← Kakak Sudah Makan

Chapter Twenty Five

Baris Paling Belakang

POV: Damar · Tahun kesepuluh

Kami sampai di Semarang jam tujuh pagi dan aku langsung salah.

Bukan salah jalan. Salah yang lain.

Aku sudah menyiapkan segalanya — jam berangkat, ongkos bus, ongkos angkot dari terminal, uang makan Alina, jam bus pulang. Aku bahkan sudah menanyakan ke orang di terminal berapa lama dari Terboyo ke kampusnya.

Yang tidak aku siapkan adalah bahwa aku akan berdiri di gerbang kampus itu selama dua puluh detik tanpa bisa bergerak.

Halamannya besar sekali.

Aku tidak tahu cara menjelaskannya selain begitu. Ada rumput yang dipotong rata, ada air mancur yang menyala meskipun tidak ada yang melihatnya, ada gedung dengan kaca dari lantai sampai atap. Ada ratusan orang berjalan ke satu arah, semuanya rapi, semuanya membawa buket bunga, semuanya sudah tahu harus ke mana.

Alina menarik lenganku.

“Yah, ayo.”

“Iya.”

“Yah.”

“Iya, ayo.”

Aku berjalan.

Kemejanya kebesaran di bahu. Aku sudah tahu itu sejak semalam dan aku sudah menerimanya. Yang baru kusadari di halaman itu adalah bahwa lengan yang dilipat dua kali kelihatan seperti orang yang baru selesai kerja, bukan orang yang datang ke acara.

Aku menurunkan lipatannya.

Lengannya jatuh sampai menutupi setengah telapak tangan.

Aku melipatnya lagi.


Kanaya menemui kami di depan gedung, jam delapan kurang.

Dia sudah memakai toga. Hitam, dengan selempang kuning, dan topi persegi yang talinya menggantung di sisi kanan.

Aku berhenti berjalan sekitar lima meter dari dia.

Alina tidak berhenti. Alina berlari dan memeluknya sampai topi itu miring, dan berteriak sesuatu yang membuat tiga orang menoleh, dan Kanaya bilang Lin, jangan berisik dengan nada yang sudah dia pakai sejak umur dua belas.

Lalu dia melihat ke arahku.

“Kakak.”

“Nay.”

Dan aku tidak tahu harus berbuat apa.

Aku sudah memikirkan ini di bus selama tiga jam. Aku sudah menyusun kalimatnya. Ada versi panjang dan versi pendek dan aku sudah memilih yang pendek.

Yang keluar adalah:

“Topinya miring.”

Kanaya membetulkan topinya.

“Iya. Karena Alina.”

“Oh.”

Kami berdiri di situ.

Dan aku ingat berpikir, dengan sangat jelas: ini yang kamu dapat, Damar. Sepuluh tahun. Dan kamu berdiri lima meter dari dia dan yang bisa kamu bilang adalah topinya miring.

Lalu aku ingat sesuatu.

“Nay.”

“Iya?”

Aku mengulurkan buket itu.


Aku membelinya empat puluh menit sebelumnya, di depan gerbang, dari ibu-ibu yang menggelar dagangannya di trotoar bersama dua belas penjual lain yang menjual persis barang yang sama.

Dua puluh lima ribu. Mawar merah muda dan bunga putih kecil-kecil yang aku tidak tahu namanya, dibungkus plastik bening dan pita.

Aku membelinya karena Alina.

Di angkot, dalam perjalanan dari terminal, aku akhirnya menanyakan pertanyaan yang tidak bisa kujawab sendiri sepanjang malam.

“Lin.”

“Hm?”

“Mbak Nay suka apa?”

Alina menoleh dari jendela. “Maksudnya?”

“Ya suka apa. Barang apa. Warna apa.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Nanya aja.”

Dia menatapku beberapa detik dengan cara yang membuatku menyesal bertanya.

Lalu dia berkata, “Bunga.”

“Bunga?”

“Iya.”

“Nay?”

“Iya, Nay.” Alina mengangkat bahu. “Dulu waktu SMA ada yang jualan bunga di depan sekolah. Yang pakai gerobak. Mbak Nay pernah berdiri di situ lama banget. Aku lihat dari seberang. Terus dia pergi.”

“Terus?”

“Terus besoknya dia berdiri di situ lagi.” Dia kembali menatap jendela. “Tiga kali aku lihat. Nggak pernah beli.”

Aku duduk di angkot itu dan tidak bicara sampai turun.

Tiga kali. Alina melihatnya tiga kali dan mengingatnya bertahun-tahun, dan aku tinggal serumah dengan anak itu selama sepuluh tahun dan tidak tahu.


Kanaya menerima buket itu.

Dia menerimanya dengan dua tangan, seperti dia menerima segala sesuatu, dan dia menatapnya.

Lalu dia menatapnya lebih lama daripada yang wajar untuk seikat bunga dua puluh lima ribu yang dijual dua belas orang di trotoar yang sama.

“Ini dari Kakak?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku hampir tertawa. “Ya karena wisuda, Nay.”

“Oh.”

Dia mengangguk. Dia mengangkat buket itu sedikit, lalu menurunkannya, lalu memindahkannya ke tangan kiri, lalu ke tangan kanan lagi.

Anak itu tidak tahu cara memegang bunga.

“Nay.”

“Iya.”

“Selamat.”

Dan Kanaya, yang berdiri di halaman kampus dengan toga dan selempang dan buket dua puluh lima ribu, berkata:

“Kakak duduknya di mana nanti?”

“Di dalam.”

“Di sebelah mana?”

“Nay, nanti Kakak cari.”

“Aku mau tahu di sebelah mana.”

“Nanti Kakak lambaikan tangan.”

Dia menatapku beberapa detik lagi.

Lalu dia bilang, “Aku masuk dulu,” dan pergi, dan dia membawa buket itu dengan cara yang salah sepanjang jalan ke pintu.


Aulanya muat mungkin dua ribu orang.

Wisudawan di depan, keluarga di belakang, dipisahkan barisan kursi kosong dan tali beludru.

Tempat duduk keluarga tidak ditentukan. Siapa cepat dia dapat.

Kami datang jam setengah sembilan. Barisan depan sudah penuh sejak jam delapan.

Alina menarik lenganku ke arah kiri, ke barisan sepuluh dari depan, di mana masih ada dua kursi kosong berdampingan.

Aku menahan langkahnya.

“Yah, di sini masih ada.”

“Di belakang aja.”

“Kenapa? Ini kosong.”

“Di belakang.”

“Yah—“

“Lin.”

Aku tidak menjelaskannya kepadanya waktu itu, dan aku akan menjelaskannya di sini.

Aku harus keluar jam setengah satu.

Kalau aku duduk di barisan sepuluh, aku harus berdiri di tengah acara, melewati dua puluh orang di baris yang sama, berjalan ke belakang menghadap ke arah panggung, di depan dua ribu orang.

Dan Kanaya akan melihat.

Kalau aku duduk di baris paling belakang, aku bisa berdiri dan keluar dan tidak ada satu orang pun yang menoleh.

Kami duduk di baris ketiga dari belakang, di sisi kanan, di dekat pintu.

Alina duduk dengan wajah masam selama sepuluh menit.

Lalu acaranya mulai dan dia lupa.


Nama Kanaya dipanggil pada urutan keempat.

Bukan berdasarkan abjad. Empat nama pertama dipanggil terpisah karena mereka lulusan terbaik masing-masing program studi.

Aku tidak tahu itu.

Aku baru tahu waktu pembawa acara menyebutkannya dari podium — nama fakultasnya, nama jurusannya, lalu angka.

Tiga koma sembilan dua.

Predikat cum laude, katanya. Lulusan terbaik program studi, dan lulusan tercepat di angkatannya.

Aku duduk di baris ketiga dari belakang dan aku merasa tanganku dingin.

Alina berdiri.

Anak itu berdiri di kursinya dan bertepuk tangan dan berteriak, dan ada beberapa orang yang menoleh dan tertawa, dan dia tidak peduli sama sekali, dan aku tidak menyuruhnya duduk.

Kanaya berjalan ke panggung.

Dari jarak sejauh itu aku hampir tidak bisa melihat wajahnya. Yang bisa kulihat cuma toga hitam dan cara jalannya, yang sama seperti cara dia jalan waktu umur dua belas, waktu masuk ke ruang depan tanpa suara.

Rektor memindahkan tali topinya.

Lalu pembawa acara berkata sesuatu yang tidak aku duga.

”Untuk keempat lulusan terbaik, kami persilakan orang tua atau wali untuk naik ke panggung dan mendampingi.”

Ada gerakan di seluruh ruangan.

Di barisan depan, tiga pasang orang berdiri. Bapak-bapak berbatik. Ibu-ibu berkebaya. Mereka berjalan ke sisi panggung, di mana sudah ada panitia yang mengantar naik.

Kanaya berdiri di tengah panggung.

Sendirian.

Dan dia menoleh ke arah kursi keluarga.

Aku bisa melihatnya menoleh. Dari baris ketiga dari belakang, dari jarak mungkin lima puluh meter, aku bisa melihat kepalanya bergerak dari kiri ke kanan, pelan, dua kali.

Alina menoleh kepadaku.

“Yah.”

Aku tidak bergerak.

“Yah, itu Ayah.”

Aku tidak bergerak.

Dan aku akan menuliskan alasannya di sini, dengan jujur, karena aku sudah memikirkannya setiap hari selama beberapa tahun sesudahnya dan aku sudah tidak punya versi yang lebih bagus.

Ada tiga pasang orang tua yang naik ke panggung itu.

Mereka memakai batik yang dijahit untuk badan mereka sendiri. Sepatu yang tidak menganga di ujung. Mereka berjalan seperti orang yang pernah naik ke panggung sebelumnya.

Dan aku duduk di baris ketiga dari belakang dengan kemeja Haryo yang kebesaran di bahu dan lengannya dilipat dua kali dan sepatu sekolah yang sudah sepuluh tahun.

Kalau aku berdiri dan berjalan ke depan, aku akan berjalan melewati dua ribu orang. Lalu aku akan berdiri di panggung, di sebelah anak yang lulus tercepat di angkatannya dengan tiga koma sembilan dua, dan dua ribu orang itu akan melihat kami berdua bersebelahan.

Dan mereka akan mengerti sesuatu tentang Kanaya yang selama empat tahun berhasil dia simpan sendiri.

Aku memutuskan itu dalam waktu kurang dari tiga detik.

Aku tetap duduk.

Kanaya berdiri di panggung sendirian sampai foto diambil, lalu turun.


“Kenapa Ayah nggak naik?”

Alina menanyakannya di luar aula, waktu acara sudah selesai dan ribuan orang tumpah ke halaman dan semua orang sedang berfoto di setiap titik yang bisa dijadikan latar.

“Jauh, Lin.”

“Nggak jauh.”

“Ramai. Nanti malah ganggu.”

“Yah.” Dia berdiri di depanku dan menghalangi jalan. “Aku enam belas. Aku bukan anak kecil lagi.”

Aku menatapnya.

“Iya,” kataku. “Kakak tahu.”

“Terus kenapa?”

Aku tidak menjawab.

Dan Alina — yang sudah enam belas, yang sudah membentak seorang guru di ruang guru dua tahun lalu, yang tidak pernah dalam hidupnya mundur dari apa pun — menatapku beberapa detik, lalu berhenti bertanya.

Itu yang paling tidak bisa kutanggung.

Bukan pertanyaannya.

Bahwa dia berhenti.


Jam dua belas lewat dua puluh, aku mengeluarkan amplop dari saku kemeja.

Tiga ratus lima belas ribu, setelah bunganya.

“Lin.”

“Hm.”

“Ini kasih ke Mbak Nay. Nanti. Kalau udah di rumah.”

Alina melihat amplop itu. Kertas cokelat yang sudah lunak seperti kain, dengan tulisan pudar di depannya yang masih bisa dibaca kalau dilihat dekat.

Dia membacanya.

Dia tidak bertanya apa-apa. Dia memasukkannya ke tasnya, dan resletingnya ditutup, dan ditepuk sekali dari luar.

“Ayah beneran nggak bisa sampai sore?”

“Nggak bisa.”

“Foto dulu, dong. Satu.”

“Nanti.”

“Yah, satu aja. Bentar.”

“Bus-nya jam satu, Lin. Kalau ketinggalan, yang berikutnya jam tiga, terus Ayah telat masuk.”

Alina berdiri di halaman kampus itu dengan tangan mengepal di sisi badannya.

Lalu dia bilang, “Ya udah.”

Dan dia memelukku.

Di tengah halaman, di depan ribuan orang, dengan kedua tangan melingkar dan kepala di dadaku, selama mungkin lima detik.

Aku membiarkannya.

Aku sudah tidak punya alasan untuk aturan yang keempat. Kami tiga jam dari Wonoyoso. Tidak ada satu pun orang di halaman itu yang mengenal kami.

Aku mengangkat tanganku dan meletakkannya di kepalanya. Dengan punggung tangan.

“Bilangin ke Mbak Nay Kakak minta maaf.”

“Nggak usah,” katanya, masih di dadaku. “Nanti aku bilang Ayah nunggu sampai foto selesai.”

“Lin—“

“Aku bohong dikit, nggak apa-apa.”


Aku sampai di terminal jam setengah satu.

Bus jam satu berangkat jam satu lewat sepuluh.

Aku duduk di dekat jendela dan menyandarkan kepala dan aku tidur — betul-betul tidur, tanpa mimpi, tiga jam penuh, yang mana adalah tidur terpanjang yang kudapat dalam entah berapa bulan.

Aku sampai di rumah makan Padang jam setengah enam sore.

Aku mengganti kemeja batik Haryo dengan kaus, dan aku mencuci piring dari jam enam sampai jam sebelas malam, dan bapak yang punya rumah makan bertanya bagaimana wisudanya dan aku bilang lancar, dan beliau bilang syukurlah, dan menepuk bahuku.

Aku pulang jam setengah dua belas.

Petak nomor empat gelap. Mereka belum sampai; bus malam dari Semarang tiba jam satu.

Aku duduk di tikar.

Aku tidak tahu, waktu itu, hal yang baru kuketahui dua tahun kemudian.

Bahwa sore itu, di halaman kampus, setelah semua orang selesai berfoto, Kanaya berdiri sendirian di dekat air mancur sambil memegang buket dua puluh lima ribu yang sudah mulai layu.

Bahwa dia menolak diajak berfoto dengan teman-temannya.

Dan bahwa waktu Alina akhirnya menemukannya dan bilang Ayah nunggu sampai foto selesai kok, Mbak — anak itu menjawab, tanpa menoleh:

“Aku lihat dia keluar, Lin.”

“Mbak—“

“Dari panggung kelihatan.”