Chapter Fifty Two
Aku
POV: Damar
Dia menarik kursi plastik itu dan duduk, dan dia tidak membuka kantong plastiknya, dan dia tidak menanyakan bagaimana keadaanku.
“Damar.”
“Liz.”
“Lihat aku.”
Dan aku melihatnya, karena aku sudah kehabisan cara untuk tidak.
“Dua bulan,” katanya.
“Aku pindah proyek.”
“Aku tahu kamu pindah proyek. Mas Haryo nawarin tiga minggu sebelumnya dan kamu nolak, terus kamu berubah pikiran sehari setelah kamu ninggalin piring di halaman rumahku.”
Aku menatap selimut.
“Aku nggak ke sini buat marah,” katanya. “Aku ke sini buat nanya satu hal, dan aku mau jawaban yang bener, dan kalau jawabannya nggak aku pulang dan nggak akan aku ungkit lagi seumur hidup aku.”
Dia menaruh tangannya di pangkuannya.
“Kenapa kamu pergi?”
Aku bisa berbohong.
Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah menyiapkan bohongannya selama dua bulan dan aku sudah memperbaikinya berkali-kali sampai rapi.
Yang membuatku tidak berbohong bukan keberanian.
Aku baru dioperasi lima jam di meja dan aku punya jahitan empat belas sentimeter di sisi kanan dadaku dan aku terlalu lelah untuk mengerjakan sesuatu yang serumit itu.
Jadi aku menceritakannya.
Aku menceritakan kertas yang kutulis jam dua belas malam bulan Maret, dua kolom, dan apa yang kutulis di masing-masing.
Aku menceritakan satu-satunya kalimat penuh di seluruh halaman itu.
Orang yang deket sama aku selalu bayar.
Dan aku menyebutkan daftarnya. Mbak Laras. Pak Umar. Kanaya, empat juta tujuh ratus ribu sebulan. Alina. Bu Ratih, delapan ratus rupiah per bungkus selama sepuluh tahun. Mas Haryo.
Dan aku menyebutkan yang terakhir.
“Empat jam kamu duduk di ambang pintu,” kataku. “Tukang listrik kamu pulangin dan kamu bayar penuh. Kerjaan rumah kamu mundur sehari. Terus kamu muter dua belas menit jam sembilan malem.”
Aku menatapnya.
“Kamu udah mulai bayar, Liz. Dan kamu belum tahu.”
Eliza Wirawan duduk di kursi plastik itu dan mendengarkan sampai selesai.
Lalu dia berkata:
“Itu aja?”
“Liz—“
“Aku nanya serius. Itu seluruh alasannya?”
“Iya.”
“Nggak ada bagian aku nggak suka sama dia?”
Aku tidak menjawab.
“Damar.”
“Nggak ada.”
“Ya udah.” Dia bersandar. “Sekarang aku.”
“Aku arsitek,” katanya. “Aku ngitung tiap hari. Volume, upah tukang, harga material, waktu kerja. Itu kerjaan aku.”
Dia mengangkat satu jari.
“Kamu ngitung satu hal dan kamu ngitungnya bener. Kamu ngitung yang keluar.”
Dua jari.
“Dan kamu nggak ngitung satu pun yang masuk. Sepuluh tahun.”
Aku membuka mulut.
“Bentar,” katanya. “Aku belum selesai.”
“Empat jam itu,” katanya, “aku duduk di ambang pintu dan aku kerja. Aku bawa laptop. Aku selesain gambar potongan yang udah dua minggu aku tunda.”
Dia mencondongkan badan.
“Tukang listrik itu aku pulangin karena instalasi kamar belakang emang harus nunggu keramiknya kering, dan aku baru sadar itu pas dia dateng. Kamu nggak ada hubungannya sama sekali.”
“Liz—“
“Dua belas menit muter itu,” katanya, “iya. Itu buat kamu.”
Dia menatapku.
“Dua belas menit, Damar. Dua belas.”
Dia mengangkat kantong plastik yang sejak tadi tidak dia buka dan meletakkannya di lemari kecil.
“Kamu ngitung dua belas menit sebagai bayar.”
“Sekarang aku hitung yang masuk,” katanya. “Karena kamu nggak pernah, jadi biar aku.”
Dan dia mulai.
“Kamu benerin engsel pintu kamar mandi rumahku. Aku nggak minta. Aku baru sadar seminggu kemudian.”
“Itu—“
“Kamu benerin kran taman. Kamu benerin kursi bapakku yang goyang, yang udah dua tahun goyang dan tukang sebelumnya bilang harus ganti.”
Dia menghitung dengan jari.
“Kamu jalan di sisi jalan yang deket kendaraan. Tiap kali. Aku ngitung sembilan kali sebelum aku sadar itu bukan kebetulan.”
“Liz—“
“Kamu misahin sambel dari piringku sejak piringnya dateng, dari hari kedua, karena hari pertama aku bilang aku nggak bisa pedes satu kali.”
Dia menurunkan tangannya.
“Kamu ngoreksi detail kusen aku dan gambarku jadi bener. Kamu nyelametin aku dari dua tukang yang bakal ngerjain rumah bapakku sembarangan. Kamu nemuin pipa yang mau pecah di kamar mandi sebelum pecah, dan itu kalau pecah pas bapakku di dalem, dia jatuh.”
Dia berhenti.
“Bapakku pakai tongkat, Damar.”
Kamar itu sunyi.
“Aku nggak bayar apa-apa,” katanya. “Aku dapet.”
Dia menyandarkan punggungnya.
“Sepuluh tahun kamu nulis di buku sampul cokelat itu setiap rupiah yang keluar dari kamu, dan nggak ada satu baris pun yang isinya kamu, dan kamu nggak sadar kenapa itu aneh.”
Dia menatapku.
“Karena kamu nggak nganggep diri kamu bagian dari yang dihitung.”
Aku tidak bisa bicara selama beberapa saat.
“Liz.”
“Hm.”
“Aku nggak punya apa-apa.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak lulus SMA.”
“Aku tahu. Aku yang nyimpen suratnya.”
“Aku baru dipotong paru-parunya. Aku nggak boleh kena debu seumur hidup. Kerjaan aku sepuluh tahun itu debu semua.”
“Iya.”
“Aku bisa berdarah lagi.”
“Iya.”
“Aku bisa—“
“Damar.”
Dan dia berdiri dari kursi plastik itu.
Dia berdiri di sisi tempat tidur dan dia menunduk, dan dia meletakkan keningnya ke keningku.
Cuma itu.
Tidak ada yang lain. Dia tidak menyentuh wajahku, dia tidak memegang tanganku. Cuma kening ke kening, dengan tangannya bertumpu di pinggir tempat tidur di dua sisi kepalaku.
“Kamu nggak dengerin,” katanya, pelan sekali.
“Aku dengerin.”
“Nggak. Kamu ngitung.”
Dan aku diam.
“Aku nggak nanya kamu punya apa,” katanya. “Aku nanya kamu mau apa nggak.”
Napasnya di wajahku.
“Dan kamu belum jawab pertanyaan itu seumur hidup kamu, dari siapa pun.”
Aku menutup mataku.
Dan aku memikirkan halaman rumah sakit ini, dan koridor lantai tiga, dan Kanaya yang memelukku dua kali dalam sepuluh tahun dan yang kedua kalinya aku sempat mengangkat kedua tanganku.
Aku memikirkan Alina yang duduk di kursi plastik empat puluh menit di ujung koridor dengan HP yang tidak dia buka.
Aku memikirkan Mas Haryo yang berhenti di pinggir jalan raya sampai bannya menggeser kerikil.
Aku memikirkan orang tua enam puluh tiga tahun dengan dua ring di jantungnya yang bilang dia akan datang tiap bulan sampai aku ujian atau sampai dia mati.
Dan aku memikirkan Pak Bayu, yang duduk di ruang depan petak nomor empat bulan lalu, dan yang menanyakan satu hal yang tidak pernah ditanyakan siapa pun kepadaku dalam sepuluh tahun.
Dan yang tidak bisa kujawab.
“Liz.”
“Hm.”
“Aku nggak tahu caranya.”
“Caranya gimana?”
“Mau.”
Dan aku merasakan dia tertawa — bukan suara, cuma getaran di keningku.
“Ya udah,” katanya. “Kita pelan-pelan.”
Aku pulang hari keempat belas.
Kanaya yang mengurus semuanya. Tentu saja. Dia sudah menyiapkan berkasnya sejak hari kesembilan.
Petak nomor empat kelihatan lebih kecil dari yang kuingat.
Ada satu benda baru di ruang depan: kasur busa tipis, di sudut, di tempat tikar biasanya digulung.
“Dokternya bilang nggak boleh tidur di lantai tiga bulan,” kata Kanaya.
“Nay—“
“Tiga bulan, Kak. Habis itu terserah.”
Dan aku tidur di kasur itu malam pertama dan aku tidak bisa tidur sampai jam tiga karena badanku tidak mengerti apa yang terjadi.
Aku tidak kembali ke proyek.
Aku ingin menuliskannya begitu saja, sebagai fakta, karena kalau aku menuliskan seluruh prosesnya, bab ini tidak akan selesai.
Yang terjadi: Mas Haryo datang minggu ketiga dan duduk di teras selama dua jam dan tidak pergi sampai aku bilang iya.
“Pengawas.”
“Mas, aku nggak—“
“Kowe ora ngangkat apa-apa. Kowe mung ndelok karo maca gambar.” (“Kamu tidak mengangkat apa-apa. Kamu cuma melihat dan membaca gambar.”)
“Itu bukan kerjaan, Mas.”
Dan Mas Haryo menoleh kepadaku dan berkata:
“Damar. Sewelas taun aku ngenteni ana wong sing iso maca gambar tanpa aku kudu njelaske ping telu.” (“Damar. Sebelas tahun saya menunggu ada orang yang bisa membaca gambar tanpa saya harus menjelaskan tiga kali.”)
Dua ratus lima puluh ribu sehari. Tiga hari seminggu.
Sisanya di Toko Sinar Jaya, membantu Pak Slamet menghitung kebutuhan material untuk pelanggan, karena ternyata itu pekerjaan dan ternyata orang mau membayarnya.
Tidak ada debu di dua-duanya.
Pak Umar datang tanggal sepuluh setiap bulan.
Dia datang bulan Juni, Juli, Agustus, September.
Dia membawa buku. Dia duduk di kursi plastik di teras dan kami mengerjakan soal selama dua jam, dan setiap kali istrinya menelepon jam empat untuk menanyakan apakah beliau sudah minum obat.
Bulan Agustus dia membawa sesuatu selain buku.
“Ini apa, Pak?”
“Baca.”
Fotokopi. Halaman buku induk SMA Negeri 1 Wonoyoso, baris atas nama Damar Prasetya, kolom keterangan keluar.
Kata sementara yang ditulis dengan pensil sepuluh tahun lalu sudah tidak ada.
Kolom itu kosong sekarang. Betul-betul kosong.
“Bapak hapus,” katanya.
Dan orang tua itu tersenyum untuk pertama kalinya sejak dia masuk ke rumah ini bulan April.
“Karpetnya masih ada,” katanya. “Bapak tinggal nunggu kamu naik.”
Ujian Paket C, bulan Oktober, empat hari, di SMP Negeri 4 Wonoyoso.
Aku dua puluh delapan tahun.
Yang mengikuti ujian di ruanganku ada dua puluh dua orang. Yang paling muda tujuh belas, anak yang berhenti sekolah karena hamil dan sudah punya anak umur satu tahun. Yang paling tua lima puluh empat, bapak-bapak yang bekerja di kebun dan yang bilang kepadaku di hari pertama bahwa dia ikut karena anaknya masuk kuliah dan dia malu.
Aku duduk di bangku kayu di ruangan itu hari pertama, dengan kartu peserta di meja dan pensil 2B yang dibelikan Alina.
Dan sebelum lembar soalnya dibagikan, aku menulis namaku sendiri di kolom paling atas.
DAMAR PRASETYA.
Huruf-hurufnya berdiri lurus.
Aku menuliskannya dan aku menatapnya cukup lama, dan pengawasnya melewati mejaku dua kali sebelum aku mulai mengerjakan soal nomor satu.
Hasilnya keluar bulan Desember.
Lulus.
Kanaya yang mengecek. Dia yang membuka websitenya jam sepuluh malam di ruang depan dengan laptop kantornya, dan Alina berdiri di belakangnya, dan aku duduk di kasur busa di sudut.
Dan waktu halamannya terbuka, tidak ada yang berteriak.
Kanaya membalikkan laptop itu ke arahku.
Alina menutup mulutnya dengan dua tangan.
Dan aku membaca satu baris di layar itu, dan aku tidak bisa mengeluarkan suara.
Ijazahnya diambil bulan Februari.
Aku dua puluh delapan tahun tiga hari waktu mengambilnya.
Dan yang ikut ada empat orang, dan aku sudah menyerah melarang mereka.
Sekarang bagian terakhir.
Bulan Maret, tanggal berapa aku tidak ingat, hari Minggu sore.
Kami di teras. Aku duduk di bangku papan yang kupasang sendiri dua belas tahun lalu. Eliza di kursi plastik.
Kanaya sedang di dalam, marah kepada Alina soal sesuatu yang berhubungan dengan tumpukan piring.
Dan di lantai teras, di dekat kakiku, ada map plastik berisi formulir.
Pendaftaran mahasiswa baru. Universitas Terbuka, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Jarak jauh. Bisa sambil kerja. Delapan semester kalau lancar, sepuluh kalau tidak.
Aku akan berumur tiga puluh enam waktu selesai.
“Kamu udah isi?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Aku mengeluarkannya dari map.
Ada kolom nama. Ada kolom tempat tanggal lahir. Ada kolom alamat.
Dan di halaman kedua, ada kolom yang membuatku berhenti seperti dua belas tahun lalu di petak nomor empat jam sepuluh malam:
Pekerjaan: …………………
“Kenapa?” tanya Eliza lagi.
“Nggak apa-apa.”
“Damar.”
Dan aku menatap kolom itu.
Dua belas tahun lalu ada kolom yang hampir sama, di formulir anak kelas tiga SD, dan aku menghabiskan satu malam penuh dengan empat pilihan di halaman belakang buku tulis.
Wiraswasta. Karyawan swasta. Buruh. Buruh angkut.
Dan aku memilih yang paling jujur dan yang paling menyakitkan, karena aku tidak ingin anak itu tumbuh dengan rasa malu yang aku sendiri yang ajarkan.
Dan dua hari kemudian dia membacanya keras-keras di depan kelas dan ada yang tertawa dan dia tidak mengerti kenapa lucu.
Aku mengambil bolpoin.
Dan aku menulis:
Pengawas lapangan.
Dan aku menatapnya, dan huruf-hurufnya berdiri lurus, dan tidak ada yang lucu tentang kalimat itu dan juga tidak ada yang lucu tentang yang dulu.
“Udah,” kataku.
Alina keluar membawa dua gelas teh dan menaruhnya di lantai teras.
“Yah.”
“Hm.”
“Gambarnya jatuh.”
“Yang mana?”
“Yang di lemari. Lemnya udah kering banget.”
Dan dia menyerahkannya kepadaku.
Kertas gambar ukuran A3, sudah menguning, sudah rapuh di sudutnya, dengan bekas lem yang menghitam di empat titik.
Rumah dengan pohon di depan — rumah yang salah, rumah yang dulu.
Tiga orang.
Aku di kanan, paling tinggi, dengan tangan panjang sampai ke pundak keduanya. Kanaya di tengah, tersenyum, padahal jarang. Alina di kiri, rambut dikuncir dua, padahal hampir tidak pernah.
Dan di bawahnya, tulisan pensil anak kelas tiga SD:
Alina. Kakakku Kanaya.
Dan yang ketiga, dengan kata Om dicoret pakai pulpen bocor pinjaman dari warung Bu Ratih:
Ayah Damar.
“Ditempel lagi, Yah?”
“Iya.”
“Aku beli lem besok.”
Dan dia sudah berbalik mau masuk waktu Eliza berkata:
“Lin.”
“Hm?”
“Krayonnya masih ada?”
Alina berhenti.
“Krayon apa?”
“Yang kamu pakai buat ini.”
“Mbak, ini sebelas tahun lalu.”
“Ya siapa tahu.”
Dan Alina berdiri di ambang pintu selama tiga detik, dan aku melihat wajahnya berubah, dan aku melihat dia mengerti sebelum aku mengerti.
“Ada,” katanya. “Di kotak. Yang di bawah tempat tidur Mbak Nay.”
“Ambil.”
“Mbak—“
“Ambil, Lin.”
Kami menggambarnya di teras petak nomor empat, hari Minggu sore, bulan Maret.
Bukan aku. Alina yang menggambar, karena dia yang menggambar yang pertama dan karena tangannya masih sama jeleknya.
Satu orang lagi, di sebelah kananku, lebih pendek sedikit.
Kanaya keluar di tengah-tengah dan berdiri di ambang pintu dan tidak berkata apa-apa selama empat menit, lalu duduk di lantai teras dan mengomentari proporsi kepalanya, dan Alina menyuruhnya diam.
Krayon warna kulitnya sudah habis sejak sebelas tahun lalu, jadi mereka memakai warna oranye.
Selesai, Alina menulis namanya di bawah, dengan pensil, dengan huruf yang sekarang jauh lebih rapi daripada waktu kelas tiga SD:
Mbak Eliza.
Dan dia menatapnya sebentar.
Lalu dia mencoretnya.
Dengan pulpen.
Dan menulis di atasnya, dengan huruf besar dan agak miring karena kertasnya sudah rapuh:
Bunda Eliza.
Coretannya jelek. Pulpennya bocor sedikit.
Persis seperti yang pertama.
Mereka masuk jam enam untuk menyiapkan makan malam, dan mereka melakukannya dengan berisik dan dengan pintu dibiarkan terbuka, dan aku tahu persis itu disengaja.
Aku dan Eliza duduk di teras.
Gambar itu di pangkuanku.
“Damar.”
“Hm.”
“Sekarang jawab.”
Aku menoleh.
“Jawab apa?”
“Yang bapaknya Kanaya tanya bulan April.” Dia menatap gang. “Yang aku tanya di trotoar bulan Desember. Yang Mas Haryo tanya enam tahun lalu di warung kopi.”
Dia menoleh kepadaku.
“Kamu mau apa?”
Aku memegang gambar itu dengan dua tangan.
Dan aku diam cukup lama, seperti biasa.
Tapi kali ini bukan karena tidak ada yang muncul.
Kali ini karena ada, dan karena aku sedang mencari cara mengucapkannya, dan karena aku belum pernah mengucapkan kalimat yang dimulai dengan kata itu seumur hidupku.
Dua belas tahun.
Selama dua belas tahun, setiap kali aku menyebut diriku sendiri di rumah ini, aku memakai satu kata.
Karena kalau Kakak, aku boleh capek.
Kalau Kakak, aku tidak harus punya apa-apa.
Aku menarik napas — pelan, karena napas panjang masih agak sakit dan mungkin akan begitu selamanya.
“Liz.”
“Hm.”
Dan aku mengucapkannya.
“Aku mau jadi guru.”
Dia tidak menjawab.
Dia mengulurkan tangannya dan aku memegangnya, dan kami duduk di teras selebar satu meter itu dengan gambar anak kelas tiga SD di pangkuanku dan suara dua perempuan berdebat soal takaran garam dari dalam.
Dan aku menoleh kepadanya.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku memulai sesuatu.
Aku mencondongkan badan dan mencium keningnya.
Lalu dia mengangkat wajahnya.
Dan aku menciumnya.
Sekali. Pendek. Di teras rumah kontrakan satu kamar di gang Sidomulyo, hari Minggu sore bulan Maret, dengan sandal jepit dan kaus yang dibelikan orang.
Dan waktu aku menarik diri, dia berkata, sangat pelan:
“Kamu bilang aku.”
“Iya.”
“Terus?”
Dan aku menatap gang yang sudah kutinggali dua belas tahun, tempat aku mengayuh sepeda hijau seratus dua puluh ribu dengan dua anak sekaligus, tempat aku melepaskan tangan anak berumur delapan tahun karena tetangga bicara, tempat aku berjalan pulang jam setengah dua belas malam selama sepuluh tahun sambil menghitung uang di kepalaku.
Dari dalam, Alina berteriak menanyakan apakah kami mau pedas atau tidak.
Dan aku menjawabnya, dan aku menjawabnya dengan benar untuk pertama kalinya:
“Aku nggak usah pedes.”
Bukan Kakak.
Aku.
SELESAI
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku reading