Chapter Fifty One
Empat Ratus Tiga Belas
POV: Alina
Selangnya dicabut hari keempat.
Aku ada di sana. Aku tidak seharusnya ada di sana — perawatnya menyuruhku keluar dan aku bilang aku tetap di sini dan Ayah bilang “nggak apa-apa, Mbak, biarin” dan akhirnya mereka menyerah karena mereka sudah tahu keluarga ini.
Selang dada itu sebesar jari kelingking dan panjangnya lebih dari yang aku bayangkan.
“Tarik napas panjang, Pak. Terus buang. Pas buang saya tarik.”
“Iya.”
“Siap?”
“Iya.”
Dan waktu ditarik, dia tidak bersuara.
Tentu saja tidak.
Yang bersuara aku.
Hari kelima dia jalan pertama kali.
Tiga meter. Dari tempat tidur ke jendela, dipapah dua orang, dengan satu tangan menekan bantal ke sisi kanan dadanya karena itu yang disuruh fisioterapisnya — kalau mau batuk atau bergerak, tekan bantalnya, biar jahitannya tidak tertarik.
Tiga meter itu memakan waktu dua menit.
Dan waktu sampai di jendela dia berdiri di situ dan melihat ke luar, ke parkiran, ke pohon, ke jalan raya.
Dan dia bilang, “Bagus, ya.”
“Apanya, Yah?”
“Nggak tahu,” katanya. “Semuanya.”
Malam ketujuh aku sendirian dengannya.
Mbak Kanaya masuk kerja lagi hari itu; cutinya habis. Mas Haryo pulang jam delapan. Mbak Eliza belum datang; katanya jam sembilan setelah mengantar bapaknya kontrol.
Jam setengah sembilan, kamar itu cuma kami berdua dan dua pasien lain di balik tirai.
Dia setengah duduk. Aku di kursi plastik.
Dan aku sedang menggeser-geser HP-ku tanpa alasan, seperti biasa, dan dia melihatnya.
“Lin.”
“Hm.”
“Kamu tiap hari megang HP.”
“Ya semua orang megang HP, Yah.”
“Kamu megangnya nggak kayak orang.”
Aku menoleh.
“Maksudnya?”
“Kamu nggak ngetik.” Dia menyandarkan kepalanya. “Kamu geser-geser aja. Dari dulu.”
Dan aku duduk di kursi plastik itu dan aku merasakan sesuatu turun dari dada ke perut.
Karena dia benar.
Dan karena orang itu memperhatikan hal-hal seperti itu, sepuluh tahun, tentang kami berdua, dan tidak pernah sekali pun menyebutkannya sampai malam itu.
Aku membuka albumnya.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku sudah menyimpannya delapan tahun dan aku tidak pernah menunjukkannya kepada siapa pun, bukan ke Mbak Kanaya, bukan ke Fitri, bukan ke siapa-siapa.
Aku membukanya dan aku memutar layarnya ke arahnya.
“Ini apa?”
“Lihat aja.”
Dia mengambilnya dengan tangan kanan — pelan, karena bergerak masih sakit — dan menaruhnya di pangkuannya.
Dan dia menggeser.
Aku akan menuliskan apa yang dia lihat, karena aku hafal urutannya.
Foto pertama diambil waktu aku sepuluh tahun. Kualitasnya jelek karena HP-nya HP bekas Mbak Kanaya yang kameranya rusak setengah. Dia sedang tidur di tikar, telentang, dengan satu lengan menutupi mata.
Foto kedua dan ketiga sama, malam yang berbeda.
Lalu ada yang di dapur. Membelakangi kamera, mencuci piring.
Lalu ada yang di teras, memperbaiki rantai sepeda hijau.
Lalu ada yang duduk di tikar dengan kaleng biskuit di pangkuan dan bibir bergerak, diambil dari celah pintu kamar.
Lalu ada yang di halaman kampus di Semarang. Kemeja batik. Dari jarak dua puluh meter. Membelakangi kamera, berdiri sendirian di antara ratusan orang yang sedang berfoto.
Lalu ada yang di parkiran kampusku. Berdiri di sebelah motor, di bawah pohon, dengan sandal jepit dan helm di tangan.
Lalu ada yang tidur duduk di kursi ruang tunggu puskesmas.
Lalu ada yang baru, empat bulan terakhir, dan yang itu lebih banyak dari semuanya.
Dia menggeser selama mungkin enam menit tanpa berkata apa-apa.
Lalu dia berhenti.
“Lin.”
“Hm.”
“Ini berapa banyak?”
“Empat ratus tiga belas.”
Dia menaruh HP itu di pangkuannya.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Alina.”
“Iseng aja.”
“Empat ratus tiga belas itu bukan iseng, Lin.”
Dan aku duduk di kursi plastik itu, di kamar kelas dua RSUD Wonoyoso, jam sembilan kurang, dan aku mengerjakan sesuatu di kepalaku selama mungkin satu menit penuh.
Aku sudah tahu jawabannya sejak umur empat belas.
Aku belum pernah mengucapkannya keras-keras kepada siapa pun.
“Yah.”
“Hm.”
“Aku nggak punya foto Ibu.”
Dia tidak bergerak.
“Satu pun nggak ada,” kataku. “Aku pernah nyari. Waktu SMP. Aku bongkar semua kotak surat, semua lemari, semua tas.”
Aku menatap tanganku.
“Yang ada cuma yang di akta sama yang di KK. Itu bukan foto, itu keterangan.”
“Lin—“
“Terus aku tanya Mbak Kanaya. Terus Mbak bilang Ibu yang buang. Semuanya. Waktu Bapak pergi.”
Aku menarik napas.
“Dan aku nggak inget mukanya, Yah.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Aku nggak inget mukanya. Aku empat tahun waktu Bapak pergi, delapan waktu Ibu meninggal. Dan sekarang aku sembilan belas dan kalau aku merem dan nyoba manggil muka Ibu di kepala, yang muncul cuma warna.”
“Mbak Kanaya inget,” kataku. “Dia inget suaranya. Dia inget cara Ibu duduk. Dia inget Ibu marah gara-gara apa.”
Aku menyeka mataku dengan lengan.
“Aku punya satu orang seumur hidupku dan aku kehilangan dia total. Nggak sisa apa-apa. Nggak ada buktinya.”
Aku menoleh kepadanya.
“Terus umur sepuluh aku dapet HP bekas Mbak Kanaya. Yang kameranya rusak setengah.”
Aku mengangkat bahu.
“Dan malem itu Ayah tidur di tikar. Dan aku motret.”
Dia menutup matanya.
“Aku nggak mikir sejauh itu waktu itu, Yah. Aku sepuluh tahun.” Aku memegang pinggiran kursi. “Aku cuma motret. Terus besoknya motret lagi.”
“Lin.”
“Terus umur empat belas aku ngerti kenapa.”
Dan aku mengatakannya.
“Karena kalau suatu hari Ayah nggak ada, aku nggak mau kejadian yang sama dua kali.”
Kamar itu sunyi.
Di balik tirai sebelah, ada orang tua yang batuk. Di koridor ada troli lewat.
“Dan yang soal pacar itu.”
“Lin—“
“Aku mau selesaiin, Yah.”
Dia diam.
“Aku mulai bilang itu umur sebelas. Waktu Mbak Yuni.” Aku mengusap wajahku. “Terus aku pakai terus. Ke Mbak Tanti. Ke Mbak Rika. Ke Mbak Novi. Ke Mbak Eliza.”
Aku menoleh kepadanya.
“Dan semua orang mikir aku naksir Ayah.”
“Kakak nggak pernah mikir gitu.”
“Aku tahu.”
Dan itu yang membuat suaraku akhirnya hancur, dan aku tidak berusaha memperbaikinya.
“Aku tahu Ayah nggak pernah mikir gitu. Ayah selalu elus kepala aku terus nyuruh aku habisin minum. Dari umur sebelas sampai delapan belas. Ayah nggak pernah sekali pun nganggep itu serius.”
Aku menarik napas.
“Dan itu bukan kenapa aku bilang.”
“Aku bilang itu,” kataku, “karena kalau Ayah nikah, Ayah bakal punya keluarga sendiri.”
Aku menatap lantai.
“Terus nanti ada anak. Terus nanti di formulir sekolahnya, di kolom nama anak, ada nama anak itu. Bukan aku.”
Aku menyeka wajahku lagi dan tidak ada gunanya.
“Aku nggak ada di mana-mana, Yah.”
“Alina—“
“Aku bukan anak Ayah di kertas. Aku bukan siapa-siapa di kertas.” Aku mengangkat kepalaku. “Di akta aku, yang ada nama Bapak. Orang yang aku nggak inget mukanya, yang dateng bulan lalu dan aku nggak bisa marah sama dia karena dia nggak pernah ngambil apa-apa dari aku.”
Aku memegang lututku sendiri dengan dua tangan supaya tanganku berhenti.
“Satu-satunya tempat di dunia ini yang ada nama aku sebagai anak Ayah itu di gambar yang aku bikin waktu kelas tiga SD. Yang ditempel di lemari plastik. Yang aku coret tulisannya pakai pulpen pinjeman di warung Bu Ratih.”
Aku menoleh kepadanya.
“Itu doang, Yah. Sebelas tahun. Satu kertas.”
Aku tidak tahu berapa lama tidak ada yang bicara.
Lalu dia berkata, “Lin.”
“Hm.”
“Bisa panggil suster?”
Aku mengangkat kepalaku, panik. “Ayah sakit?”
“Nggak. Kakak mau duduk lebih tegak.”
Dan aku memanggil suster dan mereka menaikkan sandaran tempat tidurnya dan menaruh bantal di punggungnya, dan waktu mereka pergi dia menepuk kasur di sebelahnya.
“Sini.”
“Yah, nanti jahitannya—“
“Sini, Lin.”
Dan aku duduk di tepi tempat tidur itu, dan dia mengangkat tangan kanannya, dan aku menyandarkan kepalaku ke bahunya yang kiri, yang tidak dioperasi.
“Alina Santika,” katanya.
“Hm.”
“Sembilan belas tahun.”
“Iya.”
“Lahir tanggal tujuh belas April. Berat lahirnya dua koma sembilan kilo; Kakak tahu karena Kakak yang nemenin Mbak Laras ke bidan waktu itu, umur Kakak sembilan tahun.”
Aku tidak bergerak.
“Kamu mulai jalan umur satu tahun dua bulan. Telat, dan Mbak Laras panik, dan Kakak yang bilang ke dia nggak apa-apa karena Kakak baca di majalah bekas.”
Dia menarik napas, pelan, karena napas panjang masih sakit.
“Gigi seri kamu yang atas copot umur tujuh, di tangga depan rumah yang lama, dan kamu nangis bukan karena sakit tapi karena giginya masuk got.”
“Yah—“
“Kamu takut gelap sampai umur sebelas. Kamu nggak suka keju tapi kamu selalu pesen yang ada kejunya kalau lagi jengkel. Kamu ngitung sampai seratus tiap Jumat malem sembilan tahun dan tiap kali sampai enam puluh tiga kamu selalu salah, dan kamu nggak pernah tahu itu, dan Kakak nggak pernah ngasih tahu.”
Aku mulai menangis lagi.
“Kamu manggil Kakak Ayah pertama kali hari Jumat, bulan Oktober, tahun pertama. Kamu lagi mau minta tolong ambilin krayon cokelat yang masuk kolong.”
Dia menoleh sedikit, sampai dagunya menyentuh kepalaku.
“Dan Kakak bilang nggak salah.”
“Lin.”
“Iya.”
“Kamu bilang nama kamu nggak ada di mana-mana.”
“Iya.”
Dan dia berkata:
“Kamu belum pernah lihat bukunya, ya.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Buku apa?”
“Yang sampul cokelat.”
“Aku—“ Aku menyeka wajahku. “Mbak Eliza yang buka. Aku cuma denger.”
“Kamu denger halaman berapa?”
“Yang pertama. Sama beberapa yang depan.”
Dan Ayah menoleh ke arah lemari kecil di sebelah tempat tidur, di mana barang-barangnya ditaruh — sarung, handuk, dompet, kotak obat.
“Ambil dompet Kakak.”
Aku mengambilnya.
Dompet lipat kulit yang sudah pecah di sudutnya, yang aku tahu isinya tiga lembar uang dan KTP dan kartu BPJS dan selembar kertas dengan nama Pak Umar yang ditulis huruf besar semua.
“Ada kertas di bagian belakang. Yang dilipet kecil.”
Aku mencarinya.
Ada. Di balik KTP. Dilipat sampai seukuran perangko, kertas HVS, sudah lunak.
“Buka.”
Aku membukanya.
Lipatannya delapan dan aku harus membukanya pelan-pelan supaya tidak sobek di garisnya.
Dan waktu terbuka penuh, isinya cuma tiga baris, ditulis dengan huruf yang berdiri lurus.
Dan yang pertama:
Alina Santika — 17 April.
Yang kedua:
Kanaya Santika — 2 September.
Dan yang ketiga, di bawah, dengan tulisan yang lebih kecil:
Laras Prasetya — 21 Agustus.
“Yah, ini apa?”
“Tanggal.”
“Aku tahu tanggal, tapi—“
“Kakak nggak punya HP sampai kamu SMP,” katanya. “Terus HP yang dari Kanaya rusak. Terus Kakak nggak ganti.”
Dia menyandarkan kepalanya lagi.
“Kakak takut lupa.”
Aku memegang kertas itu dengan dua tangan.
“Kakak bawa kertas ini sejak kamu umur sembilan,” katanya. “Ganti tiga kali karena sobek. Yang ini yang keempat.”
Dan aku menatap tiga baris itu, dan aku menatap dompet kulit yang sudah pecah di sudutnya, dan aku menatap laki-laki yang setengah duduk di tempat tidur rumah sakit dengan jahitan empat belas sentimeter di sisi kanan dadanya.
“Kamu bilang nama kamu nggak ada di mana-mana,” katanya.
Dia mengangkat tangannya dan meletakkannya di kepalaku.
Punggung tangannya.
“Nama kamu paling atas, Lin.”
Mbak Eliza datang jam sembilan lewat.
Aku mendengar sepatunya di koridor sebelum dia sampai ke tirai, dan aku sempat menyeka wajahku dua kali dan itu sama sekali tidak menolong.
Dia membuka tirai.
Dan dia melihat kami — aku duduk di tepi tempat tidur dengan mata bengkak, Ayah dengan tangannya masih di kepalaku, dan selembar kertas HVS yang terbuka di pangkuanku.
Dan dia berhenti.
“Aku ganggu, ya.”
“Nggak, Mbak.”
“Aku bisa nunggu di luar.”
Dan aku melihat Mbak Eliza berdiri di sana, di ambang tirai, dengan tas dan kantong plastik berisi entah apa, dan sudah datang setiap malam selama tujuh malam berturut-turut setelah mengantar bapaknya kontrol.
Dan aku melihat Ayah.
Yang sejak tirai itu terbuka tidak menoleh ke arahnya sekali pun.
Dua bulan.
Aku berdiri dari tempat tidur dan aku melipat kertas itu — delapan lipatan, pelan-pelan, di garisnya — dan aku memasukkannya kembali ke belakang KTP dan menutup dompet itu dan menaruhnya di lemari kecil.
“Mbak.”
“Iya?”
“Aku mau beli minum di bawah.”
“Aku titip—“
“Lama,” kataku.
Dan aku menoleh kepadanya.
“Aku lama, Mbak.”
Mbak Eliza menatapku.
“Oke,” katanya.
Dan aku keluar dan menutup tirainya dari luar, dan aku berjalan sampai ujung koridor dan duduk di kursi besi di dekat tangga, dan aku duduk di situ selama empat puluh menit dengan HP di tangan yang tidak kubuka sekali pun.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas reading
- 52 Aku