← Kakak Sudah Makan

Chapter Thirty Eight

Tanggal Lima

POV: Damar

Aku membayar sewa tanggal lima. Selalu tanggal lima, sepuluh tahun, karena tanggal lima adalah empat hari setelah gajian proyek dan dua hari sebelum uang itu mulai hilang ke tempat-tempat lain.

Aku berjalan ke ujung gang jam setengah tujuh pagi dengan dua ratus dua puluh ribu di saku, dilipat dua, di dalam amplop bekas yang sudah kupakai berbulan-bulan karena masih bagus.

Rumah Pak Kirno yang paling ujung, yang ada pohon belimbingnya.

“Pak.”

“Le.” Beliau sedang menyapu halaman. “Ana apa?” (“Nak. Ada apa?”)

“Sewa, Pak.”

Dan Pak Kirno berhenti menyapu.


“Wis, Le.” (“Sudah, Nak.”)

“Sudah apa, Pak?”

“Wis dibayar.”

Aku berdiri di halaman itu dengan amplop di tangan.

“Sama siapa?”

“Ponakanmu.”

“Kanaya?”

“Sing gedhe. Sing kerja kantoran kae.” (“Yang besar. Yang kerja kantoran itu.”)

“Kapan?”

Pak Kirno menyandarkan sapunya ke tembok. Beliau masuk ke dalam dan keluar lagi dengan buku tulis bersampul plastik, jenis yang sama yang dipakai semua pemilik kontrakan di Indonesia sejak dulu.

Beliau membukanya dan menunjuk dengan jari.

Aku membaca.

Dan aku harus membacanya dua kali karena yang pertama tidak masuk.

Petak 4 — Kanaya Santika

Bukan namaku.

Di bawahnya ada delapan baris. Delapan bulan, ditandai lunas, ditulis di muka.

Dan di halaman sebelumnya, di baris paling bawah, dengan tinta yang lebih baru dari sekitarnya:

Tunggakan 3 bln (thn pertama) — 750.000 — LUNAS


“Pak.”

“Hm.”

“Yang tunggakan itu—“

“Sing sepuluh taun kepungkur.” Beliau menutup bukunya. “Aku ora tau nagih. Aku ya wis lali, jujur wae.” (“Yang sepuluh tahun lalu. Saya tidak pernah menagih. Saya juga sudah lupa, jujur saja.”)

“Saya nggak lupa.”

“Aku ngerti kowe ora lali.” Pak Kirno menoleh kepadaku. “Bocahe ya ngomong ngono.” (“Saya tahu kamu tidak lupa. Anaknya juga bilang begitu.”)

“Dia bilang apa?”

“Jarene: Pak, Kakak saya inget utang iki saben wulan sepuluh taun. Tulung dilunasi, ning ojo diomongke.(“Katanya: Pak, kakak saya ingat utang ini setiap bulan selama sepuluh tahun. Tolong dilunasi, tapi jangan diberitahukan.”)

Aku memegang amplop itu dengan dua tangan.

“Terus kenapa Bapak kasih tahu?”

Dan Pak Kirno — yang umurnya sudah enam puluhan, yang meminjamkan mobil bak sepuluh tahun lalu dan tidak minta ganti bensin, yang tidak pernah sekali pun menagihku selama sepuluh tahun — mengambil sapunya lagi.

“Merga kowe teka mrene tanggal lima esuk-esuk,” katanya. “Nggawa amplop.” (“Karena kamu datang ke sini tanggal lima pagi-pagi. Bawa amplop.”)

Beliau mulai menyapu lagi.

“Nek tak jarke, sesuk kowe teka maneh.” (“Kalau saya biarkan, besok kamu datang lagi.”)


Aku berjalan pulang lewat jalan memutar.

Bukan sengaja. Aku sampai di mulut gang dan tidak berbelok masuk, dan aku terus berjalan sampai ke jalan raya, dan aku berdiri di depan bengkel yang belum buka selama entah berapa lama.

Aku memegang dua ratus dua puluh ribu di dalam amplop bekas.

Aku sudah menghitung uang ini di kaleng biskuit malam sebelumnya. Aku memisahkannya dari yang lain, seperti setiap bulan, dan aku melakukan hal yang sama sejak Oktober sepuluh tahun lalu:

Aku menghitungnya dua kali.

Aku selalu menghitungnya dua kali sebelum tanggal lima, karena kalau kurang, aku harus mencari sebelum sore.

Aku berdiri di depan bengkel yang belum buka dan yang aku pikirkan bukan tentang uangnya.

Yang aku pikirkan adalah: jadi tanggal lima besok Kakak ngapain.

Aku sadar betapa bodoh kalimat itu bahkan waktu sedang muncul di kepalaku. Aku sadar orang normal akan merasa lega. Aku sadar bahwa siapa pun yang mendengar aku mengeluh soal ini akan berhak menamparku.

Aku tetap berdiri di sana selama dua puluh menit.


Ada satu hal lagi hari itu.

Aku pulang dan mengambil KTP-ku dari lemari untuk sesuatu — aku lupa untuk apa; aku pikir untuk mengurus surat di proyek.

KTP-ku ada di kotak biskuit lain, yang kecil, yang isinya kertas-kertas: akta kelahiran, kartu keluarga, surat-surat lama.

Aku membukanya dan di paling atas ada sesuatu yang tidak pernah kutaruh di sana.

Kartu plastik. Biru putih.

BPJS Kesehatan.

Nama: DAMAR PRASETYA. Kelas: 2. Berlaku sejak: tanggal sebelas bulan lalu.

Di belakangnya, ditempel dengan selotip, ada kertas kecil dengan tulisan tangan yang kukenali karena aku sudah mengenalinya sejak anak itu berumur delapan tahun:

Iuran dibayar per tahun. Sudah. Faskes 1: Puskesmas Wonoyoso.

Tidak ada tanda tangan. Tidak ada nama.

Aku duduk di lantai ruang depan petak nomor empat dengan kartu itu di tangan dan aku tidak bergerak selama mungkin sepuluh menit.


Kanaya pulang jam enam kurang.

Dia menaruh tasnya. Dia melepas sepatunya dan menaruhnya di rak, sejajar, ujungnya rata.

Aku duduk di tikar dengan tiga benda di depanku.

Amplop dua ratus dua puluh ribu. Kartu BPJS. Dan kertas kecil dengan tulisan tangannya.

Dia melihatnya.

Dia tidak berpura-pura tidak tahu. Aku menghargai itu; aku sudah menyiapkan diri untuk berdebat tentang apakah dia tahu atau tidak dan aku senang tidak perlu.

“Kakak dari Pak Kirno?”

“Iya.”

“Beliau bilang?”

“Iya.”

Kanaya duduk di lantai, di seberangku, dengan cara yang sama seperti waktu dia menaruh tujuh amplop cokelat sepuluh tahun lalu.

“Aku mau kasih tahu bulan depan,” katanya.

“Kenapa bulan depan?”

“Karena kalau sekarang, Kakak masih bisa batalin.”


Aku ingin mencatat bahwa aku tidak marah.

Aku sudah ditanya soal ini beberapa kali sesudahnya dan aku selalu menjawab yang sama dan orang selalu tidak percaya.

Aku tidak marah. Aku tidak sekali pun merasa dipermalukan. Aku tidak merasa dilangkahi.

Yang aku rasakan adalah sesuatu yang tidak punya nama, dan yang paling dekat dengan namanya adalah ini:

Seperti orang yang bangun pagi dan menemukan bahwa pekerjaannya sudah dikerjakan orang lain, dan tidak tahu harus ke mana.

“Nay.”

“Iya.”

“Delapan bulan.”

“Iya.”

“Sama yang tujuh ratus lima puluh.”

“Iya.”

“Itu dua koma lima juta.”

“Dua juta lima ratus sepuluh ribu.”

Tentu saja dia tahu angkanya.

“Nay.”

“Iya.”

“Kakak bisa bayar itu.”

“Aku tahu.”

“Kakak udah bayar itu sepuluh tahun.”

“Aku tahu, Kak.”

“Terus kenapa—“

Dan aku berhenti, karena aku sadar bahwa kalimat yang akan keluar berikutnya adalah kalimat yang tidak boleh keluar dari mulut orang dewasa yang sedang bicara dengan anak yang dia besarkan.

Kanaya menunggu.

“Nggak apa-apa,” kataku.

“Kakak mau bilang apa?”

“Nggak apa-apa, Nay.”

“Kak.”

Dan aku menatap tiga benda di lantai itu — amplop, kartu, kertas kecil — dan aku mengucapkannya.

“Terus Kakak ngapain?”


Kanaya tidak menjawab selama beberapa detik.

“Maksudnya?”

“Nggak. Lupain.”

“Kak—“

“Kakak cuma—“ Aku menggosok wajahku dengan kedua tangan. “Kakak bangun tiap tanggal empat malam buat ngitung dua kali. Sepuluh tahun.”

Aku menurunkan tanganku.

“Kakak nggak tahu tanggal lima besok mau ngapain.”

Ruang depan petak nomor empat itu sunyi.

Dan Kanaya, yang selalu punya angka untuk segalanya, duduk di lantai dan tidak mengeluarkan satu pun.

“Kakak tahu ini nggak masuk akal,” kataku. “Kakak tahu.”

“Nggak.”

“Nay, ini nggak—“

“Nggak,” katanya lagi. “Aku ngerti.”

Dia menatap lantai.

“Aku ngerti banget, Kak.”


Kami duduk cukup lama.

Alina belum pulang. Lampu lima watt di ruang depan itu sudah diganti tahun lalu dengan yang lebih terang tapi aku masih menyebutnya lampu lima watt.

“Kak.”

“Hm.”

“Aku juga mau ambil alih kuliahnya Alina.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Nggak.”

“Dua koma empat per semester. Aku bisa—“

“Nggak, Nay.”

“Kakak, itu—“

“Nggak.”

Dan aku mendengar suaraku sendiri dan suaranya lebih keras daripada yang pernah kupakai kepada anak itu seumur hidupku.

Kanaya berhenti.

Aku menarik napas.

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

“Nay, dengerin Kakak.” Aku mencondongkan badan. “Sewa boleh. BPJS boleh. Rekening, listrik, air, apa pun, boleh. Kakak nggak akan ngomong apa-apa lagi.”

Aku menunjuk ke atas lemari plastik dengan daguku — ke tempat kotak sepatu itu pernah berdiri, ke tempat gitar itu pernah disimpan.

“Yang satu itu jangan.”

“Kenapa?”

Dan aku tidak bisa menjelaskannya kepadanya waktu itu, dan aku akan menjelaskannya di sini.

Ada amplop di dasar kaleng biskuit. Kertasnya sudah lunak seperti kain dan tulisannya sudah pudar dan sudah sembilan tahun aku memasukkan uang ke dalamnya sedikit demi sedikit dan mengeluarkannya lagi setiap kali ada apa-apa.

Aku sudah gagal sekali.

Aku sudah gagal sekali dan orang yang menanggung kegagalan itu sedang duduk satu meter di depanku dengan kemeja kantor yang dia setrika sendiri jam lima pagi, dan dia lulus dengan beasiswa penuh, dan bukan karena aku.

“Karena itu satu-satunya yang tersisa,” kataku.

Kanaya menatapku.

Dan dia tidak mendebat.

Anak itu tidak pernah, sekali pun dalam sepuluh tahun, mengalah dalam perdebatan yang melibatkan angka.

Malam itu dia mengalah.

“Ya udah,” katanya. “Yang itu Kakak.”

“Iya.”

“Tapi kalau kurang, Kakak bilang.”

“Iya.”

“Kak.”

“Iya, Nay. Kakak bilang.”

Dan itu bohong, dan kami berdua tahu, dan tidak ada yang menyebutkannya.


Dia berdiri dan masuk ke dapur untuk menanak nasi.

Aku duduk di tikar dan mengambil kartu BPJS itu lagi.

Aku membacanya sekali lagi. Nama, nomor, kelas dua, faskes satu Puskesmas Wonoyoso.

Aku membalikkannya dan membaca kertas kecil di belakangnya.

Iuran dibayar per tahun. Sudah.

Dan aku duduk di sana, dengan kartu plastik biru putih di tangan, dan aku memikirkan sesuatu yang tidak kukatakan kepada siapa pun malam itu:

Bahwa anak itu sudah menyelesaikan tiga hal dalam empat bulan.

Bahwa dia mengerjakannya diam-diam, satu per satu, dengan urutan yang jelas.

Dan bahwa ada satu hal lagi yang akan datang, dan aku sudah tahu apa, dan aku sudah tahu bahwa aku tidak akan bisa mengalahkan yang itu dengan kalimat nggak usah, Nay.

Aku memasukkan kartu itu ke kotak biskuit dan menutupnya.

Aku tidak membuangnya.

Aku juga tidak memakainya.