← Kakak Sudah Makan

Chapter Forty Nine

Buku Induk

POV: Kanaya

Mereka datang hari Sabtu jam empat sore.

Aku yang membuka pintu.

Mbak Eliza berdiri di teras dengan seorang laki-laki tua yang memakai kemeja lengan panjang dan memegang map plastik dengan dua tangan.

Aku belum pernah melihat orang itu.

Aku sudah dua bulan tidak melihat Mbak Eliza.


Dua bulan itu berjalan begini.

Setelah ulang tahun Alina — setelah malam buku sampul cokelat, setelah dua puluh menit di dalam mobil di mulut gang — perempuan itu tidak datang lagi.

Aku sempat mengira dia yang menjauh.

Lalu aku menghitung.

Om Damar pindah ke proyek Ngadirejo tiga hari sebelum ulang tahun Alina. Dia yang mengajukan. Mas Haryo menawarkannya tiga minggu sebelumnya dan dia menolak, dan dia berubah pikiran dalam satu hari, dan hari itu adalah hari setelah dia pulang dari rumah Griya Asri jam sepuluh pagi.

Aku menanyakannya ke Alina.

Alina bilang, “Ayah nggak pernah nyebut Mbak Eliza lagi. Sama sekali. Dari bulan Maret.”

Anak itu menghitung juga sekarang. Kami bertiga sudah jadi orang yang sama.

Jadi bukan Mbak Eliza yang menjauh.

Dan aku tidak melakukan apa-apa selama dua bulan, karena aku sudah belajar bahwa di rumah ini tidak ada yang boleh didesak, dan karena aku pengecut.


“Sore, Nay.”

“Sore, Mbak.”

“Ini—“ Dia menoleh ke laki-laki tua itu. “Ini Pak Umar Setiadi.”

Dan aku berdiri di ambang pintu petak nomor empat dan aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.

Karena aku tahu nama itu.

Aku tahu nama itu sejak umur dua belas tahun.

Ada kertas di dompet Om Damar. Dilipat empat, ditulis dengan huruf besar semua supaya jelas terbaca. Nama, alamat, NIP, nomor telepon rumah.

Kertas itu dibawa ke mana-mana selama bertahun-tahun. Aku melihatnya waktu dia mengeluarkan KTP. Aku melihatnya waktu dia mencari uang.

Aku tidak pernah bertanya siapa.

“Bapak—“

“Kanaya, ya?” Suaranya pelan dan agak serak. “Bapak yang tanda tangan waktu kamu dua belas tahun.”


Aku menyuruh mereka masuk.

Aku menaruh dua kursi plastik. Aku membuat teh. Tanganku tidak stabil dan aku menumpahkan sedikit di nampan dan aku menyekanya dengan lap sebelum masuk.

Pak Umar duduk dan tidak menyentuh tehnya, dan aku sadar bahwa itu kebiasaan orang tua yang tahu bahwa menerima adalah bagian dari sopan santun dan meminum adalah bagian yang bisa dilewati.

Aku sudah melihat itu sekali. Bu Wulan, dari dinas sosial, sepuluh tahun lalu, di ruang depan rumah yang sudah tidak ada.

“Om Damar kerja, Pak. Pulangnya jam setengah lima.”

“Nggak apa-apa. Bapak nunggu.”

“Bapak—“ Aku duduk. “Bapak baru sembuh?”

“Dari mana kamu tahu?”

“Reuni April.” Aku menoleh ke Mbak Eliza. “Mbak Eliza cerita ke saya waktu itu.”

Pak Umar mengangguk.

“Jantung,” katanya. “Pasang ring dua. Bulan Maret.”

“Sekarang gimana?”

“Sekarang Bapak dilarang naik tangga sama istri Bapak.” Dia tersenyum tipis. “Dan Bapak dilarang nyetir sendiri. Makanya Bapak dianter.”

Dia menepuk map plastik di pangkuannya.

“Dan makanya Bapak ke sini sekarang.”


“Kanaya.”

“Iya, Pak.”

“Bapak mau ngomong sesuatu dulu, sebelum omnya pulang. Karena kalau ada dia, Bapak nggak akan bisa.”

Aku menaruh gelasku.

“Bapak tanda tangan jadi walinya kalian sepuluh tahun lalu,” katanya. “Bapak yang jamin ke dinas sosial. Bapak bilang ke mereka Bapak percaya sama anak umur tujuh belas.”

“Iya, Pak.”

“Dan Bapak kasih satu syarat ke dia.”

“Syarat apa?”

Dan Pak Umar menatap lantai ruang depan petak nomor empat.

“Dia tetep sekolah.”

Ruangan itu diam.

“Empat hari,” katanya. “Hari Senin dia janji. Hari Kamis dia berhenti.”

“Terus Bapak ngapain?”

Dan orang tua itu mengangkat kepalanya, dan wajahnya melakukan sesuatu yang membuatku harus menoleh ke arah lain.

“Nggak ngapa-ngapain,” katanya.


“Bapak nunggu dia dateng,” katanya. “Seminggu. Dua minggu. Sebulan.”

Dia memutar-mutar map plastik itu di pangkuannya.

“Bapak mikir: nanti kalau anaknya siap, dia dateng sendiri. Bapak mikir kalau Bapak nyamperin, dia malu.”

Dia menghela napas.

“Terus tiga bulan. Terus setahun.”

“Pak—“

“Bapak lewat gang ini, Nak.”

Aku berhenti.

“Bapak tahu alamat ini. Ada di berkas dinas sosial. Bapak yang nulis di formulirnya sendiri.” Suaranya mulai tidak stabil. “Dan Bapak lewat jalan raya di depan sana ribuan kali dalam sepuluh tahun. Ke sekolah, ke pasar, ke rumah mertua Bapak yang di Ngadirejo.”

Dia menatapku.

“Bapak nggak pernah belok.”


Aku tidak tahu harus berkata apa.

Aku ingin marah. Aku ingin sekali marah; aku sudah marah kepada banyak orang untuk hal-hal yang lebih kecil dari ini.

Dan aku tidak bisa.

Karena aku sedang duduk di ruangan yang sama dengan orang yang sepuluh tahun tidak pernah membuka buku sampul cokelat yang ada satu meter dari kepalanya setiap malam.

“Kenapa sekarang, Pak?”

“Karena Bapak masuk rumah sakit bulan Maret,” katanya. “Dan waktu di dalam, Bapak mikirin tiga hal.”

Dia mengangkat tiga jari.

“Istri Bapak. Anak Bapak yang di Jakarta.”

Dia menurunkan dua.

“Dan anak yang Bapak jamin waktu umur tujuh belas dan nggak pernah Bapak tengok.”


Dia membuka map plastik itu.

Isinya empat benda.

Yang pertama dua buku rapor. Sampul biru tua, sudah pudar, dengan stiker nama yang tulisannya sudah hampir hilang.

DAMAR PRASETYA — X-3 DAMAR PRASETYA — XI IPS 1

“Rapor kelas satu, lengkap dua semester. Rapor kelas dua, semester satu.” Pak Umar menaruhnya di lantai. “Nggak pernah diambil.”

Aku menatapnya.

“Sepuluh tahun di laci Bapak.”

Yang kedua selembar fotokopi.

Halaman dari sebuah buku besar, difotokopi, dengan garis-garis dan kolom-kolom.

“Ini buku induk,” katanya. “Fotokopinya. Yang aslinya di ruang TU, masih ada, Bapak cek tiga minggu lalu.”

Dia menunjuk satu baris dengan jarinya.

Nama: Damar Prasetya. NIS: … Kelas terakhir: XI IPS 1.

Lalu dia menggeser jarinya ke kolom di sebelah kanan.

Keterangan Keluar:

Dan kolom itu kosong.

Bukan kosong seluruhnya. Ada satu kata, ditulis dengan pensil, dengan huruf kecil, di sudut kiri kolomnya.

sementara


“Bapak yang nulis itu,” kata Pak Umar.

“Pakai pensil.”

“Pakai pensil.”

Aku menatap fotokopi itu.

“Kenapa pensil, Pak?”

Dan orang tua itu berkata, sangat pelan:

“Karena kalau pakai pulpen, Bapak nggak bisa hapus.”


Ruangan itu diam cukup lama.

Lalu Mbak Eliza bicara untuk pertama kalinya sejak masuk.

“Nay.”

“Iya, Mbak.”

Dan dia mengeluarkan dompetnya.

Dompet kulit warna cokelat tua, yang biasa, yang aku sudah lihat berkali-kali waktu dia membayar sesuatu di depanku.

Dia membukanya. Dia mengeluarkan kartu identitasnya. Dan dari belakang kartu itu, dia menarik selembar kertas yang dilipat tiga.

Kertasnya cokelat di lipatan.

“Ini yang keempat,” katanya.


Aku membacanya.

Aku harus membacanya dua kali karena yang pertama hurufnya tidak masuk ke kepalaku.

Kepada Yth. Bapak Kepala SMA Negeri 1 Wonoyoso di tempat

Sembilan baris.

Dan tulisan tangannya berdiri lurus, huruf demi huruf, dan marginnya rata, dan tidak ada satu pun coretan di seluruh halaman.

Dengan hormat, saya yang bertanda tangan di bawah ini, Damar Prasetya, kelas XI IPS 1, dengan ini menyatakan mengundurkan diri…

Dan di kolom alasan, dua kata:

alasan keluarga.

“Mbak.”

“Aku yang disuruh nyerahin,” kata Mbak Eliza. “Dia berdiri di depan TU dua puluh menit dan nggak bisa masuk, karena dinding ruang guru sama TU itu triplek.”

Dia menatap Pak Umar.

“Karena Bapak di dalam.”

Pak Umar menutup matanya.

“Terus Mbak?”

“Aku bawa ke loket. Bu Sri lagi nelepon. Beliau ngangkat satu jari, artinya bentar.”

Dia mengambil kertas itu dari tanganku.

“Dan dalam bentar itu aku mikir: kalau ini masuk, selesai.”

Dia melipatnya kembali. Tiga lipatan. Dia melakukannya tanpa melihat, karena tangannya sudah hafal.

“Terus aku masukin ke saku rok. Terus aku bilang ke diri sendiri: hari Senin.”

Dia memasukkannya kembali ke belakang kartu identitasnya.

“Sepuluh tahun, Nay. Tiga dompet.”


Dan aku duduk di lantai ruang depan petak nomor empat, di antara seorang guru berumur enam puluhan yang baru pasang ring jantung dan seorang perempuan berumur dua puluh tujuh tahun yang memindahkan selembar kertas melewati tiga dompet, dan aku mengerti sesuatu yang membuatku harus menaruh gelas teh ke lantai karena tanganku tidak bisa memegangnya.

Dua orang.

Dua orang yang tidak saling kenal sampai minggu lalu, di dua tempat yang berbeda, tanpa berkoordinasi, tanpa saling tahu.

Yang satu menulis sementara dengan pensil di buku induk sekolah.

Yang satu memindahkan surat pengunduran diri melewati tiga dompet selama sepuluh tahun.

Dan hasilnya, secara administratif, di kertas, di negara ini:

Damar Prasetya tidak pernah berhenti sekolah.


Dia pulang jam setengah lima.

Aku mendengar motornya dari dua ratus meter, seperti biasa.

Dan aku mendengar bunyinya berhenti lebih awal dari biasanya — di mulut gang, bukan di depan teras.

Aku berdiri.

“Kanaya.”

“Iya, Pak.”

“Bapak yang ngomong.”


Dia masuk empat menit kemudian.

Dia berdiri di ambang pintu dengan helm di tangan dan celana kerja penuh noda semen.

Dan dia melihat siapa yang duduk di ruang depannya.

Dan dia tidak bergerak sama sekali selama mungkin sepuluh detik.

“Damar,” kata Pak Umar.

Om Damar tidak menjawab.

“Damar.”

Dan laki-laki yang membesarkanku sejak umur dua belas tahun — yang tidak menangis waktu Pak Wignyo mempermalukannya di hajatan, yang tidak bersuara waktu punggungnya rusak di lantai ruangan ini, yang berdiri di baris ketiga dari belakang di aula wisudaku dan pulang sebelum foto —

berdiri di ambang pintunya sendiri dan mulutnya bergerak dan tidak ada suara yang keluar.

Lalu dia meletakkan helmnya di lantai.

Dan dia menunduk.

Bukan membungkuk seperti di hajatan. Dia menunduk saja, ke lantai, dengan kedua tangan di sisi badan.

“Pak.”

“Sini, Le. Lungguh.” (“Sini, Nak. Duduk.”)

“Pak, saya—“

“Damar.”

“Saya janji hari Senin.”

Suaranya hancur di kata terakhir.

“Saya janji hari Senin, Pak. Terus hari Kamis saya—“

“Bapak tahu.”

“Sepuluh tahun saya nggak berani—“

“Bapak tahu, Le.” Pak Umar berdiri, pelan, dengan satu tangan di kursi plastik. “Sini. Lungguh.”

Dan Om Damar duduk di lantai ruang depannya sendiri, dan orang tua itu duduk kembali di kursi plastik, dan tidak ada yang bicara selama mungkin satu menit penuh.


Pak Umar menyerahkan dua rapor itu.

“Ini punyamu. Sepuluh tahun di laci Bapak.”

Om Damar tidak mengambilnya.

“Ambil, Le.”

Dia mengambilnya.

Dan dia membukanya — yang kelas satu, semester satu — dan aku duduk di seberangnya dan aku melihat matanya bergerak dari atas ke bawah, membaca kolom nilai anak berumur enam belas tahun.

Lalu dia menutupnya.

“Terus ini,” kata Pak Umar, menyerahkan fotokopi buku induk.

Dan dia menjelaskannya. Kolom keterangan keluar. Kata sementara dengan pensil.

Dan Mbak Eliza mengeluarkan dompetnya, dan mengeluarkan kartu identitasnya, dan menarik selembar kertas yang dilipat tiga dari belakangnya, dan meletakkannya di lantai di antara mereka.

Om Damar menatap kertas itu.

Dia tidak menyentuhnya.

“Liz.”

“Iya.”

“Kamu—“

“Iya.”

“Sepuluh tahun?”

“Sepuluh tahun.”

Dan dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, di lantai ruang depan petak nomor empat, jam lima kurang sore, dan bahunya bergerak.

Tanpa suara.

Seperti biasa.


Pak Umar menunggu sampai dia selesai.

Lalu beliau mengeluarkan benda keempat dari map plastik itu.

Selembar kertas. Ukuran folio, sudah menguning, dengan kop sekolah dan tabel isian.

FORMULIR PEMINATAN STUDI LANJUT — TAHUN AJARAN … — KELAS XI

“Ini yang terakhir,” kata Pak Umar. “Dan ini yang bikin Bapak ke sini.”

Om Damar menurunkan tangannya.

“Kamu ngisi ini bulan Agustus,” kata Pak Umar. “Dikumpulkan tanggal delapan belas.”

“Saya nggak inget, Pak.”

“Bapak tahu kamu nggak inget.”

“Saya—“ Dia menggosok wajahnya dengan telapak tangan. “Saya udah coba inget berkali-kali, Pak. Bertahun-tahun. Saya nggak bisa.”

“Iya,” kata Pak Umar. “Makanya Bapak simpan.”


Beliau membaliknya dan meletakkannya di lantai.

Dan aku melihat dari tempatku duduk.

Tulisan tangan yang berdiri lurus. Anak umur enam belas tahun.

Nama: Damar Prasetya Kelas: XI IPS 1

Pilihan 1: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pilihan 2: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pilihan 3:

Dan di bawahnya, di kolom yang bertuliskan Alasan (singkat), ada satu kalimat yang ditulis dengan huruf yang lebih kecil, seperti orang yang menulis sesuatu yang dia harap tidak dibaca keras-keras:

Saya ingin bisa menegur murid tanpa membuatnya malu.


Aku tidak bisa menuliskan apa yang terjadi di ruangan itu selama dua menit berikutnya.

Aku sudah mencoba beberapa kali dan aku selalu berhenti.

Yang bisa kutuliskan cuma ini:

Pak Umar berkata, “Kamu satu-satunya di angkatan itu yang nulis pendidikan. Dari dua ratus tiga puluh anak.”

Dan Om Damar berkata, “Saya nggak inget nulis itu, Pak.”

Dan Pak Umar berkata, “Bapak inget.”


Beliau menjelaskan yang praktis sesudahnya, dan aku mencatatnya karena aku yang selalu mencatat.

Ujian kesetaraan Paket C. Setara SMA. Ijazahnya diakui negara.

Karena rapor kelas satu lengkap dan kelas dua semester satu ada, dan karena statusnya di buku induk tidak pernah ditutup, berkasnya bisa diurus lewat sekolah, bukan dari nol.

Biayanya. Waktunya. Jadwal ujiannya dua kali setahun, bulan Mei dan bulan Oktober.

Pak Umar sudah menanyakan semuanya. Beliau membawa kertas dengan tulisan tangan sendiri berisi tujuh poin.

“Bapak nggak minta kamu jawab sekarang,” katanya.

“Pak—“

“Bapak nggak minta kamu jawab sekarang, Damar.”

Dan Om Damar berkata:

“Iya, Pak.”


Dan aku duduk di ruangan itu dan aku mendengar dua kata itu, dan aku tahu.

Mbak Eliza tahu. Aku melihat wajahnya.

Dan Pak Umar tahu.

Karena orang tua itu diam sebentar, lalu berkata:

“Le.”

“Nggih, Pak.”

“Kamu tadi bilang iya sama Bapak.”

“Nggih.”

“Sepuluh tahun lalu kamu juga bilang iya.”

Om Damar tidak menjawab.

Dan Pak Umar Setiadi — enam puluhan, dua ring di jantungnya, dilarang naik tangga oleh istrinya — mencondongkan badannya ke depan di kursi plastik itu.

“Bapak nggak marah waktu itu,” katanya. “Bapak mau kamu tahu itu. Sepuluh tahun Bapak nggak pernah marah sama kamu sekali pun.”

“Pak—“

“Bapak marah sama diri Bapak sendiri.”

Beliau menepuk lututnya sendiri sekali.

“Dan Bapak nggak mau ngulang itu.”

Beliau berdiri.

“Jadi Bapak nggak nunggu kamu dateng lagi, Le. Bapak yang bakal ke sini. Tiap bulan. Sampai kamu ujian, atau sampai Bapak mati.”

Beliau mengambil mapnya.

“Bapak sudah enam puluh tiga. Bapak sarankan kamu ambil yang bulan Mei.”


Mereka pulang jam setengah enam.

Aku mengantar sampai mulut gang. Mbak Eliza yang menyetir.

Sebelum masuk mobil, dia berhenti.

“Nay.”

“Iya, Mbak.”

“Aku nggak balik gara-gara ini.”

“Saya tahu.”

“Aku balik karena Pak Umar minta dianter.”

“Iya, Mbak.”

Dan dia menatapku, dan aku menatapnya, dan dua-duanya tahu itu bohong dan tidak ada yang menyebutkannya.

Karena begitulah cara orang di sekitar laki-laki itu menyayanginya. Kami semua tertular.


Aku masuk ke rumah jam enam kurang.

Om Damar masih duduk di lantai ruang depan.

Rapor, fotokopi buku induk, surat pengunduran diri, dan formulir peminatan — keempatnya masih tergeletak di lantai di depannya, dan dia belum memindahkan satu pun.

Dia sedang membaca formulir yang terakhir.

“Kak.”

Dia tidak mengangkat kepalanya.

“Kakak nggak berangkat shift?”

“Bentar.”

“Udah jam enam kurang, Kak.”

“Bentar, Nay.”

Dan aku berdiri di ruangan itu.

“Kak.”

“Hm?”

Dan aku menanyakannya. Setelah dua bulan, setelah empat bulan, setelah sepuluh tahun.

Aku menanyakan pertanyaan yang diajarkan kepadaku oleh perempuan yang baru saja pergi dengan mobilnya, di sebuah kafe dekat alun-alun, bulan Desember.

“Kakak mau nggak?”

Om Damar mengangkat kepalanya.

Dan dia menatapku dari lantai, dengan empat kertas di depannya dan celana kerja penuh noda semen, dan mulutnya terbuka.

Dan dia batuk.


Aku pikir itu batuk biasa.

Sepuluh tahun aku mendengar batuk itu dari balik pintu kamar dan aku sudah hafal bunyinya, dan yang ini dimulai persis sama.

Yang kedua tidak sama.

Yang ketiga dia menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Dan waktu dia menurunkan tangannya, kedua telapaknya merah, dan ada yang menetes ke formulir peminatan yang tergeletak di lantai di depan lututnya, tepat di kolom yang bertuliskan:

Saya ingin bisa menegur murid tanpa membuatnya malu.