Chapter Nineteen
Dua Amplop dan Satu Lemari
POV: Damar
Kanaya membawa pulang tiga brosur di bulan Mei.
Dia meletakkannya di lantai, berjajar, seperti orang menyajikan pilihan menu.
“SMA Negeri 1. SMK Negeri 2, jurusan Akuntansi. SMK Muhammadiyah, jurusan Administrasi Perkantoran.”
“Oke.”
“Aku mau yang tengah.”
Aku mengambil brosur SMK Negeri 2. Aku membacanya. Biaya masuk delapan ratus lima puluh ribu, SPP seratus dua puluh sebulan.
Lalu aku mengambil brosur SMA Negeri 1. Satu juta dua ratus, SPP seratus lima puluh.
“Kenapa yang tengah?”
“Lebih murah tiga ratus lima puluh di awal, tiga puluh sebulan.” Dia menjawab tanpa jeda, yang artinya sudah disiapkan. “Terus lulus SMK bisa langsung kerja. Nggak usah kuliah.”
Aku menaruh brosurnya.
“Nilai kamu berapa?”
“Kak—“
“Nilai kamu berapa, Nay?”
Dia diam sebentar.
“Delapan koma enam.”
“Peringkat?”
“Dua.”
“Dari?”
“Dua ratus empat puluh.”
Aku mengangguk pelan.
“Kamu mau Akuntansi?”
“Aku mau kerja.”
“Bukan itu pertanyaannya.”
Dan di situ dia berhenti.
Aku ingin mencatat sesuatu tentang malam itu, karena aku sering memikirkannya lagi sesudahnya.
Kanaya tidak pernah membantahku. Dalam sepuluh tahun, anak itu tidak pernah sekali pun membantah dengan cara yang biasa dilakukan anak seumurannya. Kalau dia tidak setuju, dia menyiapkan angka, dan angkanya biasanya benar, dan biasanya aku yang mengalah.
Malam itu aku tidak mengalah.
“SMA,” kataku.
“Kak, tiga ratus lima puluh itu—“
“Kakak tahu berapa itu.”
“Terus?”
“Terus kalau kamu masuk SMK Akuntansi, kamu bakal jadi lulusan Akuntansi yang paling bagus di angkatan kamu, terus kamu kerja di kantor mana pun di Wonoyoso, terus kamu bakal baik-baik aja.” Aku melipat brosurnya. “Dan kamu bakal ngerjain itu bukan karena kamu mau. Karena tiga ratus lima puluh ribu.”
“Emang kenapa kalau gitu?”
“Nggak apa-apa.” Aku menaruhnya di lantai. “Buat orang lain nggak apa-apa. Buat kamu nggak.”
“Kenapa buat aku nggak?”
Dan aku hampir menjawabnya.
Aku hampir mengatakan: karena kalau kamu ngambil keputusan berdasarkan tiga ratus lima puluh ribu di umur tiga belas, kamu bakal ngambil keputusan berdasarkan angka seumur hidup kamu, dan sepuluh tahun lagi kamu bakal punya pekerjaan yang bagus dan gaji yang cukup dan kamu nggak akan pernah bisa jawab kalau ada yang nanya kamu sebenernya mau apa.
Aku hampir mengatakan: dan Kakak tahu itu karena Kakak udah begitu.
Aku tidak mengatakannya.
“Karena kamu peringkat dua dari dua ratus empat puluh,” kataku. “Udah. Itu aja.”
Kanaya menatapku beberapa detik.
“Uangnya dari mana?”
“Ada waktu tiga bulan.”
“Kak—“
“Nay.” Aku menyodorkan brosur SMA itu kepadanya. “Isi formulirnya. Kakak yang mikirin uangnya. Itu pembagian tugasnya dari dulu, kan?”
Dia mengambilnya.
Dan dia tidak bilang terima kasih — dia tidak pernah bilang terima kasih, aku sudah terbiasa — tapi dia membaca brosur itu di lantai sampai jam sebelas malam, dua kali, dan waktu dia masuk kamar dia membawanya.
Aku tidak tidur malam itu.
Aku duduk di tikar dengan kaleng biskuit dan kertas dan bolpoin dan aku mengerjakan hitungannya seperti orang mengerjakan soal yang sudah tahu jawabannya tidak akan menyenangkan.
Satu juta dua ratus. Tiga bulan. Empat ratus sebulan, di luar semua yang sudah ada.
Bisa. Berat, tapi bisa. Kalau aku menambah satu shift lagi. Kalau amplop kedelapan tidak diisi selama tiga bulan. Kalau tidak ada yang sakit.
Aku menuliskannya sampai selesai.
Lalu aku duduk memandangi angka-angka itu, dan aku menyadari sesuatu yang lebih besar dari satu juta dua ratus.
SMA itu tiga tahun. Setelah tiga tahun ada yang namanya kuliah, dan kuliah itu bukan satu juta dua ratus. Kuliah itu belasan juta, mungkin puluhan, aku bahkan tidak tahu angkanya karena aku belum pernah punya alasan untuk mencari tahu.
Dan setelah Kanaya, ada Alina.
Aku mengambil dua amplop cokelat dari sisa yang dibeli Kanaya dulu.
Di amplop pertama aku menulis: KULIAH NAY.
Aku menatapnya.
Kanaya masuk SMA tiga bulan lagi. Lulus tiga tahun lagi. Artinya aku punya waktu tiga tahun untuk mengumpulkan sesuatu yang aku bahkan tidak tahu jumlahnya, sambil membayar SPP SMA-nya, sambil membayar SD Alina, sambil membayar sewa, sambil makan.
Tiga tahun.
Aku sudah tahu jawabannya sebelum selesai menghitung. Aku tetap menghitungnya sampai selesai, karena aku selalu menghitung sampai selesai, karena aku belajar itu dari anak yang sedang tidur di kamar sebelah.
Tidak cukup.
Bahkan kalau semuanya lancar, bahkan kalau tidak ada yang sakit, bahkan kalau aku menambah shift keempat — tidak cukup.
Aku sudah terlambat untuk Kanaya. Bukan tiga bulan terlambat. Bertahun-tahun.
Aku meletakkan amplop itu.
Lalu aku mengambil yang kedua, dan aku menulis: KULIAH LIN.
Alina kelas tiga SD.
Sembilan tahun.
Sembilan tahun itu waktu. Sembilan tahun itu artinya lima puluh ribu sebulan selama sembilan tahun adalah lima juta empat ratus, dan seratus ribu sebulan adalah sepuluh juta delapan ratus, dan sepuluh juta delapan ratus adalah angka yang tidak membuatku ingin muntah.
Aku memasukkan dua puluh ribu ke dalamnya.
Dua puluh ribu. Itu semua yang bisa kumasukkan malam itu.
Aku menutupnya, melipat ujungnya dua kali, dan menaruhnya di dasar kaleng biskuit, di bawah tujuh amplop harian.
Lalu aku mengambil amplop KULIAH NAY yang masih kosong.
Aku memegangnya cukup lama.
Aku tidak membuangnya.
Aku melipatnya dan menyelipkannya di antara tikar dan lantai, di bagian yang tidak pernah digulung.
Tiga tahun pertama amplop itu kosong.
Sesudahnya aku mulai mengisinya kalau ada lebih, dan mengeluarkannya lagi kalau ada apa-apa, dan ada apa-apa itu terjadi lebih sering daripada ada lebih.
Aku baru menghitung isinya sembilan tahun kemudian, di malam sebelum Kanaya wisuda.
Aku membuka lemari plastik jam dua pagi.
Aku tidak berencana melakukannya. Aku berdiri untuk mengambil selimut karena angin masuk dari celah pintu, dan selimutnya ada di rak bawah lemari, dan waktu aku membuka lemari itu aku melihat rak atasnya.
Seragam itu masih di sana.
Kemeja putih, badge OSIS, celana abu-abu. Digantung di hanger kawat, sendirian, di rak yang tidak dipakai untuk apa pun sejak kami pindah.
Aku menurunkannya.
Sudah delapan bulan. Ada bekas lipatan di lengan karena hanger-nya terlalu kecil. Kerahnya sedikit menguning di bagian dalam. Badge OSIS-nya masih terjahit di dada kiri; aku menjahitnya sendiri di kelas satu dan jahitannya jelek dan aku ingat Mbak Laras menertawakannya.
Aku menyalakan setrika arang jam dua pagi.
Aku tidak tahu kenapa. Aku sudah memikirkannya berkali-kali dan aku tetap tidak punya alasan yang masuk akal.
Aku menyetrikanya. Kemejanya, lalu celananya. Aku menyetrika lengannya dua kali karena yang pertama masih ada lipatan.
Aku menyetrika seragam yang tidak akan dipakai siapa pun, di ruang depan petak nomor empat, jam dua pagi, di malam yang sama aku menulis nama keponakanku di amplop dan nama satunya lagi di amplop yang kutinggalkan kosong.
Lalu aku menggantungnya kembali.
Aku merapikan kerahnya sebelum menutup pintu lemari, dan aku ingat berkata sesuatu — pelan sekali, kepada diriku sendiri, di dalam gelap.
“Sik, ya.” (“Nanti dulu, ya.”)
Aku bilang begitu setiap kali. Selama sepuluh tahun, setiap kali aku menyetrikanya, aku bilang begitu.
Empat kali. Aku menyetrikanya empat kali dalam sepuluh tahun.
Dan setiap kali, aku berbohong.
Kanaya masih bangun.
Aku baru sadar waktu berbalik dan melihat pintu kamar terbuka sedikit, dan cahaya lampu lima watt jatuh ke lantai kamar dalam satu garis, dan di dalam garis itu ada bayangan kaki.
“Nay.”
Garis itu bergerak. Pintunya membuka.
“Belum tidur,” katanya. Bukan pertanyaan; pernyataan, tentang aku.
“Kamu juga.”
“Aku ngerjain formulir.”
“Jam dua?”
“Ada yang harus dilampirin.” Dia keluar dan duduk di lantai. “Fotokopi akta. Sama surat keterangan dari kelurahan. Besok aku urus.”
“Kakak yang urus.”
“Kakak kerja.”
“Nay.”
“Aku yang urus,” katanya. “Kelurahan buka jam delapan. Aku masuk siang.”
Aku tidak membantah, karena membantah Kanaya soal urusan administrasi adalah membuang waktu yang bisa dipakai tidur.
Dia melihat setrika arang yang masih panas di lantai.
Dia melihat lemari plastik.
Dia tidak bertanya.
“Kakak udah makan?” tanyanya.
Aku menoleh.
Itu pertanyaannya. Bukan kenapa Kakak nyetrika seragam jam dua pagi. Bukan Kakak dapat uang dari mana untuk satu juta dua ratus. Bukan Kakak lagi mikir apa.
Anak itu punya seratus pertanyaan yang bisa dia ajukan, dan yang dia pilih adalah yang itu.
“Kakak sudah makan,” kataku.
Kanaya mengangguk.
Lalu dia berdiri, masuk ke kamar, dan menutup pintu.
Aku duduk di tikar. Setrika arangnya masih hangat di sebelah kakiku. Di dasar kaleng biskuit ada amplop berisi dua puluh ribu dengan nama seorang anak kelas tiga SD di atasnya, dan di bawah tikarku ada amplop kosong dengan nama seorang anak kelas satu SMA yang belum dimulai.
Dan aku ingat berpikir, sebelum akhirnya tidur jam tiga lewat:
Sembilan tahun cukup buat Alina.
Untuk Kanaya, aku tinggal berdoa dia nggak pernah nanya.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari reading
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku