← Kakak Sudah Makan

Chapter Twelve

Tujuh Amplop

POV: Kanaya

Aku mulai bangun jam empat karena aku kalah antre di jam setengah lima.

Jam empat, kamar mandi di ujung deretan itu masih milik siapa pun yang mau. Airnya dingin sekali dan lampunya kuning dan ada tiga kecoak yang selalu ada di sudut yang sama, yang akhirnya kuanggap penghuni tetap dan tidak kuganggu.

Selesai mandi, aku menjerang air. Selesai menjerang air, aku menyetrika.

Setrikanya setrika arang. Yang listrik dijual bulan lalu bersama lemari.

Yang kusetrika ada tiga: seragamku, seragam Alina, dan baju kerja Om Damar.

Baju kerja itu kaus oblong warna abu-abu yang sudah tidak abu-abu lagi. Ada lubang kecil di bahu kanan, di titik yang selalu bergesekan dengan pinggiran keranjang. Kalau disetrika, lubang itu jadi lebih kelihatan.

Aku menyetrikanya setiap pagi.

Aku tahu itu tidak masuk akal. Aku tahu persis apa yang terjadi pada kaus itu dua jam setelah dipakai: basah, kotor, penuh lumpur pasar dan potongan daun kubis. Menyetrika kaus yang akan dipakai mengangkat karung itu sama saja dengan menyapu halaman waktu hujan.

Aku tetap menyetrikanya.

Karena aku tidak bisa mengangkat keranjang. Aku tidak bisa membayar sewa. Aku tidak bisa mengembalikan sekolahnya.

Yang bisa kulakukan cuma memastikan bahwa waktu dia keluar dari pintu jam satu pagi, dia keluar dengan baju yang rapi.

Itu sedikit. Aku tahu itu sedikit.

Tapi kalau itu satu-satunya yang aku punya, aku akan mengerjakannya sampai benar.


Aku menghitung selama tiga minggu sebelum bicara.

Aku tidak mau bicara sebelum yakin. Kalau aku salah satu angka saja, dia akan bilang “nanti Kakak pikirkan” dan itu artinya tidak pernah.

Jadi aku mengumpulkan datanya dulu.

Aku catat di halaman belakang buku Matematika, dengan pensil, supaya bisa dihapus. Berapa yang dia bawa pulang tiap pagi. Berapa yang tersisa besok sorenya. Kapan dia beli beras. Kapan dia tidak beli apa-apa.

Dan yang paling penting: bentuk grafiknya.

Karena ada polanya, dan polanya jelek.

Hari gajian pasar — Sabtu, biasanya — uangnya banyak. Hari itu kami makan telur. Kadang ada ayam. Alina dibelikan permen, kadang dua.

Senin masih aman.

Rabu mulai turun.

Jumat, tudung saji cuma ada nasi dan kerupuk.

Dan setiap Jumat, Om Damar bilang dia sudah makan di jalan.

Aku menghitungnya dan hasilnya begini: kami tidak kekurangan uang setiap hari. Kami kekurangan uang di hari yang salah. Uang yang dia bawa cukup untuk tujuh hari kalau dibagi tujuh, dan tidak cukup untuk empat hari kalau dibiarkan mengalir sendiri.

Om Damar bukan boros. Aku ingin menulis itu dengan jelas karena waktu itu aku sempat berpikir dia boros dan aku malu sekali sesudahnya.

Dia cuma tidak bisa mengatakan tidak.

Kalau Alina melihat gorengan di etalase Bu Ratih dan berhenti berjalan — cuma berhenti, tidak minta, Alina tidak pernah minta — Om Damar akan beli dua. Kalau aku bilang buku tulisku habis, dia beli tiga padahal aku bilang satu. Kalau ada tetangga yang anaknya sunatan, dia menyumbang, padahal kami sendiri belum tentu makan besok.

Uang di tangannya bocor bukan lewat dirinya sendiri. Lewat semua orang lain.

Jadi aku bikin sistemnya.


Aku menunggu sampai malam Minggu, waktu dia libur dan tidak sedang lelah setengah mati.

Aku menunggu Alina tidur. Lalu aku keluar dengan buku Matematika dan tujuh amplop cokelat kecil yang kubeli di warung fotokopi, tiga ratus rupiah satu.

Om Damar sedang duduk di tikar memperbaiki sandalnya dengan kawat.

“Kakak.”

“Hm.”

Aku duduk di lantai di depannya dan meletakkan tujuh amplop itu berderet.

Dia melihatnya. Lalu melihatku.

“Ini apa?”

“Senin sampai Minggu.”

“Nay—“

“Dengerin dulu.”

Dia menutup mulutnya. Aku menghargai itu. Om Damar selalu mendengarkan kalau disuruh mendengarkan, dan itu tidak umum di antara orang dewasa yang pernah kutemui.

Aku membuka buku Matematikaku ke halaman belakang.

“Rata-rata Kakak bawa pulang dua ratus dua puluh seminggu. Kadang dua enam puluh, kadang seratus sembilan puluh.” Aku menunjuk angka-angkanya. “Dari situ, sewa seratus delapan puluh sebulan berarti empat puluh lima seminggu. Listrik sama air dua puluh. Sisa seratus lima puluh lima.”

“Kamu hitung ini—“

“Tiga minggu.” Aku melanjutkan. “Seratus lima puluh lima dibagi tujuh itu dua puluh dua ribu sehari. Untuk bertiga.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Dua puluh dua ribu itu cukup, Kak. Kalau beras dibeli sekaligus di awal, kalau lauknya diatur, kalau nggak ada yang jajan di luar. Aku sudah coba hitung menunya. Bisa.”

Dia diam.

“Masalahnya bukan jumlahnya,” kataku. “Masalahnya hari Sabtu kita habis enam puluh, terus hari Jumat kita habis empat ribu.”

Om Damar meletakkan sandal dan kawatnya.

“Terus amplopnya buat apa?”

“Tiap Sabtu, Kakak masukin dua puluh dua ribu ke tiap amplop. Tujuh amplop. Sisanya Kakak simpan buat sewa.” Aku mendorong amplop pertama ke arahnya. “Terus hari Senin, kita cuma boleh buka amplop Senin.”

“Kalau kurang?”

“Nggak boleh ambil dari amplop lain.”

“Nay, kalau ada yang sakit—“

“Ada amplop kedelapan.” Aku mengeluarkannya dari pangkuanku. “Yang ini nggak dibuka. Ini buat kalau ada apa-apa. Tiap minggu diisi lima ribu.”

Dia menatap delapan amplop di lantai petak nomor empat.

Lama sekali.

Aku ingat dadaku berdegup keras waktu itu, karena aku sudah menyiapkan tiga argumen tambahan kalau dia menolak, dan aku belum pernah berdebat dengan orang dewasa seumur hidupku.

“Nay.”

“Iya.”

“Umur kamu berapa?”

“Kakak tahu.”

“Kakak nanya.”

“Tiga belas bulan depan.”

Om Damar menggosok wajahnya dengan kedua tangan. Lalu dia menurunkan tangannya dan menatapku, dan ekspresinya bukan ekspresi yang kuharapkan.

Aku mengharapkan lega. Atau kagum. Aku, jujur saja, sedikit mengharapkan kagum.

Yang kudapat bukan itu.

“Ini seharusnya bukan kerjaan kamu,” katanya.

“Terus kerjaan siapa?”

Dia tidak menjawab.

“Kak.”

“Hm.”

“Aku nggak bisa ngangkat karung,” kataku. “Aku udah coba mikir apa yang bisa aku kerjain, dan cuma ini.”

Om Damar memandang amplop-amplop itu lagi.

Lalu dia mengambilnya. Semuanya. Dia merapikannya jadi satu tumpuk, mengetuk-ngetukkannya ke lantai supaya rata, dan menaruhnya di dekat kaleng biskuit.

“Sabtu depan kita mulai,” katanya.

Aku mengangguk dan berdiri dan masuk ke kamar sebelum wajahku berubah.


Sistemnya jalan. Bulan pertama meleset dua kali; bulan kedua tidak meleset sama sekali.

Aku bangga dengan itu selama kira-kira enam minggu.

Sampai aku menimbang beras.

Aku menimbangnya bukan untuk mengecek apa-apa. Aku menimbangnya karena aku sedang menyusun daftar belanja dan aku ingin tahu berapa lama sekilo beras bertahan di rumah ini, supaya bisa kuhitung untuk sebulan.

Sekilo beras seharusnya cukup untuk sekitar sepuluh sampai dua belas porsi.

Di rumah kami, sekilo beras habis dalam empat hari.

Aku menghitung ulang. Empat hari, tiga orang, dua kali makan sehari. Dua puluh empat porsi.

Itu tidak mungkin.

Kecuali kalau porsinya lebih kecil. Kecuali kalau tidak semua orang makan dua kali.

Aku duduk di dapur selebar satu setengah meter itu dengan gelas takar dari botol bekas di tanganku, dan aku mengerjakan soalnya sampai selesai, karena aku selalu mengerjakan soal sampai selesai.

Aku makan dua kali sehari. Alina makan dua kali sehari, kadang tiga.

Berarti yang tidak.

Aku sudah tahu itu, tentu saja. Aku sudah tahu sejak Bu Ratih, sejak kerupuk melempem itu, sejak setiap hari Jumat. Tapi tahu itu ada dua macam, dan yang satu ini jenis yang datang bersama angka.

Malam itu aku menyendok nasiku sendiri lebih sedikit.

Bukan sedikit sekali. Kalau sedikit sekali, ketahuan. Aku mengurangi kira-kira seperempat, dan aku menutupinya dengan meratakan nasi di piring supaya luasnya sama.

Aku juga mulai bilang aku kenyang. Kadang. Tidak setiap hari — kalau setiap hari, dia akan curiga.

Butuh tiga minggu sampai dia menyadarinya. Lalu dia menyendokkan nasi ke piringku tanpa berkata apa-apa, dan aku memakannya tanpa berkata apa-apa, dan besoknya aku melakukannya lagi.

Kami tidak pernah membicarakan itu. Selama sepuluh tahun.


Hari Kamis, jam sebelas malam, aku keluar untuk minum.

Om Damar duduk di tikar membelakangi pintu kamar. Lampu lima watt menyala. Kaleng biskuit terbuka di sampingnya, dan uangnya sudah dimasukkan ke amplop-amplop, aku bisa melihat itu dari cara amplopnya menggembung.

Tapi dia tidak sedang menghitung.

Dia sedang menulis.

Buku tulis biasa, sampul cokelat, jenis yang dijual dua ribu di warung fotokopi. Dia menulis dengan tubuh agak membungkuk, pelan, seperti orang yang sedang menyalin sesuatu dan takut salah.

Aku berdiri di ambang pintu kamar cukup lama untuk melihat dia membalik satu halaman.

Halaman itu penuh.

Bukan penuh tulisan panjang. Penuh baris-baris pendek, dengan angka di sebelah kanan, rapi, seperti daftar.

Aku ingin bertanya.

Aku tidak bertanya.

Aku tidak bisa menjelaskan kenapa. Ada sesuatu di punggungnya malam itu — di cara bahunya turun, di cara dia menulis pelan sekali — yang membuatku merasa bahwa kalau aku bertanya, aku sedang membuka pintu kamar mandi yang kerannya sengaja dinyalakan.

Jadi aku kembali ke kamar tanpa minum, dan berbaring, dan menatap bercak lembap di langit-langit yang bentuknya seperti pulau.

Aku berumur dua belas tahun waktu itu.

Aku baru mengetahui isi buku itu sepuluh tahun kemudian, dan bukan aku yang membukanya.