Chapter Thirty One
Gunting Dapur
POV: Alina
Aku mulai memotong rambut Ayah waktu umurku sepuluh.
Bukan karena aku bisa. Aku sama sekali tidak bisa. Aku mulai karena tukang cukur di gang sebelah naik jadi delapan ribu dan Ayah bilang nanti aja, dan “nanti aja” itu berjalan lima minggu sampai rambutnya menutupi telinga dan dia mulai mengikatnya ke belakang dengan karet gelang waktu kerja.
Aku bilang aku bisa.
Aku bohong.
Hasil potongan pertamaku, kalau dilihat dari belakang, seperti ada tangga di tengah kepalanya. Mbak Kanaya melihatnya dan langsung masuk kamar dan aku dengar dia batuk-batuk aneh di dalam yang kemudian aku sadari itu dia menahan tawa, yang mana adalah kejadian langka setingkat gerhana.
Ayah melihat cermin, mengangguk, dan bilang, “Bagus.”
Terus dia pakai topi selama dua minggu.
Delapan tahun kemudian aku masih yang memotong dan hasilnya masih miring, dan tukang cukur di gang sebelah sekarang lima belas ribu, dan Ayah masih bilang bagus.
Hari Minggu, jam empat sore.
Aku menyeret kursi plastik ke teras. Aku mengambil handuk lama, gunting dapur, dan sisir yang giginya sudah tinggal setengah.
“Yah.”
“Iya.”
“Duduk.”
“Bentar.”
“Sekarang.”
Dia duduk.
Aku melingkarkan handuk ke lehernya dan menjepitnya dengan jepitan jemuran, karena kami tidak punya kain cukur dan tidak akan pernah punya.
Teras petak nomor empat lebarnya semeter. Kalau ada yang lewat di gang, mereka harus miring. Sepanjang sore itu ada mungkin dua belas orang lewat dan semuanya menyapa dan sebagian berhenti untuk berkomentar, karena begitulah gang ini.
“Wah, dicukur, Le.”
“Nggih, Bu.”
“Sing mburi kae rada munggah, Nduk.” (“Yang belakang itu agak naik, Nak.”)
“Iya, Bu, ini lagi dibenerin.”
Itu bohong. Aku tidak sedang membenarkan apa-apa. Aku tidak tahu cara membenarkannya.
Aku memotongnya pelan-pelan.
Rambut Ayah kasar dan tebal dan tumbuhnya cepat. Kalau digunting, bunyinya renyah.
Aku mulai dari samping kanan, seperti biasa, karena aku pernah mencoba mulai dari belakang dan hasilnya lebih buruk lagi.
Dan di situ aku melihatnya.
Di dekat pelipis kanan, sekitar tiga sentimeter di atas telinga.
Uban.
Bukan satu. Ada empat. Berdekatan, di satu titik, putih semua.
Aku berhenti menggunting.
“Kenapa?” tanyanya.
“Nggak apa-apa.”
Aku menyisirnya lagi ke arah lain supaya tertutup.
Umurnya dua puluh tujuh.
Aku tahu itu bukan hal aneh; ada anak di kampusku yang ubanan dari SMA. Aku tahu itu bisa keturunan.
Cuma aku juga tahu — dan ini yang membuat guntingnya jadi berat di tanganku — bahwa aku memotong rambut orang ini delapan tahun dan aku belum pernah melihatnya sebelumnya.
“Lin.”
“Hm?”
“Kok berhenti.”
“Bentar. Ini bagian susahnya.”
Aku melanjutkan.
Aku memotong empat helai itu paling terakhir, sengaja, supaya aku bisa memegangnya sebentar dulu di antara jari sebelum jatuh ke handuk.
Selesai potong rambut, aku selalu potong kuku.
Ini urutan yang tidak pernah berubah sejak aku sembilan tahun dan tidak pernah ada yang menjelaskan kenapa. Rambut dulu, baru kuku. Kalau dibalik rasanya salah.
Aku duduk di lantai teras. Ayah tetap di kursi.
Aku menarik tangannya turun dan meletakkannya di pangkuanku.
Tangan Ayah itu — aku tidak tahu cara menjelaskannya kepada orang yang belum pernah memegangnya.
Telapaknya keras seperti sol sepatu. Bukan kiasan. Kalau aku menekan dengan ibu jari, kulitnya tidak masuk. Warnanya beda dari kulit lengannya, lebih gelap dan lebih kuning, dan garis-garisnya dalam sekali dan tidak pernah hilang meskipun tangannya dibuka.
Ada bekas di pangkal jari telunjuk kanan, memanjang, sekitar dua sentimeter. Itu dari besi cor tahun lalu. Dijahit empat di puskesmas, katanya. Aku tidak melihat waktu kejadiannya karena aku baru tahu tiga hari kemudian.
Kukunya tebal dan kuning di ujung dan selalu ada semen di bawahnya yang tidak bisa hilang meskipun dicuci.
Aku mulai dari kelingking, seperti biasa.
“Lin.”
“Hm.”
“Nggak usah tiap minggu.”
“Kalau nggak tiap minggu nanti panjang.”
“Ya biarin panjang.”
“Nanti kotor.”
“Emang udah kotor.”
“Ya makanya.”
Dia diam.
Aku memotong kuku jempolnya, yang paling tebal, yang selalu butuh dua kali tekan.
“Lin.”
“Apa lagi.”
“Kamu nggak jijik?”
Aku mengangkat kepalaku.
Dia tidak menatapku. Dia menatap gang.
“Jijik apa?”
“Ya ini.” Dia menggerakkan jarinya sedikit. “Tangannya.”
Dan aku tidak menjawab, karena kalau aku menjawab aku akan menangis di teras dan itu akan membuat semuanya jadi acara besar, dan aku sudah belajar dari Mbak Kanaya bahwa di rumah ini hal-hal besar diselesaikan dengan tidak dijadikan besar.
Jadi aku memotong kuku jari manisnya.
Terus aku bilang, “Jijik banget. Makanya aku ngerjain ini tiap minggu delapan tahun. Karena jijik.”
Ayah mengeluarkan bunyi dari hidungnya.
“Iya, ya,” katanya.
“Ho-oh.”
Aku memotret dia sore itu.
Aku tidak menuliskan ini di mana pun sebelumnya dan aku tidak pernah menceritakannya ke siapa-siapa sampai bertahun-tahun kemudian.
Waktu dia masuk ke dalam untuk mengambil air, aku mengeluarkan HP-ku.
Dan waktu dia keluar lagi dan duduk dan menyandarkan kepalanya ke tembok dan memejamkan mata — dua menit, dia selalu begitu setelah potong rambut, dua menit persis — aku memotretnya.
Tanpa suara. Aku sudah mematikan bunyinya sejak dulu.
Satu foto. Lalu satu lagi.
Aku punya empat ratus lebih waktu itu.
Ayah tidur di tikar. Ayah makan. Ayah menghitung uang. Ayah membetulkan rantai sepeda yang sudah tidak ada karena sepedanya sudah dijual waktu motor dibeli. Ayah memakai kemeja batik Mas Haryo di halaman kampus Semarang, diambil dari jarak dua puluh meter, membelakangi kamera.
Aku tidak pernah menunjukkannya kepada siapa pun. Aku tidak pernah mengunggahnya. Aku tidak pernah menyetelnya jadi wallpaper.
Aku cuma mengambilnya.
Dan kalau ada yang bertanya waktu itu kenapa, aku tidak akan bisa menjawab.
Mbak Kanaya pulang jam lima kurang.
Dia berjalan masuk gang dengan tas kantor di bahu dan sepatu hitam yang solnya ketuk-ketuk di semen.
Dia berhenti di depan teras.
Aku sedang memotong kuku jari kelingking tangan kiri, yang terakhir.
“Sore, Mbak.”
“Sore.”
Ayah membuka matanya. “Nay. Udah pulang?”
“Iya.”
Dia tidak masuk.
Dia berdiri di situ, di gang, di depan teras, dengan tas masih di bahu.
Dan aku tahu — aku tahu dari cara dia berdiri, karena Mbak Kanaya tidak pernah berdiri di suatu tempat tanpa alasan — bahwa dia sedang menonton.
Aku menyelesaikan kelingking terakhir.
“Udah,” kataku, dan menepuk punggung tangan Ayah dua kali, yang mana adalah kode kami yang artinya selesai.
Ayah menarik tangannya dan melihat kukunya sendiri.
“Rapi.”
“Ya iyalah.”
“Yang rambut miring.”
“YAH.”
Dia tertawa dan berdiri dan masuk ke dalam sambil melepas handuk dari lehernya.
Dan Mbak Kanaya masih berdiri di gang.
“Mbak.”
“Hm.”
“Masuk, nggak?”
Dia masuk.
Dia menaruh tasnya. Dia melepas sepatunya dan menaruhnya di rak, sejajar, ujungnya rata, seperti biasa.
Terus dia keluar lagi ke teras, di mana aku sedang menyapu rambut.
Dia berdiri di ambang pintu.
“Lin.”
“Hm?”
“Kamu nggak risih?”
Aku berhenti menyapu.
Ini kalimat yang persis sama dengan yang diucapkan Ayah dua puluh menit sebelumnya, dan aku ingat merasa aneh sekali mendengarnya dua kali dalam satu sore dari dua orang yang tidak saling bicara.
“Risih apa?”
“Itu.” Dia mengangkat dagunya ke arah gunting dan potongan kuku di lantai. “Megang-megang.”
Dan aku menatapnya.
Mbak Kanaya dua puluh dua tahun. Rambutnya diikat rapi. Kemejanya kemeja kantor yang disetrika sendiri jam lima pagi karena dia masih bangun jam empat meskipun sudah tidak perlu.
Dia menanyakannya dengan nada datar. Nada yang sama seperti waktu dia bertanya sudah makan atau belum.
Dan aku mengerti.
Aku tidak tahu bagaimana aku mengerti. Aku bukan orang pintar; Mbak yang pintar. Tapi aku mengerti dalam satu detik, dengan sangat jelas, dan aku hampir menjatuhkan sapunya.
“Mbak.”
“Apa.”
“Mau nggak?”
Dia mengerjap.
“Apa?”
“Yang belakang belum rapi.” Aku mengangkat gunting itu. “Serius. Miring. Mbak kan rapi orangnya.”
Kanaya menatap gunting di tanganku.
Tiga detik. Empat.
Dan aku melihatnya. Aku bersumpah aku melihatnya — tangannya bergerak. Naik sedikit. Sekitar dua sentimeter dari sisi badannya.
Lalu berhenti.
Lalu turun.
“Nggak usah,” katanya. “Aku nggak bisa.”
“Gampang kok, Mbak. Tinggal—“
“Aku mau mandi.”
Dan dia masuk.
Aku duduk di teras sendirian sampai magrib.
Aku memikirkan hal ini bertahun-tahun sesudahnya dan aku masih belum yakin aku benar. Tapi ini yang aku pikirkan, waktu itu, umur delapan belas, dengan sapu di tangan:
Mbak Kanaya membayar kontrakan. Mbak yang mendaftarkan BPJS. Mbak yang membelikan sepatu tiga ratus sembilan puluh ribu dan marah sampai teriak waktu sepatunya disimpan di kotak.
Aku memotong rambut jelek dan memotong kuku dan mengoleskan minyak kayu putih terlalu banyak ke punggungnya sampai bajunya basah.
Dan kalau ditanya siapa yang lebih sayang, semua orang akan menjawab Mbak Kanaya, dan mereka benar.
Cuma ada satu hal yang tidak bisa dibeli Mbak Kanaya, dan itu adalah izin untuk menyentuh.
Karena izin itu bukan dari Ayah.
Ayah tidak pernah menolak siapa pun. Kalau Mbak duduk di lantai dan menarik tangannya, dia akan menyerahkannya, dan dia bahkan tidak akan bertanya kenapa.
Izin itu dari diri Mbak sendiri.
Dan sepuluh tahun lalu, di suatu malam yang tidak pernah dia ceritakan kepadaku, anak berumur dua belas tahun itu memutuskan sesuatu tentang berpura-pura tidur — dan aku pikir, kalau kamu memutuskan sesuatu seperti itu waktu umur dua belas dan kamu memegangnya sepuluh tahun tanpa sekali pun melanggar, kamu tidak bisa berhenti hanya karena adikmu menyodorkan gunting di teras pada suatu Minggu sore.
Kamu butuh sesuatu yang lebih besar dari itu.
Dan waktu itu belum datang.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur reading
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku