Chapter Forty Eight
Hari Jumat
POV: Alina
Aku menemukannya karena KTP-ku hilang.
Itu saja. Tidak ada firasat, tidak ada curiga. Hari Kamis sore aku butuh fotokopi KTP untuk pendaftaran KKN dan aku tidak menemukannya di dompet, dan aku ingat pernah menaruhnya di kotak surat-surat waktu mengurus KRS semester lalu.
Kotak biskuit yang kecil. Di rak, di sudut, di bawah kardus.
Isinya kartu keluarga, akta kelahiran kami bertiga, akta kematian Ibu, surat-surat kelurahan, dan tumpukan kertas lain yang sudah menguning.
Aku mengeluarkan semuanya ke lantai untuk mencari.
Dan di bawah kartu keluarga ada amplop cokelat yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Amplopnya baru. Itu yang membuatku berhenti. Semua kertas di kotak itu sudah menguning dan ini masih putih di bagian dalamnya, dan ada logo di sudut kirinya.
RSUD WONOYOSO
Aku duduk di lantai kamar selama satu jam empat puluh menit.
Isinya tiga benda.
Satu lembar plastik besar, hitam, yang kalau diangkat ke arah jendela jadi gambar.
Satu lembar kertas dengan kop rumah sakit dan tulisan tangan dokter yang hampir tidak bisa dibaca.
Dan satu lembar hasil laboratorium dengan angka-angka yang tidak kumengerti.
Aku mengangkat yang plastik itu ke arah jendela.
Aku tidak tahu apa-apa tentang membaca rontgen.
Aku tidak perlu tahu.
Sebelah kiri gelap. Sebelah kanan atas putih.
Aku mengetik semuanya di HP.
Kata pertama yang bisa kubaca dari tulisan dokter itu: bronkiektasis. Aku mengetiknya. Aku salah eja dua kali.
Aku membaca selama satu jam.
Aku membaca yang di Wikipedia, lalu yang di situs rumah sakit, lalu yang di jurnal yang setengahnya bahasa Inggris dan yang aku terjemahkan per paragraf.
Kata kedua: fibrosis. Ketiga: pasca-TB.
Keempat, yang ada di baris terakhir dan yang ditulis lebih besar dari yang lain:
hemoptisis.
Aku mengetiknya.
Dan hasil pertamanya adalah kalimat yang membuatku menaruh HP-ku di lantai dan duduk memandangi tembok selama entah berapa lama:
Hemoptisis adalah batuk yang mengeluarkan darah dari saluran napas.
Aku sudah tahu.
Itu yang paling sulit aku jelaskan kepada siapa pun sesudahnya.
Aku sudah tahu dua bulan sebelumnya. Aku sudah melihat tisu itu di tempat sampah bulan Oktober. Aku sudah mengatakannya keras-keras di kantin kampus ke lima orang yang baru kukenal delapan minggu, sambil marah, sambil tangan gemetar.
Aku sudah menghitung batuknya tiap malam selama empat bulan.
Aku sudah punya catatan di HP-ku dengan judul AYAH dan lima puluh tiga baris di dalamnya.
Jadi seharusnya aku tidak kaget.
Yang membuatku duduk memandangi tembok bukan isinya.
Yang membuatku duduk memandangi tembok adalah tanggal di sudut kanan atas surat itu.
24 April.
Kemarin.
Dia sudah tahu kemarin.
Dan kemarin malam dia pulang jam setengah dua belas dan bertanya apakah aku sudah makan.
Aku mengembalikan semuanya.
Aku menaruh amplop itu di bawah kartu keluarga, di posisi yang sama, dengan sudut yang sama. Aku memeriksanya dua kali.
Aku tidak menemukan KTP-ku.
Aku membuat surat kehilangan hari Senin.
Hari Jumat aku tidak menyentuhnya.
Aku tidak merencanakannya. Aku ingin menuliskan itu dengan jelas, karena Mbak Kanaya berpikir aku sedang menghukum orang itu dan dia salah dan aku tidak pernah sempat menjelaskannya kepadanya.
Aku bangun jam lima.
Dia sudah pulang dari pasar dan sedang duduk di teras memakai sepatu.
Dan aku berjalan keluar dari kamar dan aku berhenti di ambang pintu.
Selama sebelas tahun, hal pertama yang aku lakukan setiap pagi adalah ini: aku keluar dari kamar, aku berjalan ke tempat dia berada, dan aku menempelkan keningku ke punggungnya.
Sebelas tahun. Setiap pagi. Bahkan waktu aku marah. Bahkan waktu aku sakit. Bahkan waktu aku SMA dan sedang membenci seluruh dunia karena alasan yang sudah kulupakan.
Hari Jumat itu aku berdiri di ambang pintu dan tubuhku tidak mau.
Bukan karena aku tidak ingin.
Karena kalau aku menempelkan keningku ke punggung itu pagi itu, aku akan tahu — dengan tanganku, dengan pipiku, dengan seluruh badanku — bahwa aku sedang memeluk orang yang sebelah kanan atasnya sudah putih.
Dan aku akan tahu bahwa dia tahu itu, dan bahwa dia memilih untuk tidak memberitahuku, dan bahwa dia akan berdiri di situ dan membiarkanku memeluknya seperti tidak terjadi apa-apa.
Dan kalau aku melakukannya, aku ikut berbohong.
Jadi aku berdiri di ambang pintu.
“Lin.”
“Pagi, Yah.”
“Kamu bangun pagi amat.”
“Iya.”
Dan aku pergi ke kamar mandi.
Aku akan menuliskan hari itu jam per jam karena aku mengingatnya jam per jam.
Jam enam. Sarapan. Dia menyendokkan nasi ke piringku seperti biasa, dan seperti biasa aku menyisakan lauk dan bilang kenyang, dan dia mengambilnya dan memakannya.
Tapi biasanya, waktu dia mengambil piringku, aku menahan pergelangan tangannya sebentar dan bilang “eh, itu punyaku” dan dia bilang “ya kamu kenyang” dan aku bilang “iya sih” dan kami berdua tahu itu apa.
Hari itu aku cuma mendorong piringnya.
Dia mengambilnya. Dia tidak bilang apa-apa.
Jam tujuh. Berangkat. Dia mengantarku ke kampus.
Aku duduk di belakang dan aku memegang jok. Bukan kausnya. Jok.
Aku bisa merasakan punggungnya kaget. Bukan badannya — motornya. Ada perubahan kecil di keseimbangan waktu penumpang berhenti memegang dan mulai memegang besi.
Dia tidak berkata apa-apa selama enam kilometer.
Di depan gerbang, waktu aku turun, dia bertanya:
“Kamu lagi ada masalah, Lin?”
“Nggak.”
“Sama temen?”
“Nggak, Yah.”
“Sama Mbak Nay?”
“Nggak.”
Dan dia mengangguk dan pergi.
Jam empat sore. Dijemput. Sama.
Jam lima. Aku menyapu ruang depan. Dia duduk di tikar melepas sepatu. Biasanya aku duduk di lantai di sebelahnya sambil menyapu dan menyenggol lututnya dengan sikut supaya dia mengangkat kakinya.
Hari itu aku menyapu dari sisi lain ruangan dan meminta dia mengangkat kaki dengan suara.
“Yah, kakinya.”
Dia mengangkat kakinya.
Jam tujuh malam.
Ini bagian yang paling tidak bisa aku ceritakan tanpa berhenti di tengah.
Setiap Jumat malam, sejak aku umur sepuluh tahun, aku memijat punggungnya.
Bukan pijat betulan. Aku tidak bisa memijat. Yang aku lakukan adalah dia telungkup di tikar dan aku duduk di sebelahnya dan aku menekan punggungnya dengan lutut dan kepalan tangan sambil menghitung keras-keras sampai seratus, karena waktu umurku sepuluh tahun aku baru bisa berhitung sampai seratus dan aku ingin pamer.
Sembilan tahun.
Setiap Jumat.
Bahkan waktu aku SMA. Bahkan waktu aku kuliah. Sembilan tahun aku menghitung sampai seratus di ruang depan petak nomor empat setiap Jumat malam.
Jumat itu jam tujuh dia pulang dari proyek dan mandi dan keluar dan duduk di tikar.
Dan menunggu.
Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak pernah mengatakan apa-apa. Selama sembilan tahun dia tidak pernah sekali pun memintanya.
Dia cuma duduk di tikar hari Jumat jam tujuh.
Aku di lantai, dua meter darinya, dengan laptop di pangkuan.
Dan aku tidak bergerak.
Dia menunggu dua puluh menit.
Aku menghitungnya. Aku menghitungnya karena aku sudah jadi orang yang menghitung sekarang, dan aku benci itu, dan aku tetap menghitungnya.
Dua puluh menit dia duduk di tikar dengan handuk kecil di bahu.
Lalu dia berdiri dan mengambil kausnya dan memakainya.
Dan dia berangkat shift jam enam — maksudku, jam setengah enam, karena Jumat malam rumah makan itu ramai dan dia selalu berangkat lebih awal.
Waktu dia di ambang pintu, dia berbalik.
“Lin.”
“Hm.”
“Kalau ada apa-apa, bilang ya.”
Dan aku menatap layar laptopku dan berkata, “Iya.”
Dan pintunya tertutup.
Mbak Kanaya pulang jam delapan dan langsung tahu.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Lin.”
“Nggak apa-apa, Mbak.”
Dia berdiri di ruang depan dengan tas masih di bahu.
“Kamu nggak mijetin dia.”
Aku menoleh.
“Mbak ngitung juga?”
“Sembilan tahun tiap Jumat,” katanya. “Ya aku tahu.”
Dan dia duduk di lantai di depanku dan menutup laptopku dengan satu tangan.
“Ada apa.”
Dan aku hampir mengatakannya.
Aku ingin mencatat betapa dekatnya. Kalimatnya sudah ada di mulutku. Mbak, aku nemu amplop rumah sakit di kotak surat.
Dan aku menelannya.
Karena kalau aku mengatakannya, Mbak Kanaya akan berdiri malam itu juga dan pergi ke rumah makan itu dan menyeret orang itu keluar dari dapur di depan pemiliknya, dan besok pagi kami bertiga akan duduk di ruangan ini dan semuanya akan jadi kejadian.
Dan aku belum siap.
Aku delapan belas tahun dan aku sudah tahu semuanya dan aku belum siap.
“Aku capek, Mbak.”
Mbak Kanaya menatapku.
Dan dia tahu aku bohong, dan dia tidak mendesak, karena di rumah ini kami tidak mendesak.
Itu kesalahan terbesar keluarga kami dan kami tidak pernah memperbaikinya.
Dia pulang jam setengah dua belas.
Aku masih di ruang depan.
Dia masuk, melepas sandal, menutup pintu dengan dua tangan.
Dan dia berhenti waktu melihat aku.
“Belum tidur.”
“Belum.”
Dia masuk ke dapur. Aku mendengar tutup panci diangkat, lalu ditutup lagi, seperti sepuluh ribu malam sebelumnya.
Dia keluar dan duduk di tikar.
Dan dia tidak berbaring.
Dia duduk, menghadap ke arahku, dengan kedua tangan di lutut.
“Alina.”
“Iya.”
“Kakak salah apa?”
Aku menutup laptopku.
“Nggak, Yah.”
“Lin.”
“Ayah nggak salah apa-apa.”
“Seharian,” katanya.
Suaranya biasa. Selalu biasa. Sepuluh tahun.
“Kamu nggak megang Kakak seharian.”
Dan aku duduk di lantai ruang depan petak nomor empat dan aku menatap laki-laki itu, dan aku sadar sesuatu yang membuatku hampir tidak bisa bernapas:
Dia menghitung.
Sebelas tahun aku menempel di orang itu setiap hari, dari belakang, dari samping, di lengan, di punggung, ratusan kali sebulan, tanpa pernah dihitung siapa pun.
Termasuk aku.
Aku tidak pernah menghitungnya. Aku bahkan tidak pernah menganggapnya sesuatu.
Dan orang ini — yang tidak pernah memintanya sekali pun, yang menyingkirkan tangannya sendiri di gang selama sepuluh tahun karena tetangga bicara, yang mengangkat tangan empat kali dan menurunkannya lagi waktu Mbak Kanaya memeluknya di dapur —
orang ini tahu persis kapan berhentinya.
“Yah.”
“Hm.”
“Sini.”
Dan aku merangkak ke tikar dan aku duduk di sebelahnya dan aku menempelkan keningku ke bahunya, dan aku menangis di situ selama mungkin lima belas menit tanpa mengatakan satu pun kata.
Dan dia tidak bertanya lagi.
Dia mengangkat tangannya dan meletakkannya di kepalaku — punggung tangannya, selalu punggung tangannya — dan dia membiarkannya di situ, dan dia tidak bergerak sampai aku selesai.
Dan yang aku pikirkan sepanjang lima belas menit itu, berulang-ulang, adalah satu hal.
Bahwa aku bisa merasakan bahunya lewat keningku.
Dan bahwa sebelah kanan atas, di dalam sana, ada bagian yang sudah putih.
Dan bahwa dia tahu itu, dan dia duduk di situ, dan dia mengusap kepalaku, dan dia sedang menghitung berapa lama aku menangis supaya dia tahu seberapa besar masalahku.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat reading
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku