← Kakak Sudah Makan

Chapter Ten

Dua Bungkus

POV: Bu Ratih

Warung saya buka jam lima pagi dan tutup jam sembilan malam, dan sudah begitu sejak anak saya yang sulung masih di dalam gendongan. Sekarang dia sudah punya anak sendiri.

Enam belas jam sehari duduk di kursi yang sama menghadap gang yang sama, itu membuat orang jadi tahu banyak hal yang sebetulnya bukan urusannya.

Saya tahu siapa yang berhenti membeli rokok karena istrinya hamil lagi. Saya tahu rumah mana yang bulan ini beli beras seperempat, padahal biasanya sekilo. Saya tahu anak siapa yang jajannya naik dua kali lipat dan itu bukan pertanda baik.

Saya tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Itu satu-satunya alasan orang masih mau beli di sini.

Dan sejak akhir Agustus, saya tahu satu hal lagi:

Anaknya Laras — maksud saya adiknya; sampai sekarang saya masih salah menyebutnya — tidak makan pagi.


Awalnya saya kira dia cuma tidak sempat.

Dia lewat depan warung jam tujuh pagi, tiap hari, pulang dari pasar. Celananya basah sampai lutut. Sandalnya berlumpur. Kalau saya panggil, dia melambai dan bilang “nanti, Bu” sambil terus jalan.

Minggu pertama saya pikir memang buru-buru mau tidur. Wajar. Orang pulang kerja subuh ya ngantuk.

Minggu kedua saya mulai menghitung.

Saya ini penjual nasi. Saya hafal siapa beli apa. Dan dalam dua minggu, Damar Prasetya beli di warung saya sebelas kali, dan sebelas-belasnya jumlahnya sama:

Dua bungkus.

Dua bungkus nasi, lauk telur atau tempe, dibungkus daun terus dilapis kertas. Tidak pernah tiga. Tidak pernah sekali pun tiga.

Kalau dia beli sore, dua bungkus. Kalau dia beli malam, dua bungkus. Kalau anak-anaknya ikut, tetap dua bungkus.

Pertama kali saya menyadarinya, saya sedang menuang teh dan hampir menumpahkannya.


Dia mampir hari Kamis sore bersama dua-duanya.

Yang kecil, Alina, lari duluan ke etalase dan menempelkan hidungnya ke kaca seperti anak-anak lain, memandangi gorengan.

Yang besar, Kanaya, berdiri di belakang omnya dengan tangan di depan, diam saja, seperti orang dewasa yang sedang mengantre di bank.

“Bu Ratih.”

“Le. Piye kabare?” (“Nak. Bagaimana kabarnya?”)

“Sae, Bu.” Dia tersenyum. Dia selalu tersenyum. “Nasi dua, ya.”

Nah.

Saya bungkuskan. Saya ambilkan telur untuk yang satu, dan untuk yang satunya lagi saya ambil telur juga, plus sesendok oseng yang tidak dia minta dan tidak akan saya hitung.

“Sing siji maneh?” tanya saya, sambil terus membungkus, sambil tidak menoleh, karena kalau menoleh nanti kelihatan. (“Yang satu lagi?”)

“Cukup dua, Bu.”

Alina mengangkat kepalanya dari etalase.

“Ayah nggak makan?”

Saya berhenti.

Bukan karena pertanyaannya. Karena kata itu. Ayah.

Saya kenal anak ini sejak dia belum bisa jalan. Saya kenal ibunya sejak ibunya masih pengantin baru dan datang ke warung saya menanyakan di mana beli gas. Saya tahu persis siapa ayah anak ini dan saya tahu persis kapan terakhir kali laki-laki itu terlihat di gang ini.

Dan sekarang anak delapan tahun itu berdiri di depan etalase gorengan saya dan memanggil “Ayah” kepada anak laki-laki yang belum genap delapan belas.

Saya melanjutkan membungkus.

“Kakak sudah makan,” kata Damar.

Ringan sekali. Sambil merapikan uang di tangannya. Tidak ada satu pun yang salah dari nada suaranya — dan justru itu yang membuat saya harus menunduk ke bungkusan supaya wajah saya tidak terlihat.

Karena saya duduk di kursi ini enam belas jam sehari.

Karena jam tujuh pagi tadi dia lewat depan warung saya dan saya panggil dan dia bilang nanti.

Karena jam dua siang dia lewat lagi, dari arah yang lain, dan saya panggil lagi dan dia bilang nanti lagi.

Karena sekarang jam lima sore.

Saya serahkan dua bungkus itu. Dia membayar delapan ribu.

“Le.”

“Nggih, Bu?”

Saya sodorkan piring kecil berisi kerupuk. Yang sudah agak melempem, yang memang sudah tidak bisa saya jual.

“Iki digawa. Wis ora payu.” (“Ini bawa. Sudah tidak laku.”)

Dia melihat piring itu. Lalu melihat saya.

Dan ini bagian yang membuat saya jengkel sampai sekarang: dia tahu. Anak itu tahu persis apa yang saya lakukan. Saya bisa melihatnya di wajahnya, satu detik, sebelum dia menutupnya lagi.

“Nggih. Matur nuwun, Bu.” (“Iya. Terima kasih, Bu.”)

Dia mengambil dua keping. Dua keping saja, dari sepiring.

Terus dia memakannya di situ, sambil berdiri, sambil menunggu Alina memilih gorengan yang akhirnya tidak jadi dibeli.

Dan saya duduk di kursi saya dan menonton anak umur tujuh belas tahun makan kerupuk melempem untuk makan malamnya, sambil tersenyum, sambil menyuruh keponakannya jangan lama-lama memilih karena nanti keburu magrib.


Malamnya saya tidak bisa tidur.

Suami saya sudah tidur duluan, seperti biasa, jam sembilan.

Saya berbaring dan menghitung.

Saya punya empat tanggungan. Anak dua yang masih sekolah, ibu saya yang sudah tidak bisa jalan, dan adik ipar yang tinggal di belakang sejak suaminya kena PHK. Warung ini bersih sekitar delapan ratus sampai sejuta sebulan kalau ramai. Kalau sepi, lima ratus.

Bulan lalu, waktu ibu dari dinas sosial itu datang dan bertanya kepada saya di depan pintu, saya bilang mau. Saya bilang mau dengan cepat sekali, sebelum sempat dipikir.

Terus ibu itu bertanya berapa penghasilan tetap saya per bulan.

Saya diam.

Terus dia bertanya apakah ada slip, atau surat keterangan usaha, atau apa pun.

Saya bilang tidak ada.

Dan dia meminta maaf dengan sangat sopan dan bilang kalau diajukan pasti ditolak di kecamatan.

Saya berbaring malam itu dan saya berpikir: kalau saja saya bikin surat izin usaha dulu. Kalau saja saya nabung yang benar. Kalau saja warung saya sedikit lebih besar.

Terus saya berpikir lagi, dan yang saya pikirkan lebih jujur dan lebih tidak enak:

Kalau seandainya semua itu ada, apakah saya betulan akan mengambil dua anak itu?

Saya tidak menjawabnya.

Saya cuma memutuskan satu hal, malam itu, sambil memandangi langit-langit kamar.

Kalau saya tidak bisa mengangkat, ya saya menambahi.


Sejak hari itu, takaran saya berubah.

Bukan banyak. Kalau banyak, dia akan sadar dan dia akan berhenti beli, dan saya kenal anak seperti itu — bantu terlalu jelas, dia hilang.

Jadi begini caranya.

Nasi untuk dia saya cetak dengan centong yang sama, tapi saya tekan sedikit lebih padat. Kelihatannya sama. Beratnya beda kira-kira seperempat.

Kalau lauknya telur, saya pilihkan yang paling besar dari wajan. Telur itu ukurannya tidak pernah sama; tidak ada yang bisa protes.

Kuah oseng saya tambah satu sendok. Tidak dihitung. Kuah memang tidak dihitung siapa-siapa.

Harga saya turunkan delapan ratus rupiah per bungkus, tapi saya tidak bilang turun. Saya cuma menyebut angka bulat waktu dia bayar. “Delapan ribu, Le.” Padahal harusnya sembilan enam.

Kalau dia beli lima kali seminggu, itu delapan ribu rupiah sebulan. Kecil. Kecil sekali. Saya tahu itu kecil.

Tapi ada yang tidak saya perhitungkan, dan baru saya sadari bertahun-tahun kemudian, waktu anak itu sudah dua puluh tujuh dan segala sesuatunya sudah berubah:

Anak itu menghitung semuanya.

Dia menghitung setiap rupiah yang keluar dan masuk sejak umur tujuh belas. Setiap hari, selama sepuluh tahun.

Artinya dia tahu harga nasi bungkus di gang ini.

Artinya dia sudah tahu, sejak minggu pertama, apa yang saya lakukan.

Dan dia tidak pernah, sekali pun, dalam sepuluh tahun, mengatakan apa-apa tentang itu — karena dia tahu kalau dia mengatakannya, saya akan malu, dan dia lebih memilih menanggung dikasihani daripada membuat saya malu.

Kadang saya jengkel sekali sama anak itu.


Yang terakhir, dan ini yang membuat saya menulis semua ini di kepala selama bertahun-tahun sampai saya hafal:

Hari Sabtu, seminggu sesudahnya, si kecil datang sendirian.

Dia bawa uang seribu, mau beli permen.

Saya lihat dia dari jauh waktu masuk gang, dan langkahnya salah. Alina itu kalau jalan seperti orang yang sedang dikejar sesuatu yang menyenangkan. Hari itu dia jalan pelan, dan pas sampai di depan etalase, dia berdiri agak lama sebelum bicara.

“Bu Ratih.”

“Kenapa, Nduk?”

“Permen yang jeruk masih?”

Saya ambilkan. Waktu saya letakkan di telapak tangannya, tangan itu panas.

Saya pegang keningnya.

“Lin, kowe adem panas, ya?” (“Lin, kamu meriang, ya?”)

“Nggak.”

“Wis mangan?” (“Sudah makan?”)

“Udah.”

Dia tersenyum ke saya. Senyum yang sama persis. Sama persis, sampai ke cara matanya menyipit.

Terus dia pulang, sambil memegang permen jeruk, jalan pelan menyusuri gang.

Saya berdiri di depan warung dan menonton punggung kecil itu sampai belok.

Malam itu, jam sebelas lewat, saya mendengar suara orang berlari di gang.