Chapter Twenty One
Seratus Meter
POV: Kanaya · Tahun keempat
Aturannya aku yang bikin dan aku yang tidak pernah menjelaskan.
Seratus meter sebelum gerbang, aku ketuk boncengan dua kali. Om Damar melambat. Aku turun sambil sepeda masih jalan pelan, ambil tas, dan dia langsung belok tanpa menoleh.
Empat tahun. Setiap hari.
Dia tidak pernah bertanya kenapa.
Itu bagian yang paling tidak bisa kutanggung, kalau dipikir sekarang: dia tidak pernah bertanya. Bukan karena dia tidak sadar. Karena dia sadar, dan karena dia sudah memutuskan sejak hari pertama bahwa itu wajar, dan bahwa hal-hal seperti itu tidak perlu dibicarakan.
Waktu SMP, alasannya jelas dan aku tidak malu mengakuinya kepada diriku sendiri. Anak SMP itu kejam dengan cara yang sederhana. Kalau kamu diantar sepeda oleh laki-laki muda berkaus dan bercelana kerja, akan ada yang bertanya, dan pertanyaannya tidak akan berhenti di satu.
Waktu SMA, alasannya berubah, dan aku butuh dua tahun untuk berani menyebut namanya.
Alasannya bukan lagi supaya mereka tidak bertanya.
Alasannya supaya aku tidak perlu menjawab.
Bulan Oktober, tahun keempat, aku ketahuan.
Namanya Prita, sekelas, duduk dua bangku di depanku. Ibunya guru SD dan ayahnya punya toko bangunan dan dia satu-satunya orang di kelas dua IPS dua yang kalau menawarkan sesuatu betul-betul menawarkan, bukan basa-basi.
“Nay.”
“Hm.”
“Tadi pagi kamu diturunin di depan fotokopian, ya?”
Aku merasakan sesuatu di tengkukku.
“Iya.”
“Itu siapa?”
Dan yang keluar dari mulutku — cepat, refleks, tanpa satu detik pun jeda — adalah:
“Tetangga.”
Prita mengangguk. “Oh. Baik banget mau nganterin.”
“Iya. Searah.”
Dia kembali ke bukunya.
Itu saja. Dua kalimat. Tidak ada yang mendengar selain kami berdua. Tidak ada akibatnya sama sekali.
Aku duduk di bangku itu selama empat puluh lima menit pelajaran Sosiologi dan aku tidak menyerap satu kata pun.
Aku tidak bisa makan siang hari itu.
Aku pulang jalan kaki, empat puluh menit, dan sepanjang jalan aku mengerjakan sesuatu di kepalaku yang tidak bisa kuselesaikan.
Aku terus mengulang urutan kejadiannya.
Prita bertanya. Aku bilang tetangga.
Prita bertanya. Aku bilang tetangga.
Dan setiap kali aku mengulangnya, aku menemukan hal yang sama, dan hal itu tidak berubah meskipun sudah kuperiksa dua puluh kali:
Aku tidak berpikir dulu.
Itu bukan keputusan. Aku tidak menimbang, aku tidak memilih, aku tidak sempat merasa bersalah di tengah-tengah kalimat. Kata itu sudah keluar sebelum aku sadar sedang membuka mulut.
Artinya itu bukan kebohongan.
Artinya itu jawaban yang sudah tersimpan di dalam diriku, sudah jadi, sudah rapi, entah sejak kapan.
Aku sampai di gang Sidomulyo dan berdiri di mulutnya cukup lama.
Om Damar sedang di teras petak nomor empat, membetulkan rantai sepeda dengan obeng, dengan tangan hitam sampai pergelangan.
Dia melihatku dan mengangkat tangannya yang kotor sebagai ganti melambai.
“Nay! Sini, pegangin.”
Aku memegangi rodanya sementara dia memasang rantainya kembali. Kami tidak bicara. Dia menyuruhku memutar pedalnya pelan-pelan, lalu berhenti, lalu putar lagi.
“Udah. Makasih.”
“Iya.”
Dia berdiri dan mengelap tangannya ke lap yang sudah lebih kotor dari tangannya.
Dan aku berdiri di teras itu, dengan seragam SMA yang dibayar delapan puluh malam mencuci piring, dan aku berpikir:
Tetangga.
Aku mengubahnya hari Senin.
Bukan karena aku berani. Aku tidak berani. Aku menghabiskan seluruh akhir pekan menyusun cara supaya tidak perlu mengatakan apa-apa kepada siapa pun, dan tidak ada satu pun yang berhasil.
Jadi Senin pagi, di gang, waktu Om Damar sudah mengayuh dan aku sudah duduk di boncengan besi, aku bilang:
“Kak.”
“Hm.”
“Nggak usah berhenti di fotokopian.”
Sepedanya melambat sedikit.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Sampai depan aja.”
Dia tidak langsung menjawab.
Kami melewati perempatan. Kami melewati SD-nya Alina. Kami melewati fotokopian, dan dia tidak melambat.
“Nay.”
“Iya.”
“Kalau ada apa-apa, bilang.”
“Nggak ada apa-apa.”
“Kakak nggak apa-apa, lho, berhenti di situ.” Suaranya biasa saja, seperti sedang membicarakan cuaca. “Kakak juga dulu nggak mau dianter Ibu sampai depan.”
Dan itu yang membuatku hampir menangis di boncengan sepeda di jalan Diponegoro jam setengah tujuh pagi.
Bukan karena dia mengalah.
Karena dia menyiapkan alasan untukku. Empat tahun dia diam, dan waktu akhirnya dibicarakan, hal pertama yang dia lakukan adalah menawariku jalan keluar supaya aku tidak perlu merasa buruk.
“Sampai depan,” kataku.
“Oke.”
Dia berhenti tepat di depan gerbang.
Aku turun. Aku merapikan rok. Ada mungkin tiga puluh anak di sekitar situ dan setengahnya menoleh karena sepeda itu memang berisik.
“Makasih, Kak.”
“Iya. Nanti pulang jam berapa?”
“Setengah tiga.”
“Kakak jemput.”
“Nggak usah, aku jalan—“
“Setengah tiga,” katanya, dan mengayuh pergi.
Prita menghampiriku di kantin waktu istirahat.
“Nay.”
“Hm.”
“Yang tadi itu tetangga yang kemarin, ya?”
Dan aku punya kesempatan kedua, dan aku tahu itu, dan aku merasakan seluruh tubuhku ingin mengambil jalan yang sama seperti minggu lalu karena jalan itu sudah rata dan mudah dan tidak ada yang akan tahu.
“Bukan,” kataku.
“Bukan?”
“Itu om aku.”
Prita mengangkat alis. “Om kamu? Kok masih muda?”
“Dua puluh satu.”
“Serius?”
“Adiknya ibuku.”
“Oh.” Dia mengunyah. “Terus dia yang nganter kamu tiap hari?”
“Iya.”
“Ibu kamu ke mana?”
“Meninggal.”
Prita berhenti mengunyah.
“Waktu aku dua belas,” kataku. “Terus om aku yang ngurus aku sama adikku. Dari umur tujuh belas.”
Aku mengatakannya dengan sangat cepat, seperti orang melompat ke air dingin, karena aku tahu kalau aku berhenti di tengah aku tidak akan sanggup melanjutkan.
Kantin itu tetap berisik. Tidak ada yang berubah. Dunia tidak melakukan apa pun.
Prita meletakkan sendoknya.
“Dia berhenti sekolah?”
“Iya.”
“Buat kamu?”
“Buat kami berdua.”
Dan Prita — yang ibunya guru SD dan ayahnya punya toko bangunan dan yang belum pernah dalam hidupnya harus menghitung nasi — menatapku beberapa detik.
Lalu dia berkata, pelan, “Anjir.”
Terus dia bilang, “Sori. Maksudku—“
“Nggak apa-apa.”
“Nggak, aku serius. Sori. Aku nanya kayak orang bego kemarin.”
“Kamu nggak tahu.”
“Iya, tapi tetep.” Dia mendorong bungkus makanannya ke arahku, yang mana adalah hal paling khas Prita yang pernah ada. “Nih. Aku kenyang.”
Aku menatap bungkus itu.
Dan aku tertawa. Betulan tertawa, di kantin, dengan suara, yang mana adalah sesuatu yang menurut Alina hampir tidak pernah terjadi.
“Kenapa?” tanya Prita.
“Nggak apa-apa,” kataku. “Di rumah juga gitu.”
Om Damar menjemputku jam setengah tiga.
Dia sudah di sana waktu aku keluar. Berdiri di sebelah sepeda hijau itu, di seberang gerbang, dengan kaus yang basah di punggung karena dia pasti langsung dari proyek.
Ada beberapa anak yang melihat. Ada yang tidak.
Aku berjalan menyeberang dan naik ke boncengan.
“Gimana sekolahnya?”
“Biasa.”
“Alina tadi dapet nilai IPA sembilan puluh.”
“Dia udah bilang tiga kali pagi tadi.”
“Dia bilang ke Kakak lima kali.”
Dia mengayuh. Aku duduk di boncengan besi tanpa alas, memegangi tas di pangkuan, menghadap ke belakang seperti biasa, melihat jalan yang sudah kami lewati.
Dan di suatu titik antara sekolah dan gang, aku menyadari sesuatu.
Malu itu tidak hilang.
Aku pikir begitu caranya. Aku pikir kalau aku sudah mengakuinya keras-keras di kantin, malunya akan pergi, dan aku akan jadi orang yang lebih baik.
Yang terjadi bukan itu.
Yang terjadi adalah malunya pindah tempat.
Sekarang aku tidak malu punya om yang mengantarku dengan sepeda.
Sekarang aku malu karena pernah malu.
Dan yang kedua ini jauh lebih berat daripada yang pertama, dan tinggal jauh lebih lama, dan tidak bisa diselesaikan dengan satu percakapan di kantin dengan seorang teman yang baik.
Aku memikirkan itu sepanjang jalan pulang.
Lalu, di tikungan terakhir sebelum gang, aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan.
Aku memegang bagian belakang kausnya.
Cuma dua jari. Di bagian pinggang, di kain yang longgar. Seperti yang dilakukan Alina sejak dulu, yang selalu kuanggap kekanak-kanakan.
Om Damar tidak menoleh.
Tapi sepedanya melambat sedikit, dan tetap begitu sampai gang, meskipun jalannya menurun dan seharusnya lebih cepat.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter reading
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku