← Kakak Sudah Makan

Chapter Forty Five

Rujukan

POV: Damar

Proyek Ngadirejo itu gudang, dua puluh kali tiga puluh meter, dan bagian yang kami kerjakan bulan itu adalah rangka atap.

Gording baja. Enam meter per batang, empat puluh dua kilo.

Empat orang mengangkat satu batang dari bawah, dua orang di atas menerima. Aku selalu di atas, karena aku yang paling ringan dan yang paling lama di ketinggian dan yang tidak pernah pusing.

Hari Senin, tanggal dua puluh satu April, kami memasang batang kesembilan dari empat belas.

Jam sebelas lewat. Matahari sudah di atas dan atap seng di sebelah memantulkannya ke punggungku.

Aku sedang menahan ujung gording sementara Bejo memasang bautnya, dan batuknya datang.


Aku sudah punya sistemnya.

Sepuluh tahun aku punya sistem. Kalau terasa naik, aku menarik napas lewat hidung, pelan, dan menahannya di dada, dan biasanya berhenti.

Kalau tidak berhenti, aku batuk kecil dua tiga kali dan mengalihkannya jadi berdehem.

Kalau tidak bisa juga, aku menjauh dan menyelesaikannya di tempat yang tidak ada orang, dan aku selalu punya tempat itu — di balik tembok, di belakang truk, di kamar mandi.

Hari itu aku di atas rangka atap, delapan meter dari tanah, memegang gording empat puluh dua kilo dengan dua tangan.

Tidak ada tempat.


Yang pertama masih bisa kutahan.

Yang kedua tidak.

Aku melepas gording itu — aku melepasnya, dan Bejo berteriak, dan batang itu tergantung di satu baut yang sudah terpasang dan berayun dan membentur rangka dengan bunyi yang terdengar sampai ke jalan.

Aku memegang rangka dengan tangan kiri.

Dan aku batuk.

Aku tidak bisa menghitung berapa lama. Yang aku ingat adalah bahwa di suatu titik aku tidak bisa menarik napas sama sekali, dan bahwa aku memegang rangka dengan satu tangan, dan bahwa aku sadar dengan sangat jelas bahwa kalau tanganku lepas aku jatuh delapan meter ke lantai beton.

Aku ingat berpikir, dengan sangat tenang, seperti orang yang mengecek daftar:

Alina masih tiga tahun.

Lalu tangan orang memegang kerah bajuku dari belakang.


Mas Haryo menurunkanku dari tangga dengan menahan punggungku sepanjang jalan.

Bejo yang membawa air.

Aku duduk di lantai beton dengan punggung ke tiang, dan batuknya masih berjalan, dan aku menutup mulutku dengan telapak tangan karena itu yang selalu kulakukan.

Dan waktu akhirnya berhenti, aku menurunkan tanganku.

Dan aku melihatnya.


Bukan banyak.

Aku ingin mencatat itu karena aku menghitungnya bahkan di detik itu, dan karena hitungan itu yang kupakai selama tiga hari berikutnya untuk meyakinkan diriku sendiri.

Tidak banyak. Bercak di telapak tangan, sebesar kuku ibu jari. Warnanya merah tua, hampir cokelat.

Aku menutup telapak tanganku.

Terlambat.

Mas Haryo sedang berjongkok tepat di depanku.


Dia tidak berteriak.

Aku sudah menyiapkan diri untuk diteriaki. Sebelas tahun aku mengenal orang itu dan aku tahu volumenya.

Dia tidak berteriak.

Dia menarik pergelangan tanganku, membuka telapaknya, melihatnya, dan menutupnya lagi.

Lalu dia berdiri.

Lalu dia berjalan ke arah tumpukan bata dan berdiri di sana membelakangi kami selama mungkin dua puluh detik.

Bejo tidak bergerak. Aku juga tidak.

Lalu Mas Haryo kembali.

“Ngadeg.” (“Berdiri.”)

“Mas—“

“Ngadeg, Damar.”

“Aku bisa lanjut. Bentar lagi—“

Dan dia berjongkok lagi, dan dia mendekatkan wajahnya, dan dia berbicara dengan suara yang sangat pelan dan yang membuatku lebih takut daripada kalau dia berteriak.

“Rong sasi kepungkur aku takon. Kowe ngomong apa?” (“Dua bulan lalu saya tanya. Kamu bilang apa?”)

“Aku bilang—“

“Kowe ngomong wis periksa.” (“Kamu bilang sudah periksa.”)

Aku tidak menjawab.

“Sewelas taun, Le.” Dia menatapku. “Sewelas taun aku ora tau njaluk apa-apa marang kowe.” (“Sebelas tahun, Nak. Sebelas tahun saya tidak pernah minta apa-apa dari kamu.”)

Dan dia berdiri.

“Saiki aku njaluk.” (“Sekarang saya minta.”)


Dia tidak mengantarku ke puskesmas.

Dia menyeretku.

Aku tidak melebih-lebihkan. Dia memegang lengan atasku dan berjalan ke motornya dan aku mengikuti karena satu-satunya cara untuk tidak mengikuti adalah dengan melepaskan lengan orang yang sudah sebelas tahun berdiri di sebelahku setiap hari.

Di motor, di jalan, dia bicara satu kali.

“Nek kowe mati, sing repot sapa?” (“Kalau kamu mati, yang repot siapa?”)

Aku tidak menjawab.

“Jawab, Damar.”

“Mas—“

“Sapa?”

Dan aku memikirkannya, dan aku memikirkannya dengan benar, karena aku tidak pernah bisa tidak memikirkan sesuatu dengan benar.

Alina masih tiga tahun kuliah. Dua koma empat per semester. Kanaya bisa menanggungnya; aku sudah menghitung itu dan aku tahu dia bisa.

Sewa sudah pindah nama. Listrik sudah pindah nama. Rekening sudah ada.

Semuanya sudah dipindahkan.

Anak itu memindahkan semuanya dalam empat bulan.

“Nggak ada,” kataku.

Dan motor itu berhenti mendadak di pinggir jalan sampai bannya menggeser kerikil.


Mas Haryo turun.

Dia berdiri di depan motornya sendiri di pinggir jalan raya Ngadirejo–Wonoyoso jam dua belas siang, dengan helm masih di kepala, dan dia menatapku.

Dan dia bilang, dengan suara yang pecah di tengah:

“Bocah goblok.”

Aku tidak pernah melihat orang itu menangis. Sebelas tahun.

Dia tidak menangis hari itu juga, tapi dia hampir, dan dia berdiri di pinggir jalan itu selama mungkin satu menit sampai tidak hampir lagi.

Lalu dia naik lagi.

“Kowe ngomong ora ana,” katanya, sambil menyalakan mesin. “Aku sing ngomong.” (“Kamu bilang tidak ada. Saya yang bilang.”)

Dia menarik gas.

“Aku.”


Puskesmas Wonoyoso masih sama.

Bangku besi di koridor. Papan pengumuman dengan tarif pelayanan dan jadwal imunisasi.

Dan poster itu masih di sana.

Paru-paru merah muda di kiri, paru-paru abu-abu kehitaman di kanan. Batuk lebih dari dua minggu. Keringat malam. Berat badan turun.

Posternya sudah pudar. Sudah sepuluh tahun.

Aku duduk di bangku yang sama.

Nomor antreanku dua puluh sembilan.

Mas Haryo duduk di sebelahku dan tidak bicara, dan waktu nomor dua puluh dipanggil dan aku menggeser badanku, dia meletakkan tangannya di lututku.

Tidak menekan. Cuma meletakkan.

Dan aku tetap duduk.


Dokternya perempuan, tiga puluhan.

Dia mendengarkan dadaku dengan stetoskop di empat titik, di depan dan di belakang, dan menyuruhku menarik napas dalam-dalam yang mana adalah hal yang tidak bisa kulakukan tanpa batuk.

Dia menanyakan sepuluh pertanyaan.

Sudah berapa lama batuknya. Aku bilang beberapa bulan. Mas Haryo bilang dari belakang, “Rong taun, Dok.” Aku menoleh. Dia tidak menoleh kepadaku.

Berdarah sudah berapa kali. Aku bilang baru sekali. Itu benar — di depan orang.

Berkeringat malam. Aku bilang tidak. Itu bohong.

Berat badan turun. Aku bilang tidak tahu, aku tidak punya timbangan.

Dia menyuruhku naik ke timbangan.

Lima puluh empat kilo.

Aku berdiri di atas timbangan puskesmas itu dan aku menatap angkanya dan aku tidak bisa mencocokkannya dengan apa pun, karena aku tidak pernah menimbang diriku sejak umur tujuh belas dan waktu itu enam puluh delapan.

“Merokok?”

“Nggak, Dok.”

“Kerja apa?”

“Bangunan. Sama pasar. Sama cuci piring.”

“Kena debu?”

“Iya.”

“Setiap hari?”

“Iya.”

“Sepuluh tahun?”

“Iya.”

Dia menulis.


Dia menyerahkan dua lembar kertas.

Yang pertama resep. Antibiotik, obat batuk, vitamin.

Yang kedua kertas yang lebih kecil, dengan kop puskesmas dan kotak-kotak yang diisi tulisan tangan.

SURAT RUJUKAN

Kepada: RSUD Wonoyoso, Poli Paru Diagnosis sementara: Hemoptisis e.c. suspek TB paru / dd/ lain-lain Pemeriksaan yang diminta: Foto Thorax PA, Sputum BTA 3x, darah lengkap

“Bapak punya BPJS?”

“Punya.”

“Aktif?”

“Aktif.”

“Faskes satu di sini?”

“Iya, Dok.”

“Bagus. Berarti rujukannya nggak masalah.” Dia menandatanganinya. “Bawa ini ke RSUD. Minggu ini, ya. Jangan ditunda.”

“Iya, Dok.”

“Pak.”

Aku mengangkat kepala.

Dokter itu meletakkan bolpoinnya.

“Saya nggak akan bilang apa-apa dulu sebelum ada hasilnya,” katanya. “Bisa banyak hal. Bisa TB, bisa bronkiektasis, bisa yang lain. Ada yang sembuh total kalau diobati.”

“Iya, Dok.”

“Tapi ada juga yang nggak.”

Aku memegang dua kertas itu.

“Dan yang nentuin biasanya cuma satu hal,” katanya. “Berapa lama Bapak nunggu.”


Mas Haryo mengantarku sampai gang.

Di mulut gang, sebelum aku turun, dia berkata:

“Kemis.”

“Hah?”

“Kemis kowe menyang RSUD. Aku ngeterke.” (“Kamis kamu ke RSUD. Saya antar.”)

“Mas, aku bisa sendiri—“

“Kemis, jam pitu, aku neng kene.” (“Kamis, jam tujuh, saya di sini.”)

Dan dia pergi sebelum aku sempat membantah.


Aku berdiri di mulut gang dengan dua lembar kertas di tangan.

Dan aku melakukan hal pertama yang terpikir olehku, yang mana adalah hal yang sudah kukerjakan sepuluh tahun dan yang tidak perlu kupikirkan lagi:

Aku melipat surat rujukan itu jadi empat dan memasukkannya ke saku belakang celana.

Aku sudah menyusun rencananya di motor.

Resepnya kutebus. Obat batuk boleh kelihatan; aku sudah minum obat batuk warung selama dua tahun dan tidak ada yang bertanya.

Rujukannya aku simpan di kotak biskuit yang kecil, di bawah kartu keluarga, di tempat yang tidak pernah dibuka siapa pun kecuali kalau ada urusan surat.

Hari Kamis aku bilang ada borongan di luar kota.

Aku sudah punya seluruh susunannya sebelum sampai ke tengah gang.


Dan waktu aku sampai di depan petak nomor empat, ada orang duduk di teras.

Laki-laki. Umurnya mungkin lima puluhan. Duduk di bangku papan yang kupasang sendiri sebelas tahun lalu, dengan tas kresek hitam di pangkuan dan sandal jepit yang tali tengahnya sudah diganti kawat.

Badannya kurus. Kulitnya gelap dan kering. Rambutnya sudah putih di pelipis.

Dia berdiri waktu melihatku.

Dan aku berhenti di tengah gang, tiga meter dari terasku sendiri, dengan resep di tangan dan surat rujukan di saku belakang.

Karena aku mengenali wajah itu.

Aku cuma pernah melihatnya empat kali seumur hidupku, dan yang terakhir empat belas tahun lalu, dan waktu itu aku tiga belas tahun dan sedang membawa dua gelas teh ke ruang depan rumah kakakku.

“Damar, ya?” katanya.

Suaranya serak.

“Sing adhine Laras?” (“Yang adiknya Laras?”)