← Kakak Sudah Makan

Chapter Forty Four

Sampul Cokelat

POV: Kanaya

Alina sembilan belas tanggal tujuh belas April, hari Kamis.

Om Damar mengambil libur.

Bukan setengah hari. Sehari penuh — pasar tetap jalan karena pasar jam dua pagi dan itu tidak bisa disebut hari, tapi proyek dan shift malam dia izinkan dua-duanya.

Aku baru tahu dua hari sebelumnya, dari Alina, yang mengetahuinya dari Bu Ratih, yang mengetahuinya karena Om Damar menitip pesan lewat telepon warung ke Pak Rahmat pemilik rumah makan.

Empat lapis. Untuk mengambil libur sehari.

“Dia mau masak,” kata Alina.

“Masak apa?”

“Nggak tahu. Katanya nggak enak tapi bisa.”


Aku pulang jam lima dan rumah sudah bau bawang.

Dapur selebar satu setengah meter itu penuh. Ada tiga panci — kami cuma punya dua; yang satu pinjam dari Bu Ratih. Ada ayam. Ada telur. Ada dua ikat kangkung.

Dan ada Om Damar, dengan kaus dalam dan celana pendek, berdiri membelakangi pintu, membaca sesuatu di kertas yang ditempel di dinding dengan selotip.

Aku mendekat.

Kertasnya kertas HVS bekas. Tulisan tangannya, huruf-huruf yang berdiri lurus.

AYAM KECAP Bawang merah 8, bawang putih 4, iris. Ayam ungkep dulu 20 menit. Kecap 5 sdm. Gula 1 sdt. Garam. Api kecil. 15 menit.

Di bawahnya:

ORAK ARIK KANGKUNG

Di bawahnya lagi:

SAMBAL — Alina nggak suka pedes banget. Setengah aja.

“Kakak dapet resepnya dari mana?”

Dia berbalik.

“Bu Ratih. Kemarin. Aku catet.”

“Kakak nyatet?”

“Ya iya. Nanti lupa.”

Dan dia kembali ke pancinya.

Aku berdiri di pintu dapur itu dan aku membaca kertas HVS bekas itu sekali lagi, dan aku memikirkan sesuatu yang tidak aku katakan:

Laki-laki ini menghabiskan tiga puluh menit di warung dengan buku dan bolpoin, mencatat resep ayam kecap dari seorang ibu penjual nasi, supaya bisa memasak sekali untuk ulang tahun anak yang dia besarkan.

Dan dia menuliskan di baris terakhir bahwa Alina tidak suka terlalu pedas.

Dia tahu itu tanpa harus bertanya kepada siapa pun.


Mbak Eliza datang jam tujuh kurang sepuluh.

Aku yang membukakan pintu.

Dia membawa dua kotak kue dan berdiri di teras dengan wajah orang yang sudah berdiri di situ selama dua menit sebelum mengetuk.

“Nay.”

“Masuk, Mbak.”

“Ini—“

“Makasih.”

Dan dari dalam, aku mendengar sesuatu jatuh di dapur.

Om Damar keluar dengan lap di bahu.

Dan dia berhenti.

“Liz.”

“Halo.”

“Kamu—“

“Aku ngundang,” kataku.

Dia menoleh kepadaku.

Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku melihat sesuatu di wajah laki-laki itu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Panik.

Cuma satu detik. Lalu ditutup, seperti biasa, dengan senyum.

“Oh. Ya udah. Duduk, Liz. Bentar lagi.”

Dan dia masuk ke dapur lagi.


Makan malamnya berjalan aneh.

Alina yang menyelamatkannya. Anak itu bicara tanpa berhenti selama empat puluh menit — tentang UTS Statistika, tentang Fitri yang salah kirim tugas ke dosen, tentang kucing di depan gerbang kampus yang sekarang punya anak lima.

Mbak Eliza menanggapi semuanya.

Om Damar tidak.

Dia bicara sekitar delapan kali sepanjang makan malam dan enam di antaranya adalah menawarkan tambah nasi.

Dia tidak sekali pun menatap Mbak Eliza.

Aku memperhatikan itu selama empat puluh menit dan aku menghitungnya, karena aku menghitung semuanya, dan aku sampai di angka nol.

Nol. Dalam empat puluh menit.

Sebulan lalu di hajatan, laki-laki itu berdiri di sisi meja dan tidak bisa menatap Pak Wignyo. Aku pikir itu batasnya.

Ternyata bukan.


Ayam kecapnya asin.

Aku ingin mencatat itu karena itu satu-satunya bagian dari malam itu yang lucu.

Terlalu asin, dan kangkungnya terlalu matang sampai warnanya cokelat, dan sambalnya — yang di kertas ditulis setengah aja — ternyata setengah dari takaran yang dipakai Bu Ratih untuk sepuluh porsi.

Alina makan tiga piring.

“Ini enak banget, Yah.”

“Bohong.”

“Serius!”

“Kamu minum es teh dua gelas dalam sepuluh menit, Lin.”

“Ya kan haus.”

Dan Mbak Eliza menghabiskan piringnya. Semuanya. Termasuk sambalnya.

Dan waktu Om Damar tidak melihat, aku melihat matanya berair karena pedas dan dia menyeka pipinya dengan punggung tangan dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.


Jam delapan, Om Damar keluar.

“Mau ke mana, Yah?”

“Ngembaliin panci Bu Ratih.”

“Nanti aja.”

“Nanti keburu tutup.”

Dan dia keluar dengan panci di tangan, dan aku tahu itu bohong karena warung Bu Ratih tutup jam sembilan dan sudah begitu sepuluh tahun.

Dia butuh keluar dari ruangan itu.


Kami bertiga membereskan.

Alina mencuci. Aku mengelap. Mbak Eliza — yang sudah kularang tiga kali dan yang mengabaikannya tiga kali — mengumpulkan piring dari lantai.

Lalu dia berkata, “Tikarnya digulung ya, biar bisa disapu.”

“Nggak usah, Mbak.”

“Nay, aku ngerjain sesuatu atau aku pulang.”

Jadi aku membiarkannya.

Dia menggulung tikar itu dari ujung yang dekat pintu.

Dan waktu gulungannya sampai setengah, ada dua benda yang jatuh ke lantai.


Yang pertama amplop cokelat kecil. Kosong. Kertasnya lunak seperti kain.

Aku tahu amplop itu. Aku punya kembarannya di laci mejaku di kantor sejak sepuluh bulan lalu.

Yang kedua buku tulis.

Sampul cokelat. Jenis yang dijual dua ribu di warung fotokopi. Sudut-sudutnya sudah membulat dan punggungnya sudah dilakban dua kali.

Mbak Eliza memungutnya.

“Ini punya siapa? Alina?”

“Bukan,” kata Alina dari dapur.

“Nay?”

Dan aku berdiri di tengah ruangan dengan lap di tangan dan aku tidak menjawab.

Karena aku tahu buku itu.

Aku melihatnya pertama kali di umur dua belas tahun, di malam hari Kamis, dari celah pintu kamar, waktu Om Damar duduk di tikar di bawah lampu lima watt dan menulis dengan badan membungkuk seperti orang yang takut salah.

Sepuluh tahun.

Dan aku tidak pernah membukanya.

“Nay?”

“Aku nggak tahu isinya,” kataku.

“Kamu nggak tahu?”

“Aku nggak pernah buka.”

Mbak Eliza menatapku.

“Sepuluh tahun?”

“Sepuluh tahun.”


Dia seharusnya menutupnya.

Aku sudah memikirkan itu ratusan kali sesudahnya dan aku selalu sampai di kesimpulan yang sama: seharusnya ada satu dari kami bertiga yang bilang jangan.

Tidak ada.

Aku tidak bilang jangan.

Aku berdiri di tengah ruangan dengan lap di tangan dan aku membiarkan perempuan itu membuka halaman pertama, dan aku membiarkannya karena aku sudah sepuluh tahun ingin tahu dan aku terlalu pengecut untuk membukanya sendiri.


Mbak Eliza membuka halaman pertama.

Dan dia berdiri di situ, membaca, selama mungkin lima belas detik.

Lalu dia duduk.

Bukan duduk yang dipilih. Dia menurunkan dirinya ke lantai, di tempat dia berdiri, dengan tikar setengah tergulung di sebelahnya.

“Mbak?”

Dia tidak menjawab.

“Mbak Eliza.”

Alina keluar dari dapur dengan tangan basah.

“Kenapa?”

Dan Mbak Eliza membaca halaman pertama itu keras-keras.

Suaranya biasa selama enam kata pertama.

Mbak. Ini catatannya. Nanti kalau ketemu, aku laporan.

Dia berhenti.

Alina menaruh piring di lantai.

“Terus?”

“Itu aja,” kata Mbak Eliza. “Halaman pertamanya cuma itu.”

Dia membalik.


Halaman kedua dan seterusnya isinya daftar.

Tanggal, keterangan, angka. Tiga kolom, dibuat dengan penggaris, dan garisnya lurus semua.

Mbak Eliza membacanya dari halaman kedua.

4/10 — beras 5 kg — 32.000.

4/10 — Lin, buku tulis 3 — 4.500.

6/10 — Nay, sepatu sekolah — 45.000.

9/10 — obat batuk Lin — 12.000.

Suaranya masih rata.

Dia membalik halaman.

17/11 — Lin, permen jeruk — 1.000.

Dan suaranya berhenti di situ.


Aku tidak bisa menjelaskan kenapa yang itu.

Aku sudah memikirkannya bertahun-tahun. Ada tagihan rumah sakit dua juta seratus di buku itu. Ada satu juta dua ratus biaya masuk SMA-ku. Ada angka-angka yang jauh lebih besar dan jauh lebih berat.

Yang menghentikan perempuan itu adalah permen jeruk seribu rupiah.

“Mbak.”

“Sebentar.”

“Mbak Eliza—“

“Sebentar, Nay.”

Dia membalik lagi. Cepat. Beberapa halaman sekaligus.

Lalu berhenti. Lalu membalik lagi ke depan. Lalu ke belakang.

“Mbak nyari apa?”

Dan dia mengangkat kepalanya.

“Dia,” katanya.

“Hah?”

“Dia. Damar.” Dia membalik lagi. “Aku nyari namanya.”

Dan dia membalik buku itu dari awal sampai halaman terakhir yang terisi, satu per satu, dengan jari, sementara aku dan Alina berdiri di ruangan itu dan tidak ada yang bergerak.

Butuh mungkin tiga menit.

Lalu dia menutup buku itu.

“Nggak ada,” katanya.


“Nggak ada apa, Mbak?”

“Nggak ada satu pun.” Suaranya sudah tidak rata lagi. “Sepuluh tahun. Nggak ada satu baris pun yang isinya dia.”

Alina duduk di lantai.

“Semuanya Lin sama Nay,” kata Mbak Eliza. “Beras, listrik, sewa — itu rumah, itu kalian juga. Nggak ada sepatu delapan puluh lima ribu. Nggak ada kacamata dua puluh lima ribu.”

Dia meletakkan buku itu di lantai.

“Nggak ada motornya.”

Dan aku berdiri di ruang depan petak nomor empat dengan lap di tangan dan aku mengerti sesuatu yang seharusnya kumengerti sepuluh tahun lalu.

Buku itu bukan buku pengeluaran.

Kalau itu buku pengeluaran, akan ada sepatunya. Akan ada motornya. Akan ada bensinnya.

Buku itu bukan catatan tentang uang yang keluar.

Buku itu catatan tentang apa yang sudah dia berikan kepada kami — dan dia tidak menganggap dirinya sendiri termasuk hal yang perlu dilaporkan.

Mbak. Ini catatannya. Nanti kalau ketemu, aku laporan.

Sepuluh tahun laki-laki itu duduk di tikar setiap malam dan menyiapkan laporan untuk perempuan yang sudah meninggal.

Karena dia mengira dia sedang menitipkan barang orang.


Mbak Eliza berdiri.

“Aku ambil angin sebentar.”

“Mbak—“

“Bentar aja, Nay.”

Dan dia keluar.


Mobilnya diparkir di jalan raya di mulut gang, karena gang kami tidak muat mobil.

Aku berdiri di mulut gang, di sebelah warung Bu Ratih yang sudah tutup, di balik tiang listrik, dan aku menontonnya.

Dia masuk ke mobil. Dia menutup pintunya.

Dia tidak menyalakan mesin.

Dan dia menunduk ke setir — kedua tangan di setir, kening di antara kedua tangannya — dan bahunya mulai bergerak.

Dua puluh menit.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

Dua puluh menit, di dalam mobil, di jalan raya Wonoyoso, jam sembilan malam, sendirian.

Dan aku berdiri di balik tiang listrik dan aku tidak menghampirinya, karena aku sudah belajar sesuatu di hajatan bulan lalu dari perempuan itu sendiri:

Ada orang yang hanya sanggup melakukan sesuatu kalau mereka yakin tidak ada yang melihat.

Dan hal paling baik yang bisa kamu lakukan untuk mereka adalah membiarkan mereka yakin.


Om Damar pulang lima menit setelah mobil itu pergi.

Dia membawa panci kosong dan dua bungkus kerupuk yang tidak dia beli karena warung Bu Ratih sudah tutup, jadi entah dari mana.

“Mbak Eliza mana?”

“Udah pulang.”

“Oh.”

Dia menaruh panci di dapur.

“Kakak.”

“Hm?”

“Buku Kakak jatuh dari tikar tadi.”

Dia berhenti.

Aku melihat punggungnya dari ruang depan, dan aku melihat bahunya naik sedikit, dan aku melihat dia tidak berbalik.

“Iya.”

“Aku taruh di kaleng.”

“Iya. Makasih.”

Dan itu saja.

Dia tidak bertanya apakah aku membukanya. Dia tidak bertanya siapa yang melihat.

Dia mencuci panci Bu Ratih selama empat menit dan kemudian membentangkan tikar dan tidur, dan besok paginya dia berangkat ke pasar jam satu seperti biasa.


Aku tidak tidur malam itu.

Aku berbaring di sebelah Alina, yang juga tidak tidur, dan kami dua-duanya diam selama mungkin satu jam.

“Mbak.”

“Hm.”

“Aku nggak bisa berhenti mikirin yang permen.”

“Iya.”

“Seribu rupiah, Mbak.”

“Iya, Lin.”

Dia diam lagi.

Lalu dia berkata, dengan suara yang sangat pelan:

“Kalau seribu aja dia catet, berarti dia mikir dia harus ganti.”

Dan aku menatap langit-langit dengan bercak lembap berbentuk pulau yang sudah ada di sana sejak umurku dua belas tahun.

“Iya,” kataku.

“Ganti ke siapa?”

Aku tidak menjawab.

Karena jawabannya adalah bahwa laki-laki itu sudah sepuluh tahun mencicil utang kepada orang yang tidak pernah menagihnya, tidak pernah menghitungnya, dan sudah tidak ada di dunia ini untuk menerimanya.

Dan karena aku baru menyadari, malam itu, jam dua pagi, bahwa aku sedang melakukan hal yang persis sama dengan kardus mi instan di bawah tempat tidurku.

Dan bahwa Alina sudah mulai, di catatan HP-nya, sebulan lalu.

Tiga orang di satu rumah, masing-masing memegang buku, masing-masing menghitung utang kepada orang yang tidak menagih.

Tidak ada satu pun dari kami yang pernah menyebutkannya kepada yang lain.


Empat hari kemudian dia batuk darah untuk pertama kalinya di depan orang.

Tapi itu bab berikutnya.