Chapter Thirty
Kotaknya Masih Ada
POV: Damar
Sepatu itu kubeli tahun ketujuh. Sepatu proyek, kulit sintetis, sol karet, delapan puluh lima ribu di pasar.
Tiga tahun.
Solnya mulai lepas di bagian depan kanan tahun lalu. Aku menempelnya dengan lem sepatu dua kali dan dua-duanya lepas lagi dalam dua minggu, jadi aku beralih ke cara yang dipakai semua orang di proyek: dilubangi di dua titik, diikat kawat, ujungnya dipuntir dan ditekuk ke dalam supaya tidak menusuk kaki.
Kawatnya harus diganti sebulan sekali karena putus.
Aku menggantinya di teras hari Minggu sore, dengan tang pinjaman dan potongan kawat bendrat sisa proyek.
Kanaya pulang lebih awal.
Aku tidak mendengarnya masuk gang; aku tidak pernah mendengar anak itu masuk ke mana pun. Aku baru sadar dia ada waktu ada bayangan jatuh ke tanganku.
“Nay.”
“Kakak lagi apa?”
“Ini.” Aku mengangkat sepatunya. “Kawatnya putus.”
Dia berdiri di situ.
Aku melanjutkan. Aku memasukkan kawat baru lewat lubang pertama, menariknya melewati sol, memasukkannya lewat lubang kedua, memuntirnya tiga kali dengan tang.
Kanaya tidak bergerak selama seluruh prosesnya.
“Udah.” Aku memasang sepatunya dan menghentakkan kaki dua kali di lantai teras. “Kuat.”
“Kakak.”
“Hm?”
“Itu udah berapa lama?”
“Yang kawat? Setahunan.”
“Sepatunya.”
“Oh.” Aku memikirkannya. “Tiga tahun. Lebih dikit.”
Kanaya mengangguk.
Lalu dia masuk ke dalam, dan aku mendengar dia menaruh tasnya, dan aku mendengar keran dapur dinyalakan.
Aku menaruh tang di sudut dan tidak memikirkannya lagi.
Kotaknya datang hari Jumat.
Kanaya meletakkannya di lantai ruang depan waktu aku pulang dari proyek, jam setengah lima, sebelum aku berangkat shift malam.
Kotak sepatu. Karton putih, ada mereknya, masih dilakban.
“Ini apa?”
“Buka.”
Aku membukanya.
Sepatu safety. Kulit asli, hitam, dengan pelindung besi di ujung jari dan sol yang tebalnya dua kali sepatuku.
Aku tahu sepatu itu. Aku pernah melihatnya di toko perlengkapan proyek di jalan Sudirman, di etalase, dengan harga tertulis di kartonnya.
Tiga ratus sembilan puluh ribu.
Aku menutup kotaknya.
“Nay.”
“Coba dulu.”
“Nay, ini—“
“Coba dulu, Kak.”
Aku mencobanya.
Pas. Dia bahkan tidak menanyakan ukuranku, dan aku baru menyadari bertahun-tahun kemudian bahwa dia tidak perlu bertanya karena dia menjemur sepatuku ratusan kali sejak umur dua belas.
Berdiri dengan sepatu itu rasanya aneh. Solnya terlalu tebal. Aku merasa lebih tinggi dua senti dan lantainya terasa jauh.
“Gimana?”
“Bagus.”
“Enak?”
“Enak.”
“Ya udah.”
Dan dia masuk ke kamar, dan itu saja, karena begitulah cara Kanaya memberikan sesuatu — diletakkan, ditunggu sampai dicoba, lalu pergi sebelum ada yang bisa bilang terima kasih.
Aku melepas sepatu itu.
Aku membersihkan sedikit debu di solnya dengan tanganku, meskipun belum dipakai ke mana-mana.
Aku memasukkannya kembali ke kotak, melipat kertas tisunya seperti semula, menutup tutupnya, dan menaruhnya di atas lemari plastik.
Di tempat gitar itu dulu.
Aku memakai sepatu lamaku hari Sabtu.
Dan hari Senin. Dan Selasa, Rabu, Kamis.
Aku tidak menghindar. Aku tidak menyembunyikannya. Aku memakainya di depan rumah, di depan anak itu, setiap pagi selama enam hari.
Kalau ada yang bertanya kenapa waktu itu, aku akan menjawab dengan sangat jujur dan tanpa satu pun keraguan:
Sayang.
Itu bukan kiasan. Itu bukan kesopanan. Itu jawaban yang sebenarnya, dan aku bisa menjelaskannya dengan angka, dan aku memang sudah menjelaskannya kepada diriku sendiri di malam pertama sambil berbaring di tikar:
Sepatu safety itu tiga ratus sembilan puluh ribu. Kalau kupakai ke proyek, dalam enam bulan solnya akan tergerus semen dan kulitnya akan retak karena kena air dan matahari bergantian. Aku sudah melihat itu terjadi ke sepatu Bejo dua kali.
Sepatu lamaku sudah rusak. Sudah tidak ada yang bisa rusak lagi darinya. Yang bisa dilakukan cuma mengikat kawat baru sebulan sekali, dan kawat bendrat itu gratis karena sisa proyek.
Jadi hitungannya sederhana: kalau aku pakai yang baru, aku kehilangan tiga ratus sembilan puluh ribu dalam enam bulan. Kalau aku pakai yang lama, aku tidak kehilangan apa-apa, dan yang baru tetap ada.
Tetap ada.
Itu bagian yang paling penting dan yang paling tidak bisa kujelaskan kepada siapa pun sesudahnya.
Selama masih di kotak, sepatu itu masih utuh.
Hari Sabtu, Kanaya pulang jam tujuh malam membawa dua kantong plastik.
Aku baru saja mandi. Aku berangkat shift jam enam biasanya, tapi Sabtu itu rumah makannya tutup lebih awal karena ada hajatan pemiliknya, jadi aku di rumah.
Alina belum pulang; ada acara kampus.
“Kak.”
“Hm?”
“Aku beli ayam.”
Dia mengeluarkannya. Ayam bakar, dua bungkus, dari rumah makan yang bukan tempatku kerja. Nasi. Sambal. Lalapan.
“Banyak amat.”
“Buat bertiga. Yang satu buat Alina nanti.”
“Oh.”
Dia menata piring. Dua piring.
“Kak, makan.”
“Kakak sudah makan.”
Aku mengatakannya sambil melipat handuk.
Aku tidak melihat wajahnya waktu mengucapkannya. Aku ingin mencatat itu, karena kalau aku melihat wajahnya mungkin aku akan berhenti di tengah kalimat.
Yang aku dengar berikutnya adalah bunyi sendok diletakkan di atas piring.
Bukan dibanting. Diletakkan.
“Di mana?”
“Hm?”
“Kakak makan di mana.”
“Di warung.”
“Warung mana.”
Aku menoleh.
Kanaya berdiri di dekat dinding dapur dengan kedua tangan di sisi badannya.
Wajahnya tidak berubah. Wajah anak itu tidak pernah berubah, tidak sejak umur dua belas, tidak di pemakaman ibunya, tidak waktu diterima kuliah.
Tapi suaranya berbeda.
“Nay—“
“Warung mana, Kak.”
Aku tidak menjawab.
Dan lalu, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Kanaya Santika menaikkan suaranya kepadaku.
“AKU KERJA.”
Aku berdiri diam dengan handuk di tangan.
“Aku kerja, Kak. Tiga juta empat ratus. Tiap bulan. Masuk tanggal dua puluh delapan.”
“Nay, Kakak tahu—“
“Kakak nggak tahu.” Dia melangkah satu langkah. “Kakak nggak tahu apa-apa. Kakak masih bilang Kakak sudah makan di rumah yang kulkasnya isi, di depan orang yang gajinya lebih gede dari Kakak.”
“Nay.”
“Sepuluh tahun.” Suaranya pecah di kata itu, sekali, lalu kembali rata. “Sepuluh tahun aku dengerin kalimat itu. Aku dengerin dari balik pintu waktu umur tiga belas. Aku hitung berapa kali. Aku HITUNG, Kak.”
Aku tidak bergerak.
“Aku pikir kalau aku lulus, berhenti. Aku pikir kalau aku kerja, berhenti.” Dia menunjuk ke arah lemari plastik dengan dagunya, dan aku tahu apa yang akan datang berikutnya dan aku tidak punya apa-apa untuk menahannya. “Terus sepatu itu.”
“Nay, itu—“
“Enam hari, Kak.”
“Kakak simpan biar—“
“BIAR APA?”
Ruang depan petak nomor empat itu lebarnya tidak sampai tiga meter.
“Biar awet,” kataku.
“Awet buat siapa?”
Aku membuka mulut.
Dan aku tidak menemukan jawabannya.
Aku sudah menghitung semuanya. Aku sudah menyiapkan seluruh argumennya, dan setiap angkanya benar, dan aku bisa menjelaskan setiap rupiahnya.
Tapi anak itu tidak menanyakan berapa.
Dia menanyakan untuk siapa.
“Kakak taruh di kotak,” katanya. Suaranya turun lagi, dan itu lebih buruk. “Di atas lemari. Sama kayak barang orang lain yang dititipin. Kakak nggak pernah nganggep itu punya Kakak.”
Aku menatap lantai.
“Kak.”
“Hm.”
“Aku nggak minta Kakak berterima kasih.” Dia mengatakannya dengan sangat pelan. “Aku nggak butuh itu. Aku nggak pernah butuh.”
Dia menarik napas.
“Aku cuma pengen sekali aja Kakak nerima sesuatu tanpa ngitung.”
Kami berdiri di ruangan itu cukup lama.
Ayam bakarnya masih di meja, masih terbungkus, dan uapnya sudah berhenti naik.
“Nay.”
“Iya.”
“Maaf.”
Dan aku melihat sesuatu berubah di wajahnya waktu aku mengucapkan itu — sesuatu yang tidak kumengerti waktu itu dan yang baru kumengerti bertahun-tahun kemudian.
Dia tidak menginginkan maaf.
Maaf adalah cara aku menyelesaikan segala sesuatu. Maaf ke Pak Wignyo. Maaf ke Pak Gito. Maaf ke Bu Hesti, ke Bu Wulan, ke setiap orang yang pernah menahanku di suatu ruangan dan menjelaskan kenapa aku tidak memenuhi syarat.
Dan sekarang aku mengucapkannya kepada anak yang membelikanku sepatu.
Kanaya berbalik dan mengambil piring dan menuangkan nasi ke dalamnya, dan meletakkannya di lantai, dan duduk.
“Makan, Kak.”
Aku duduk.
Aku makan.
Ayamnya enak. Aku ingat itu. Aku ingat ayamnya enak sekali dan aku ingat bahwa aku tidak bisa merasakan apa-apa selama tiga suapan pertama.
Kami tidak bicara sampai selesai.
Waktu dia mengumpulkan piring, dia berkata, tanpa menoleh:
“Besok pakai yang baru.”
“Iya.”
“Aku nggak nyuruh. Aku minta.”
“Iya, Nay.”
Aku memakainya hari Senin.
Aku turun dari motor di depan proyek dan Bejo langsung bersiul dan Haryo menoleh dan berkata sesuatu tentang orang kaya baru, dan aku tertawa, dan hari itu berjalan seperti hari-hari lain.
Solnya memang enak. Kakiku tidak sakit di jam ketiga seperti biasanya. Waktu ada besi jatuh di dekat kakiku sore itu, aku bahkan tidak melompat, karena ujungnya berbesi.
Aku pulang jam setengah lima. Aku mandi. Aku berangkat shift.
Aku pulang lagi jam setengah dua belas.
Dan Kanaya masih bangun, duduk di lantai dengan laptop kantornya, dan dia melihat aku masuk dan melihat aku duduk di tikar.
Dan dia melihat apa yang kulakukan berikutnya.
Aku melepas sepatu itu.
Aku mengambil lap basah dari sudut. Aku membersihkan solnya dulu, di bagian alurnya, dengan ujung lap dan sedikit air, karena semen kering kalau dibiarkan semalam akan mengeras dan merusak karetnya.
Lalu bagian atasnya. Kulitnya. Aku mengelapnya dengan lap kering, dua kali, sampai tidak ada bercak.
Lalu aku memasukkan kertas ke dalamnya supaya bentuknya tidak turun.
Butuh mungkin dua puluh menit.
Waktu aku selesai dan mengangkat kepalaku, Kanaya sedang menatapku.
Dia sudah menutup laptopnya. Aku tidak tahu sejak kapan.
“Kak.”
“Hm.”
“Sepatu yang lama mana?”
Aku menunjuk rak kayu di sudut.
Sepatu lamaku ada di sana. Sudah kucuci hari Minggu, kusikat sampai bersih, kujemur, dan kawatnya sudah kuganti dengan yang baru meskipun tidak putus.
Kanaya menatap rak itu.
“Kenapa nggak dibuang?”
“Buat cadangan.”
“Cadangan apa?”
“Ya kalau yang ini rusak.”
Dan Kanaya tidak berkata apa-apa lagi.
Dia membuka laptopnya kembali dan menatap layarnya dan tidak mengetik satu huruf pun selama sepuluh menit terakhir sebelum dia masuk kamar.
Aku baru mengerti apa yang terjadi malam itu tiga tahun kemudian.
Aku pikir dia sudah selesai marah. Aku pikir masalahnya selesai karena aku sudah memakai sepatunya.
Yang sebenarnya terjadi adalah anak itu duduk di lantai dan menonton aku menghabiskan dua puluh menit merawat sepatu pemberiannya seperti orang merawat barang pinjaman, lalu melihat sepatu lama yang sudah kucuci dan kusikat dan kupasangi kawat baru meskipun tidak putus.
Dan dia mengerti sesuatu yang bahkan aku sendiri belum mengerti.
Bahwa aku tidak sedang menolak hadiah.
Bahwa aku sedang menyiapkan diri untuk hari ketika hadiah itu diambil kembali.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada reading
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku