Chapter Thirty Seven
Dua Juta Enam Ratus Ribu
POV: Kanaya
Aku tidak punya kendaraan.
Aku bisa membelinya. Dengan gaji tiga juta empat ratus dan tidak ada tanggungan, aku bisa mengambil motor kredit dengan cicilan tujuh ratus sebulan dan masih hidup dengan sangat nyaman.
Aku naik angkot.
Dua ribu sekali jalan, empat ribu pulang pergi, delapan puluh delapan ribu sebulan.
Aku bawa bekal dari rumah setiap hari. Aku tidak ikut arisan kantor yang dua ratus ribu sebulan. Aku punya tiga kemeja kerja dan aku memakainya bergantian dan aku menyetrikanya sendiri jam lima pagi karena aku masih bangun jam empat meskipun sudah tidak ada alasan.
Orang kantor sudah punya kesimpulan tentang aku sejak bulan ketiga.
Aku tahu kesimpulannya. Vira yang memberitahuku, dengan cara Vira, yaitu sambil tertawa dan bilang “jangan tersinggung ya.”
Pelit.
Aku tidak tersinggung.
Aku sudah menghitung, dan kalau aku menyisihkan dua juta setiap bulan, dalam dua tahun tujuh bulan aku sampai di enam puluh tiga juta empat ratus delapan belas ribu.
Orang boleh menyebutku apa saja selama tiga puluh satu bulan.
Hari Kamis, minggu kedua Januari, hujan sejak jam tiga.
Aku lembur. Tutup buku bulanan, dan ada selisih empat ratus ribu di rekonsiliasi bank yang tidak ketemu sejak Selasa dan yang akhirnya kutemukan jam setengah tujuh malam.
Ada tujuh orang yang masih di kantor. Aku, Vira, Danang, Bu Ike, dan tiga orang dari bagian gudang yang menunggu hujan reda.
Aku menelepon rumah jam enam. Bukan rumah; warung Bu Ratih, seperti biasa.
Om Damar datang jam setengah delapan.
Motor itu tahun sembilan delapan.
Dibeli tiga tahun lalu, dua juta tiga ratus, dicicil sebelas bulan. Warnanya dulu merah dan sekarang tidak bisa disebut warna apa pun.
Knalpotnya bocor di sambungan. Bunyinya bukan berisik seperti motor anak muda yang sengaja dibuat berisik; bunyinya seperti sesuatu yang sakit.
Kamu bisa mendengarnya dari dua ratus meter.
Kantor kami di lantai dua, dengan jendela panjang menghadap parkiran.
Danang yang pertama menoleh.
“Eh.”
“Apa?” kata Vira.
“Denger nggak?”
Dan mereka berdua ke jendela, karena begitulah orang kantor kalau lembur — apa pun yang terjadi di luar lebih menarik daripada yang ada di layar.
Aku sedang merapikan berkas.
“Astaga,” kata Danang.
Vira tertawa. “Itu motor apa gerobak.”
“Itu masih jalan?”
“Kayaknya sih jalan.”
Aku menutup laci.
“Nay.”
“Hm.”
“Yang jemput kamu?”
“Iya.”
“Itu siapa?”
“Om saya.”
Dan seharusnya selesai di situ.
Aku sungguh percaya seharusnya selesai di situ, dan aku sudah memikirkannya berkali-kali sesudahnya untuk mencari titik di mana aku bisa mencegahnya, dan aku selalu berhenti di sini.
Danang kembali ke mejanya sambil tertawa.
Dan waktu lewat di belakangku, dia berkata — dengan nada bercanda, dengan nada yang di kantor mana pun akan dianggap bercanda, dengan nada yang bahkan aku tahu tidak dimaksudkan untuk menyakiti siapa-siapa:
“Suruh ganti motor dong, Nay. Malu-maluin kantor.”
Aku menutup laptopku.
Aku ingin mencatat urutannya dengan tepat karena keesokan harinya aku harus menuliskannya di kertas untuk HRD dan aku menuliskannya dengan tepat di sana juga.
Aku menutup laptop. Aku berdiri. Aku tidak mengangkat suaraku.
“Mas Danang.”
“Hah?”
“Boleh saya nanya?”
“Boleh?”
“Motor Mas berapa?”
Dia mengerjap. “Hah?”
“Motor Mas Danang. Yang di parkiran depan. Berapa harganya?”
“Kok—“
“Berapa, Mas?”
Ruangan itu berhenti.
Vira berhenti tertawa. Bu Ike mengangkat kepalanya dari mejanya di ujung. Tiga orang gudang di dekat pintu tidak bergerak.
“Tiga delapan,” kata Danang. “Kenapa?”
“Tiga puluh delapan juta.”
“Iya.”
“Terima kasih.”
Aku menarik napas.
“Om saya namanya Damar Prasetya. Umurnya dua puluh tujuh tahun. Sama kayak Mas Danang.”
Tidak ada yang bicara.
“Waktu umurnya tujuh belas, kakaknya meninggal. Kakaknya itu ibu saya.”
Aku berdiri di dekat mejaku dengan kedua tangan di sisi badan.
“Ninggalin dua anak. Saya dua belas, adik saya delapan. Nggak ada keluarga lain. Ayah kami pergi empat tahun sebelumnya.”
Aku mendengar suara kursi digeser di ujung ruangan. Aku tidak menoleh.
“Dia berhenti sekolah minggu itu juga. Kelas dua SMA. Dia yang nulis suratnya sendiri, di bangku beton, di bawah pohon mangga.”
“Kanaya—“
“Sebentar, Mas.”
Aku menoleh ke Danang.
“Mas nanya kenapa motornya begitu. Saya jawab.”
“Tahun pertama, penghasilan kami tiga ratus dua puluh ribu sebulan. Saya tahu persis karena saya yang hitung. Umur dua belas.”
Aku menyebutkan angkanya satu per satu, seperti membacakan neraca, karena itu satu-satunya cara aku bisa mengucapkannya tanpa suaraku pecah.
“Sewa seratus delapan puluh. Sisa seratus empat puluh. Untuk tiga orang, tiga puluh hari.”
Aku berhenti sebentar.
“Seribu lima ratus lima puluh rupiah per orang per hari.”
Vira menutup mulutnya dengan tangan.
“Dia kerja di pasar dari jam dua pagi. Angkut keranjang, seribu per keranjang. Malam pertama dia dapat empat puluh satu keranjang. Anak baru biasanya dua puluh.”
Aku menatap meja di depanku karena aku tidak bisa menatap orang.
“Tahun kedua dia mulai cuci piring di rumah makan Padang di jalan raya. Jam enam sampai jam sebelas malam. Lima belas ribu semalam.”
Aku menarik napas lagi.
“Itu masih dia kerjakan. Sampai hari ini. Malam ini juga, setelah jemput saya, dia langsung ke sana.”
“Waktu saya masuk SMA, biayanya satu juta dua ratus.”
Aku mendengar suaraku sendiri dan suaraku masih rata dan aku bersyukur.
“Dia nggak bilang uangnya dari mana. Saya cari tahu sendiri.”
Aku menoleh ke Danang.
“Delapan puluh malam, Mas. Cuci piring. Lima belas ribu semalam, lima malam seminggu. Enam belas minggu. Itu setelah pasar subuh dan setelah proyek.”
Danang tidak bergerak.
“Untuk satu baris nama saya di papan pengumuman.”
“Sekarang bagian yang Mas tanyakan.”
Aku membuka laci mejaku.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku tidak merencanakan itu. Tanganku bergerak sendiri.
Di dalamnya, di bawah map, ada amplop cokelat yang kertasnya sudah lunak seperti kain.
Aku tidak mengeluarkannya. Aku cuma membuka lacinya dan menutupnya lagi.
“Dalam sepuluh tahun,” kataku, “barang yang dia beli untuk dirinya sendiri ada empat.”
Ruangan itu sunyi sekali sampai aku bisa mendengar hujan di talang.
“Sepatu kerja delapan puluh lima ribu, dua kali. Yang kedua solnya lepas dan dia ikat pakai kawat bendrat selama satu tahun, diganti sebulan sekali, karena kawatnya gratis dari sisa proyek.”
Aku menghitung dengan jari, karena kalau tanganku bergerak aku tidak menangis.
“Kacamata baca dua puluh lima ribu di pasar malam. Gagangnya patah dan dia ikat pakai benang jahit ibu saya, delapan belas lilitan, dua simpul, diganti tiga bulan sekali.”
Aku menoleh ke jendela.
“Dan motor itu. Dua juta tiga ratus, dicicil sebelas bulan.”
Aku berbalik menghadap Danang.
“Totalnya dua juta lima ratus sembilan puluh lima ribu. Sepuluh tahun.”
Aku menunggu satu detik supaya angkanya sampai.
“Dua ratus lima puluh sembilan ribu setahun. Dua puluh satu ribu sebulan.”
Danang membuka mulutnya dan menutupnya lagi.
“Motor Mas Danang tiga puluh delapan juta,” kataku. “Kalau dihitung pakai ukuran dia, itu seratus empat puluh enam tahun.”
Aku mengambil tasku.
“Saya nggak marah, Mas.”
Aku mengatakannya dan aku bersungguh-sungguh, dan aku masih bersungguh-sungguh sekarang.
“Mas nggak tahu. Nggak ada yang tahu. Dia nggak pernah cerita ke siapa-siapa.”
Aku memasukkan berkasku.
“Yang saya nggak bisa terima cuma satu kata.”
Aku menoleh.
“Malu-maluin.”
Danang menunduk.
“Saya pakai motor itu dari SMA sampai kuliah. Adik saya juga. Bertiga, hujan-hujanan, sampai sekarang.” Aku menutup tasku. “Kalau ada yang malu-maluin di kantor ini, Mas, itu bukan motornya.”
Aku menyampirkan tas ke bahu.
“Selamat malam.”
Aku turun ke parkiran dan Om Damar berdiri di sebelah motornya di bawah kanopi, memegang dua helm, dengan jas hujan plastik yang dilipat di lengan.
“Lama, ya?”
“Nggak.”
“Hujan. Pakai jas hujan aja.”
“Iya.”
Aku memakainya. Dia membantu merapikan bagian belakangnya supaya tidak masuk ke roda, seperti yang dia lakukan sejak aku umur empat belas.
Kami keluar dari parkiran.
Aku duduk di belakang dan memegang bagian belakang kausnya, dan aku menoleh sekali ke atas.
Di jendela lantai dua, ada empat orang berdiri.
Aku dipanggil HRD jam sepuluh pagi keesokan harinya.
Namanya Pak Bimo, dari kantor pusat, kebetulan sedang di cabang untuk audit rutin.
Beliau sopan sekali. Beliau menawarkan air minum dua kali.
“Ada laporan semalam ada kejadian di ruang kerja.”
“Iya, Pak.”
“Boleh ceritakan versi Ibu Kanaya?”
Aku menceritakannya. Semuanya. Dengan urutan yang tepat, tanpa mengurangi bagian mana pun, termasuk bagian di mana aku berdiri dan menutup laptop.
Pak Bimo mendengarkan tanpa memotong.
“Ibu menyebutkan data pribadi keluarga di ruang kerja.”
“Iya, Pak.”
“Ibu merasa itu perlu?”
Aku memikirkannya.
“Nggak, Pak.”
“Nggak?”
“Nggak perlu.” Aku menatap mejanya. “Saya bisa diam. Diam nggak akan merugikan siapa-siapa.”
“Terus kenapa Ibu nggak diam?”
Dan aku menjawabnya dengan jujur, karena aku sudah memikirkannya sepanjang malam dan tidak menemukan jawaban lain:
“Karena sepuluh tahun nggak ada yang ngomong, Pak.”
Hasilnya: teguran lisan, dicatat. Bukan surat peringatan.
Dan permintaan maaf kepada Saudara Danang, di depan Pak Bimo dan Bu Ike.
Aku melakukannya jam sebelas.
Aku berdiri di ruangan itu dan aku berkata, “Mas Danang, saya minta maaf. Cara saya semalam nggak pantas.”
Dan Danang — yang wajahnya sudah putih sejak masuk ruangan, yang jelas tidak tidur semalam — berdiri terlalu cepat dan berkata, “Nggak, Nay, aku yang—“
“Duduk, Mas Danang,” kata Pak Bimo.
Dan Danang duduk.
Dan aku selesai minta maaf, dan Pak Bimo menutup mapnya, dan urusannya selesai.
Aku keluar dari ruangan itu dan berjalan ke mejaku dan duduk dan membuka laptop.
Dan di detik itu, di kursi kantor PT Kirana Boga Nusantara cabang Wonoyoso, jam sebelas lewat, aku mengerti sesuatu yang selama sepuluh tahun tidak pernah bisa kumengerti.
Aku baru saja meminta maaf kepada orang yang menghina Om Damar.
Aku, yang selama sepuluh tahun menonton laki-laki itu meminta maaf kepada Pak Wignyo yang menahan gajinya tiga bulan. Kepada Pak Gito yang menyebutnya kuli di ruang guru. Kepada Bu Hesti yang menolak tanda tangannya. Kepada setiap orang yang pernah menahannya di sebuah ruangan untuk menjelaskan kenapa dia tidak memenuhi syarat.
Aku, yang setiap kali menonton itu terjadi ingin sekali berteriak.
Aku melakukannya dalam waktu dua belas jam.
Dan aku melakukannya bukan karena aku salah.
Aku melakukannya karena aku menghitung, dan hasilnya jelas: kalau aku tidak minta maaf, ada surat peringatan; kalau ada surat peringatan, ada risiko; kalau ada risiko, dua juta sebulan itu berhenti.
Aku minta maaf karena angkanya tidak memungkinkan aku untuk tidak minta maaf.
Dan sepuluh tahun aku pikir dia melakukannya karena dia lemah.
Om Damar menjemputku lagi malam itu, karena hujan lagi.
Bunyi motornya sampai duluan, seperti biasa, dari dua ratus meter.
Aku turun ke parkiran. Dia sudah memegang dua helm.
“Gimana kerjaannya?”
“Biasa.”
“Nggak ada apa-apa?”
“Nggak ada.”
Dia mengangguk dan menyerahkan helmku.
Dan aku berdiri di parkiran itu dengan helm di tangan dan aku mendengar kata yang baru saja keluar dari mulutku sendiri.
Biasa.
Dua suku kata. Tidak ada yang bisa dibuktikan salah. Tidak membuat siapa pun khawatir. Tidak membuat siapa pun harus menanggung apa-apa.
Sepuluh tahun aku marah kepada laki-laki ini karena satu kalimat yang dia ucapkan berulang-ulang.
Dan malam itu, di parkiran, dalam hujan, aku menemukan versiku sendiri.
Aku memakai helmku dan naik ke belakang dan memegang bagian belakang kausnya, dan aku tidak mengatakan apa-apa sepanjang jalan pulang.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu reading
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku