← Kakak Sudah Makan

Chapter Fourteen

Tamu

POV: Damar

Eliza Wirawan berdiri di mulut gang Sidomulyo pada hari Minggu pagi, masih memakai kemeja putih seragam, memegang tas kresek dan satu tas kain.

Aku melihatnya dari jauh, waktu sedang mengangkat air dari kran umum, dan aku hampir menaruh ember itu kembali dan masuk ke rumah.

“Damar!”

Dia melambai. Setengah gang menoleh.

“Liz.”

“Aku nyariin rumahmu sejam.” Dia berjalan mendekat, melewati genangan dengan cara yang sangat hati-hati. “Kamu tahu nggak, di sini ada tiga gang yang namanya Sidomulyo?”

“Empat.”

“Empat?”

“Sama yang di seberang kali.”

Dia berhenti di depanku dan menatapku, dan aku sadar bahwa aku sedang bertelanjang dada dengan handuk kecil di bahu dan dua ember air di kaki, dan bahwa aku belum mandi, dan bahwa dia bisa melihat seluruh isi petak nomor empat dari tempatnya berdiri karena pintunya terbuka.

“Kamu nggak nanya aku ngapain ke sini,” katanya.

“Kamu bakal cerita sendiri.”

“Ya iya.” Dia mengangkat tas kresek. “Ini dari ibuku. Dia bikin banyak. Nggak habis.”

Aku melihat tas kresek itu.

Isinya kotak makan tiga tingkat, jenis yang dipakai orang untuk hantaran, dengan tutup yang masih hangat.

“Liz.”

“Jangan.”

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Kamu udah mau ngomong ’nggak usah’.” Dia menyodorkannya lebih dekat. “Aku bawa ini naik angkot dua kali. Kalau kamu tolak, aku bawa pulang, terus ibuku nanya, terus aku harus jelasin, terus dia bakal ke sini sendiri minggu depan. Kamu mau begitu?”

Aku mengambilnya.

“Nah.” Dia menepuk tangannya. “Gampang, kan?”


Dia tidak mau masuk. Dia bilang tidak enak. Jadi kami duduk di teras — kalau bisa disebut teras; lebarnya semeter, dari semen, dengan satu bangku panjang dari papan yang kupasang sendiri bulan lalu.

Alina keluar dalam waktu sembilan detik.

Aku tidak melebih-lebihkan. Anak itu keluar dari dalam rumah begitu cepat sampai aku curiga dia sudah menunggu di balik pintu sejak Eliza memanggil namaku dari mulut gang.

Dia berdiri di sebelahku. Bukan di sebelah bangku. Di sebelahku, menempel, dengan tangan memegang lengan kausku.

“Ayah, ini siapa?”

“Teman Ayah.”

“Teman apa?”

“Teman sekolah.”

“Sekolahnya kan udah nggak.”

Aku merasakan sesuatu di tengkukku. Eliza tidak mengubah ekspresinya sedikit pun, tapi dia melihat ke arah lain selama satu detik penuh.

“Halo,” kata Eliza kepada Alina. “Namamu siapa?”

“Alina.”

“Kelas berapa?”

“Tiga.”

“Aku Eliza.”

Alina menatapnya. Lama. Dengan cara yang biasanya cuma dilakukan orang dewasa yang sedang menilai harga barang.

“Mbak Eliza pacarnya Ayah?”

“Lin.”

“Nanya doang.”

“Bukan,” kata Eliza, dengan sangat tenang. “Aku temennya.”

“Oh.” Alina mengangguk. Lalu, tanpa jeda: “Ayah nggak punya pacar.”

“Lin.”

“Kenapa? Kan bener.”

Aku menutup mata sebentar.

Waktu aku membukanya lagi, Kanaya sudah berdiri di ambang pintu.

Aku tidak mendengarnya datang. Dia memang begitu; sepuluh tahun aku tinggal dengan anak itu dan aku tidak pernah sekali pun mendengarnya masuk ke ruangan.

“Selamat pagi,” katanya.

“Eh, hai.” Eliza tersenyum. “Kamu Kanaya, ya?”

“Iya.” Dia melihat tas kresek di lantai. “Itu dibawa Mbak?”

“Iya. Dari ibuku.”

“Terima kasih.” Kanaya membungkuk sedikit. Sopan sekali. Lalu, dengan nada yang sama persis: “Mbak dari mana?”

“Dari Perumahan Griya Asri. Yang deket SMA.”

“Oh, yang ada satpamnya.”

“Iya.”

“Jauh, ya.”

“Lumayan.”

Kanaya mengangguk pelan.

“Mbak kenal Kakak dari kelas satu?”

“Iya.”

“Berarti Mbak tahu kalau Kakak berhenti sekolah.”

Ruang di teras itu jadi sunyi dengan cara yang sangat spesifik.

“Nay,” kataku.

“Aku nanya biasa aja, Kak.”

“Iya,” kata Eliza. “Aku tahu.”

“Terus Mbak nggak ke sini waktu itu?”

“Kanaya.”

“Nggak apa-apa, Damar.” Eliza menoleh ke Kanaya, dan dia menjawabnya lurus, tanpa dibuat manis. “Aku nggak tahu rumahnya. Aku nanya ke tiga orang, nggak ada yang tahu. Baru minggu ini aku dapat alamatnya dari TU.”

Kanaya menatapnya beberapa detik.

Lalu dia berkata, “Aku bikinin teh,” dan masuk ke dalam.

Alina masih memegang lengan kausku.


“Mereka jagain kamu,” kata Eliza, setelah Kanaya masuk dan Alina akhirnya dipanggil untuk membantu di dapur, dengan nada suara yang menunjukkan bahwa membantu di dapur adalah kata sandi untuk sesuatu yang lain.

“Hah?”

“Yang kecil megang lenganmu dari tadi. Yang besar interogasi aku tiga pertanyaan.”

“Mereka cuma nggak biasa ada tamu.”

Eliza menoleh kepadaku dengan ekspresi yang tidak bisa kuartikan waktu itu, dan yang baru bisa kuartikan sepuluh tahun kemudian.

“Iya,” katanya. “Pasti gitu.”

Dia membuka tas kainnya.

Isinya buku. Empat buku tulis tebal, bersampul kertas cokelat, dengan label yang ditulis rapi: Matematika. Ekonomi. Sosiologi. Sejarah.

“Ini apa?”

“Catetanku. Dari Agustus sampai sekarang.”

Aku tidak mengambilnya.

“Liz.”

“Aku nggak nyuruh kamu balik sekolah.” Dia meletakkannya di bangku, di antara kami. “Aku tahu kamu nggak bisa. Aku udah berhenti mikir kamu bisa.”

“Terus ini buat apa?”

“Buat nanti.” Dia mengetuk sampul yang paling atas. “Ada yang namanya ujian kesetaraan. Paket C. Nggak harus masuk kelas, cuma ikut ujiannya. Bisa kapan aja. Bisa umur dua puluh, bisa umur tiga puluh.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Aku udah nanya ke dinas bulan lalu.”

Eliza berhenti.

“Terus?”

“Biayanya empat ratus. Belum bimbelnya.”

Aku melihat empat buku itu di bangku.

Dan aku ingin mengambilnya. Aku ingin sekali mengambilnya. Aku ingat berapa besar keinginan itu, dan aku ingat betapa cepat aku mematikannya, karena aku sudah belajar sejak Oktober bahwa keinginan yang tidak bisa dibayar itu lebih berbahaya daripada tidak punya keinginan sama sekali.

“Simpan aja dulu di kamu, Liz.”

“Damar—“

“Di sini bocor.” Aku menunjuk ke atas, ke bagian atap yang seng-nya bergeser. “Yang belakang. Kalau hujan gede, air masuk sampai ke tengah. Buku bakal rusak.”

Itu benar. Setiap kata dari kalimat itu benar.

Itu juga bukan alasannya, dan kami berdua tahu.

Eliza memandangi buku-buku itu. Lalu dia memasukkannya kembali ke tas kain, satu per satu, pelan-pelan.

“Ya udah,” katanya. “Aku simpen.”

“Makasih, Liz.”

“Aku simpen,” ulangnya. “Bukan aku buang.”


Dia pulang jam sebelas.

Aku mengantarnya sampai mulut gang. Tidak lebih, karena aku baru mandi dan sandalku cuma satu pasang dan talinya masih dikawat.

Di mulut gang, dekat warung Bu Ratih, dia berhenti.

“Damar.”

“Hm.”

“Boleh nanya satu?”

“Boleh.”

“Kamu tidur berapa jam sehari?”

Aku membuka mulut untuk menjawab, dan aku sadar aku tidak tahu.

Bukan tidak ingat. Tidak tahu. Aku belum pernah menghitungnya. Aku menghitung uang setiap malam, aku menghitung keranjang setiap subuh, aku menghitung hari sampai gajian, dan tidak sekali pun terpikir olehku untuk menghitung yang satu itu.

“Empat?” kataku. “Lima.”

“Yang mana?”

“Nggak tahu.”

Eliza mengangguk, seperti itu jawaban yang dia harapkan.

“Ya udah,” katanya. “Aku pulang.”

“Liz.”

“Hm?”

Aku ingin mengatakan terima kasih. Aku ingin mengatakan sesuatu yang lebih besar dari terima kasih, dan aku tidak punya kata-katanya, dan bahkan kalau punya aku tidak akan berani.

“Salam buat ibumu.”

Dia tertawa, satu kali, pendek.

“Iya,” katanya. “Nanti aku sampaikan.”

Dia naik angkot dan pergi.

Aku pulang ke petak nomor empat.

Kanaya sedang memindahkan isi kotak tiga tingkat itu ke piring-piring kami, supaya kotaknya bisa dicuci dan dikembalikan.

Alina sudah duduk di lantai dengan piring di pangkuan.

“Ayah! Ada ayam!”

“Iya.”

“Ada ayam DUA.”

“Iya, Lin.”

Aku duduk. Kanaya menyodorkan piring ketiga kepadaku.

Dan aku menerimanya, dan aku makan, karena hari itu ada cukup untuk bertiga.

Aku ingat bahwa aku sangat menikmatinya. Aku ingat rasanya. Aku ingat bahwa aku makan pelan-pelan supaya lebih lama.

Dan aku ingat, dua hari kemudian, waktu kotak tiga tingkat itu sudah kosong dan sudah dicuci dan berdiri di rak menunggu dikembalikan, aku berdiri di dapur selebar satu setengah meter itu dan menyadari sesuatu yang membuatku berhenti bergerak:

Aku belum digaji tiga bulan.