Chapter Thirty Six
Empat Jam
POV: Damar
Hari itu tidak ada yang istimewa.
Aku ingin mencatat itu karena orang biasanya mengira hal-hal seperti ini terjadi setelah sesuatu yang besar. Setelah kecelakaan, setelah kabar buruk, setelah malam tanpa tidur.
Bukan.
Hari Selasa, minggu keempat Desember. Pasar jam dua sampai enam. Pulang, antar Alina jam tujuh, sarapan tidak, langsung ke Griya Asri jam delapan.
Sama seperti hari Senin. Sama seperti hari Sabtu. Sama seperti empat ribu hari sebelumnya.
Yang berbeda cuma satu: hari itu pekerjaan berhenti di tengah.
Pipa air utama di blok C bocor dan PDAM menutup salurannya dari jam sebelas. Tanpa air, tidak ada aduk semen, tidak ada apa-apa.
Mas Haryo menyuruh semua pulang.
“Sesuk esuk ae. Ora ana banyu, ora ana kerja.” (“Besok pagi saja. Tidak ada air, tidak ada kerja.”)
Semua pulang.
Aku tidak, karena shift-ku jam enam dan pulang ke gang berarti empat kilometer bolak-balik dengan bensin yang harus dihitung, dan karena aku masih harus merapikan potongan keramik di teras belakang yang tidak butuh air.
Jadi aku merapikan potongan keramik.
Selesai jam setengah dua belas.
Lalu aku duduk di teras belakang rumah blok C nomor sebelas, di lantai, bersandar ke tembok, untuk istirahat sebentar.
Itu bagian terakhir yang aku ingat.
Aku bangun karena cahaya berubah.
Bukan karena suara. Bukan karena disentuh. Cahaya di kelopak mataku berubah dari terang jadi oranye, dan tubuhku bangun sendiri seperti biasa.
Aku membuka mata.
Aku masih duduk. Punggungku masih di tembok. Leherku sakit sekali karena kepalaku miring ke kanan dan bertahan di situ entah berapa lama.
Ada sesuatu di badanku.
Selimut. Kain tipis, warnanya biru muda, dilipat dan disampirkan dari bahu sampai lutut.
Dan di sebelahku, di lantai, ada gelas air putih dengan piring kecil menutupinya supaya tidak kemasukan debu.
Aku menatapnya.
Lalu aku menoleh ke arah pintu.
Eliza duduk di ambang pintu belakang, membelakangi aku, di lantai, dengan laptop di pangkuannya dan tumpukan kertas di sebelah kirinya.
Aku bergerak dan dia langsung menoleh.
“Jangan buru-buru berdiri,” katanya. “Nanti pusing.”
“Jam berapa.”
“Damar—“
“Jam berapa, Liz.”
Dia melihat layarnya.
“Setengah empat.”
Aku berdiri terlalu cepat dan langsung merasakan seluruh ruangan miring ke kiri.
“Damar.”
“Empat jam.”
“Duduk dulu.”
“Aku tidur empat jam.”
“Iya.”
Aku berdiri di teras belakang itu dengan tangan menempel di tembok, dan aku mengerjakan sesuatu di kepalaku yang tidak bisa selesai.
Empat jam.
Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali. Bukan tidur malam — tidur malam aku dapat empat jam hampir setiap hari, dari jam sebelas lewat sampai jam satu, ditambah kadang setengah jam sebelum berangkat proyek.
Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku tidur empat jam berturut-turut tanpa terbangun.
Aku mundur.
Bulan lalu, tidak. Tahun ini, tidak. Waktu Kanaya kuliah, tidak. Waktu Alina SMP, tidak.
Aku mundur sampai tahun pertama dan aku berhenti di sana, di kamar yang bukan kamarku lagi, di rumah yang sudah dibongkar orang lain sepuluh tahun lalu, dan aku tidak bisa mundur lebih jauh karena setelah itu aku tujuh belas tahun dan seluruh hidup ini belum dimulai.
“Damar.”
“Kenapa nggak dibangunin.”
“Karena kamu tidur.”
“Liz—“
“Aku bangunin buat apa?”
Aku menoleh kepadanya.
“Aku kerja.”
“Kerjaannya berhenti jam sebelas. Nggak ada air.”
“Aku ada shift jam enam.”
“Sekarang setengah empat.”
“Aku harus pulang dulu, mandi, terus—“
“Damar.” Dia menutup laptopnya. “Duduk dulu. Lima menit. Terus kamu boleh panik.”
Aku duduk.
Aku minum air itu. Aku menghabiskannya, dan aku baru sadar bahwa aku belum minum sejak jam sepuluh pagi dan belum makan sejak kemarin malam.
“Ibumu lihat?”
“Iya.”
“Aduh.”
“Dia mau bangunin.” Eliza memindahkan tumpukan kertasnya. “Jam satu. Dia bawa nasi ke belakang, terus lihat kamu, terus mau nepuk bahumu.”
“Terus?”
“Terus aku tahan.”
Aku menoleh.
“Kamu tahan ibumu sendiri?”
“Aku bilang jangan.”
“Terus dia bilang apa?”
“Dia bilang kok tidur di lantai, kasihan.” Eliza mengangkat bahu. “Terus aku bilang kalau dibangunin dia bakal langsung kerja lagi. Terus ibuku diem.”
Aku memegang gelas kosong itu dengan dua tangan.
“Terus tukang listriknya?”
“Datang jam dua.”
“Terus?”
“Aku suruh balik besok.”
“Liz, itu—“
“Dia dibayar harian, Damar. Aku bayar penuh. Dia seneng.”
“Tapi kerjaannya jadi mundur sehari.”
“Iya.”
“Karena aku.”
Eliza menatapku.
“Iya,” katanya. “Karena kamu.”
Dan dia mengatakannya tanpa satu pun nada minta maaf, tanpa satu pun nada kasihan, seperti orang membacakan fakta dari kertas.
Dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengan itu.
“Damar.”
“Hm.”
“Kamu batuk.”
Aku berhenti.
“Sekarang?”
“Waktu tidur.” Dia menatap layar laptopnya yang sudah tertutup. “Jam satu lewat, terus jam dua kurang, terus jam tiga.”
“Oh.”
“Tiga kali dalam empat jam. Yang terakhir lama.”
“Debu, Liz. Aku dari tadi motong keramik.”
“Kamu motong keramik pakai air.”
Aku diam.
“Damar.”
“Iya.”
“Kamu udah periksa?”
Dan ini bagian yang aku ingat paling jelas, dan yang paling aku sesali dari seluruh sore itu:
Aku berbohong tanpa satu detik pun jeda.
“Udah.”
“Kapan?”
“Tahun lalu.”
“Hasilnya?”
“Bronkitis. Dikasih obat. Udah selesai.”
Eliza menatapku cukup lama.
Dia tidak percaya. Aku tahu dia tidak percaya, karena dia tidak mengucapkan satu pun kata setelahnya, dan orang yang percaya biasanya mengucapkan sesuatu.
Tapi dia juga tidak mendesak.
Dia cuma berkata, “Oke.”
Dan aku bersyukur setengah mati waktu itu.
Dan aku menyesalinya sepuluh bulan kemudian, di ruangan dengan lampu putih dan bau alkohol, waktu aku sadar bahwa satu-satunya orang yang pernah menanyakannya secara langsung sudah kubohongi dan tidak pernah bertanya lagi.
Aku sampai di rumah makan Padang jam enam kurang sepuluh.
Aku sudah berkendara seperti orang gila dari Griya Asri dan aku sudah menyiapkan permintaan maaf selama sepuluh menit terakhir.
Bapak yang punya rumah makan itu berdiri di kasir waktu aku masuk.
“Pak, maaf—“
“Wis, wis.” Beliau melambaikan tangan. “Wis ana sing telpon mau.” (“Sudah, sudah. Tadi sudah ada yang telepon.”)
Aku berhenti.
“Telepon?”
“Bocah wadon. Jarene kowe mengko rada telat, ning tetep mlebu.” Beliau kembali ke kalkulatornya. “Aku ya wis ngomong ora papa. Wong kowe rong taun ora tau telat.” (“Anak perempuan. Katanya kamu nanti agak telat, tapi tetap masuk. Saya juga sudah bilang tidak apa-apa. Kamu dua tahun tidak pernah telat.”)
Aku berdiri di depan kasir itu.
“Beliau nyebut nama?”
“Ora.” Beliau mengangkat kepalanya. “Ngapa?”
“Nggak apa-apa, Pak.”
Aku masuk ke belakang dan mengganti bajuku dan mulai mencuci piring jam enam lewat lima.
Ada empat ratus lebih piring di rumah makan itu setiap malam.
Aku mencucinya sambil mengerjakan satu hitungan di kepalaku, berulang-ulang, dan hitungannya tidak selesai-selesai.
Empat jam.
Dia duduk di ambang pintu selama empat jam.
Aku tahu berapa nilai empat jam. Aku tahu itu lebih baik daripada hampir siapa pun. Empat jam itu satu shift penuh. Empat jam itu enam puluh ribu di rumah makan ini. Empat jam itu setengah hari borongan.
Dia menahan ibunya sendiri. Dia menyuruh pulang tukang listrik yang sudah datang dan tetap membayarnya penuh. Dia memundurkan pekerjaan rumahnya sendiri sehari.
Dan dia menelepon rumah makan ini supaya aku tidak dimarahi.
Aku mengerjakan hitungan itu sampai piring keempat ratus, dan setiap kali aku sampai di ujungnya aku menemukan hal yang sama, dan hal itu tidak masuk akal sama sekali:
Semua yang dia lakukan hari itu adalah untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun akibat yang harus kutanggung karena tidur.
Bukan supaya aku tidur.
Supaya aku tidak dihukum karena tidur.
Aku belum pernah mengalami hal seperti itu seumur hidupku, dan aku tidak punya nama untuknya, dan aku tidak tahu harus meletakkannya di mana.
Aku pulang jam setengah dua belas.
Kanaya sudah tidur. Alina masih bangun, di lantai, dengan laptop dan mi instan.
“Yah.”
“Belum tidur?”
“Bentar lagi. Yah.”
“Hm.”
Dia menoleh dari layarnya dan menatapku, dan wajahnya berubah.
“Ayah kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Muka Ayah beda.”
“Beda gimana?”
Alina meletakkan mi instannya.
Dia menatapku dari lantai selama beberapa detik, dengan dahi berkerut, seperti orang yang sedang mencocokkan sesuatu dan tidak menemukan pasangannya.
“Nggak tahu,” katanya akhirnya. “Kayak nggak capek.”
Dan dia kembali ke layarnya.
Aku berdiri di ruang depan petak nomor empat, jam setengah dua belas malam, setelah tujuh belas jam yang sama seperti empat ribu hari sebelumnya kecuali empat jam di tengahnya.
Lalu aku pergi ke dapur dan minum air, dan waktu aku menaruh gelasnya di bak, aku menyadari bahwa aku tersenyum.
Aku berhenti tersenyum sebelum berbalik.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam reading
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku