Chapter Eight
Kolom Tanda Tangan
POV: Damar
Suratnya diselipkan di tas Alina, dilipat dua, dan aku baru menemukannya Kamis malam waktu mengeluarkan kotak bekalnya yang belum dicuci sejak Selasa.
Dimohon kehadiran Bapak/Ibu Wali Murid pada hari Sabtu, pukul 09.00, di ruang Kepala Sekolah, untuk keperluan administrasi peserta didik.
Aku membacanya tiga kali. Tidak ada keterangan lain.
“Lin.”
“Hm?”
“Ini kapan dikasih?”
Alina melihat kertas itu dari lantai, di mana dia sedang mewarnai. “Hari Selasa.”
“Kenapa nggak dikasih ke Kakak?”
“Lupa.”
Dia mengatakannya sambil terus mewarnai, dengan hati nurani yang sepenuhnya bersih, dan aku tidak bisa marah kepada anak yang belum genap sembilan tahun karena lupa. Aku juga tidak bisa tidak memikirkan bahwa kalau ini soal tunggakan, dua hari itu berarti denda.
Aku menyetrika kemeja terbaikku malam itu. Kemeja lengan pendek warna biru muda, milik Mbak Laras — maksudku, milik suaminya dulu, yang ditinggal dan tidak pernah diambil dan akhirnya masuk ke lemari kami. Agak besar di bahu. Kalau dimasukkan ke celana dan ikat pinggangnya dikencangkan, tidak terlalu kelihatan.
Aku memakai sepatu sekolahku. Itu satu-satunya sepatu yang kupunya.
SD Negeri Sidomulyo III adalah sekolah dengan enam ruang kelas dan satu lapangan yang setengahnya semen dan setengahnya tanah.
Ruang kepala sekolah ada di ujung, digabung dengan ruang guru, dipisahkan lemari arsip.
Yang menerimaku bukan kepala sekolahnya. Namanya Bu Hesti, bagian tata usaha, umur empat puluhan, dengan meja yang rapi sekali dan bolpoin yang diikat tali ke gagang stapler.
“Wali murid Alina Santika?”
“Iya, Bu.”
Dia mengangkat kepala.
Ada satu detik. Selalu ada satu detik itu — aku sudah mulai mengenalinya. Satu detik di mana mata orang naik dari kertas, sampai ke wajahku, lalu berhenti, lalu turun lagi ke kertas untuk memeriksa apakah mereka salah baca.
“Bapaknya?”
“Bapaknya nggak ada, Bu. Saya omnya.”
“Ibunya?”
“Meninggal. Agustus kemarin.”
Bu Hesti menurunkan bolpoinnya. Wajahnya berubah, dan perubahannya tulus, dan itu bagian yang membuat percakapan-percakapan seperti ini melelahkan: mereka selalu betulan kasihan, dan kasihan mereka tidak pernah mengubah apa pun.
“Innalillahi. Maaf, Mas. Saya nggak tahu.”
“Nggak apa-apa, Bu.”
“Jadi sekarang Alina tinggal sama Mas?”
“Sama saya sama kakaknya.”
Dia mengangguk, menarik map, membukanya.
“Ini sebetulnya administrasi biasa saja,” katanya. “Data induk siswa harus diperbarui karena ada perubahan status orang tua. Terus ada surat pernyataan tanggung jawab dari wali. Sama satu lagi, ini agak penting—“ dia mengeluarkan lembar berwarna hijau “—pengajuan keringanan SPP. Kalau berkasnya lengkap, tunggakan yang dua bulan itu bisa dihapus, terus ke depan bayar setengah.”
Aku duduk lebih tegak.
Dua bulan SPP itu seratus lima puluh ribu. Setengah dari seratus lima puluh ribu adalah empat hari penuh di pasar.
“Apa aja yang perlu, Bu?”
“Surat keterangan tidak mampu dari kelurahan. Fotokopi KK. Fotokopi akta kematian ibunya.” Dia menuliskannya di kertas kecil sambil menyebutkan. “Sama tanda tangan wali di tiga berkas ini.”
“Bisa saya tanda tangan sekarang.”
Bu Hesti berhenti menulis.
“Mas umurnya berapa, ya?”
Dan di situ aku tahu.
“Tujuh belas.”
Dia menaruh bolpoinnya. Dia tidak langsung bicara. Dia memutar bolpoin itu setengah putaran di atas meja, dan aku tahu dia sedang mencari susunan kalimat yang paling tidak menyakitkan, dan aku ingin bilang kepadanya bahwa tidak ada susunan seperti itu, dan bahwa dia sebaiknya langsung saja.
“Wali yang tanda tangan harus dewasa, Mas.”
“Saya yang ngurus dia sehari-hari.”
“Saya percaya. Saya nggak meragukan itu sama sekali.” Dia mencondongkan badan sedikit. “Tapi kalau saya masukkan berkas dengan tanda tangan Mas, nanti di dinas ditolak. Bukan ditunda, ditolak. Terus berkasnya balik ke sini, terus saya harus panggil Mas lagi, terus tunggakannya jalan terus selama itu.”
“Jadi harus siapa?”
“Yang tercatat sebagai wali resmi di dokumen dinas sosial.”
Aku mengeluarkan kertas dari saku. Aku sudah membawanya. Aku selalu membawanya sekarang, dilipat empat, di dompet yang isinya cuma itu dan KTP-ku yang belum jadi.
Nama, alamat, NIP, nomor telepon rumah. Huruf besar semua.
Bu Hesti membacanya.
“Pak Umar Setiadi. Guru SMA Negeri 1?”
“Iya, Bu.”
“Beliau walinya?”
“Iya.”
“Berarti beliau yang harus tanda tangan.” Dia menyalin nomor teleponnya ke kertas kecilnya. “Bisa Mas minta beliau datang hari Rabu? Atau saya kirim berkasnya, terus Mas antar ke beliau, terus balik lagi ke sini.”
“Saya antar aja, Bu.”
“Ya sudah, saya siapkan. Rabu diambil.”
Aku mengangguk. Aku merapikan lembar-lembar itu meskipun tidak perlu dirapikan.
Bu Hesti melihatku melakukannya.
“Mas,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Ini bukan karena kami nggak percaya sama Mas.”
“Saya ngerti, Bu.”
“Beneran. Saya di sini dua belas tahun. Saya lihat banyak anak yang orang tuanya lengkap tapi yang datang ke sekolah nggak pernah siapa-siapa.” Dia mengetuk mejanya sekali dengan buku jari. “Yang datang jam sembilan pagi hari Sabtu pakai kemeja disetrika itu bukan orang yang perlu diragukan.”
Aku tersenyum kepadanya dan berterima kasih dan keluar dari ruangan itu.
Aku berjalan sampai ke luar gerbang, sampai ke tikungan, sampai tidak terlihat lagi dari halaman sekolah.
Baru di situ aku berhenti dan berdiri agak lama sambil memandangi kertas kecil di tanganku dengan tulisan Pak Umar Setiadi di atasnya.
Bukan penolakannya yang berat. Bu Hesti benar dan aku tahu dia benar.
Yang berat adalah aku harus datang ke ruang guru itu. Ke ruangan yang tiga minggu lalu aku hindari lewat gerbang belakang. Ke orang yang berkata Bapak ada syarat dan syaratnya cuma satu, dan aku sudah melanggarnya dalam empat hari.
Aku harus berdiri di depannya, memberikan berkas keringanan SPP keponakanku, dan meminta tanda tangannya.
Sepeda itu kubeli hari Senin.
Bekas, dari Pak Kirno, seratus dua puluh ribu, boleh dicicil dua kali. Rangkanya hijau tua, catnya mengelupas di beberapa titik, remnya yang belakang harus ditarik penuh. Boncengannya besi, tanpa alas.
Aku membelinya karena aku menghitung: ongkos angkot Kanaya ke SMP-nya dua ribu sekali jalan, empat ribu pulang pergi, dua puluh empat ribu seminggu, hampir seratus ribu sebulan. Sepeda ini lunas dalam lima minggu dan setelah itu gratis selamanya.
Kanaya melihatnya di halaman dan tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.
“Kakak—“
“Kakak tahu apa yang mau kamu bilang.”
“Aku bisa jalan kaki. Empat puluh menit.”
“Kakak tahu itu juga.”
“Terus?”
“Terus naik.” Aku menepuk boncengan. “Kakak antar.”
“Kakak habis pulang kerja.”
“Nay.” Aku menoleh kepadanya. “Naik.”
Dia naik.
Alina, yang mendengar seluruh percakapan itu dari dalam, langsung keluar sambil berteriak bahwa dia juga mau, dan dia sudah menempel di bagian depan sebelum aku sempat mempertimbangkan fisika dari keputusan itu.
Jadi begitulah kami berangkat, pertama kalinya: Alina duduk di palang atas di depanku dengan kedua tangan memegang setang di sebelah tanganku, Kanaya di boncengan besi belakang dengan tas di pangkuan, dan aku di tengah, mengayuh sepeda seratus dua puluh ribu di gang Sidomulyo jam setengah enam pagi.
Beratnya luar biasa. Aku hampir jatuh di tikungan pertama karena setang bergoyang.
“Ayah pelan-pelan!”
“Iya.”
“Ayah! Ada lubang!”
“Iya, Kakak lihat.”
“AYAH ADA LUBANG—“
Kami melewati lubang itu. Alina menjerit senang. Kanaya, di belakang, mengeluarkan bunyi yang bukan tawa tapi lebih dekat ke tawa daripada apa pun yang pernah kudengar darinya sejak Agustus.
Aku mengantar Kanaya duluan karena SMP-nya lebih jauh. Dia turun di seratus meter sebelum gerbang, tanpa kuminta, dan aku pura-pura tidak menyadari kenapa.
Lalu aku mengantar Alina, yang tidak turun sebelum gerbang, yang justru berdiri di boncengan dan melambai ke arah teman-temannya sambil berteriak sesuatu yang tidak sempat kudengar.
Aku mengayuh pulang sendirian.
Bahuku sakit dari pasar. Paha bagian dalam perih karena celana basah. Dan aku tersenyum sepanjang jalan seperti orang bodoh, di gang yang mulai ramai, sampai aku melewati warung Bu Ratih dan beliau meneriakiku supaya sarapan dan aku menjawab nanti.
Di rumah, di meja, ada map cokelat yang kuambil dari Bu Hesti hari Rabu.
Aku duduk dan membukanya untuk mulai mengisi bagian yang bisa kuisi sendiri, supaya Pak Umar tinggal tanda tangan.
Halaman pertama. Data peserta didik. Nama, tempat tanggal lahir, alamat, anak ke berapa.
Halaman kedua. Data orang tua.
Aku sampai di sebuah kolom, dan aku berhenti, dan aku duduk di situ sangat lama dengan bolpoin menggantung dua sentimeter di atas kertas.
Pekerjaan Orang Tua/Wali: …………………………
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan reading
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku