← Kakak Sudah Makan

Chapter Twenty

Kardus di Bawah Tempat Tidur

POV: Kanaya

Aku diterima di SMA Negeri 1 Wonoyoso dengan nilai urutan kedelapan dari empat ratus dua puluh pendaftar.

Pengumumannya ditempel di papan depan sekolah hari Sabtu. Aku berangkat sendiri, jalan kaki empat puluh menit, karena Om Damar kerja dan aku tidak ingin dia mengambil libur untuk membaca sesuatu yang bisa kubacakan lewat telepon.

Aku berdiri di depan papan itu bersama dua ratusan orang lain.

Yang berdiri di sebelahku kebanyakan datang berdua atau bertiga. Anak dan ibunya. Anak dan bapaknya. Ada yang datang sekeluarga, bawa adik, bawa kamera.

Ada satu ibu yang menjerit waktu menemukan nama anaknya, lalu memeluk anak itu di tengah kerumunan sampai keduanya hampir jatuh.

Aku menemukan namaku di kolom kedua.

8. KANAYA SANTIKA — SMP Negeri 3 Wonoyoso

Aku membacanya tiga kali untuk memastikan.

Lalu aku berdiri di situ agak lama, dengan tangan di depan, sampai orang di belakangku menyuruhku bergeser.

Aku tidak menangis. Aku juga tidak merasa ingin.

Yang aku rasakan, kalau harus kusebutkan namanya, adalah lega yang aneh — lega yang isinya bukan senang, melainkan satu kalimat yang muncul di kepalaku dengan sangat jelas dan tidak mau pergi:

Berarti uangnya nggak sia-sia.

Aku empat belas tahun waktu itu.

Aku tidak sadar, sampai bertahun-tahun kemudian, bahwa itu bukan kalimat yang seharusnya muncul di kepala anak empat belas tahun yang baru diterima di sekolah pilihannya.


Om Damar pulang jam tujuh malam.

Aku sudah menyiapkan cara memberitahunya. Aku ingin biasa saja. Kalau aku terlalu senang, dia akan merasa harus merayakan, dan merayakan itu berarti uang.

“Diterima,” kataku, waktu dia melepas sandal.

Dia berhenti.

“Diterima?”

“Iya.”

“Nomor berapa?”

“Delapan.”

Dia berdiri di ambang pintu dengan satu sandal masih di kaki.

Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelum atau sesudahnya.

Dia mengangkat kedua tangannya ke kepala, memegang rambutnya sendiri, dan berbalik menghadap gang.

Membelakangi aku.

Dia berdiri seperti itu mungkin sepuluh detik. Bahunya bergerak sekali.

Lalu dia berbalik lagi dengan wajah yang sudah rapi.

“Delapan,” katanya. “Dari empat ratus dua puluh.”

“Iya.”

“Bagus, Nay.”

Dan dia mengusap kepalaku dengan punggung tangannya, sekali, seperti biasa, dan masuk ke dapur untuk cuci muka.

Kerannya menyala lama sekali.

Alina, yang duduk di lantai dan menyaksikan seluruhnya, menoleh kepadaku dengan mata besar.

Aku menaruh jari di bibir.

Dia mengangguk.


Yang aku ingat paling jelas dari minggu itu bukan pengumumannya.

Yang aku ingat adalah hari Selasa, waktu Om Damar tidak pulang sampai jam sebelas malam.

Dia tidak pernah selambat itu. Kalau ada kerja malam, dia bilang. Kalau berubah, dia menitip pesan ke Bu Ratih.

Alina sudah tidur. Aku duduk di ruang depan dengan buku terbuka yang tidak kubaca satu barisnya.

Jam sebelas lewat dua puluh, aku mendengar sandal di gang.

Dia masuk. Dia tidak menyalakan lampu — lampunya sudah menyala, aku yang menyalakannya — dan dia berhenti waktu melihat aku masih bangun.

“Kok belum tidur.”

“Kakak dari mana?”

“Kerja.”

“Kerja apa?”

“Bongkaran.”

“Bongkaran selesainya jam empat.”

Dia menaruh tas kresek di lantai. Di dalamnya ada dua bungkus nasi.

“Kakak nambah di tempat lain.”

“Tempat apa?”

“Nay.”

“Tempat apa, Kak.”

Dan dia menyebutkannya, akhirnya, karena Om Damar tidak pernah bisa berbohong dua kali berturut-turut kepada orang yang sama dalam satu malam.

Cuci piring di rumah makan Padang di jalan raya. Jam enam sampai jam sebelas. Lima belas ribu semalam, ditambah makan.

Lima hari seminggu.

Dia sudah mulai sejak Senin minggu lalu.

Sepuluh hari, dan aku tidak tahu.

“Sejak kapan?”

“Baru.”

“Baru kapan?”

“Nay, Kakak capek.”

Dan itu kalimat pertama yang pernah dia ucapkan kepadaku dalam dua tahun yang mengakui bahwa dia capek, dan dia mengucapkannya untuk menghentikan pertanyaanku, dan itu berhasil, dan aku membencinya karena berhasil.

Aku berdiri dan masuk ke kamar.


Aku tidak tidur malam itu.

Aku berbaring di sebelah Alina yang tidur dengan mulut terbuka, dan aku mengerjakan sesuatu di kepalaku sampai jam dua pagi.

Aku menghitung.

Satu juta dua ratus, biaya masuk. Dibagi lima belas ribu semalam, lima malam seminggu.

Delapan puluh malam.

Enam belas minggu.

Empat bulan mencuci piring dari jam enam sampai jam sebelas, setiap hari kerja, sesudah pasar subuh dan sesudah bongkaran.

Untuk satu kolom di satu papan pengumuman dengan namaku di dalamnya.

Aku berbaring di dalam gelap dan aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya, dan yang butuh waktu bertahun-tahun untuk kuberi nama dengan benar.

Bukan sedih. Bukan bersalah.

Marah.

Aku marah, malam itu, dengan cara yang sangat besar dan tidak punya ke mana harus pergi.

Aku marah kepada Pak Wignyo yang menahan gaji tiga bulan dan yang kepadanya Om Damar mengucapkan maaf.

Aku marah kepada Bu Yanti dan tiga orang di warung dan siapa pun mereka yang bicara, yang aku sudah tulis namanya, sembilan nama, di halaman terakhir buku IPS-ku.

Aku marah kepada laki-laki bernama Bayu Santika yang tidak pernah kutemui lagi sejak umur sembilan dan yang wajahnya sudah tidak bisa kuingat dengan jelas.

Aku marah kepada Ibu, dan aku menuliskan itu di sini karena aku sudah lama berhenti berpura-pura tidak.

Dan yang paling tidak masuk akal, dan yang paling lama tinggal:

Aku marah kepada Om Damar.

Karena dia tidak pernah bilang. Karena dia mencuci piring selama sepuluh hari dan tidak bilang. Karena kalau dia bilang, aku bisa melakukan sesuatu — aku bisa ambil SMK, aku bisa cari kerja, aku bisa apa saja — dan dia sengaja tidak memberiku pilihan itu.

Dia memutuskan sendiri bahwa aku tidak boleh ikut menanggung.

Dan itu, aku sadari malam itu di umur empat belas tahun, adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kulawan.

Karena aku tidak bisa memaksa orang menerima bantuan.

Yang bisa aku lakukan cuma memastikan bahwa suatu hari nanti aku cukup besar sehingga dia tidak punya pilihan.


Kardus itu kardus mi instan.

Aku menemukannya di belakang warung Bu Ratih, di tumpukan yang mau dibuang, dan aku bertanya boleh atau tidak dan beliau bertanya untuk apa dan aku bilang untuk menyimpan buku.

Aku membawanya pulang dan menaruhnya di bawah tempat tidur, di sudut yang paling dalam, di balik tas sekolah lamaku.

Aku mulai mengisinya hari itu juga.

Isinya struk.

Aku sudah mengumpulkannya sejak entah kapan tanpa sadar — di saku rok, di dalam buku, di dompet kecilku. Struk apotek waktu Alina sakit. Kertas dari klinik. Nota fotokopi. Kuitansi SPP.

Malam itu aku mengeluarkan semuanya dan meratakannya satu per satu dengan telapak tangan di lantai kamar dan memasukkannya ke kardus.

Dan mulai malam itu, aku mengumpulkannya dengan sengaja.

Setiap kertas yang punya angka di atasnya dan punya hubungan dengan aku atau Alina, aku simpan.

Kuitansi masuk SMA. Kuitansi seragam. Kuitansi buku paket. Struk apotek. Nota tukang sepeda. Karcis puskesmas.

Kalau tidak ada strukanya, aku menulis sendiri di kertas kecil: tanggal, apa, berapa.

Aku tidak tahu, waktu itu, bahwa di ruangan sebelah — di tikar, di bawah lampu lima watt, di malam-malam yang sama — ada orang yang sedang mengerjakan hal yang persis sama, di buku tulis bersampul cokelat, dengan alasan yang persis berlawanan.

Dia mencatat karena merasa berutang kepada Ibu.

Aku mencatat karena merasa berutang kepadanya.

Kami berdua mengerjakannya diam-diam. Kami berdua tidak pernah menyebutkannya. Dan kami berdua sama-sama yakin bahwa kami sedang melakukan sesuatu yang mulia, padahal yang sebenarnya kami lakukan adalah menghitung satu sama lain di dalam gelap selama sepuluh tahun.


Ada satu hal lagi dari malam itu.

Aku menulisnya di halaman terakhir buku IPS, di bawah sembilan nama yang sudah ada di sana.

Bukan nama. Kalimat.

Aku menulisnya dengan pensil, huruf kecil-kecil, dan kemudian aku menghapusnya karena takut ada yang membaca, dan kemudian aku menulisnya lagi karena aku tidak mau lupa, dan begitu terus sampai kertasnya tipis di bagian itu.

Yang kutulis begini:

Nanti kalau aku sudah kerja, aku yang bayar semuanya.

Terus dia harus istirahat.

Terus dia harus sekolah lagi.

Terus dia harus punya orang yang jaga dia, satu aja, yang bukan aku dan bukan Alina.

Dan di bawahnya, paling akhir, satu baris yang paling lama kupikirkan:

Terus aku bilang terima kasih.

Aku menulis baris itu waktu umurku empat belas.

Aku baru mengucapkannya waktu umurku dua puluh dua, di koridor rumah sakit, delapan tahun kemudian, dan Om Damar sedang tidak bisa mendengarnya.