Chapter Thirty Three
Empat Sebelumnya
POV: Kanaya
Sebelum Eliza ada empat orang.
Aku akan menuliskan keempatnya, karena kalau tidak, apa yang kulakukan di bab ini akan terlihat seperti kekejaman yang muncul tiba-tiba.
Yang pertama, tahun ketiga. Namanya Yuni, anak pemilik toko kelontong di gang seberang. Umurnya sembilan belas, Om Damar dua puluh. Dia mulai menitipkan gorengan setiap kali Om Damar lewat, dan dia mulai berdiri di depan tokonya jam tujuh pagi, yang mana bukan jam buka toko itu.
Aku lima belas dan aku tidak melakukan apa-apa, karena aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Yang menyelesaikannya adalah Om Damar sendiri, dengan cara yang paling tidak disengaja di dunia: dia tidak menyadarinya. Sama sekali. Selama tujuh bulan. Sampai Yuni menyerah dan menikah dengan orang dari Ngadirejo dua tahun kemudian.
Yang kedua, tahun kelima. Mbak Tanti, kasir di rumah makan Padang tempat Om Damar mencuci piring. Umurnya dua puluh delapan waktu itu, janda, satu anak.
Dia baik. Aku menulis itu dan aku menulisnya dengan sungguh-sungguh: dia orang baik. Dia menyisihkan makanan untuk Om Damar setiap malam dan tidak pernah bilang itu untuk dia.
Aku tujuh belas. Aku datang ke rumah makan itu sekali, sore, sendirian, pura-pura mencari Om Damar.
Aku bicara dengan Mbak Tanti tujuh menit.
Aku tidak mengatakan satu pun hal yang kasar. Aku bertanya tentang anaknya. Aku bertanya berapa umurnya. Aku bercerita bahwa adikku baru masuk SMP dan bahwa biayanya naik terus. Aku menyebutkan bahwa kami bertiga tinggal di satu kamar. Aku menyebutkan bahwa Om Damar belum pernah berlibur.
Aku menyusun tujuh menit itu selama tiga hari sebelumnya.
Dua minggu kemudian Mbak Tanti pindah kerja ke rumah makan lain.
Aku menyesali yang itu.
Aku ingin mencatat bahwa aku menyesalinya, dan bahwa aku masih menyesalinya sampai sekarang, dan bahwa aku tidak akan berpura-pura tidak.
Yang ketiga, tahun ketujuh. Rika, adiknya Pak Bejo dari proyek. Aku sedang kuliah di Semarang. Alina yang menanganinya, dengan metode Alina, yang akan dijelaskan di bab berikutnya dan yang tidak melibatkan satu pun kalimat sopan.
Yang keempat, tahun kesembilan. Mbak Novi, guru les privat Alina, dua puluh enam.
Yang ini kami kerjakan berdua untuk pertama kalinya.
Kami tidak merencanakannya. Kami tidak pernah merencanakan apa pun. Aku pulang dari Semarang untuk libur semester dan dalam empat hari kami sudah bekerja seperti dua orang yang pernah dilatih bersama.
Alina di depan. Berisik, menempel, muncul di tengah-tengah, memanggil “Ayah” dengan volume yang tidak wajar untuk jarak dua meter.
Aku di belakang. Sopan, ramah, dan menanyakan tiga sampai lima pertanyaan yang semuanya wajar kalau berdiri sendiri.
Mbak Novi berhenti mengajar setelah lima minggu dengan alasan jadwal.
Aku sudah memikirkan ini berkali-kali dan aku akan menuliskan kesimpulannya dengan jujur.
Aku tidak melakukannya karena aku ingin memiliki Om Damar.
Itu tuduhan yang pernah dilontarkan orang kepada kami — bukan langsung, tapi lewat sindiran, lewat lelucon, lewat kalimat nanti nggak ada yang mau sama dia gara-gara kalian.
Bukan itu.
Aku melakukannya karena aku tahu satu hal tentang orang itu yang tidak diketahui siapa pun yang mendekatinya:
Om Damar tidak bisa menolak.
Dia tidak punya kemampuan itu. Kalau ada yang datang, dia akan menerima. Kalau ada yang butuh, dia akan memberi. Kalau ada perempuan yang menyukainya dan orang itu tidak baik — tidak jahat, cuma tidak baik, cuma orang biasa yang ingin punya suami yang pulang jam enam — maka dalam dua tahun orang itu akan mulai bertanya kenapa suaminya menanggung dua anak yang bukan anaknya.
Dan Om Damar akan minta maaf.
Dan dia akan tetap menanggung kami, dan dia akan tetap minta maaf, dan dia akan melakukannya selama tiga puluh tahun berikutnya sampai badannya habis.
Aku tidak menjaga dia untuk diriku.
Aku menjaga dia dari kebiasaannya sendiri.
Aku menghubungi Eliza Wirawan hari Sabtu.
Aku mendapatkan nomornya dari papan proyek di depan rumah blok C nomor sebelas, yang mencantumkan nama konsultan dan nomor kontak, dan yang bisa dilihat siapa saja yang lewat.
Selamat siang, Mbak Eliza. Saya Kanaya, keponakannya Damar. Apakah Mbak ada waktu ketemu sebentar hari ini atau besok?
Balasannya masuk dalam empat menit.
Halo Kanaya. Hari ini bisa. Jam berapa dan di mana?
Tidak ada tanda tanya. Tidak ada ada apa ya?. Tidak ada maaf ini soal apa?
Aku menatap layar itu agak lama.
Empat orang sebelumnya, semuanya, bertanya ada apa.
Kami bertemu di kafe di dekat alun-alun, jam empat sore.
Dia sudah di sana waktu aku datang. Duduk di dekat jendela, dengan tas kerja dan tabung gambar di kursi sebelahnya, tidak memegang telepon.
Aku duduk.
“Makasih udah mau ketemu, Mbak.”
“Iya.” Dia menutup buku catatannya. “Kamu mau pesen dulu?”
“Nanti.”
“Oke.”
Dan lalu dia menunggu.
Itu bagian pertama yang tidak sesuai rencana. Empat orang sebelumnya mengisi jeda. Semua orang mengisi jeda. Orang yang gugup bicara, orang yang tidak gugup bicara lebih banyak.
Eliza Wirawan meletakkan kedua tangannya di meja dan menunggu.
“Mbak,” kataku. “Saya mau nanya beberapa hal. Boleh?”
“Boleh.”
“Mbak nggak nanya kenapa?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Dia mengangkat bahu sedikit. “Karena aku udah tahu kenapa.”
Aku membuka teleponku, lalu menutupnya lagi. Kebiasaan buruk yang muncul kalau aku kehilangan tempat berpijak.
“Ya sudah,” kataku. “Saya langsung.”
”Mbak di Wonoyoso sampai kapan?”
“Nggak tahu.”
“Nggak tahu itu berapa lama?”
“Bapakku stroke Februari. Kalau ada yang kedua, dokternya bilang kemungkinan besar dia nggak jalan lagi.” Dia menjawabnya tanpa jeda. “Jadi jawabannya: sampai bapakku meninggal, minimal. Sesudah itu aku nggak tahu.”
“Terus kalau bapak Mbak meninggal, Mbak balik ke Surabaya?”
“Mungkin.”
“Mungkin?”
“Iya, mungkin.” Dia menatapku. “Kamu mau aku bilang nggak akan? Aku nggak akan bilang gitu. Aku nggak tahu.”
Aku mencatat itu di kepalaku.
”Mbak tahu gajinya berapa?”
“Nggak persis.”
“Kira-kira?”
“Kalau dari borongan proyek yang aku bayar, sekitar seratus dua puluh sehari. Ditambah pasar sama cuci piring, mungkin tiga sampai tiga setengah juta sebulan.”
Aku berhenti.
Dia menghitungnya benar. Meleset dua ratus ribu ke atas.
“Mbak ngitung?”
“Aku arsitek. Aku ngitung upah tukang tiap hari.”
”Mbak tahu dia nanggung dua orang?”
“Iya.”
“Yang satu udah kerja. Yang satu masih kuliah dua koma empat juta per semester.”
“Iya.”
“Dan dia masih bayar sewa dua ratus dua puluh ribu di rumah satu kamar.”
“Iya.”
“Mbak tahu semua itu.”
“Bu Ratih cerita.” Dia meraih gelasnya. “Dua jam empat puluh menit.”
Aku menyiapkan sembilan pertanyaan.
Aku sampai di nomor lima dan aku sudah tahu ini tidak berjalan seperti yang sudah-sudah.
Karena empat orang sebelumnya, di titik ini, sudah mulai menjelaskan. Mereka akan bilang aku nggak masalah kok atau aku ngerti situasinya atau kalimat lain yang bentuknya adalah janji.
Eliza tidak menjanjikan apa pun.
Dia cuma menjawab.
Jadi aku melompat ke nomor sembilan.
”Mbak pernah kasihan sama dia?”
Dan untuk pertama kalinya sepanjang sore itu, dia berhenti.
Dia menaruh gelasnya. Dia menatap ke luar jendela, ke alun-alun, ke anak-anak yang main bola di rumput yang sudah gundul.
Aku menunggu.
Aku sudah tahu jawabannya. Ada dua kemungkinan dan dua-duanya menutup pintu.
Kalau dia bilang nggak pernah, dia bohong, dan aku akan tahu.
Kalau dia bilang iya, selesai. Karena orang yang mendekati Om Damar karena kasihan akan pergi begitu kasihannya habis, dan kasihan selalu habis.
“Iya,” katanya.
“Iya?”
“Iya. Pernah.” Dia menoleh kembali kepadaku. “Hari pertama. Di toko material. Aku duduk di mobil dua puluh menit dan yang aku pikirin cuma kenapa dia masih di sini.”
Aku tidak bicara.
“Terus aku ke warung Bu Ratih sorenya. Terus aku pulang dan nangis di lantai kamar.” Dia mengatakannya dengan datar, tanpa satu pun usaha membuatnya terdengar bagus. “Itu kasihan, Kanaya. Aku nggak akan nyebut itu hal lain.”
“Terus sekarang?”
“Sekarang nggak.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang aku kasihanin di mobil itu nggak ada.” Dia mengangkat bahunya sedikit. “Aku bikin dia di kepalaku. Laki-laki miskin yang capek, yang perlu ditolong. Terus aku kerja sama dia tiga minggu.”
“Terus?”
“Terus ternyata dia yang paling ngerti gambar di antara semua tukang yang pernah aku pakai. Termasuk yang di Surabaya, yang bayarannya empat kali lipat.” Dia meraih gelasnya lagi. “Hari kesembilan dia nunjukin ke aku bahwa detail kusen yang aku gambar nggak akan bisa dipasang, dan dia bener, dan aku harus gambar ulang.”
Aku menatapnya.
“Susah kasihan sama orang yang mengoreksi gambarmu,” katanya.
Aku kehabisan pertanyaan.
Aku duduk di kafe itu dengan sembilan pertanyaan yang sudah habis dan tidak satu pun yang menghasilkan apa yang seharusnya dihasilkan, dan aku sedang menyusun cara mengakhiri percakapan ini dengan sopan.
Lalu Eliza berkata:
“Boleh aku nanya satu?”
“Boleh.”
“Satu aja.”
“Iya, Mbak.”
Dia meletakkan gelasnya.
“Kamu pernah nanya dia mau apa?”
Aku tidak mengerti.
“Maksudnya?”
“Mau apa. Buat dirinya sendiri.” Dia menatapku, dan tatapannya tidak menantang sama sekali; itu yang membuatnya lebih buruk. “Bukan mau makan apa. Bukan mau dibeliin apa. Mau apa.”
Kafe itu berisik. Ada mesin kopi. Ada dua meja di belakang kami yang tertawa.
“Sepuluh tahun,” katanya. “Pernah nggak?”
Aku membuka mulutku.
Dan aku mulai menyusun jawabannya, seperti aku menyusun semua jawaban, dengan mengurutkan bukti — sepatu, BPJS, kontrakan, rekening, dokter, tahap satu sampai empat, enam puluh tiga juta empat ratus delapan belas ribu.
Dan setiap satu yang muncul di kepalaku adalah barang.
Setiap satu.
Sepuluh tahun.
“Aku belum pesen,” kataku.
“Kanaya.”
“Saya mau kopi. Mbak mau tambah?”
Eliza menatapku beberapa detik.
Lalu dia mengangkat tangannya memanggil pelayan, dan tidak mengulangi pertanyaannya, dan tidak menyebutkannya lagi sampai kami berpisah empat puluh menit kemudian.
Dia bahkan mengantarku ke parkiran dan mengucapkan terima kasih sudah menemuinya.
Aku pulang dan aku tidak bisa tidur sampai jam dua pagi, dan aku sudah lama sekali tidak begitu.
Aku mengirim satu pesan ke Alina jam sebelas malam, dari kamar, sementara anak itu tidur satu meter di sebelahku.
Aku tidak tahu kenapa aku mengirimnya lewat pesan.
Lin. Yang ini beda.
Balasannya masuk jam tujuh pagi, waktu dia bangun.
Beda gimana?
Dan aku tidak membalas, karena aku belum punya jawabannya, dan karena jawaban yang sebenarnya baru kutemukan tiga bulan kemudian dan bentuknya bukan kalimat.
Yang bisa kutuliskan sekarang cuma ini:
Empat orang sebelumnya mundur karena aku menunjukkan kepada mereka betapa beratnya orang itu.
Eliza Wirawan sudah menghitungnya sendiri sebelum aku sampai.
Dan satu-satunya pertanyaan yang dia ajukan kepadaku sepanjang sore itu adalah pertanyaan yang tidak bisa kujawab.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya reading
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku