← Kakak Sudah Makan

Chapter Thirteen

Yang Dibicarakan Orang

POV: Damar

Bu Yanti dari pintu nomor dua menungguku di depan petak pada suatu Selasa sore.

Aku baru pulang dari kerja siang — bongkar pasir di proyek rumah Pak Haji Salim, dua hari, tiga puluh ribu sehari — dan aku masih memegang sandal di tangan karena talinya putus di tengah jalan.

“Le, sedhela.” (“Nak, sebentar.”)

“Nggih, Bu.”

Dia melihat ke kanan dan ke kiri dulu, cara orang melihat sebelum mengatakan sesuatu yang sudah lama dia latih.

“Aku ki tresna karo kowe, lho. Mula aku sing ngomong, dudu wong liya.” (“Saya ini sayang sama kamu, lho. Makanya saya yang bilang, bukan orang lain.”)

“Nggih.”

“Wong-wong padha rasan-rasan.” (“Orang-orang pada bergunjing.”)

Aku menunggu.

“Kowe ki lanang, umur wolulas. Kanaya wis meh telulas.” Dia menurunkan suaranya. “Turu sak omah. Kamar mandine bareng. Ora ana wong tuwa.” (“Kamu ini laki-laki, umur delapan belas. Kanaya sudah hampir tiga belas. Tidur satu rumah. Kamar mandinya bersama. Tidak ada orang tua.”)

Ada jeda kira-kira dua detik, dan di dalam dua detik itu aku mengerti seluruh kalimat yang tidak dia ucapkan.

“Saya tidur di depan, Bu. Di tikar. Mereka di kamar.”

“Aku ngerti, Le. Aku percaya.” Dia mengangkat kedua tangannya. “Sing ora percaya kuwi wong liya.” (“Saya paham, Nak. Saya percaya. Yang tidak percaya itu orang lain.”)

“Siapa, Bu?”

Dia tidak menjawab itu. Dia justru melanjutkan, dengan nada yang lebih hangat, yang lebih tulus, dan itu bagian yang paling sulit.

“Aku mikir ngene. Kanaya kuwi wis wayahe. Apa ora luwih becik dititipke? Neng pondok, umpamane. Ana pondok neng Ngadirejo, murah, ana beasiswane barang.” (“Saya pikir begini. Kanaya itu sudah waktunya. Apa tidak lebih baik dititipkan? Ke pesantren, misalnya. Ada pesantren di Ngadirejo, murah, ada beasiswanya juga.”)

“Dia sekolah di sini, Bu.”

“Yo pindah.”

“Nilainya bagus. Dia peringkat dua.”

“Le.” Bu Yanti menyentuh lenganku, sebentar, seperti orang menyentuh anaknya sendiri. “Sing tak pikirke kuwi kowe. Nek sesuk ana sing lapor, sing repot kowe. Sing dicekel kowe. Ora ana sing mbela.” (“Nak. Yang saya pikirkan itu kamu. Kalau besok ada yang lapor, yang repot kamu. Yang ditangkap kamu. Tidak ada yang membela.”)

Dan yang paling buruk dari seluruh percakapan itu adalah:

Dia benar.


Aku duduk di warung Bu Ratih sampai magrib karena aku tidak sanggup pulang dengan wajah seperti itu.

Aku pesan teh. Aku minum setengahnya.

Di kursi panjang di sebelah, ada tiga orang. Dua ibu-ibu dan satu bapak-bapak yang biasa main catur di pos ronda.

Mereka bicara soal harga cabai. Lalu soal hajatan. Lalu, dengan cara yang tidak kentara sama sekali, soal petak nomor empat.

Aku tidak akan menuliskan apa yang mereka katakan.

Bukan karena aku lupa. Aku hafal setiap kalimatnya, sampai sekarang, sampai umurku dua puluh tujuh. Aku tidak menuliskannya karena aku sudah memutuskan sejak lama bahwa kalimat-kalimat itu tidak berhak hidup lebih lama dari orang yang mengucapkannya.

Yang perlu diketahui cuma ini: mereka bicara tentang aku, mereka tahu aku duduk dua meter dari mereka, dan mereka tidak menurunkan suara.

Aku minum tehku.

Aku bahkan mengangguk waktu salah satu dari mereka melirik ke arahku. Aku tidak tahu kenapa aku mengangguk. Badanku melakukannya sendiri.

Lalu Bu Ratih meletakkan sendok sayurnya ke panci dengan bunyi yang membuat seluruh warung berhenti.

“Yu.”

Ibu yang bicara menoleh.

“Yu, sampeyan wingi tuku beras neng ngendi?” (“Mbak, kemarin beli beras di mana?”)

“Lha kok—“

“Sampeyan tuku beras rong kilo neng warungku, Sabtu. Utang. Durung dibayar.” Bu Ratih mengelap tangannya ke celemek, pelan-pelan. “Aku ora nagih. Aku ora tau nagih sampeyan. Wis telung taun.” (“Sampeyan beli beras dua kilo di warung saya, Sabtu. Utang. Belum dibayar. Saya tidak menagih. Saya tidak pernah menagih sampeyan. Sudah tiga tahun.”)

Warung itu sunyi sekali.

“Bocah kuwi,” Bu Ratih menunjuk ke arahku dengan dagunya, tanpa menoleh, “ora tau utang neng aku. Sepisan wae ora tau. Malah nolak nek tak wenehi.” (“Anak itu tidak pernah utang ke saya. Sekali pun tidak pernah. Malah menolak kalau saya kasih.”)

“Bu Ratih, aku mung—“

“Sampeyan mung ngomong. Aku ngerti.” Dia mengambil panci dan meletakkannya ke kompor. “Mula saiki aku sing ngomong. Neng warungku, sing dirasani kuwi rega cabe. Dudu bocah.” (“Sampeyan cuma ngomong. Saya paham. Makanya sekarang saya yang ngomong. Di warung saya, yang digunjingkan itu harga cabai. Bukan anak orang.”)

Mereka pergi dalam dua menit.

Bu Ratih tidak melihat ke arahku sekali pun selama sepuluh menit berikutnya. Aku juga tidak melihat ke arahnya.

Waktu aku berdiri untuk membayar, dia menolak uangnya dan berkata, tanpa menoleh, “Wis. Muliho.” (“Sudah. Pulang sana.”)

Aku pulang.


Aku tidak marah.

Aku ingin mencatat itu, karena bertahun-tahun kemudian ada orang yang menanyakannya kepadaku dan aku menjawab dengan jujur dan orang itu tidak percaya.

Aku tidak marah kepada Bu Yanti. Bu Yanti punya anak perempuan. Dia melihat rumah dengan dua anak perempuan tanpa orang dewasa dan otaknya melakukan apa yang otak orang tua lakukan.

Aku tidak marah kepada tiga orang di warung itu. Orang butuh membicarakan sesuatu, dan yang paling enak dibicarakan adalah orang yang tidak bisa membalas.

Yang aku rasakan malam itu, kalau harus kusebutkan namanya, adalah takut.

Karena Bu Yanti benar. Kalau ada satu orang saja yang melapor — bukan karena benar, cukup karena curiga — maka yang terjadi bukan sidang. Yang terjadi adalah dua anak itu diambil, dan aku diperiksa, dan sementara semua itu berjalan mereka ada di tempat yang bukan di sini.

Jadi malam itu aku membuat beberapa aturan.

Aku menuliskannya di kepala, di tikar, sambil menatap langit-langit.

Satu. Pintu kamar tidak pernah kututup dari luar. Kalau aku masuk, pintu dibuka penuh, selalu.

Dua. Aku tidak masuk ke kamar itu setelah jam sembilan malam. Kecuali ada yang sakit.

Tiga. Kalau Kanaya mandi, aku tidak di rumah. Aku duduk di warung, atau di pos, atau di gang. Tidak peduli jam berapa.

Empat. Aku tidak menyentuh mereka di luar rumah. Tidak menggandeng, tidak merangkul, tidak menepuk kepala di gang. Kalau ada yang melihat, yang mereka lihat harus tidak bisa diartikan apa-apa.

Aturan keempat itu yang paling sulit.

Bukan karena aku tidak tahan. Karena Alina tidak mengerti.

Anak itu menempel seperti sudah dari lahir begitu. Dia menggandeng tanganku kalau jalan. Dia bergelayut di lenganku kalau kami antre. Dia memelukku dari belakang waktu aku mencuci piring, kening ditempelkan ke punggungku, dan tidak bilang apa-apa, cuma berdiri di situ.

Mulai minggu itu, aku melepaskan tangannya di gang.

Pelan-pelan. Sambil bilang “Ayah bawa barang.” Sambil bilang “panas, Lin.” Sambil bilang apa saja yang bisa kukarang.

Dia bertanya kenapa dua kali.

Ketiga kalinya dia berhenti bertanya, dan mulai melepaskan tangannya sendiri di mulut gang, sebelum aku sempat.

Aku menonton anak berumur delapan tahun belajar hal itu dalam tiga minggu, dan itu satu dari lima hal dalam sepuluh tahun yang benar-benar tidak bisa kumaafkan dari diriku sendiri.

Yang tersisa cuma malam.

Setelah mereka tidur, setelah jam sebelas, aku boleh. Aku bisa membetulkan selimut. Aku bisa menyibakkan rambut di kening mereka dengan punggung tanganku.

Di dalam gelap, di kamar dengan pintu yang terbuka penuh, di rumah yang sedang dibicarakan orang.

Cuma di situ.


Kanaya menunggu di ruang depan waktu aku pulang dari warung, malam itu.

Dia duduk di lantai di dekat pintu, di tempat biasanya dia belajar. Buku terbuka di pangkuannya.

“Kakak.”

“Belum tidur?”

“Belum.”

Aku menaruh sandal yang talinya putus di sudut. Aku akan memperbaikinya besok dengan kawat.

“Besok Kakak kerja proyek lagi?”

“Iya. Sampai Kamis.”

“Oh.”

Dia menunduk lagi ke bukunya.

Aku duduk di tikar dan melepas kaus. Punggungku terbakar matahari di bagian bahu dan kulitnya sudah mulai mengelupas.

“Nay.”

“Iya.”

“Tadi kamu di rumah terus?”

“Iya.”

“Nggak ke mana-mana?”

“Nggak.”

Aku mengangguk.

Petak nomor empat berbagi tembok dengan pintu nomor tiga dan pintu nomor lima. Temboknya batako, tanpa plester di sisi dalam, setebal sepuluh sentimeter.

Warung Bu Ratih ada di mulut gang, empat puluh meter.

Tapi Bu Yanti mengajakku bicara di depan petak. Di gang. Jam empat sore.

Aku melihat ke arah Kanaya.

Dia sedang menulis.

Bukan mengerjakan soal. Aku bisa melihat bentuk tulisannya dari sini — baris-baris pendek, satu per baris, semuanya rata di kiri. Bukan angka. Bukan kalimat.

Nama.

“Nay.”

“Hm.”

“Itu PR apa?”

Dia tidak mengangkat kepalanya.

“IPS,” katanya.

Aku menatap punggungnya beberapa detik.

Lalu aku berbaring di tikar dan menghadap ke tembok.

“Ya udah. Jangan kemalaman.”

“Iya, Kak.”

Dan aku tidak bertanya lagi, karena aku tahu — dengan cara yang sangat jelas dan sangat dingin, seperti orang yang tahu bahwa hujan akan turun dari bau udaranya — bahwa kalau aku bertanya sekali lagi, dia akan berbohong sekali lagi, dan aku tidak sanggup mendengar anak itu berbohong dua kali dalam satu malam demi menjagaku.