← Kakak Sudah Makan

Chapter Eleven

Empat Senar

POV: Damar

Aku pulang jam sepuluh malam dan Kanaya sudah berdiri di depan pintu.

Bukan di dalam. Di depan pintu, di luar, di gang, dengan sandal jepit dan baju tidur dan wajah yang membuatku berhenti berjalan sebelum sempat berpikir kenapa aku berhenti.

“Kakak.”

“Kenapa.”

“Alina panas.”


Anak itu panas seperti besi yang dijemur.

Aku pernah memegang orang demam. Aku sendiri pernah demam. Yang ini lain. Aku menempelkan punggung tanganku ke keningnya dan reaksi pertamaku adalah menariknya kembali, seperti orang yang tidak sengaja menyentuh knalpot.

“Dari kapan?”

“Sore.” Kanaya berdiri di sisi kasur dengan baskom dan handuk kecil. “Tadi hangat aja. Aku kasih parasetamol sisa punya Ibu, yang di kotak. Terus jam sembilan naik.”

“Kenapa nggak nyusul Kakak ke pasar—“

“Aku nggak tahu Kakak di mana.”

Aku berhenti.

Dia benar. Aku tidak pernah bilang. Aku kerja di tiga tempat berbeda minggu itu dan aku tidak pernah sekali pun meninggalkan keterangan di rumah tentang aku ada di mana, karena tidak pernah terpikir olehku bahwa itu penting.

“Lin.” Aku duduk di tepi kasur. “Lin, bangun sebentar.”

Alina membuka matanya setengah. Matanya berair dan tidak fokus.

“Ayah.”

“Iya. Ayah di sini.”

“Aku kedinginan.”

Suhunya empat puluh, kira-kira. Aku tidak punya termometer. Yang kupunya cuma punggung tangan dan rasa takut yang naik dari perut ke tenggorokan dengan sangat cepat.

Aku menyelimutinya. Aku menyuruh Kanaya mengompres. Aku keluar ke gang dan berdiri di sana selama sepuluh detik, memaksa kepalaku bekerja.

Puskesmas tutup jam dua siang.

Yang buka dua puluh empat jam cuma dua: rumah sakit tempat Mbak Laras meninggal, yang tagihannya masih menganga dua juta dan yang tidak akan pernah kudatangi lagi seumur hidupku kalau aku bisa memilih, dan Klinik Sehat Bersama di pinggir jalan raya, delapan ratus meter dari gang, yang plangnya menyala hijau sepanjang malam.

Aku masuk lagi. Aku mengambil kaleng biskuit.

Enam puluh dua ribu.

Gajian pasar dua hari lagi. Uang sewa bulan depan sudah dipisah, di amplop, di bawah kaleng, dan aku menatap amplop itu selama mungkin tiga detik.

Kalau sewa tidak dibayar, kami keluar. Kalau kami keluar, tidak ada tempat.

Aku menutup kaleng itu.

“Nay.”

“Iya.”

“Kakak bawa Alina ke klinik. Kamu di rumah.”

“Aku ikut.”

“Kamu di rumah, kunci pintu. Kalau ada apa-apa, ke Bu Ratih.”

Dia mau membantah. Aku bisa melihatnya di rahangnya. Lalu dia melihat sesuatu di wajahku dan berhenti.

“Iya,” katanya.

Aku menggendong Alina dengan selimut masih membungkusnya, dan aku berlari.


Delapan ratus meter itu terasa seperti empat kilometer.

Alina ringan. Alina selalu ringan; aku menggendongnya setiap malam dari sofa — dari tikar sekarang — dan tidak pernah terasa apa-apa. Malam itu dia terasa berat, dan aku tahu itu bukan karena beratnya, tapi tetap saja aku harus berhenti dua kali di jalan raya untuk membetulkan pegangan.

Dia mengigau di leherku. Sesuatu tentang tempat pensil.

Klinik Sehat Bersama punya ruang tunggu dengan enam kursi plastik dan satu televisi yang menyala tanpa suara.

Perawatnya perempuan muda, mungkin dua puluhan, dengan rambut diikat tinggi. Dia langsung berdiri waktu melihat kami masuk.

“Anaknya kenapa, Mas?”

“Panas dari sore. Sekarang naik.”

Dia mengambil termometer dan menempelkannya ke ketiak Alina.

Tiga puluh sembilan koma delapan.

Semuanya bergerak cepat setelah itu, dan aku tidak banyak berperan di dalamnya. Alina dibawa ke ruang periksa. Dokternya laki-laki setengah baya yang menguap sekali lalu berhenti menguap. Dia menekan perut Alina, melihat tenggorokannya, menekan-nekan kulit lengannya.

“Sudah berapa hari panas?”

“Baru hari ini. Tapi tiga hari terakhir dia lemas.”

“Ada mimisan? Bintik merah?”

“Nggak ada.”

Dia menekan pergelangan tangan Alina lagi, lebih lama.

“Kita cek darah, ya. Biar aman. Musim begini banyak DB.”

Aku mengangguk.

Lalu aku bertanya, karena aku harus bertanya, dan karena bertanya itu satu-satunya hal yang masih bisa kukerjakan:

“Berapa, Dok?”

Perawat yang menjawab, dari meja depan, sambil menuliskan sesuatu.

“Periksa dokter empat puluh lima. Cek darah lengkap seratus dua puluh. Obat nanti tergantung hasilnya, kira-kira delapan puluh sampai seratus.”

Aku berdiri di tengah ruang periksa Klinik Sehat Bersama, jam sebelas lewat, dengan enam puluh dua ribu rupiah di saku celana.

“Bisa periksanya dulu aja, Dok? Yang cek darah besok?”

Dokter itu menoleh.

Dia tidak menjawab langsung. Dia melihat Alina yang tergolek di ranjang periksa, lalu melihat aku, lalu melihat sandal jepitku.

“Mas ini kakaknya?”

“Iya.”

“Orang tuanya mana?”

“Nggak ada, Dok.”

Aku mengatakannya datar, karena aku sudah kehabisan cara lain mengatakannya.

Dokter itu menatapku beberapa saat.

Lalu dia berkata kepada perawatnya, tanpa mengalihkan pandangan dariku:

“Ambil darahnya sekarang. Administrasinya besok.”

“Dok—“

“Besok.” Dia menulis di kertas resep. “Kalau ini DB dan kita tunggu besok, yang kita urus bukan administrasi lagi.”


Hasilnya keluar jam satu pagi.

Bukan demam berdarah. Trombositnya masih di batas. Yang naik adalah leukosit; infeksi, kata dokternya, kemungkinan besar dari saluran kemih atau tenggorokan, dan dia meresepkan antibiotik yang harus dihabiskan tujuh hari plus obat penurun panas.

“Dihabiskan, ya,” katanya. “Ini yang paling sering gagal. Tiga hari anaknya sudah enakan, terus obatnya berhenti, terus dua minggu lagi balik lagi ke sini, lebih parah.”

“Iya, Dok.”

“Serius, Mas. Tujuh hari.”

“Iya, Dok. Dihabiskan.”

Total semuanya, dengan obat: dua ratus enam puluh delapan ribu rupiah.

Aku membayar enam puluh dua ribu di depan, di meja perawat, sambil menuliskan nama dan alamat dan nomor telepon Bu Ratih karena aku tidak punya nomor sendiri.

“Sisanya besok, ya Mas.”

“Besok saya bawa.”

Dia mengangguk dan menyerahkan obatnya, dan dia melakukannya tanpa satu pun ekspresi yang membuatku ingin mati, dan sampai sekarang aku masih berharap suatu hari bisa berterima kasih kepada perempuan itu dengan cara yang layak.

Aku menggendong Alina pulang. Panasnya sudah turun sedikit. Di jalan raya yang kosong, dia membuka mata dan berkata, dengan suara serak:

“Ayah, aku belum ngerjain PR.”

“Nggak apa-apa. Besok Ayah tulisin surat.”

“Nanti Bu Guru marah.”

“Nggak akan.”

Dia diam. Lalu, hampir tidak terdengar:

“Jangan bilang aku sakit, ya.”

“Kenapa?”

“Nanti Mbak sedih.”

Aku berhenti berjalan di tengah jalan raya jam setengah dua pagi.

Lalu aku melanjutkan jalan, dan aku bilang iya, dan aku berjalan delapan ratus meter terakhir itu dengan dagu menempel di kepala anak itu supaya dia tidak melihat wajahku.


Gitar itu ada di atas lemari plastik, dibungkus kain sarung, di balik kardus.

Waktu Pak Sarwo datang bulan lalu dan kami menjual seisi rumah, aku menaikkannya ke sana pagi-pagi sebelum dia sampai. Itu satu-satunya hal yang kusembunyikan. Aku tidak memberitahu siapa-siapa, termasuk Kanaya, dan aku ingat merasa malu sekali sambil melakukannya — seperti orang yang mencuri dari keluarganya sendiri.

Gitar itu bukan gitar bagus. Merknya lokal, kayunya lapis, senar tiganya sudah karatan dan aku tidak pernah mengganti.

Mbak Laras memberikannya waktu aku lima belas tahun.

Dia menabung empat bulan. Aku tahu karena aku menemukan catatannya di laci, setelah, waktu kami membereskan barang. Kertas kecil dengan angka-angka: Jan 40, Feb 40, Mar 35, Apr 45. Dan di bawahnya, dilingkari: gitar Damar.

Dia tidak bilang apa-apa waktu memberikannya. Dia cuma meletakkannya di kasurku dan berkata, ”Wis, ojo mbengok-mbengok neng kamar mandi maneh.” (“Sudah, jangan nyanyi-nyanyi di kamar mandi lagi.”)

Aku turunkan dari atas lemari jam empat pagi.

Aku membuka sarungnya di ruang depan, di bawah lampu lima watt. Debunya tebal. Senarnya sudah kendur semua.

Aku menyetelnya. Pelan-pelan, satu per satu, dengan telinga saja karena aku tidak punya alat.

Lalu aku memainkan satu lagu, sekali, dengan sangat pelan, dengan tangan kiri menahan senar supaya tidak berdengung terlalu keras di petak sesempit ini.

Aku tidak menangis. Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah cukup sering menangis dalam dua bulan terakhir dan aku ingin ada satu malam yang tidak begitu.

Aku cuma memainkannya sekali, lalu memasukkannya kembali ke sarung, lalu duduk sampai subuh.


Toko musik Nada Jaya buka jam sembilan.

Aku sampai jam tujuh lewat, langsung dari pasar, masih dengan celana yang basah sampai lutut. Aku menunggu satu jam empat puluh menit di trotoar depan tokonya, duduk di atas tas, dengan gitar bersarung di pangkuan.

Ada beberapa orang lewat dan melihatku. Aku tidak peduli.

Yang membuka toko laki-laki umur empat puluhan. Dia melihatku, lalu melihat gitar itu, dan aku bisa melihat harga turun di matanya sebelum dia sempat menyentuhnya.

“Mau jual?”

“Iya, Pak.”

Dia membukanya. Memutar-mutarnya. Mengetuk bodinya dua kali. Menekan senar di fret kelima dan melepasnya.

“Kayunya lapis. Fret-nya udah aus. Ini senarnya karatan semua, harus ganti satu set.”

“Iya, Pak.”

“Seratus dua puluh.”

“Dua ratus, Pak.”

Dia mengangkat alis. “Ini barang lama, Mas.”

“Suaranya masih bagus. Saya coba tadi malam.”

“Semua orang bilang begitu.”

“Seratus delapan puluh.”

Dia menghela napas. Dia menaruh gitar itu di meja kaca dan menatapku, dan aku sadar wajahku pasti sedang memohon meskipun aku berusaha keras supaya tidak.

“Seratus lima puluh,” katanya. “Itu udah saya naikin. Kalau nggak mau, coba ke Musik Indah di seberang, tapi dia lebih pelit.”

“Iya, Pak. Seratus lima puluh.”

Dia mengambil uangnya dari laci. Tiga lembar lima puluh ribuan.

Aku menerimanya, memasukkannya ke saku, dan berbalik.

“Mas.”

Aku berhenti di pintu.

“Mau saya simpan dulu?” katanya. “Nggak langsung saya pajang. Kalau dalam sebulan Mas balik lagi, saya jual lagi harga yang sama. Nggak saya untungin.”

Aku berdiri di ambang pintu toko musik Nada Jaya, jam sembilan lewat sepuluh, hari Minggu.

“Nggak usah, Pak,” kataku. “Dipajang aja.”

Karena aku tahu aku tidak akan kembali dalam sebulan. Dan aku tidak mau menghabiskan sebulan itu membayangkan gitar itu duduk di belakang toko, menungguku, sementara aku menghitung uang di kaleng biskuit dan tahu setiap malam bahwa angkanya tidak akan pernah cukup.

Lebih murah menutup pintu sekaligus.


Aku membayar sisa tagihan klinik siang itu: dua ratus enam ribu. Aku punya dua ratus dua belas.

Alina sembuh dalam lima hari. Obatnya kuhabiskan sampai tujuh, seperti pesan dokternya, dan aku menandai kotaknya dengan spidol setiap kali diminum karena aku takut lupa.

Hari ketiga, waktu panasnya sudah turun dan dia mulai berisik lagi, dia duduk di tikar dan memandang ke atas lemari plastik.

Aku sedang menyapu.

“Ayah.”

“Hm.”

“Gitarnya mana?”

Sapuku berhenti setengah detik. Aku melanjutkan.

“Yang mana?”

“Yang di atas lemari. Yang dibungkus sarung.” Dia menunjuk. “Dulu ada.”

“Oh.” Aku menyapu ke arah pintu. “Dipinjem temen Ayah.”

“Siapa?”

“Mas Haryo.”

“Mas Haryo bisa main gitar?”

“Bisa.”

“Ajarin aku dong kalau udah balik.”

Aku mengumpulkan sampah ke pengki.

“Iya,” kataku. “Nanti.”

Dan Alina, karena dia Alina, langsung percaya dan langsung pindah ke topik lain, dan tidak pernah menanyakannya lagi sampai sepuluh tahun kemudian.