Chapter Forty Two
Delapan Setengah
POV: Damar
Aku menyadarinya hari Senin, jam empat pagi, di antara truk kedua dan truk ketiga.
Bukan di reuni. Bukan di mobil.
Di pasar, di lorong dekat lapak Bu Painem, sambil menunggu truk yang telat empat puluh menit.
Aku duduk di atas keranjang kosong dan aku memikirkan hal biasa — apakah keramik untuk kamar mandi belakang perlu ditambah satu dus, apakah nat-nya cukup — dan di tengah hitungan itu, tanpa aku panggil, muncul gambar.
Aku sedang menghitung nat, dan yang muncul di kepalaku adalah wajah orang yang menyetir sambil tidak menggeser bahunya selama dua puluh menit.
Dan aku berhenti menghitung.
Aku duduk di atas keranjang kosong di lorong pasar jam empat pagi dan aku mengucapkannya di kepalaku sekali, dengan sangat jelas, seperti orang yang membaca angka dari kertas:
Aku suka sama dia.
Lalu truknya datang dan aku bekerja sampai jam enam.
Aku sudah dua puluh tujuh tahun dan aku belum pernah mengucapkan kalimat itu tentang siapa pun.
Aku ingin mencatatnya bukan untuk terdengar menyedihkan. Ini fakta administratif, seperti tanggal lahir.
Waktu umur tujuh belas, aku belum sempat.
Setelah itu, tidak ada waktunya. Aku serius; ini bukan kiasan. Antara jam satu pagi dan jam sebelas malam tidak ada satu pun jam yang bisa dipakai untuk hal seperti itu, dan aku sudah memeriksanya berkali-kali karena orang-orang di proyek suka bertanya kenapa aku tidak cari perempuan.
Aku selalu menjawab: nanti.
Dan aku bersungguh-sungguh setiap kali, karena “nanti” itu selalu terasa seperti tempat yang betulan ada.
Aku memikirkannya selama empat hari.
Empat hari itu aku bekerja seperti biasa. Aku ke Griya Asri seperti biasa. Aku memegang gambar kerja dan berdiri di sebelahnya dan membahas nat dan sanitair dan posisi stopkontak.
Dan aku memperhatikan diriku sendiri, seperti orang memperhatikan mesin yang bunyinya aneh.
Yang aku temukan:
Aku sudah tahu jam berapa dia bangun.
Aku sudah tahu dia minum kopi hitam tanpa gula dan bahwa dia menaruh gelasnya selalu di sisi kanan gambar, dan bahwa kalau dia sedang berpikir dia mengetuk pensil ke gigi depannya dua kali.
Aku sudah tahu kalau dia tidak setuju, dia tidak langsung membantah — dia bertanya “kenapa gitu?” dulu, dan kalau jawabanku bagus dia mengubah gambarnya, dan kalau jawabanku jelek dia mengetuk pensilnya dua kali dan berkata “coba pikir lagi.”
Aku sudah tahu semua itu tanpa pernah memutuskan untuk mengetahuinya.
Dan aku sadar bahwa itu sudah berjalan berbulan-bulan, dan bahwa aku baru menamainya hari Senin jam empat pagi.
Hari keempat, hari Kamis, aku duduk di tikar jam dua belas malam dan aku mengerjakannya dengan benar.
Aku mengambil kertas.
Aku selalu mengambil kertas. Sepuluh tahun aku tidak pernah sekali pun mengambil keputusan yang menyangkut uang tanpa kertas, dan aku tidak melihat alasan kenapa yang ini harus berbeda.
Aku menuliskan yang aku punya.
Umur 27. Tidak lulus SMA. Tidak ada ijazah.
Penghasilan 3,2–3,5 juta. Tidak tetap. Tidak ada kontrak, tidak ada pesangon, tidak ada apa-apa kalau berhenti.
Rumah: petak kontrakan satu kamar, dua ratus dua puluh ribu. Bukan atas namaku lagi.
Tabungan: nol.
Aku berhenti di kata itu dan menghitung ulang, karena aku merasa itu tidak mungkin, dan ternyata itu mungkin.
Ada uang di kaleng biskuit tapi itu uang bulan berjalan. Ada amplop KULIAH LIN, tapi itu bukan punyaku.
Nol.
Tanggungan: satu orang, tiga tahun lagi.
Badan: —
Aku berhenti lama di baris itu.
Lalu aku menulis: tidak tahu.
Dan itu bohong pertamaku pada kertas, dan aku sadar itu bohong waktu sedang menulisnya, dan aku tetap menulisnya.
Lalu aku menulis kolom yang lain.
Dia:
Umur 27. Arsitek. S1.
Aku tidak tahu berapa penghasilannya dan aku tidak akan pernah bertanya, tapi aku pernah melihat nilai borongan yang dia keluarkan untuk rumahnya sendiri dan aku bisa memperkirakan.
Rumah milik. Mobil. Bapak sakit, ibu ada.
Belum menikah.
Aku menatap dua kolom itu.
Dan aku ingin menuliskan sesuatu di sini dengan sangat jelas, karena kalau tidak, seluruh bab ini akan terbaca seperti orang yang merendahkan dirinya sendiri, dan itu bukan yang terjadi.
Aku tidak berpikir aku tidak pantas.
Aku sudah lama berhenti memikirkan hal-hal seperti pantas dan tidak pantas; itu barang mewah, dan aku tidak punya waktu untuk barang mewah.
Yang aku pikirkan adalah hal yang jauh lebih sederhana, dan yang sudah aku lihat terjadi, dengan mataku sendiri, kepada orang yang tidur satu kamar dengan aku.
Enam bulan lalu, Kanaya meletakkan tiga surat tawaran kerja di lantai ruang depan.
Delapan koma lima juta di Jakarta.
Tujuh juta di Semarang.
Tiga koma delapan di sini.
Dan dia mengambil yang tiga koma delapan, dan dia menyiapkan alasannya selama empat hari, dan alasannya rapi sekali — jenjang karier, status karyawan tetap, biaya kos, biaya makan, biaya transport.
Setiap angkanya benar.
Dan dia bohong.
Aku tahu dia bohong dan dia tahu aku tahu dia bohong dan kami berdua duduk di lantai itu dan tidak ada yang menyebutkannya, karena di rumah ini itu cara kami menyayangi orang.
Anak itu membuang empat juta tujuh ratus ribu sebulan.
Lima puluh enam juta setahun.
Dan dia melakukannya bukan karena aku memintanya. Aku tidak pernah meminta apa pun kepada anak itu seumur hidupku.
Dia melakukannya karena dia dekat denganku.
Itu saja. Itu satu-satunya penyebabnya. Kalau dia jauh dariku, dia di Jakarta sekarang.
Ini yang aku tulis di kertas itu, di baris paling bawah, dan ini satu-satunya kalimat penuh di seluruh halaman:
Orang yang deket sama aku selalu bayar.
Aku membacanya lagi.
Mbak Laras membayar. Dia mengambil anak tujuh belas tahun ke dalam rumahnya di umur dua puluh empat dan tidak pernah menyebutnya beban dan mati di umur tiga puluh empat.
Pak Umar membayar. Dia menandatangani namanya sendiri untuk anak yang berjanji akan tetap sekolah dan melanggarnya dalam empat hari, dan sepuluh tahun aku tidak pernah menemuinya karena aku tidak tahu harus bilang apa.
Kanaya membayar empat juta tujuh ratus ribu sebulan.
Alina membayar delapan tahun potong rambut dan potong kuku dan malam-malam menghitung batuk yang dia pikir aku tidak tahu dia hitung.
Bu Ratih membayar delapan ratus rupiah per bungkus selama sepuluh tahun dan mengira aku tidak menghitung.
Mas Haryo membayar kemeja batik terbaiknya dan mengarang alasan tentang matanya yang tidak bisa membaca huruf kecil supaya aku berdiri di dekat orang itu setiap pagi selama tiga minggu.
Semua orang yang berdiri cukup dekat denganku akhirnya membayar sesuatu.
Dan Eliza sudah mulai.
Empat jam duduk di ambang pintu. Tukang listrik dipulangkan dan tetap dibayar penuh. Pekerjaan rumahnya sendiri mundur sehari. Dua belas menit jalan memutar jam sembilan malam.
Dia sudah mulai dan dia belum tahu.
Dan lalu ada baris terakhir, yang tidak aku tulis di kertas, karena aku tidak sanggup menuliskannya:
Kalau ada apa-apa dengan badanku, dia jadi orang ketiga.
Aku sudah punya dua. Aku sudah tahu persis apa yang akan terjadi kepada dua orang itu, dan aku sudah menghitungnya berkali-kali di tikar jam dua pagi, dan aku sudah menerima bahwa aku tidak bisa mencegahnya.
Aku tidak akan menambah satu.
Aku merobek kertas itu dan membakarnya di kompor.
Lalu aku tidur dua jam, lalu ke pasar.
Hari Sabtu aku ke Griya Asri untuk terakhir kalinya sebagai orang yang berdiri di sebelahnya setiap pagi.
Pekerjaan besarnya sudah selesai. Yang tersisa cuma finishing dan itu bagiannya Bejo.
Aku sudah menyiapkan kalimatnya.
“Liz.”
“Hm?”
“Yang sisanya nanti Bejo.”
Dia mengangkat kepala dari gambarnya.
“Kamu nggak ikut?”
“Ada proyek baru di Ngadirejo. Mas Haryo minta aku.”
“Ngadirejo itu jauh.”
“Dua puluh menit.”
“Dua puluh menit ke arah yang salah dari pasar sama dari rumah makan.”
Aku tidak menjawab itu.
“Damar.”
“Aku ambil, Liz. Bayarannya lebih.”
Dan itu benar. Aku tidak berbohong. Bayarannya memang lebih, seratus empat puluh sehari, dan aku memang sudah mengiyakan kepada Mas Haryo hari Jumat.
Yang tidak aku katakan adalah bahwa Mas Haryo menawarkannya tiga minggu lalu dan aku menolak.
Dia menaruh pensilnya.
“Oke,” katanya.
“Oke?”
“Iya. Oke.”
Dan dia kembali ke gambarnya, dan aku berdiri di halaman itu dengan perasaan yang tidak enak sama sekali, karena aku sudah menyiapkan diri untuk didebat dan tidak disiapkan untuk yang ini.
Dia bekerja empat puluh menit tanpa bicara.
Lalu dia berdiri dan masuk ke rumah dan keluar lagi membawa piring.
Satu piring.
Nasi, ayam, sayur. Bukan untuk bertiga. Satu.
“Makan dulu.”
Dan aku — karena aku bodoh, karena aku sudah empat hari tidak tidur benar, karena aku sedang mengerjakan sesuatu yang berat di kepalaku dan mulutku bekerja sendiri seperti biasa —
“Kakak sudah makan.”
Dia berhenti.
Piring itu masih di tangannya, setengah terulur.
“Apa?”
Dan aku mendengarnya. Aku mendengar kalimat itu di udara, di halaman rumah orang lain, jam sepuluh pagi, dan aku mendengar kata pertamanya.
Kakak.
“Aku udah makan,” kataku. “Tadi.”
“Kamu bilang Kakak.”
“Nggak.”
“Damar.”
“Salah ngomong.”
Dan Eliza Wirawan berdiri di halaman rumahnya sendiri dengan satu piring di tangan dan menatapku dengan cara yang membuatku ingin masuk ke dalam tanah.
“Kamu selalu bilang gitu?”
“Nggak.”
“Ke Alina sama Kanaya?”
“Liz.”
“Kamu manggil diri kamu sendiri Kakak sama mereka?”
“Ya iyalah. Aku kakaknya.”
“Kamu ayahnya.”
Halaman itu diam.
“Alina manggil kamu Ayah,” katanya. “Delapan belas tahun. Dari umur delapan. Dan kamu masih manggil diri kamu sendiri Kakak.”
Aku mengambil kunci motor dari saku.
“Aku berangkat, Liz.”
“Damar—“
“Ngadirejo jauh.”
“Damar.”
Aku sudah di motor waktu dia mengucapkan yang terakhir, dan dia mengucapkannya tidak keras, dan aku mendengarnya dengan sangat jelas karena aku belum menyalakan mesin:
“Kalau kamu bilang Kakak, kamu boleh capek.”
Aku memegang kunci itu di lubangnya.
“Kalau kamu bilang aku,” katanya, “kamu harus punya sesuatu.”
Aku menyalakan mesinnya.
Aku tidak menoleh waktu keluar dari gerbang, dan aku tidak menoleh di jalan, dan aku sampai di Ngadirejo empat puluh menit lebih cepat dari yang perlu karena aku memacu motor tua itu lebih kencang dari yang pernah kulakukan seumur hidupku.
Dan sepanjang jalan aku mengulang satu hal di kepalaku, berkali-kali, seperti orang yang menghafal supaya tidak lupa:
Ini yang bener. Ini yang bener. Ini yang bener.
Aku mengulanginya sampai Ngadirejo.
Dan aku masih mengulanginya sepuluh bulan kemudian, di ranjang rumah sakit, waktu perempuan itu duduk di kursi plastik di sebelahku dan tidak pulang selama tiga hari.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah reading
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku