Chapter Five
Tulisan yang Rapi
POV: Damar
Aku masuk lewat gerbang belakang.
Bukan karena terlambat. Aku datang jam setengah tujuh, lebih pagi dari biasanya, waktu yang lain masih berdatangan. Aku lewat gerbang belakang karena gerbang depan melewati ruang guru, dan ruang guru berarti kemungkinan bertemu Pak Umar, dan aku belum sanggup.
Aku memakai seragam lengkap. Sepatu disemir tadi malam pakai sisa semir Mbak Laras. Rambut disisir. Badge OSIS dipasang lurus.
Kalau ada yang melihatku pagi itu, mereka akan melihat anak kelas dua yang datang lebih awal.
Aku duduk di bangku beton di belakang kelas satu, di bawah pohon mangga yang tidak pernah berbuah, dan mengeluarkan buku tulis dari tas.
Aku merobek satu lembar.
Lalu aku diam sekitar sepuluh menit, memandangi kertas kosong itu, sambil mendengarkan suara sepatu dan tawa dan bel yang belum berbunyi.
Aku tidak tahu format suratnya. Aku belum pernah menulis surat resmi seumur hidupku selain surat izin sakit yang tiga baris. Jadi aku menulis apa yang aku ingat dari pelajaran Bahasa Indonesia Pak Umar semester lalu — yang mana kalau dipikir sekarang adalah lelucon yang sangat kejam.
Kepada Yth. Bapak Kepala SMA Negeri 1 Wonoyoso di tempat
Aku menulis pelan-pelan.
Ini yang aneh, dan aku tidak bisa menjelaskannya sampai sekarang: aku menulis surat itu dengan sangat rapi.
Aku memperbaiki huruf k yang miring dan menulis ulang seluruh kalimatnya. Aku merobek lembar pertama karena ada coretan kecil di pojok. Aku memastikan margin kiri lurus dengan cara menekuk kertasnya dulu.
Aku menghabiskan hampir empat puluh menit, dan tiga lembar buku tulis, untuk menulis sembilan baris.
Dengan hormat, saya yang bertanda tangan di bawah ini, Damar Prasetya, kelas XI IPS 1, dengan ini menyatakan mengundurkan diri dari SMA Negeri 1 Wonoyoso terhitung mulai tanggal…
Aku berhenti di kolom alasan.
Ada garis titik-titik di situ karena aku sendiri yang membuatnya, dan sekarang aku harus mengisinya.
Bel berbunyi. Halaman kosong. Suara dari kelas-kelas mulai berdengung.
Aku menulis: alasan keluarga.
Dua kata. Untuk sepuluh tahun.
“Damar?”
Aku mengangkat kepala terlalu cepat.
Eliza Wirawan berdiri sekitar tiga langkah dari bangku beton, memegang dua map, dengan wajah orang yang sedang buru-buru dan mendadak berhenti buru-buru.
Aku sekelas dengannya sejak kelas satu. Dia bendahara kelas dan dia satu-satunya orang di angkatan kami yang bisa menagih uang kas tanpa membuat siapa pun tersinggung. Kami tidak dekat. Kami pernah sekelompok tugas dua kali, dan dua-duanya dia yang mengerjakan bagian terberat sambil bilang tidak apa-apa.
“Eliza.”
“Kamu masuk?” Dia melangkah mendekat. “Anak-anak kira kamu masih—“
Dia berhenti. Matanya turun ke kertas di pangkuanku.
Aku menutupinya dengan tangan, terlambat sekitar dua detik.
Kami berdua diam.
“Itu apa,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Bukan apa-apa.”
“Damar.”
“Bukan apa-apa, Liz.”
Dia berdiri di sana beberapa saat. Lalu dia duduk di bangku beton itu, di ujung yang lain, dengan jarak yang cukup sopan, dan meletakkan dua mapnya di antara kami.
“Aku dengar soal Mbakmu,” katanya. “Aku mau takziah. Aku nggak tahu rumahmu.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku nanya ke Rendi. Dia juga nggak tahu.”
“Nggak apa-apa.”
Dia menoleh. “Kamu bilang nggak apa-apa tiga kali dalam satu menit.”
Aku tidak menjawab itu.
Dari kelas sebelah terdengar suara guru mulai mengabsen. Nama-nama dibacakan satu per satu, dan setiap nama dijawab, dan itu tiba-tiba terasa seperti sesuatu yang sangat mewah.
“Ada dua adik,” kataku akhirnya. Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Mungkin karena dia tidak bertanya. “Keponakan. Dua belas sama delapan.”
“Terus?”
“Terus nggak ada siapa-siapa lagi.”
Eliza diam.
“Bapaknya?”
“Nggak ada kabar empat tahun.”
“Om? Tante? Mbah?”
“Nggak ada.”
Dia menatap ke depan, ke lapangan yang kosong. Aku bisa melihat dari sudut mataku bahwa dia sedang mengerjakan sesuatu di kepalanya, dan aku sudah tahu hasilnya akan sama seperti hasil hitunganku sendiri semalam.
“Kamu bisa ambil beasiswa,” katanya. “Yang dari yayasan. Anak yatim piatu bisa, aku pernah bantu Bu Sri isi berkasnya—“
“Beasiswa itu bebasin SPP.”
“Iya.”
“SPP-ku bukan masalahnya, Liz.” Aku menatap kertas di pangkuanku. “Masalahnya kalau aku di sini dari jam tujuh sampai jam dua, aku nggak kerja.”
Dia membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
Aku menghargai itu. Aku sangat menghargai itu. Semua orang yang bicara denganku dua minggu terakhir punya jawaban, dan semua jawabannya adalah jawaban untuk soal yang berbeda. Eliza satu-satunya yang berhenti.
“Setengah hari?” katanya pelan. “Ada yang kerja sore. Aku tahu anak kelas tiga yang—“
“Sekolah aku pagi. Kerja yang bayarannya harian itu subuh sama siang.” Aku mengatakannya sedatar mungkin, karena aku sudah menghitungnya sampai muak dan aku takut suaraku pecah kalau aku memberi nada. “Aku udah cari, Liz. Tiga hari.”
“Terus setahun lagi kamu lulus. Setahun doang.”
“Setahun itu tiga ratus enam puluh lima hari makan.”
Bel kedua berbunyi.
Eliza tidak bergerak untuk masuk kelas. Dia menatap map di pangkuannya dan aku melihat rahangnya bergerak.
“Ini nggak adil,” katanya.
“Iya.”
“Aku serius. Ini nggak adil, Damar.”
“Iya,” kataku lagi. “Tapi nggak adil itu bukan pilihan yang bisa aku ambil.”
Ruang tata usaha ada di sebelah ruang guru, dipisahkan dinding triplek setinggi dua meter yang tidak sampai ke langit-langit. Artinya, siapa pun yang bicara di TU bisa didengar dari ruang guru.
Aku berdiri di depan pintunya jam sembilan lewat, memegang surat yang sudah kulipat tiga.
Aku tidak bisa masuk.
Bukan karena takut. Aku sudah melewati bagian takut kemarin malam, di lantai, dengan kaleng biskuit di pangkuan. Yang menahanku adalah dinding triplek itu, dan kemungkinan bahwa di baliknya ada seorang laki-laki kurus berkacamata yang tiga hari lalu menulis namanya sendiri di kertas kosong untukku dan berkata Bapak nggak mau ketemu kamu di pasar, Damar.
Kalau dia mendengar suaraku dari balik triplek itu, dia akan keluar.
Kalau dia keluar, aku tidak akan sanggup.
Aku berdiri di sana lama sekali. Ada dua orang yang lewat dan menanyakan aku mau apa dan aku bilang menunggu teman.
“Sini.”
Eliza muncul dari arah tangga. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di situ.
“Apa?”
Dia mengulurkan tangan. Telapaknya menghadap ke atas.
“Sini suratnya. Biar aku yang kasih.”
“Liz—“
“Kamu udah berdiri di situ dua puluh menit.” Suaranya tidak marah. Justru itu yang membuatnya sulit dibantah. “Aku bendahara kelas. Aku masuk TU tiga kali seminggu. Nggak ada yang bakal nanya apa-apa ke aku.”
Aku menatap tangannya.
“Pak Umar di dalam?”
“Iya.”
“Kamu tahu?”
“Aku tahu.” Tangannya tetap terulur. “Makanya aku ke sini.”
Aku memberikan surat itu.
Dia menerimanya dengan dua tangan — dua tangan, seperti orang menerima sesuatu dari orang yang lebih tua — dan tidak langsung memasukkannya ke map.
“Damar.”
“Hm.”
“Ini yang kamu mau?”
Aku hampir tertawa. Bukan tawa yang menyenangkan.
“Nggak ada yang nanya itu,” kataku.
“Aku nanya.”
Kami berdiri di koridor lantai satu, di antara pintu TU dan tangga, dengan suara kelas yang berdengung dari lantai atas. Bahuku menyenggol bahunya waktu ada anak kelas satu berlari lewat, dan tidak ada dari kami yang menyadarinya.
“Nggak,” kataku akhirnya. “Bukan yang aku mau.”
Eliza mengangguk.
“Ya udah,” katanya. “Aku cuma pengin ada satu orang yang tahu itu.”
Aku keluar lewat gerbang depan.
Entah kenapa. Mungkin karena setelah surat itu berpindah tangan, tidak ada lagi yang perlu kuhindari. Mungkin karena aku ingin melewatinya sekali lagi dengan seragam ini, sadar-sadar, sambil melihat.
Pak Satpam mengangguk kepadaku. Aku mengangguk balik.
Di luar gerbang, aku berhenti dan menoleh ke belakang. Aku tidak berencana melakukannya. Kakiku yang berhenti duluan.
Dari sana aku bisa melihat sebagian koridor lantai satu lewat celah antara tembok dan tiang.
Eliza masih berdiri di tempat yang sama.
Dia belum masuk ke TU. Dia berdiri menghadap pintunya, tidak bergerak, dengan surat itu di tangan — bukan di dalam map, di tangan — dan kepalanya sedikit menunduk.
Aku pikir dia sedang menunggu petugasnya kembali dari ruang guru.
Aku pikir begitu selama sepuluh tahun.
Aku membetulkan tali tas, berbalik, dan berjalan pulang. Jam sepuluh pagi, hari Kamis, dengan seragam lengkap dan sepatu yang disemir semalam.
Di rumah, aku melepas seragam itu, menyetrikanya sampai lurus, dan menggantungnya di lemari plastik.
Aku bilang pada diriku sendiri itu supaya tidak kusut kalau nanti dipakai lagi.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi reading
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku