← Kakak Sudah Makan

Chapter Fifteen

Suara Orang Dewasa

POV: Damar

Pak Wignyo punya tiga kios di Pasar Wonoyoso, satu gudang di belakang terminal, dan kebiasaan menepuk bahu orang sambil memanggil “Le” dengan cara yang membuat orang merasa disayang.

Aku bekerja untuknya sejak Oktober. Bukan angkut harian lagi — angkut harian itu dibayar per keranjang, per pagi, langsung. Ini kerja gudang: bongkar muat sore, sortir, tutup gudang. Enam hari seminggu, empat jam sehari, dibayar bulanan.

Empat ratus lima puluh ribu sebulan.

Itu angka yang mengubah hidup kami. Empat ratus lima puluh ribu ditambah pasar subuh berarti untuk pertama kalinya sejak Agustus, tujuh amplop Kanaya bisa diisi penuh tanpa harus mengorbankan amplop kedelapan.

Aku ingat menghitungnya berulang-ulang di malam pertama. Aku ingat berpikir: kami selamat.

Gaji pertama dibayar tepat waktu.

Gaji kedua terlambat sembilan hari.

Gaji ketiga, keempat, dan kelima tidak pernah datang.


“Le. Sik yo. Minggu ngarep.” (“Nak. Nanti dulu ya. Minggu depan.”)

Itu jawaban pertama.

Jawaban kedua, dua minggu kemudian: “Cash flow-ku lagi macet. Ada yang belum bayar ke aku. Kamu sabar sik.”

Jawaban ketiga, di bulan berikutnya, sambil dia menghitung uang di laci kios: “Kowe ki wis tak wenehi kerja, lho. Akeh sing ngantri pengin posisimu.” (“Kamu ini sudah saya kasih kerja, lho. Banyak yang antre ingin posisimu.”)

Aku tetap datang. Enam hari seminggu, empat jam sehari.

Aku tetap datang karena kalau aku berhenti, tiga bulan itu hangus. Kalau aku bertahan, mungkin suatu hari dibayar. Itu hitungan yang kubuat di kepalaku dan aku tahu sekarang bahwa itu hitungan orang yang sedang ditipu, tapi waktu itu aku delapan belas tahun dan aku belum tahu bahwa ada orang yang memang seperti itu.

Aku menagih delapan kali.

Kedelapan kalinya, di bulan Februari, dia tidak menoleh dari kiosnya waktu aku bicara.

“Pak Wignyo.”

“Hm.”

“Soal yang kemarin.”

“Aku lagi sibuk, Le.”

“Nggih. Tapi—“

“Kowe kok ngeyel, ta.” Dia berbalik. Dia tidak marah; itu bagian yang paling melelahkan. Dia tersenyum. “Kowe ki dhuwe utang budi karo aku. Sing nampa kowe kerja sapa? Bocah putus sekolah, ora ana sing gelem nampa. Aku sing nampa.” (“Kamu kok ngotot, sih. Kamu ini punya utang budi sama saya. Yang menerima kamu kerja siapa? Anak putus sekolah, tidak ada yang mau menerima. Saya yang menerima.”)

Aku berdiri di depan kiosnya selama mungkin lima detik.

Lalu aku bilang, “Nggih, Pak. Ngapunten.”

Dan aku pulang.

Aku sudah memikirkan momen itu berkali-kali dalam sepuluh tahun. Aku sudah menyusun sepuluh versi berbeda dari apa yang seharusnya aku katakan.

Yang aku katakan adalah maaf.


Uangnya datang hari Kamis.

Aku sedang di gudang, menyortir bawang, waktu anak Pak Wignyo yang nomor dua datang membawa amplop cokelat dan menyerahkannya kepadaku tanpa berkata apa-apa selain “dari Bapak.”

Satu juta tiga ratus lima puluh ribu.

Tiga bulan. Penuh. Tidak dipotong.

Aku menghitungnya tiga kali di belakang gudang, dengan tangan yang tidak stabil, dan aku ingat aku tertawa sendirian di antara karung-karung bawang seperti orang gila.

Waktu aku pulang lewat kios, Pak Wignyo memanggilku.

“Le.”

“Nggih, Pak.”

Dia menatapku agak lama. Wajahnya tidak ramah seperti biasa.

“Sesuk ora usah rene maneh.” (“Besok tidak usah ke sini lagi.”)

Aku berhenti.

“Pak—“

“Wis tak bayar kabeh, ta? Wis lunas.” Dia kembali ke laci kiosnya. “Aku ora seneng didhikte wong.” (“Sudah saya bayar semua, kan? Sudah lunas. Saya tidak suka didikte orang.”)

“Didikte siapa, Pak?”

Dia mendongak.

Dan ekspresinya waktu itu — aku ingat betul — adalah ekspresi orang yang baru sadar bahwa dia baru saja membuka sesuatu yang tidak dia maksudkan.

“Wis. Kana muliho.” (“Sudah. Sana pulang.”)


Bu Ratih sedang menggoreng tempe waktu aku sampai di mulut gang.

Aku tidak berencana mampir. Aku mampir karena aku memegang satu juta tiga ratus lima puluh ribu di saku dan aku ingin membayar semua utang kerupuk dan nasi bungkus dan segala hal yang tidak pernah dia hitung, dan aku tahu dia akan menolak, dan aku ingin melihatnya menolak.

“Bu.”

“Le.”

“Saya mau bayar—“

“Ora.”

“Bu, saya baru gajian. Tiga bulan sekaligus.”

Bu Ratih meletakkan sutilnya.

Dan dia menatapku dengan wajah yang membuatku berhenti bicara di tengah kalimat.

“Wis dibayar?”

“Nggih.”

“Sokur.” Dia mengangguk beberapa kali, pelan. “Alhamdulillah. Sokur.”

Lalu dia menoleh ke arah rak, ke tempat telepon rumahnya berdiri — telepon tekan warna abu-abu, satu-satunya di gang ini, yang boleh dipakai siapa saja dengan tarif lima ratus rupiah per menit.

“Le,” katanya. “Aku arep ngomong siji. Aku wis mikir rong dina, arep tak omongke apa ora.” (“Nak. Saya mau bilang satu hal. Saya sudah mikir dua hari, mau saya bilang atau tidak.”)

Aku berdiri diam.

“Hari Selasa, Kanaya rene.” (“Hari Selasa, Kanaya ke sini.”)


Aku akan menuliskannya sebagaimana Bu Ratih menceritakannya, karena aku sudah memintanya mengulang tiga kali dan pada kali ketiga aku menghafalnya.

Kanaya datang jam dua siang. Seragam SMP. Membawa uang lima ribu di tangan.

Dia bertanya berapa tarif telepon.

Bu Ratih bilang lima ratus per menit.

Kanaya bilang dia mau menelepon, mungkin sepuluh menit, dan dia bertanya apakah boleh membayar dulu.

Bu Ratih bertanya mau menelepon siapa.

Dan Kanaya menjawab, dengan sangat tenang: “Kantor Dinas Tenaga Kerja, Bu.”

Bu Ratih bilang dia sempat mau melarang. Lalu dia melihat wajah anak itu dan tidak jadi.

Kanaya mengeluarkan kertas dari saku roknya. Kertas yang sudah dilipat empat dan sudah lecek, artinya sudah lama dibawa-bawa.

Di kertas itu ada dua nomor telepon, satu alamat, dan sesuatu yang ditulis tangan sebanyak setengah halaman.

Bukan catatan. Naskah.

Kalimat lengkap, disusun, dengan beberapa kata dicoret dan diganti.

Kanaya berdiri di depan telepon itu, membaca kertasnya sekali, menarik napas, dan menekan nomornya.

Lalu dia bicara.

“Bocahe swarane malih, Le.” (“Anaknya suaranya berubah, Nak.”)

Bu Ratih bilang dia hampir menjatuhkan sutil.

Suara yang keluar dari mulut anak berumur tiga belas tahun itu bukan suara anak tiga belas tahun. Lebih rendah. Lebih pelan. Dengan jeda-jeda di tempat yang benar. Dengan “nggih, Pak” dan “mohon maaf sebelumnya” dan “saya wali dari pekerja atas nama Damar Prasetya.”

Dia bicara enam menit di telepon pertama. Dia mencatat nama orangnya, jabatannya, dan apa yang harus dilampirkan.

Lalu dia menelepon nomor kedua.

Nomor kedua adalah nomor rumah Pak Wignyo.

Bu Ratih bilang percakapan yang ini cuma tiga menit, dan Kanaya tidak sekali pun menaikkan suaranya, dan yang dia dengar dari sisi ini kira-kira begini:

Bahwa dia menelepon atas nama keluarga. Bahwa ada tunggakan upah tiga bulan atas nama Damar Prasetya. Bahwa dia sudah bicara dengan Dinas Tenaga Kerja pukul dua lewat sepuluh siang ini dan mencatat nama petugas yang melayani. Bahwa dia tidak ingin melanjutkan ke pengaduan resmi karena itu akan memakan waktu dan mencantumkan nama tiga kios di Pasar Wonoyoso di berkas yang bisa diakses umum.

Dan bahwa keluarga akan menunggu sampai hari Kamis.

Lalu dia mengucapkan terima kasih, menutup telepon, dan membayar lima ribu.

Bu Ratih menolak. Kanaya meletakkannya di meja dan pergi.

“Le,” kata Bu Ratih kepadaku, sambil mengelap tangannya berkali-kali ke celemek meskipun tangannya sudah kering. “Sadurunge nelpon, bocah kuwi neng jedhing rong puluh menit.” (“Nak. Sebelum menelepon, anak itu di kamar mandi dua puluh menit.”)

“Ngapain, Bu?”

“Latihan.”

Dia menatapku.

“Aku krungu saka njaba. Ping telu. Ukara sing padha, dibaleni ping telu, nganti swarane pas.” (“Saya dengar dari luar. Tiga kali. Kalimat yang sama, diulang tiga kali, sampai suaranya pas.”)


Aku pulang jam enam sore dengan satu juta tiga ratus lima puluh ribu di saku.

Aku berhenti di depan pintu petak nomor empat selama mungkin dua menit sebelum masuk.

Di dalam, Alina sedang mengerjakan PR di lantai. Kanaya sedang menanak nasi.

“Ayah!”

“Hm.”

“Aku dapet delapan puluh.”

“Bagus.”

Aku duduk di tikar. Aku mengeluarkan amplop cokelat itu dan meletakkannya di lantai.

Kanaya keluar dari dapur.

Dia melihat amplop itu. Lalu dia melihatku.

Dan wajahnya tidak berubah sedikit pun.

“Dibayar?” tanyanya.

“Dibayar.”

“Semuanya?”

“Semuanya.”

“Syukurlah,” katanya.

Lalu dia kembali ke dapur.

Itu saja.

Anak itu berdiri di kamar mandi umum selama dua puluh menit, mengulang satu kalimat tiga kali sampai suaranya cukup dewasa untuk dipercaya orang di ujung telepon, lalu menelepon kantor pemerintah dan majikan omnya sendiri di umur tiga belas tahun, lalu pulang, lalu tidak mengatakan apa-apa selama dua hari, dan waktu hasilnya datang dia bilang syukurlah dan kembali menanak nasi.

Aku duduk di tikar dan menatap punggungnya di dapur dan aku tidak bisa bicara.

Ada sesuatu yang seharusnya kukatakan. Aku tahu ada sesuatu yang seharusnya kukatakan.

Bahwa aku tahu. Bahwa aku sudah tahu semuanya. Bahwa dia tidak seharusnya melakukan itu, dan bahwa aku tidak bisa membayangkan berapa takutnya dia sebelum menekan nomor yang kedua, dan bahwa kalau ada satu hal di dunia ini yang paling tidak ingin kulihat, itu adalah anak tiga belas tahun berlatih menjadi orang dewasa di dalam kamar mandi umum karena orang dewasa yang tersedia untuknya tidak cukup.

Aku tidak mengatakan satu pun dari itu.

Karena kalau aku mengatakannya, dia akan tahu bahwa aku tahu. Dan kalau dia tahu bahwa aku tahu, dia akan sadar bahwa dia telah mempermalukanku.

Dan dia tidak mempermalukanku. Dia menyelamatkanku.

Tapi anak itu tidak akan pernah bisa membedakan keduanya, dan aku tidak bisa mengambil risiko dia salah membedakannya.

Jadi aku diam.


Malamnya kami makan enak. Ayam, sayur, kerupuk yang baru.

Aku membeli tiga bungkus dari Bu Ratih. Tiga. Aku ingin tiga.

Lalu di jalan pulang aku melewati apotek dan aku ingat bahwa obat batuk Alina tinggal seperempat botol, dan aku ingat bahwa amplop kedelapan sudah dua bulan tidak diisi, dan aku ingat bahwa uang satu juta tiga ratus lima puluh ribu itu harus menutup rumah sakit yang masih menganga satu juta empat ratus.

Aku membeli obatnya.

Aku sampai di rumah dengan dua bungkus.

Alina sudah duduk di lantai waktu aku membukanya.

“Kok dua?”

“Kakak sudah makan.”

“Makan apa?”

“Nasi.”

“Di mana?”

“Di warung deket apotek.”

Aku menyerahkan piringnya. Aku menyerahkan piring Kanaya ke lantai di dekat kamar karena dia belum keluar.

“Nay, makan.”

Tidak ada jawaban.

“Nay.”

“Iya.”

Suaranya dari balik pintu kamar. Dekat sekali. Lebih dekat daripada kalau dia sedang duduk di dalam.

Pintu itu terbuka beberapa detik kemudian dan dia keluar dengan wajah biasa dan mengambil piringnya dan duduk.

Dia makan sampai habis. Dia tidak berkata apa-apa.

Baru bertahun-tahun kemudian aku menghitung ulang letak pintu itu, jarak dari tikar ke ambangnya, dan menyadari sesuatu yang membuatku harus duduk.

Dia berdiri di sana.

Dia berdiri di balik pintu, hari itu, setelah semua yang dia lakukan — dan yang dia dengar dari sana adalah aku, dengan uang satu juta tiga ratus lima puluh ribu di saku, mengatakan bahwa aku sudah makan.