Chapter Twenty Seven
Yang Nunggu di Parkiran
POV: Alina
Aku masuk kuliah di STIE Wonoyoso, jurusan Manajemen, kelas pagi.
Bukan kampus besar. Tiga gedung, satu lapangan parkir, kantin yang atapnya seng dan kalau hujan tidak ada yang bisa mendengar siapa pun.
Aku suka di sana. Aku suka di mana saja, sebenarnya. Mbak Kanaya bilang itu karena aku tidak punya standar.
Dalam dua bulan aku sudah punya lima orang yang selalu duduk bareng: Fitri, Mega, Rendi, Dimas, sama satu lagi namanya Sasa yang jarang ngomong.
Kami nongkrong di kantin sampai sore walaupun kelas selesai jam satu, karena itu yang dilakukan orang di kampus dan aku ingin melakukan yang dilakukan orang.
Ayah menjemputku jam empat.
Motornya Honda tua, tahun sembilan delapan, dibeli tiga tahun lalu seharga dua juta tiga ratus dicicil sebelas bulan. Warnanya dulu merah, sekarang lebih dekat ke oranye. Knalpotnya berisik dan sein kanannya harus ditepuk dulu baru menyala.
Aku suka motor itu.
Aku serius. Aku suka bunyinya. Kalau aku di kantin dan mendengar bunyi itu masuk parkiran, aku tahu itu dia sebelum melihat.
Kejadiannya hari Kamis, minggu ketiga November.
Kami di kantin. Enam orang, dua meja digabung, sudah dari jam satu.
Jam empat kurang lima menit, aku dengar motornya masuk.
“Duluan ya, dijemput.”
“Yah, baru juga—“
“Besok lagi.”
Aku keluar. Ayah sudah berdiri di sebelah motornya di ujung parkiran, di bawah pohon, seperti biasa. Dia tidak pernah mau maju sampai depan gedung.
Dia masih pakai baju kerja. Celana abu-abu penuh noda semen, kaus yang warnanya sudah tidak jelas, dan sepatu bot karet yang dilepas dan diganti sandal di parkiran, yang mana adalah hal paling Ayah di dunia.
“Lin.”
“Bentar, Yah. Tasku ketinggalan.”
Aku balik.
Dan aku dengar semuanya dari sekitar lima meter sebelum sampai meja, karena kantin itu atapnya seng dan kalau tidak hujan suaranya malah memantul.
Yang bicara Rendi.
“Itu sopirnya, ya?”
“Siapa?”
“Yang di parkiran. Yang jemput Alina.”
“Kayaknya. Tiap hari.”
Terus Mega bilang, “Bukan sopir kali. Kayaknya ojek langganan.”
Terus ada yang ketawa.
Terus Rendi bilang — dan aku akan menuliskan persis, karena aku sudah mengulangnya di kepalaku ribuan kali:
“Kirain bapaknya. Untung bukan. Kalau bapaknya kan kasihan.”
Dan mereka ketawa lagi.
Bukan ketawa jahat. Aku mau bilang itu.
Mereka ketawa seperti orang ketawa untuk mengisi jeda. Rendi itu anak yang kalau ada yang jatuh dia yang pertama menolong. Mega pernah meminjamkan aku uang tanpa aku minta.
Mereka bukan orang jahat.
Mereka cuma tidak tahu, dan mereka tidak merasa perlu tahu, dan mereka mengucapkan kalimat itu dengan mudah sekali karena bagi mereka kalimat itu tidak menyentuh apa pun.
Aku berdiri di situ, lima meter dari meja, memegang tali tas yang belum kuambil.
Dan aku merasakan sesuatu naik dari perut ke tenggorokan, dan aku mengenalinya, karena aku pernah merasakannya persis begini satu kali dalam hidupku, di ruang guru SMA Negeri 2, dua tahun lalu.
Waktu itu aku menyapu meja dan berteriak.
Kali ini tidak.
Aku jalan ke meja dan ambil tasku.
“Eh, Lin! Kirain udah—“
“Rendi.”
Aku tidak duduk. Aku berdiri di ujung meja dengan tas di tangan.
“Ya?”
“Coba diulang.”
Dia mengerjap. “Apanya?”
“Yang barusan. Yang untung bukan bapaknya.”
Kantin itu tidak mendadak sunyi seperti di film. Masih berisik. Masih ada orang lewat. Yang sunyi cuma dua meja kami.
Fitri menyentuh lenganku. “Lin, dia becanda—“
“Aku tahu dia becanda.”
Dan ini yang membuat mereka takut, dan aku baru mengerti itu berbulan-bulan kemudian.
Bukan karena aku teriak. Aku tidak teriak.
Yang membuat mereka takut adalah karena aku tidak.
Karena selama dua bulan mereka mengenal satu Alina — yang ketawanya paling keras, yang tidak pernah berhenti bicara, yang kalau ada yang diam di pojok pasti dia yang mengajak ngomong.
Dan sekarang Alina itu berdiri di ujung meja dengan wajah yang tidak bergerak sama sekali.
“Namanya Damar,” kataku.
“Lin—“
“Umurnya dua puluh tujuh.”
Rendi tidak bicara.
“Waktu umurnya tujuh belas, kakaknya meninggal. Ninggalin dua anak. Aku delapan tahun, Mbakku dua belas.” Suaraku rata. Aku ingat betul betapa ratanya. “Nggak ada keluarga lain. Nggak ada.”
“Alina, aku nggak—“
“Dia berhenti sekolah minggu itu juga. Kelas dua SMA. Dia nulis suratnya sendiri.”
Fitri melepaskan lenganku.
“Sepuluh tahun,” kataku. “Pasar jam dua pagi. Proyek jam delapan. Cuci piring jam enam sampai jam sebelas malam. Aku ngitung sendiri waktu SMA, tidurnya empat jam.”
Aku menaruh tasku di meja.
“Dia belum pernah beli baju buat dirinya sendiri. Sepuluh tahun. Semua bajunya dikasih orang.”
“Lin, kita nggak tahu—“
“Aku tahu kalian nggak tahu.” Aku menoleh ke Mega. “Makanya aku kasih tahu.”
Dan lalu aku mengatakan yang terakhir.
Aku tidak berencana mengatakannya. Aku sumpah aku tidak berencana. Aku sudah menyimpannya selama dua bulan tanpa memberitahu siapa pun — bukan Mbak Kanaya, bukan Bu Ratih, tidak siapa-siapa.
Yang keluar dari mulutku, di kantin STIE Wonoyoso, jam empat sore, di depan lima orang yang baru kukenal delapan minggu:
“Dan dia sakit.”
Semuanya diam.
“Dari aku kelas tiga SD dia batuk tiap malam. Dia pikir aku nggak dengar. Dia ke dapur terus nyalain keran.”
Tanganku mulai gemetar. Aku menaruhnya di meja supaya tidak kelihatan.
“Dua bulan lalu aku buang sampah,” kataku. “Ada tisu di dalamnya. Ada darahnya.”
Fitri menutup mulutnya.
“Dan dia nggak tahu aku tahu. Sampai sekarang.”
Aku mengambil tasku dari meja.
“Jadi kalau kalian mau ngomongin dia,” kataku, “jangan di depan aku.”
Aku berbalik.
Dan dia ada di pintu kantin.
Berdiri di ambangnya, dengan sandal jepit dan celana penuh noda semen, memegang helm dengan dua tangan di depan perut.
Aku tidak tahu sudah berapa lama.
Aku tidak tahu sampai sekarang. Aku tidak pernah menanyakannya dan dia tidak pernah mengatakannya.
Ayah melihat ke arahku. Lalu ke arah meja. Lalu ke arahku lagi.
“Lin,” katanya. “Udah?”
Suaranya biasa.
“Udah.”
“Yuk.”
Aku berjalan ke pintu dan kami keluar.
Di parkiran, dia menyerahkan helmku.
Aku memakainya. Dia menyalakan motor. Sein kanannya tidak menyala jadi dia menepuknya, dan menyala.
Kami keluar dari gerbang kampus dan berbelok ke jalan raya.
Aku duduk di belakang dan memegang bagian belakang kausnya dengan dua tangan, seperti biasa, dan aku menunggu.
Aku menunggu selama dua kilometer.
Dia tidak bertanya apa-apa.
Tidak tadi kenapa. Tidak kamu kenapa berdiri gitu. Tidak temen kamu ngomong apa.
Tidak apa-apa.
Dan di lampu merah pertigaan pasar, aku akhirnya bicara.
“Yah.”
“Hm.”
“Ayah denger?”
Lampunya masih merah. Ada tiga puluh detik lagi.
Dia tidak menoleh ke belakang.
“Denger apa?”
“Yang di kantin.”
Dia diam.
Lalu dia berkata, “Ayah baru masuk pas kamu ambil tas.”
Dan itu bohong.
Aku tahu itu bohong dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, sama seperti dia selalu tahu kalau Mbak Kanaya bohong karena Mbak menjawab satu detik lebih cepat.
Ayah menjawab satu detik lebih lambat.
Lampunya hijau. Dia menarik gas.
Malamnya dia pulang jam setengah dua belas seperti biasa.
Aku belum tidur. Aku duduk di lantai dengan laptop pinjaman kampus, pura-pura mengerjakan tugas.
Dia masuk, melepas sandal, dan berhenti waktu melihat aku.
“Belum tidur.”
“Bentar lagi.”
Dia masuk ke dapur. Aku dengar tutup panci diangkat, lalu ditutup lagi.
Lalu dia keluar dan duduk di tikar dan melepas kausnya, dan aku melihat punggungnya, yang sekarang ada garis-garis tempat tali karung menekan selama sepuluh tahun.
“Lin.”
“Hm?”
“Temen kamu yang tinggi itu namanya siapa?”
“Rendi.”
“Dia yang mana? Yang di ujung?”
“Iya.”
Ayah mengangguk.
Lalu dia bilang, sambil melipat kausnya dan menaruhnya di sudut:
“Ajak main ke sini kapan-kapan.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Temen-temen kamu. Ajak ke sini.” Dia berbaring di tikar dan menarik selimut. “Kakak masak. Nggak enak sih, tapi bisa.”
“Yah—“
“Nanti Kakak minta libur sehari.”
Dan dia memiringkan badannya menghadap tembok, dan tidak bicara lagi.
Aku duduk di lantai dengan laptop menyala di pangkuanku sampai jam satu.
Aku memikirkannya sepanjang malam dan aku masih memikirkannya sampai sekarang, bertahun-tahun kemudian.
Dia mendengar semuanya. Aku yakin sekarang dia mendengar semuanya, termasuk bagian tisu.
Dan yang dia lakukan, di malam yang sama, adalah menawarkan untuk memasak buat orang yang baru saja menyebutnya untung bukan bapaknya.
Bukan karena dia tidak sakit hati.
Karena dia melihat anaknya berdiri sendirian di ujung meja melawan lima orang, dan yang dia pikirkan bukan dirinya, melainkan bahwa anak itu baru dua bulan punya teman dan sekarang mungkin sudah tidak punya.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran reading
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku