← Kakak Sudah Makan

Chapter Forty Three

Hajatan

POV: Eliza

Kanaya yang mengundangku.

Itu bagian pertama yang tidak kumengerti.

Pesannya masuk hari Rabu, jam sembilan malam, dan panjangnya tiga baris:

Mbak, hari Minggu ada hajatan di gang kami. Anaknya Pak Kirno, yang punya kontrakan. Semua orang gang diundang. Kalau Mbak nggak sibuk, datang aja.

Aku membacanya empat kali.

Perempuan ini menginterogasiku selama satu jam di kafe dekat alun-alun bulan Desember. Perempuan ini menyingkirkan empat orang dalam sepuluh tahun dengan cara yang tidak meninggalkan satu pun sidik jari.

Dan sekarang dia mengundangku ke hajatan tetangganya.

Aku membalas: Insya Allah datang. Makasih, Nay.

Dia tidak membalas lagi.


Gang Sidomulyo hari Minggu itu ditutup dari mulut sampai ujung.

Terpal biru dari tembok ke tembok. Kursi plastik dua ratus. Sound system di depan rumah Pak Kirno yang memutar campursari sejak jam delapan pagi dengan volume yang tidak bisa dinegosiasikan.

Aku datang jam sebelas dan aku salah kostum.

Aku memakai gamis batik yang menurutku sederhana dan yang ternyata terlalu bagus, dan aku menyadarinya dalam empat detik pertama, dan aku berdiri di mulut gang mempertimbangkan untuk pulang.

“Mbak Eliza!”

Alina.

Dia berlari dari arah tenda dengan kebaya dan rambut disanggul asal-asalan dan langsung menarik lenganku.

“Mbak dateng!”

“Iya.”

“Mbak Nay bilang Mbak mungkin nggak dateng.”

“Dia bilang gitu?”

“Iya. Terus dia nyiapin kursi di deket kami.”

Dan dia menyeretku masuk sebelum aku sempat mengerjakan kalimat itu.


Damar tidak duduk.

Aku mencarinya selama sepuluh menit sebelum sadar bahwa aku mencari di tempat yang salah.

Dia bagian sinoman.

Kaus putih, sarung, peci. Membawa nampan berisi enam gelas teh sekaligus dengan satu tangan, berjalan miring di antara kursi plastik, menaruh gelas satu per satu di meja orang.

Aku menontonnya sekitar dua menit.

Dan yang aku perhatikan bukan bahwa dia bekerja di acara yang seharusnya jadi acaranya juga.

Yang aku perhatikan adalah bahwa dia tahu semuanya.

Dia tahu meja mana yang sudah dan yang belum. Dia tahu ibu-ibu di meja pojok tidak minum teh manis dan membawakan air putih tanpa diminta. Dia tahu anak kecil di meja empat akan menumpahkan gelasnya dan menaruhnya di sisi yang jauh dari siku anak itu.

“Dia selalu gitu,” kata Kanaya di sebelahku.

Aku tidak mendengarnya datang.

“Tiap hajatan?”

“Tiap hajatan. Tiap kematian. Tiap orang pindahan.” Dia duduk. “Sepuluh tahun.”

“Nggak pernah duduk?”

“Nanti. Kalau semua udah kebagian.”

Aku duduk di sebelahnya.

“Nay.”

“Iya, Mbak.”

“Kenapa aku diundang?”

Dan Kanaya Santika menuang air ke gelasku, dan tidak menjawab.


Pak Wignyo datang jam dua belas.

Aku tahu namanya bahkan sebelum ada yang menyebutkannya, karena aku sudah mendengar seluruh ceritanya dari Bu Ratih di warung bulan November, dua jam empat puluh menit, dan aku ingat setiap bagiannya.

Yang tidak aku bayangkan adalah bahwa dia akan setua ini.

Umurnya mungkin enam puluh lima. Jalannya sudah pelan. Bajunya bagus tapi sudah tidak baru, dan dia datang naik motor matic yang dibonceng anaknya, bukan mobil.

Bu Ratih pernah menyebut tiga kios dan satu gudang.

Belakangan aku tahu — dari Alina, berbulan-bulan kemudian — bahwa sekarang tinggal satu kios, dan gudangnya sudah dijual tahun lalu.

Dia duduk di meja depan, meja orang-orang tua, dekat sound system.

Dan dua puluh menit kemudian, Damar membawakan teh ke meja itu.


Aku duduk tiga meja di belakangnya. Sound system-nya berhenti sebentar karena penyanyinya ganti lagu.

Karena itu aku mendengar.

“Lho.” Pak Wignyo mengangkat kepalanya. “Kowe.”

“Nggih, Pak.”

“Damar, ta?”

“Nggih.”

“Isih neng kene wae?” (“Masih di sini saja?”)

“Nggih, Pak.”

Damar menaruh gelas terakhir dan hendak pergi.

Dan Pak Wignyo berkata, kepada empat orang lain di mejanya, dengan suara orang tua yang menganggap dirinya sedang bercerita ringan:

“Iki mbiyen tak wenehi kerja, lho.” (“Ini dulu saya kasih kerja, lho.”)

Damar berhenti.

“Bocah putus sekolah. Ora ana sing gelem nampa. Aku sing nampa.” Beliau menyeruput tehnya. “Wong aku ki mesakke.” (“Anak putus sekolah. Tidak ada yang mau menerima. Saya yang menerima. Saya ini kasihan.”)

Salah satu bapak di meja itu mengangguk.

“Terus piye?”

“Yo ngono kuwi.” Pak Wignyo meletakkan gelasnya. “Bocah saiki. Diwenehi kerja, malah kulawargane nelpon-nelpon. Ngancam. Jarene arep nglapor.” (“Ya begitulah. Anak sekarang. Dikasih kerja, malah keluarganya telepon-telepon. Mengancam. Katanya mau melapor.”)

Aku meletakkan gelasku.

“Aku ora nesu, lho,” lanjutnya. “Aku mung gela. Wong wis tak tulungi.” (“Saya tidak marah, lho. Saya cuma kecewa. Sudah saya tolong.”)

Dan Damar berdiri di sebelah meja itu dengan nampan kosong di tangan.

Dan dia tersenyum.

“Nggih, Pak,” katanya. “Ngapunten.”

Dan dia berbalik untuk pergi.


Alina sudah berdiri sebelum Damar sempat melangkah.

Aku tidak melihat dia bangkit. Aku menoleh dan kursinya kosong dan dia sudah ada di sebelah meja itu.

“Pak.”

Damar menoleh. “Lin—“

“Bapak yang nahan gaji dia tiga bulan?”

Meja itu berhenti.

Pak Wignyo mengangkat kepalanya. “Sapa iki?” (“Siapa ini?”)

“Alina. Anaknya.”

“Anak—“

“Bapak yang nahan gaji dia tiga bulan?”

Suaranya tidak keras.

Itu yang aku ingat paling jelas dari sepuluh detik pertama. Alina Santika, yang tertawanya terdengar dari ujung gang, yang menyeretku masuk dua jam sebelumnya sambil berteriak — berdiri di sebelah meja itu dan bicara dengan suara datar.

Dan dua meja di sekitarnya sudah menoleh.

“Nduk, iki lagi—“

“Saya nanya, Pak.”

“Alina.” Damar melangkah. “Duduk.”

“Ayah bawa nampannya ke belakang.”

“Lin—“

“AYAH BAWA NAMPANNYA KE BELAKANG.”

Dan lima meja menoleh.


Aku akan menuliskan bagian ini dengan hati-hati karena aku menontonnya dari jarak tiga meter dan aku tidak akan pernah melupakannya.

Alina tidak menyentuh siapa pun.

Yang dia lakukan adalah berdiri di sisi meja tempat orang tua itu harus keluar kalau dia mau berdiri.

Cuma itu. Dia berdiri di situ, dengan kebaya dan sanggul asal-asalan, dan Pak Wignyo tidak bisa pergi tanpa memintanya minggir, dan dia tidak akan meminta seorang perempuan muda minggir di depan lima puluh orang.

Dia terpaku.

Dan waktu dia terpaku, Kanaya datang.


Dia berjalan pelan. Dia bahkan tersenyum ke arah dua ibu-ibu yang menoleh.

Dia berhenti di sisi lain meja.

“Selamat siang, Pak Wignyo.”

“Sapa maneh iki.”

“Kanaya Santika.” Dia sedikit membungkuk. “Yang nelepon Bapak tanggal empat Februari, sepuluh tahun lalu, jam dua lewat dua puluh siang.”

Meja itu tidak bergerak.

“Saya yang Bapak sebut keluarganya nelepon-nelepon barusan,” katanya. “Saya umur tiga belas waktu itu.”


Dan lalu dia mengeluarkannya.

Dari tas kecilnya. Dilipat empat. Kertasnya sudah cokelat di lipatan dan sudah lunak seperti kain.

Dia tidak membukanya. Dia cuma memegangnya.

“Ini yang saya baca waktu nelepon,” katanya. “Saya tulis tangan malamnya. Saya latihan di kamar mandi umum dua puluh menit sebelum nelepon, tiga kali, sampai suara saya kedengeran kayak orang dewasa.”

Dia meletakkan kertas itu di meja, di sebelah gelas teh Pak Wignyo.

“Bapak mau saya bacain?”

“Nduk—“

“Empat ratus lima puluh ribu sebulan. Perjanjian lisan, Oktober.” Suaranya tetap pelan dan tetap sopan dan tidak sekali pun naik. “Gaji pertama tepat waktu. Gaji kedua telat sembilan hari. Gaji ketiga, keempat, kelima tidak dibayar.”

Aku melihat wajah Damar dari tempatku duduk.

Dia berdiri sepuluh langkah dari meja itu dengan nampan kosong dan dia tidak bergerak sama sekali.

“Dia menagih delapan kali, Pak. Saya tahu delapan karena saya yang menghitung. Umur dua belas saya sudah mencatat semua.” Kanaya menegakkan badannya. “Yang kedelapan, Bapak bilang dia punya utang budi. Bapak bilang tidak ada yang mau menerima anak putus sekolah.”

“Aku ora—“

“Dan dia jawab nggih, Pak, ngapunten.

Sound system-nya mulai lagi. Seseorang mengecilkannya sampai hampir mati.

“Bapak baru saja mengulanginya,” kata Kanaya. “Dua menit yang lalu. Di meja ini. Sepuluh tahun kemudian, ke lima orang.”


“Terus Bapak bilang keluarganya ngancam.”

Dia mengambil kembali kertas itu dari meja dan melipatnya.

“Nama petugas Dinas Tenaga Kerja yang saya ajak bicara Bapak Sutrisno. Saya catat jamnya. Saya catat nomor mejanya.” Dia memasukkannya ke tas. “Saya tidak melapor, Pak. Saya bilang ke Bapak bahwa kami menunggu sampai hari Kamis.”

Dia menatap orang tua itu.

“Bapak bayar hari Kamis. Terus Bapak pecat dia hari itu juga.”

Pak Wignyo membuka mulutnya.

“Saya tidak minta maaf soal telepon itu,” kata Kanaya. “Saya umur tiga belas dan saya melakukan satu-satunya hal yang bisa saya lakukan.”

Dan lalu dia berkata yang terakhir, dan dia mengucapkannya lebih pelan daripada seluruh kalimat sebelumnya, dan seluruh gang itu diam:

“Yang saya minta cuma satu, Pak. Kalau Bapak mau cerita, ceritanya yang benar.”


Damar sudah bergerak.

Aku melihatnya dari samping. Dia menaruh nampan itu di kursi kosong dan berjalan ke meja dengan langkah cepat yang tidak pernah kulihat darinya.

“Pak Wignyo—“

“Ayah.”

“Lin, minggir.”

“Nggak.”

“Alina.”

Dan Alina Santika minggir.

Dia minggir karena laki-laki itu yang menyuruh, dan bukan karena hal lain, dan aku melihat wajahnya waktu dia minggir dan aku harus menoleh ke arah lain.

Damar berdiri di depan meja itu.

Dan dia membungkuk.

Dari pinggang. Dalam. Di depan lima puluh orang, di gang yang tertutup terpal biru, dengan sarung dan peci dan kaus putih sinoman.

“Pak, saya minta maaf.”

“Damar—“

“Anak-anak saya salah. Saya yang nggak bisa didik.”

Dan Pak Wignyo — enam puluh lima tahun, satu kios tersisa, gudang sudah dijual tahun lalu — mengangkat kedua tangannya.

“Wis, Le.”

“Saya minta maaf, Pak.”

“Wis. Wis, Le. Ora usah.” (“Sudah, Nak. Sudah. Tidak usah.”)

Dan suaranya pecah di kata terakhir.

Aku mendengarnya. Aku duduk tiga meter dari situ dan aku mendengar suara orang tua itu pecah, dan aku melihat tangannya bergerak setengah ke arah bahu Damar dan berhenti di udara.

Beliau berdiri dan pergi sepuluh menit kemudian.

Beliau tidak makan.


Damar tidak bicara dengan kami sampai malam.

Dia menyelesaikan sinoman-nya. Sampai selesai. Sampai orang terakhir pulang jam empat sore.

Lalu dia membantu membongkar tenda.

Lalu dia membantu mengangkut kursi plastik ke rumah Pak Kirno, dua ratus kursi, bertumpuk sepuluh-sepuluh, sendirian dan dengan dua bapak lain sampai jam enam.

Aku tidak pulang.

Aku tidak tahu kenapa aku tidak pulang. Aku duduk di kursi plastik terakhir yang belum diangkut, di gang yang sudah terbuka lagi, dengan gamis batik yang terlalu bagus dan sandal yang kotor.

Kanaya duduk di sebelahku jam setengah enam.

Alina jam enam kurang.

Kami bertiga duduk berjajar di tiga kursi plastik di mulut gang Sidomulyo dan menonton laki-laki itu mengangkat kursi.


“Mbak nggak kaget.”

Alina yang bicara duluan.

“Kaget,” kataku.

“Nggak. Mbak nggak nutup mata.”

Aku menoleh kepadanya.

“Aku merhatiin Mbak,” katanya. “Waktu Mbak Nay ngomong. Semua orang di meja itu nunduk. Ibu-ibu di meja sebelah nutup mulut.”

Dia menatap ke depan.

“Mbak nggak.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Mbak juga nggak nyamperin,” kata Kanaya.

“Hah?”

“Habis itu. Waktu Kakak membungkuk.” Dia masih menatap ke depan juga. “Semua orang yang baik hati bakal nyamperin dia. Bilang nggak apa-apa. Bilang jangan minta maaf, kamu nggak salah.

Dia menoleh kepadaku untuk pertama kalinya sore itu.

“Mbak duduk di kursi Mbak.”

“Aku nggak tahu harus ngapain, Nay.”

“Aku tahu,” katanya. “Itu bedanya.”


Kami diam sekitar dua menit.

Damar mengangkat tumpukan kursi yang kesekian dan berjalan ke halaman Pak Kirno dan kembali lagi.

“Mbak,” kata Kanaya.

“Hm.”

“Yang bulan Desember itu.”

“Yang di kafe?”

“Iya.” Dia menyilangkan tangannya. “Mbak nanya sesuatu ke aku.”

Aku mengingatnya.

“Kamu pernah nanya dia mau apa,” kataku.

“Iya.”

“Terus?”

Kanaya menatap punggung laki-laki yang sedang mengangkat sepuluh kursi plastik sekaligus di ujung gang.

“Empat bulan,” katanya. “Aku mikirin itu empat bulan.”

Dia menarik napas.

“Dan aku nggak nemu satu pun, Mbak. Sepuluh tahun. Nggak satu pun.”

Dia mengatakannya dengan suara yang sama seperti dia membacakan angka di meja Pak Wignyo, dan itu yang membuatnya lebih buruk.

“Nay—“

“Aku bayar kontrakan. Aku daftarin BPJS. Aku beliin sepatu tiga ratus sembilan puluh ribu dan aku teriak waktu disimpen di kotak.” Dia mengangkat bahu. “Semuanya barang.”

Alina tidak bicara. Dia menunduk dan memainkan ujung kebayanya.

“Mbak Eliza.”

“Iya, Nay.”

“Mbak nanya sekali dan Mbak dapet jawabannya.”

Aku menoleh.

“Dia cerita ke Mbak, kan?” tanyanya. “Yang dia mau.”

Dan aku duduk di kursi plastik itu di mulut gang Sidomulyo, dan aku memikirkan trotoar di depan rumahku bulan Desember dan lutut yang bersentuhan dan dua puluh detik diam.

Guru.

Dan aku berkata, “Iya.”

Kanaya mengangguk sekali.

“Ya udah,” katanya.

Dia berdiri dan merapikan roknya.

“Mbak, hari Kamis Alina ulang tahun. Sembilan belas.” Dia memakai kembali nada yang dia pakai untuk urusan administrasi. “Kami makan di rumah. Jam tujuh, setelah Kakak pulang shift.”

“Nay—“

“Mbak dateng aja.”

Dan dia berjalan masuk gang.

Alina masih duduk di sebelahku.

“Mbak.”

“Iya?”

Dia masih menunduk.

“Mbak jangan bilang ke Ayah kalau Mbak Nay ngundang Mbak, ya.”

“Kenapa?”

Dan Alina Santika, sembilan belas tahun minus empat hari, dengan kebaya yang keringatnya sudah kering dan sanggul yang sudah lepas separuh, mengangkat kepalanya dan berkata:

“Soalnya nanti dia mikir dia ngerepotin.”