengan sisa nasi di dasarnya — aku berhenti.
Aku berdiri di dapur selebar satu setengah meter itu memegang panci nasi dengan dua tangan.
Dan aku menangis, akhirnya, dengan keran dinyalakan kecil.
Kami tidak pernah membicarakannya.
Tidak malam itu. Tidak besoknya. Tidak minggu itu, tidak bulan itu, tidak sekali pun sampai jauh sesudahnya.
Dia tidak menyinggungnya. Aku juga tidak.
Tapi ada dua hal yang berubah, dan dua-duanya tidak pernah kami akui.
Yang pertama: mulai malam itu, dia tidak pernah makan sambil berdiri lagi kalau aku ada di rumah. Aku tidak tahu apakah dia berhenti atau cuma memindahkan jamnya. Aku tidak pernah memeriksa. Aku tidak berani.
Yang kedua: aku mulai bangun jam tiga.
Bukan jam empat. Jam tiga.
Karena dia berangkat ke pasar jam satu dan pulang jam enam, dan di antara keduanya ada satu titik — sekitar jam tiga lewat, waktu truk kedua belum datang — di mana dia biasanya duduk di warung kopi depan pasar selama sepuluh menit.
Aku tidak pergi ke sana. Aku tidak melakukan apa-apa.
Aku cuma bangun, duduk di ruang depan yang gelap, dan menunggu sampai jam empat.
Lalu aku menyetrika tiga kemeja dan berangkat kerja seperti biasa.
Aku melakukan itu selama enam bulan berikutnya dan tidak ada satu orang pun yang tahu, dan kalau ada yang bertanya kenapa, aku tidak akan bisa menjawab.
Sama seperti dia tidak bisa menjawab kenapa dia menyetrika seragam SMA-nya empat kali dalam sepuluh tahun.
Ternyata itu menular.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci reading
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku