Chapter Forty
Dua Puluh Sentimeter
POV: Alina
Sejarah digendongnya begini.
Umur delapan sampai sebelas, tiap malam. Aku menunggu dia pulang di tikar ruang depan dan tidak pernah berhasil bangun, dan tiap pagi aku bangun di kamar dan tidak pernah ingat bagaimana caranya sampai ke sana.
Umur dua belas sampai tiga belas, masih. Lebih jarang, karena aku sudah mulai bisa bangun sendiri kalau dipanggil.
Umur empat belas, terakhir.
Aku ingat yang terakhir. Aku tidak tahu waktu itu bahwa itu yang terakhir; kalau tahu, mungkin aku akan memperhatikan lebih baik.
Aku setengah bangun. Aku merasakan tangan di bawah lutut dan di punggung, dan aku merasakan badanku naik.
Dan aku mendengar bunyi.
Bukan bunyi keras. Bunyi napas yang ditarik lewat gigi, sekali, pendek.
Dan besoknya aku tidak tidur di tikar lagi.
Aku tidak mengumumkannya. Aku tidak bilang apa-apa. Aku cuma mulai memaksa diriku bangun jam sepuluh dan masuk kamar sendiri, dan kalau ketiduran aku menyuruh Mbak Kanaya membangunkanku.
Empat tahun.
Dia tidak pernah menanyakan kenapa. Tentu saja tidak. Di rumah ini tidak ada yang menanyakan apa-apa.
Sekarang bagian yang harus aku ceritakan supaya adil.
Aku tahu dia sakit sejak dua bulan sebelum kejadian ini.
Aku sudah menceritakannya sekali, di kantin kampus, kepada lima orang yang baru kukenal delapan minggu, sambil marah. Itu satu-satunya kali aku mengucapkannya keras-keras.
Setelah itu aku menyimpannya.
Dan cara aku menyimpannya adalah dengan mengawasi.
Aku mulai menghitung batuknya. Malam, dari kamar, dengan pintu dibuka sedikit. Tiga sampai lima kali kalau bagus. Delapan sampai sepuluh kalau tidak.
Aku mulai memperhatikan piringnya. Berapa yang tersisa, berapa lama dia mengunyah.
Aku mulai memperhatikan cara dia turun dari motor.
Sebelas Januari, dia turun dan berpegangan ke jok selama dua detik sebelum melepas.
Delapan Februari, aku melihat dia menekan pinggangnya dengan kepalan tangan waktu berdiri dari tikar. Sekali. Dua detik. Terus dia jalan biasa.
Dua puluh dua Februari, dia minum sesuatu dari bungkus kecil warna kuning yang dia keluarkan dari saku celana kerja. Aku tanya itu apa. Dia bilang jamu pegal linu. Tiga ribu satu bungkus, katanya, di warung.
Aku mengeceknya. Warung Bu Ratih menjual itu. Tiga ribu.
Yang tidak dia sebutkan, dan yang aku tanyakan ke Bu Ratih dua minggu kemudian dengan alasan mau beli juga:
Dia membelinya tiga bungkus sehari.
Kejadiannya tanggal empat belas Maret.
Aku ingat tanggalnya karena besoknya ada UTS Statistika dan aku tidak belajar sama sekali.
Malam itu aku tidak ada tugas. Mbak Kanaya lembur, katanya sampai jam sembilan. Aku sendirian di rumah dari jam enam.
Dan aku duduk di ruang depan dan aku memikirkan sesuatu selama dua jam.
Aku akan menuliskannya apa adanya karena kalau tidak, seluruh bab ini jadi kecelakaan, dan ini bukan kecelakaan.
Yang aku pikirkan adalah: aku ingin digendong sekali lagi.
Itu saja. Sesederhana dan sebodoh itu.
Aku delapan belas tahun. Tinggiku seratus enam puluh dua. Berat badanku lima puluh satu kilo.
Aku tahu dia tidak bisa. Aku tahu persis dia tidak bisa; aku sudah menghitung batuknya selama dua bulan dan mencatat tanggal-tanggal dia menekan pinggangnya.
Aku ingin tetap begitu.
Aku ingin satu malam di mana aku delapan tahun lagi dan tidak tahu apa-apa dan bangun di kamar tanpa ingat bagaimana caranya sampai ke sana.
Jadi jam setengah sebelas, waktu aku mendengar motornya masuk gang, aku berbaring di tikar dan memejamkan mata.
Aku pura-pura bagus.
Aku sudah bilang itu di bab lain dan aku akan mengulanginya: aku pura-pura tidur dengan sangat bagus. Aku sudah berlatih sejak Ibu masih ada.
Napas pelan, mulut sedikit terbuka, satu tangan menggantung.
Aku mendengar dia melepas sandal.
Aku mendengar dia menutup pintu dengan dua tangan supaya tidak berbunyi.
Aku mendengar dia berhenti.
Diam agak lama. Mungkin lima detik.
Terus aku mendengar dia meletakkan helmnya di lantai — pelan, dengan dua tangan, yang mana bukan caranya biasa.
Terus langkah mendekat.
Tangannya masuk ke bawah lututku.
Aku merasakannya lewat celana. Punggung tangannya dulu, seperti biasa, lalu telapaknya.
Tangan yang satu lagi masuk ke bawah punggungku, di antara tulang belikat.
Dan aku merasakan dia bersiap.
Aku tahu bagaimana orang bersiap mengangkat sesuatu. Aku sudah melihatnya seumur hidupku. Kaki dibuka sedikit, badan diturunkan, punggung dijaga lurus.
Dia menarik napas.
Dan aku naik.
Dua puluh sentimeter.
Aku memperkirakannya sesudahnya, berkali-kali, dan aku selalu sampai di angka yang sama. Dua puluh sentimeter. Cukup untuk punggungku lepas dari tikar. Cukup untuk aku merasakan udara di bawah bahuku.
Lalu ada bunyi.
Bukan dari mulutnya.
Bunyinya dari punggungnya, dan aku merasakannya sebelum aku mendengarnya, karena tangannya menempel di punggungku dan getarannya sampai.
Bunyinya pendek. Basah. Seperti sesuatu yang bergeser di tempat yang seharusnya tidak bergeser.
Dan dia jatuh ke lutut.
Aku membuka mata.
Dia berlutut di lantai ruang depan dengan aku setengah di pangkuannya dan setengah di tikar, dan dia tidak bersuara sama sekali.
Itu bagian yang paling tidak bisa aku lupakan.
Dia tidak berteriak. Dia tidak mengaduh. Dia tidak mengeluarkan satu pun bunyi yang keluar dari orang normal yang punggungnya baru saja rusak.
Yang dia lakukan adalah menahan napas.
Wajahnya putih. Rahangnya terkatup sampai otot di pipinya menonjol. Dan matanya terbuka lebar dan menatap lantai di sebelahku dan tidak bergerak.
“AYAH—“
“Ssst.”
“Yah—“
“Sebentar.” Suaranya keluar lewat gigi. “Sebentar, Lin. Bentar.”
Dia menahan napas mungkin sepuluh detik.
Terus dia menghembuskannya, pelan sekali, dengan bibir hampir tertutup.
Terus dia bilang, “Udah.”
Dan itu bohong, karena tangannya masih gemetar di punggungku.
Aku menggeser diriku turun dari pangkuannya.
“Yah, aku panggil Mbak—“
“Jangan.”
“Yah—“
“Nay lagi kerja. Nggak usah.”
“Aku panggil Mas Haryo.”
“Lin.” Dia masih berlutut. “Jangan panggil siapa-siapa.”
Dan aku berhenti, karena aku selalu berhenti kalau dia bicara begitu, dan aku membenci diriku sendiri karena itu sampai sekarang.
Dia mencoba berdiri.
Dia bertumpu ke lantai dengan satu tangan, mengangkat satu lutut, dan berhenti di tengah jalan.
Dia mencoba lagi.
Berhenti lagi.
Yang ketiga kali dia berhasil setengah, lalu badannya miring ke kiri, dan aku memegang lengannya.
“Pegangan.”
“Nggak usah—“
“PEGANGAN, YAH.”
Aku memapahnya empat langkah.
Empat langkah, dari tengah ruangan ke tikar, dan itu memakan waktu mungkin satu menit penuh.
Lengannya di bahuku. Aku memegang pergelangan tangannya dengan tangan kanan dan pinggangnya dengan tangan kiri, dan aku bisa merasakan otot punggungnya mengeras seperti kayu di bawah telapak tanganku.
Dia lebih ringan dari yang aku bayangkan.
Aku tidak ingin menuliskan itu tapi aku harus, karena itu yang aku pikirkan waktu itu, dan aku memikirkannya di detik yang paling salah.
Aku menurunkannya di tikar. Duduk dulu, lalu miring, lalu berbaring.
Selesai berbaring, dia menutup matanya dan tidak bergerak selama mungkin dua menit.
Aku duduk di lantai di sebelahnya.
“Lin.”
“Iya.”
“Maaf.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Maaf,” katanya lagi. Matanya masih tertutup. “Nggak kuat.”
Dan aku duduk di lantai ruang depan petak nomor empat jam sebelas malam dan aku merasakan sesuatu naik dari perut ke tenggorokan dan aku tidak bisa menahannya.
“Yah.”
“Hm.”
“Ayah minta maaf?”
“Kamu kebangun.”
“AYAH MINTA MAAF SAMA AKU?”
Dia membuka matanya.
“Lin—“
“Aku pura-pura!”
Ruangan itu diam.
“Aku pura-pura tidur,” kataku. Suaraku sudah hancur. “Aku pura-pura, Yah. Aku tahu Ayah bakal ngangkat. Aku tahu.”
Dia menatapku dari tikar.
“Aku sengaja.”
“Lin.”
“Aku delapan belas. Aku lima puluh satu kilo. Aku tahu Ayah sakit. Aku ngitungin batuk Ayah tiap malem selama dua bulan.” Aku menyeka wajahku dengan lengan dan tidak ada gunanya. “Aku tahu semuanya dan aku tetep pura-pura.”
Dia tidak bicara.
“Terus Ayah yang minta maaf.”
Aku menangis di lantai itu mungkin sepuluh menit.
Dan dia tidak bisa duduk, dan dia tidak bisa menggeser badannya lebih dari beberapa sentimeter, jadi dia tidak bisa melakukan apa pun yang biasa dia lakukan.
Yang dia lakukan adalah mengulurkan tangannya.
Sampai setengah. Dari tikar, ke arah aku yang duduk di lantai sekitar satu meter darinya.
Dan aku menggeser diriku mendekat sampai kepalaku sampai ke tangannya.
Dia mengusap kepalaku dengan punggung tangannya, sekali, karena lebih dari sekali dia tidak sanggup.
“Kamu berat,” katanya.
Aku mengeluarkan bunyi yang setengah tawa setengah bukan.
“Iya.”
“Dulu enteng.”
“Iya.”
“Dulu Kakak bisa gendong sambil buka pintu.”
“Iya.”
Dan dia menutup matanya lagi, dan aku duduk di sebelahnya di lantai sampai Mbak Kanaya pulang jam dua belas kurang.
Mbak Kanaya melihatnya dari pintu dan langsung tahu.
Dia tidak bertanya apa-apa kepadaku. Dia menaruh tasnya, melepas sepatunya, dan langsung jongkok di sebelah tikar.
“Kakak kenapa.”
“Nggak apa-apa. Kesleo.”
“Kesleo di mana.”
“Pinggang.”
“Ngapain?”
Dan aku membuka mulutku untuk menjawab, dan Om Damar bicara duluan.
“Ngangkat karung di proyek. Sore tadi.”
Mbak Kanaya menoleh kepadaku.
Dan aku — dan aku akan menuliskan ini dan aku tidak akan mencari alasan untuk diriku sendiri — mengangguk.
“Iya, Mbak,” kataku. “Katanya di proyek.”
Besok paginya dia berangkat kerja.
Aku bangun jam lima dan dia sudah tidak ada, karena pasar jam dua.
Jam tujuh dia pulang untuk mengantarku ke kampus dan aku bilang aku naik angkot saja dan dia bertanya kenapa dan aku bilang searah sama Fitri.
Aku berdiri di mulut gang dan menonton dia menyalakan motor.
Dan aku melihat cara dia naik.
Dulu dia mengayunkan kaki kanan melewati jok. Satu gerakan. Sepuluh tahun begitu.
Pagi itu dia memiringkan motornya dulu dengan tangan kiri, menurunkan tinggi joknya, dan melangkah melewatinya. Bukan mengayun. Melangkah.
Terus dia melambai ke aku dan pergi.
Aku membuka HP-ku di angkot.
Aku membuat catatan baru.
Judulnya aku ketik: AYAH
Dan di bawahnya aku menulis baris pertama:
14 Mar — naik motor: nggak diayun. Dilangkahin.
Aku menatap layar itu sampai angkotnya sampai kampus.
Aku tidak tahu, waktu itu, bahwa Mbak Kanaya sudah punya kardus di bawah tempat tidurnya selama sepuluh tahun.
Aku tidak tahu bahwa di dasar kaleng biskuit ada buku tulis sampul cokelat.
Aku pikir aku sedang melakukan sesuatu yang baru.
Ternyata aku cuma orang ketiga di rumah itu yang mulai mencatat.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter reading
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku