← Kakak Sudah Makan

Chapter Twenty Six

Yang Ada Strukanya

POV: Kanaya

Aku menolak dua tawaran sebelum menerima yang ketiga.

Yang pertama dari Jakarta. Perusahaan konsultan, posisi junior analyst, gaji delapan koma lima. Yang kedua dari Semarang, distributor farmasi, tujuh juta.

Yang aku ambil PT Kirana Boga Nusantara, kantor cabang Wonoyoso, staf keuangan. Tiga juta delapan ratus.

Aku menyampaikannya di rumah pada suatu Minggu sore, dengan tiga surat tawaran itu di lantai, berjajar, seperti brosur SMA sembilan tahun lalu.

Om Damar membaca ketiganya. Setiap lembar. Sampai selesai.

“Yang Jakarta delapan setengah.”

“Iya.”

“Yang Wonoyoso tiga delapan.”

“Iya.”

Dia menaruh kertasnya.

“Kenapa?”

“Jenjangnya lebih jelas. Yang Jakarta itu kontrak setahun, nggak ada kepastian diperpanjang. Yang ini karyawan tetap setelah tiga bulan.” Aku sudah menyiapkan ini. Aku menyiapkannya selama empat hari. “Terus di Jakarta kos minimal satu koma dua, makan tiga puluh sehari, transport lima ratus sebulan. Bersihnya nggak jauh beda.”

“Bersihnya beda tiga juta, Nay.”

“Kak—“

“Kakak juga bisa ngitung.”

Kami saling menatap di ruang depan petak nomor empat.

Dan ini yang membuat orang itu tidak bisa dilawan: dia tidak marah, dia tidak menuduh, dia tidak mengucapkan satu pun kalimat yang bisa kubantah.

Dia cuma berkata:

“Nay. Kalau kamu ambil yang di sini gara-gara Kakak, Kakak nggak akan pernah bisa makan enak seumur hidup Kakak.”

“Bukan gara-gara Kakak.”

“Nay.”

“Bukan.”

Dia menatapku beberapa detik lagi.

Lalu dia mengangguk dan merapikan tiga surat itu jadi satu tumpuk dan menyerahkannya kepadaku.

“Ya udah,” katanya. “Kakak percaya.”

Dia tahu aku berbohong. Aku tahu dia tahu aku berbohong.

Sepuluh tahun kami mengerjakan hal yang persis sama dan tidak ada yang pernah berani menyebutkannya.


Hari pertama kerja, aku datang jam setengah tujuh untuk kantor yang buka jam delapan.

Aku duduk di warung seberang selama satu jam sepuluh menit, memesan teh, dan tidak meminumnya sampai dingin.

Aku bukan gugup. Aku sudah magang di tempat yang lebih besar dari ini.

Yang aku lakukan di warung itu adalah mengulang sesuatu di kepalaku, dan aku baru menyadari apa yang sedang kuulang setelah setengah jam.

Aku sedang menghitung.

Tiga juta delapan ratus, dipotong pajak dan BPJS, bersihnya sekitar tiga juta empat ratus.

Sewa petak nomor empat sekarang dua ratus dua puluh ribu. Listrik dan air sembilan puluh. Makan bertiga, kalau dihitung longgar, satu juta dua.

Kuliah Alina, semester ini, dua juta empat ratus, dibayar per semester.

Aku menghitungnya berulang-ulang di warung seberang kantor pada hari pertama aku bekerja, dan waktu jam menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh dan aku berdiri untuk menyeberang, aku sudah sampai di angka yang akan kupakai selama tiga tahun berikutnya:

Aku bisa menyisihkan dua juta sebulan.


Kantornya kecil. Dua puluh tiga orang.

Atasanku Bu Ike, kepala bagian keuangan cabang, umur empat puluhan, yang di hari ketiga bilang kepadaku, “Kamu itu terlalu cepat, Nay. Nanti yang lain kelihatan lambat.”

Aku minta maaf.

“Bukan negur,” katanya. “Cuma ngasih tahu. Orang nggak suka sama orang yang bikin dia kelihatan jelek. Kamu bakal ngalamin.”

Aku mengingat kalimat itu.

Rekan semejaku Vira, seumuran, lulusan kampus swasta di Semarang, yang bicaranya cepat dan tertawanya keras dan yang dalam dua minggu berhasil membuatku ikut makan siang di luar untuk pertama kalinya.

Dan Danang, bagian pemasaran, dua tahun lebih senior, yang punya motor besar dan kebiasaan memarkirnya di tempat yang paling terlihat dari jendela kantor.

Aku menulis nama-nama ini karena mereka akan muncul lagi.


Gaji pertamaku masuk tanggal dua puluh delapan.

Aku menerima notifikasinya jam sebelas siang, di meja, di tengah rekonsiliasi.

Aku membuka aplikasinya dan menatap angkanya.

Tiga juta empat ratus dua puluh enam ribu delapan ratus.

Dan aku duduk di kursi kantor PT Kirana Boga Nusantara cabang Wonoyoso dan aku tidak bisa bernapas dengan benar selama mungkin dua puluh detik.

Bukan karena senang.

Karena angka itu, dalam satu bulan, lebih besar dari apa pun yang pernah dibawa pulang Om Damar dalam satu bulan seumur hidupnya.

Aku pergi ke kamar mandi kantor dan menyalakan kerannya kecil.

Ada dua hal yang aku pelajari dari rumah kami dan tidak bisa kuhilangkan sampai sekarang. Yang pertama, aku selalu menyalakan keran kalau menangis, meskipun kamar mandinya sendiri dan pintunya terkunci dan tidak ada siapa-siapa di gedung itu yang peduli.

Yang kedua akan aku tulis nanti.


Malamnya aku mengeluarkan kardus itu.

Kardus mi instan dari belakang warung Bu Ratih, delapan tahun, di sudut paling dalam di bawah tempat tidur, di balik tas sekolah lamaku.

Alina sedang keluar. Om Damar shift malam.

Aku menumpahkan isinya ke lantai kamar.

Aku tidak pernah menghitungnya. Delapan tahun aku memasukkan kertas ke dalam kardus itu dan tidak sekali pun aku duduk dan menjumlahkannya, dan aku tahu persis kenapa: karena selama belum dijumlahkan, angkanya belum ada.

Aku mulai jam delapan malam.

Aku memilahnya dulu. Per tahun, lalu per jenis. Kuitansi sekolah. Struk apotek. Nota fotokopi. Karcis puskesmas. Kertas-kertas kecil tulisan tanganku sendiri untuk yang tidak ada struknya: tgl 4 — sepatu Lin — 85.000. tgl 19 — buku paket — 240.000.

Tulisan tanganku waktu empat belas tahun jelek sekali. Aku sempat berhenti lama di satu kertas hanya karena melihat huruf-hurufnya.

Aku selesai memilah jam sebelas.

Aku mulai menjumlahkan jam sebelas lewat, dengan kalkulator ilmiah yang dibelikan Om Damar waktu aku kelas dua SMA seharga seratus lima puluh ribu setelah aku bilang tidak usah.

Aku selesai jam satu.

Enam puluh tiga juta empat ratus delapan belas ribu.

Aku menatap layar kalkulator itu.

Lalu aku melakukan sesuatu yang membuatku merasa gila: aku menghitungnya ulang dari awal. Seluruhnya. Dari kertas pertama.

Butuh satu jam empat puluh menit.

Hasilnya sama.


Aku duduk di lantai kamar itu sampai jam tiga pagi.

Dan yang membuatku tidak bisa berdiri bukan angkanya.

Yang membuatku tidak bisa berdiri adalah kesadaran bahwa angka itu salah.

Enam puluh tiga juta itu cuma yang ada strukanya.

Yang ada strukanya itu: sekolah, obat, buku, seragam, sepatu. Barang-barang yang ada kertasnya karena tokonya memberikan kertas.

Yang tidak ada strukanya: nasi bertiga selama sepuluh tahun. Sewa. Listrik. Air. Angkot. Bensin. Ongkos jahit. Tambal ban sepeda, entah berapa ratus kali.

Yang tidak ada strukanya: dua bungkus, sepuluh tahun, di mana yang ketiga tidak pernah dibeli.

Yang tidak ada strukanya: seratus dua puluh ribu untuk sepeda hijau di tahun pertama.

Yang tidak ada strukanya: gitar yang hilang dari atas lemari waktu aku empat belas tahun, yang aku tidak pernah tanyakan, yang Alina tanyakan sekali dan dijawab dipinjam Mas Haryo.

Yang tidak ada strukanya sama sekali, dan yang tidak akan pernah bisa ditulis di kertas mana pun:

Sekolah.

Aku duduk di lantai dengan enam puluh tiga juta empat ratus delapan belas ribu di layar kalkulator dan aku sadar bahwa aku sudah menghabiskan delapan tahun mengumpulkan struk untuk sebuah utang yang tidak punya satuan.


Aku menyusun rencananya paginya, di kertas, di meja kantor, sebelum ada orang datang.

Dua juta sebulan.

Tahap satu. Kontrakan. Tunggakan tujuh ratus lima puluh ribu dari sepuluh tahun lalu yang aku tahu belum pernah dibayar karena Pak Kirno tidak pernah menagih dan Om Damar tidak pernah lupa. Lalu sewa dipindah ke namaku.

Tahap dua. BPJS. Om Damar tidak punya. Sepuluh tahun, tidak punya. Aku sudah mengecek dan pendaftarannya butuh KK dan KTP dan bisa diurus dalam dua minggu.

Tahap tiga. Rekening. Dia tidak punya rekening bank. Uangnya di kaleng biskuit di bawah bantal. Kaleng yang sama. Sepuluh tahun.

Tahap empat. Dokter.

Aku menulis tahap empat dan berhenti lama sekali di situ.

Karena tiga tahap pertama bisa kukerjakan tanpa izinnya. Aku bisa membayar, memindahkan, mendaftarkan, membuka. Semua bisa kulakukan diam-diam dan dia baru akan tahu setelah selesai, dan setelah selesai dia tidak bisa mengembalikannya.

Tahap empat butuh orangnya.

Dan aku sudah tahu, sebelum menulis kalimat itu, bahwa itu satu-satunya tahap yang akan gagal.


Ada satu hal lagi.

Aku menyimpan amplop cokelat itu.

Yang diberikan Alina malam kepulangan dari Semarang, waktu kami sampai jam satu pagi dan Om Damar sudah tidur di tikar dan kami masuk pelan-pelan.

Kertasnya lunak seperti kain. Tulisannya pudar dan tidak akan terbaca kalau tidak dilihat dari dekat.

KULIAH NAY.

Isinya tiga ratus lima belas ribu.

Aku tidak memakainya.

Aku memindahkannya ke laci mejaku di kantor, di bawah map, dan setiap kali aku membuka laci itu untuk mengambil stapler atau tip-ex atau apa pun, aku melihatnya.

Dan yang kedua — hal kedua yang aku pelajari dari rumah kami dan tidak bisa kuhilangkan — adalah ini:

Aku tidak pernah bertanya kepadanya tentang amplop itu.

Tidak sekali pun. Tidak tentang kapan dia mulai, tidak tentang berapa kali dia mengeluarkan isinya, tidak tentang kenapa dia menuliskan namaku di sesuatu yang dia sendiri sudah tahu tidak akan cukup.

Aku menyimpannya di laci selama tiga tahun dan tidak pernah membuka mulut.

Karena di rumah kami, cara menyayangi orang adalah dengan tidak menanyakan hal yang akan membuatnya harus menjelaskan.