← Kakak Sudah Makan

Chapter Fifty

Koridor

POV: Kanaya

Aku menghitung sembilan menit dari lantai ruang depan sampai IGD RSUD Wonoyoso.

Aku menghitungnya karena aku menghitung semuanya, dan karena selama sembilan menit itu tidak ada satu pun hal lain yang bisa kukerjakan.

Mas Haryo yang menyetir. Aku meneleponnya dari HP dan dia mengangkat di deringan kedua dan dia tidak menanyakan apa-apa; dia bilang “Aku mangkat” dan menutup, dan mobil pinjaman itu sudah di mulut gang dalam empat menit.

Alina di belakang, memegangi kepala Om Damar di pangkuannya, dengan handuk.

Handuknya sudah tidak putih waktu kami sampai.


Aku tidak akan menuliskan tiga hari pertama secara berurutan.

Aku sudah mencoba dan aku tidak bisa. Yang ada di kepalaku bukan urutan; yang ada di kepalaku potongan-potongan, dan potongannya tidak mau disusun.

Yang bisa kutuliskan begini.

Malam pertama. Perdarahan berhenti sendiri jam tiga pagi setelah dia diberi obat lewat infus. Dokter jaga bilang volumenya sekitar dua ratus mililiter. Aku tidak tahu itu banyak atau tidak sampai aku mencarinya di HP di koridor jam empat pagi dan menemukan bahwa di atas enam ratus namanya masif dan bisa membunuh dalam hitungan menit, bukan karena kehabisan darah, tapi karena tenggelam.

Aku duduk di kursi besi koridor itu dan aku memikirkan kata tenggelam sampai jam lima.

Hari kedua. Embolisasi. Mereka memasukkan kateter dari pangkal paha, menyusuri pembuluh sampai ke dada, dan menutup pembuluh yang bocor dari dalam.

Tiga jam.

Dr. Purnomo bilang tingkat keberhasilannya tinggi. Delapan puluh sampai sembilan puluh persen berhenti.

Hari ketiga, jam sebelas malam. Berdarah lagi.


Aku bertemu dr. Purnomo dan dokter bedah torak di ruangan kecil di lantai dua hari Sabtu pagi.

Alina ikut. Aku menyuruhnya menunggu di luar dan dia tidak mau dan aku tidak punya tenaga untuk berdebat.

“Pilihannya dua,” kata dokter bedahnya. Namanya dr. Wibisono. “Kita coba embolisasi ulang, atau kita angkat.”

“Bedanya?”

“Embolisasi ulang lebih ringan. Nggak dibuka dadanya. Tapi kalau yang pertama gagal, kemungkinan yang kedua gagal juga naik.”

“Kalau diangkat?”

“Lobektomi kanan atas, mungkin sama segmen tengahnya. Kita buka dari samping.” Dia menunjuk sisi kanannya sendiri, di bawah ketiak. “Operasi besar. Empat sampai lima jam. Rawat inap sepuluh sampai empat belas hari.”

“Risikonya?”

Dan dokter itu menjawab tanpa memperhalus, dan aku bersyukur.

“Perdarahan waktu operasi. Kebocoran udara dari paru yang tersisa. Infeksi. Nyeri kronis di bekas sayatan, itu sering.”

Dia menaruh bolpoinnya.

“Dan risiko kematian di meja. Kecil, tapi ada.”

“Berapa?”

“Untuk kasus seperti ini, di tempat kami, di bawah lima persen.”

Aku mencatatnya.

Aku betul-betul mencatatnya. Aku mengeluarkan HP-ku dan aku mengetiknya, karena tanganku harus mengerjakan sesuatu.

“Kalau nggak dioperasi?”

“Dia akan berdarah lagi,” kata dr. Purnomo. “Kita nggak tahu kapan. Bisa tiga bulan, bisa dua minggu.”

“Dan kalau berdarahnya lebih banyak?”

“Kalau berdarahnya lebih banyak dan dia sedang sendirian,” kata dokter itu, “dia nggak akan sempat sampai ke sini.”


Kami masuk ke kamarnya jam sepuluh.

Kelas dua. Empat tempat tidur, tiga terisi. Tirai hijau.

Dia setengah duduk, dengan selang oksigen di hidung dan infus di punggung tangan kiri.

Dan dia sedang bicara dengan perawat.

“Mbak, ini yang di infus itu apa aja?”

“Cairan sama antibiotik, Pak.”

“Yang antibiotiknya sehari berapa kali?”

“Tiga.”

“Itu masuk BPJS?”

“Masuk, Pak.”

“Yang embolisasi kemarin masuk?”

“Masuk.”

“Yang kateternya juga?”

Perawat itu menoleh kepadaku dengan wajah orang yang sudah menjawab pertanyaan ini beberapa kali.

Aku menarik kursi.

“Kak.”

“Nay.” Dia mencoba menegakkan badan dan tidak berhasil. “Alina nggak kuliah?”

“Sabtu, Yah,” kata Alina.

“Oh. Iya.”


Aku menjelaskan pilihannya.

Aku menjelaskannya dengan lengkap dan berurutan, seperti aku menjelaskan rekonsiliasi bank kepada Bu Ike, karena itu satu-satunya cara aku bisa mengucapkan kalimat risiko kematian di meja tanpa suaraku hancur.

Dia mendengarkan sampai selesai.

Lalu dia bertanya satu hal.

“Rawat inapnya berapa lama?”

“Sepuluh sampai empat belas hari.”

“Terus setelah pulang?”

“Dokternya bilang nggak boleh angkat berat minimal tiga bulan. Nggak boleh kena debu selamanya.”

Dan dia mengangguk pelan.

Dan aku melihat matanya bergerak — ke kiri, sedikit, dan bibirnya bergerak tanpa suara — dan aku tahu persis apa yang sedang dia kerjakan, karena aku sudah melihat orang itu melakukannya sejak umurku dua belas tahun di bawah lampu lima watt.

“Kakak.”

“Hm?”

“Kakak lagi ngitung.”

“Nggak.”

“Kakak lagi ngitung, Kak.”

Dan dia berhenti.

“Empat belas hari,” katanya. “Terus tiga bulan nggak angkat berat.”

“Iya.”

“Alina semester depan bayar Juli.”

Dan aku berdiri dari kursi itu dan aku keluar dari kamar dan aku berjalan ke ujung koridor dan aku berdiri menghadap tembok selama mungkin dua menit.


Aku kembali membawa map.

Aku menaruhnya di atas selimutnya.

“Buka.”

“Nay—“

“Buka, Kak.”

Dia membukanya dengan satu tangan.

Cetakan rekening. Dua lembar. Dari bulan pertama aku bekerja sampai kemarin.

“Yang di bawah,” kataku.

Dan dia melihat baris terakhirnya.

Rp 19.480.000

“Ini apa?”

“Sepuluh bulan. Dua juta sebulan.” Aku duduk kembali. “Kadang lebih kalau ada lembur.”

“Nay, ini—“

“Empat belas juta empat ratus buat Alina sampai lulus. Sisanya lima juta lebih.” Aku mengambil map itu kembali. “Dan aku masih kerja, Kak. Tiap bulan masuk tanggal dua puluh delapan.”

Dia menatap selimutnya.

“Kakak nggak—“

“Kakak nggak apa?”

Dan dia tidak menyelesaikannya, karena dia tidak bisa, karena tidak ada satu pun akhiran untuk kalimat itu yang benar.

“Nay.”

“Iya.”

“Uang itu buat kamu.”

“Nggak,” kataku. “Uang itu udah lama bukan buat aku.”


Operasinya dijadwalkan hari Senin jam delapan pagi.

Hari Minggu kamar itu penuh orang.

Mas Haryo datang jam sembilan dengan istrinya dan tidak pulang sampai jam empat. Bejo datang jam sebelas dan berdiri di pojok dan tidak tahu harus berbuat apa selama satu jam.

Bu Ratih datang jam dua belas membawa rantang dan langsung berdebat dengan perawat soal apakah pasien boleh makan makanan dari luar.

Pak Umar datang jam dua, dianter menantunya, dan duduk empat puluh menit dan cuma bicara delapan kalimat.

Mbak Eliza datang jam tiga.

Dan Om Damar — yang selama tiga hari itu menghitung infus dan menanyakan apa saja yang masuk BPJS — tidak menghitung satu pun dari mereka.

Dia cuma menyuruh mereka duduk, satu per satu, dan menanyakan kabar masing-masing, dan minta maaf karena merepotkan.

Dia mengucapkan maaf ngerepotin sebelas kali hari itu. Aku menghitungnya.


Semua pulang jam lima.

Jam tujuh malam tinggal kami bertiga. Aku, Alina, dan Mbak Eliza yang tidak pulang dan yang tidak ada yang menyuruhnya pulang.

Jam delapan, perawat masuk membawa nampan.

“Pak, makan dulu ya. Besok pagi puasa dari jam dua belas malem.”

Nasi tim, ayam suwir, sup.

Dia makan tiga suap.

Lalu dia meletakkan sendoknya.

“Kak.”

“Kenyang.”

“Kakak makan tiga suap.”

“Nggak enak, Nay.”

“Kakak.”

Dan dia menoleh ke arah jendela dan berkata, “Nanti aja.”

Dan aku duduk di kursi plastik di sebelah tempat tidur itu dan aku tahu — dengan cara yang sangat jelas, sangat dingin, seperti tahu bahwa dua tambah dua adalah empat — bahwa dia tidak makan karena besok jam delapan dia masuk kamar operasi, dan karena di kepalanya sedang berjalan hitungan tentang apa yang terjadi kalau dia tidak keluar.

Perawatnya kembali jam sembilan.

Dia melihat nampan itu.

“Lho, Pak, kok nggak dimakan?”

Dan dia membuka mulutnya.

Dan aku bicara duluan.


“Kakak sudah makan,” kataku.

Perawat itu menoleh kepadaku.

“Tadi jam tujuh, Mbak. Dari luar,” kataku. “Yang ini kekenyangan.”

“Oh.” Dia mencatat di lembarnya. “Ya udah, saya tulis makan ya, Pak.”

“Iya, Mbak,” kataku.

Dan perawat itu keluar dengan nampan yang masih penuh.


Aku tidak menoleh selama mungkin sepuluh detik.

Lalu aku menoleh.

Dan Om Damar sedang menatapku.

Dia tidak berkata apa-apa. Dia tidak marah, dia tidak bertanya, dia tidak berterima kasih.

Dia cuma menatapku dengan cara yang tidak pernah kulihat selama sepuluh tahun, dan yang paling dekat aku bisa menamainya adalah:

seperti orang yang mengenali sesuatu.

“Nay.”

“Iya.”

“Kamu bohong.”

“Iya.”

“Buat Kakak.”

“Iya.”

Dan dia menutup matanya.

“Maaf,” katanya.

Dan aku berkata — dan aku ingat suaraku pecah di tengah dan aku tidak peduli —

“Sekarang Kakak tahu rasanya.”


Alina tidur di kursi jam sebelas.

Mbak Eliza keluar untuk membeli air dan tidak kembali selama dua puluh menit, dan waktu dia kembali matanya merah dan tidak ada yang menyebutkannya.

Jam setengah dua belas dia menyentuh bahuku.

“Nay. Kamu keluar bentar. Aku di sini.”

“Nggak usah, Mbak.”

“Nay.”

Dan aku keluar.


Koridor lantai dua RSUD Wonoyoso jam setengah dua belas malam itu kosong dan lampunya dimatikan setengah.

Aku duduk di kursi besi.

Dan aku mengeluarkan HP-ku dan membuka catatan dan mulai menulis daftar.

Aku menulis: Senin — konfirmasi ke Bu Ike, cuti 5 hari.

Alina — jadwal kuliah Senin Selasa, minta izin.

Bawa baju ganti 4, sarung, handuk.

Tanya perawat soal kursi tunggu depan OK.

Aku menulis sembilan poin.

Lalu poin kesepuluh, dan aku mengetiknya sampai selesai:

Kalau tidak keluar dari

Dan aku menghapusnya.

Dan aku mengetiknya lagi.

Dan aku menghapusnya lagi.

Dan aku menaruh HP itu di pangkuanku dan aku duduk di koridor rumah sakit dengan lampu setengah mati dan aku menangis untuk pertama kalinya sejak hari Kamis.

Tanpa keran.

Tidak ada keran di koridor.


Aku masuk lagi jam dua belas kurang.

Mbak Eliza berdiri dari kursi.

“Aku di luar, ya.”

“Mbak nggak pulang?”

“Nggak.”

Dan dia keluar dan menutup tirainya.

Om Damar belum tidur.

“Nay.”

“Kakak belum tidur.”

“Nggak bisa.”

Aku duduk di kursi plastik di sebelah tempat tidur.

Lampunya sudah dimatikan; yang menyala cuma lampu kecil di atas kepala tempat tidur, warnanya kuning, dan cahayanya jatuh dalam satu garis ke lantai.

Satu garis kuning.

Dan aku duduk di dalam garis itu dan aku mulai bicara.


“Kak.”

“Hm.”

“Aku mau ngomong satu hal. Dan aku mau Kakak nggak motong.”

“Iya.”

“Kakak janji nggak motong.”

“Iya, Nay.”

Aku menarik napas.

“Malam pertama di petak nomor empat,” kataku. “Waktu aku dua belas.”

Dia tidak bergerak.

“Kakak masuk ke kamar jam dua. Pintunya berdecit di awal terus diem.”

Aku menatap tanganku sendiri.

“Kakak benerin selimut Alina. Terus Kakak pindahin tangannya yang nggantung. Terus Kakak nyisir rambutnya pakai punggung tangan.”

Aku mendengar dia menarik napas.

“Terus Kakak ke sebelah aku. Dan selimut aku nggak apa-apa dan rambut aku nggak apa-apa dan nggak ada yang perlu dibenerin.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Dan Kakak jongkok di situ satu menit.”


“Nay—“

“Kakak janji nggak motong.”

Dia diam.

“Terus Kakak nyium kening aku,” kataku. “Terus Kakak nangis.”

Ruangan itu sunyi. Di tempat tidur sebelah, ada orang tua yang mendengkur.

“Aku bangun, Kak.”

Dan aku mendengar sesuatu — bukan kata, bukan napas, sesuatu yang lebih kecil dari itu.

“Aku bangun dari suara engselnya. Aku bangun sebelum Kakak masuk.”

Aku menutup mataku.

“Dan aku mikir, malem itu: kalau aku bangun, Kakak nggak akan berani nangis lagi.”

Aku membuka mataku lagi.

“Jadi aku pura-pura.”


“Sepuluh tahun, Kak.”

Suaraku sudah tidak bisa kupegang lagi tapi aku terus.

“Tiap malem. Aku ngitung sampai lima biar muka aku nggak gerak. Aku latihan napasnya. Aku bisa pura-pura tidur dengan mata gerak di balik kelopak biar keliatan REM, aku baca di internet waktu SMA.”

Aku menyeka wajahku dengan lengan.

“Sepuluh tahun aku bohong tiap malem. Dan aku pikir aku lagi jagain Kakak.”

Aku menoleh kepadanya.

“Dan sekarang aku dua puluh dua dan aku baru sadar apa yang aku lakuin.”

Dia menatapku.

“Aku bikin Kakak sendirian, Kak.”


“Nay.”

“Sepuluh tahun Kakak nangis di kamar yang isinya tiga orang dan Kakak pikir nggak ada yang tahu.” Aku memegang pinggiran tempat tidur itu. “Kalau aku buka mata malem itu — sekali aja, malem pertama — Kakak punya satu orang.”

“Nay.”

“Aku yang bikin Kakak nggak punya siapa-siapa.”

“Kanaya.”

Dan aku berhenti.

Dia mengulurkan tangannya. Yang kanan, yang tidak ada infusnya.

Sampai setengah.

Dan aku memegangnya.


“Kamu dua belas,” katanya.

“Kak—“

“Kamu dua belas tahun, Nay.”

Suaranya pelan sekali karena dia tidak bisa keras.

“Dan kamu mikirin gimana caranya biar Kakak nggak malu.”

Dia menggenggam tanganku, dan genggamannya lemah, dan itu yang paling tidak bisa kutanggung dari seluruh malam itu.

“Anak umur dua belas nggak mikir gitu, Nay.”

“Kak—“

“Nggak ada yang mikir gitu.”

Dan dia menarik tanganku sedikit — sedikit sekali, sampai ke sisi tempat tidur — dan berkata:

“Kakak sayang kamu.”


Aku tidak pernah mendengar kalimat itu dari orang itu.

Sepuluh tahun.

Aku mendengar makan dulu. Aku mendengar jangan telat. Aku mendengar pakai jaket. Aku mendengar Kakak yang mikirin uangnya.

Aku tidak pernah mendengar yang itu.

Dan aku menunduk sampai kepalaku sampai ke tangannya di pinggir tempat tidur, dan aku menangis di situ, dan dia melepaskan genggamannya dan meletakkan tangannya di kepalaku.

Punggung tangannya.

Selalu punggung tangannya.


Aku ingin mengucapkannya malam itu.

Aku ingin mencatat itu dengan jelas: aku ingin mengucapkannya, dan aku punya waktu, dan tidak ada yang menghalangi.

Dua kata.

Aku sudah menulisnya di halaman terakhir buku IPS waktu umurku empat belas tahun, dengan pensil, dihapus dan ditulis lagi berkali-kali sampai kertasnya tipis:

Terus aku bilang terima kasih.

Delapan tahun.

Dan malam itu, di kamar kelas dua RSUD Wonoyoso, jam satu pagi, dengan tangan orang itu di kepalaku —

aku tidak bisa.

Karena kalau aku mengucapkannya sekarang, dua belas jam sebelum dia masuk kamar operasi dengan risiko di bawah lima persen, maka itu bukan terima kasih.

Itu perpisahan.

Dan aku tidak mau memberikan itu kepadanya di malam sebelum dia harus tidur.

Jadi aku menyimpannya lagi.

Delapan tahun, dan aku menyimpannya lagi.


Mereka membawanya jam setengah delapan.

Kami mengantar sampai ujung koridor lantai tiga, sampai pintu dengan tulisan KAMAR OPERASI — SELAIN PETUGAS DILARANG MASUK.

Dia sudah pakai baju hijau. Rambutnya ditutup penutup kepala kertas.

Dia terlihat sangat muda.

Aku ingin menuliskan itu karena itu yang paling kuingat dari pagi itu. Tanpa kaus kerja, tanpa celana penuh semen, tanpa sepatu — laki-laki itu terlihat seperti umurnya yang sebenarnya, dan umurnya dua puluh tujuh, dan aku tidak pernah melihatnya seperti itu seumur hidupku.

Alina memeluknya duluan.

Dia memeluknya lama sekali sampai perawatnya harus berkata “Mbak, ya” dua kali.

“Lin.”

“Iya.”

“Kuliah.”

“Iya.”

“Jangan bolos gara-gara ini.”

“Iya, Yah.”

Dia mengusap kepala Alina dengan punggung tangannya.

Lalu dia menoleh kepadaku.


Dan aku memeluknya.

Yang kedua.

Sepuluh tahun, dan yang kedua, dan yang ini di koridor lantai tiga rumah sakit di depan Mas Haryo dan Bu Ratih dan Mbak Eliza dan dua orang perawat yang menunggu.

Dan aku tidak peduli sama sekali.

Aku memeluknya dan aku merasakan tulang rusuknya lagi lewat baju hijau tipis itu, dan aku merasakan tangannya naik dan berhenti dan naik lagi —

dan kali ini tidak berhenti.

Tangannya sampai ke punggungku.

Dua tangan.

Sepuluh tahun.

“Nay.”

“Iya.”

“Kakak titip Alina.”

“Nggak usah nitip.”

“Nay.”

“Nggak usah nitip, Kak. Kakak keluar sendiri terus Kakak urus sendiri.”

Dan dia tertawa — betul-betul tertawa, pendek, dan langsung batuk, dan perawatnya menyuruh kami sudah.


Pintu itu tertutup jam tujuh empat puluh dua.

Operasinya empat jam sepuluh menit.

Aku tidak akan menuliskan empat jam sepuluh menit itu.

Yang bisa kutuliskan: Mas Haryo tidak duduk sekali pun. Bu Ratih membaca Yasin sembilan kali. Pak Umar datang jam sepuluh dan dilarang naik tangga oleh menantunya jadi beliau naik lift dan duduk di kursi paling ujung.

Alina memegang tanganku selama tiga jam pertama.

Dan Mbak Eliza duduk di sebelahku dan mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan memegangnya di pangkuannya selama empat jam sepuluh menit tanpa membukanya.

Selembar kertas yang dilipat tiga, dengan lipatan yang sudah cokelat.


Dr. Wibisono keluar jam sebelas lima puluh dua.

Dia melepas maskernya.

“Keluarga Damar Prasetya?”

Kami semua berdiri. Semuanya. Delapan orang berdiri di koridor lantai tiga secara bersamaan dan dokter itu mundur setengah langkah.

“Lancar,” katanya.

Dan aku mendengar Bu Ratih mengucapkan sesuatu di belakangku dan aku mendengar Mas Haryo mengeluarkan suara yang bukan kata.

“Lobus kanan atas kita angkat, sama segmen enam. Perdarahannya lebih banyak dari perkiraan, tapi terkendali. Kita transfusi dua kantong.”

“Sekarang di mana, Dok?”

“Pemulihan. Nanti dua jam lagi ke ruangan.” Dia mengelap dahinya. “Dia masih di bawah obat bius. Belum sadar penuh sampai sore.”


Mereka mengizinkanku masuk jam dua siang. Satu orang, sepuluh menit.

Dia berbaring miring ke kiri dengan bantal di punggungnya. Ada selang dari sisi kanan dadanya yang masuk ke botol di bawah tempat tidur, dan di botol itu ada gelembung yang naik setiap kali dia bernapas.

Matanya tertutup.

Wajahnya bengkak sedikit dan bibirnya kering dan ada bekas plester di pipinya.

Aku menarik kursi dan duduk.

Dan aku memegang tangannya.

Dan aku menunggu sampai perawatnya berbalik untuk mengurus pasien di sebelah.


“Kak.”

Gelembung di botol itu naik satu kali.

“Kakak nggak denger, ya.”

Aku menggeser kursiku lebih dekat.

“Ya udah,” kataku. “Berarti aku bisa.”

Aku memegang tangannya dengan dua tangan.

“Terima kasih, Kak.”

Dan aku menunggu sesuatu terjadi dan tidak ada yang terjadi, dan gelembungnya naik lagi, dan itu saja.

“Terima kasih buat sepuluh tahun.”

Aku menunduk sampai keningku sampai ke punggung tangannya.

“Terima kasih buat pasar jam dua pagi. Terima kasih buat cuci piring delapan puluh malem buat SMA aku.” Aku menutup mataku. “Terima kasih buat gitar.”

Aku menarik napas.

“Terima kasih buat kolom yang di formulir Alina, yang Kakak tulis buruh angkut pasar padahal Kakak bisa tulis apa aja.”

Air mataku jatuh ke tangannya dan aku menyekanya dengan ibu jariku.

“Terima kasih buat baris paling belakang.”


Aku duduk di situ sampai perawatnya bilang waktunya habis.

Dan sebelum berdiri, aku melakukan satu hal.

Aku mengangkat tanganku ke kepalanya.

Dan aku menyibakkan rambut di keningnya — yang tidak perlu disibakkan, karena tidak ada yang jatuh ke sana, karena rambutnya masih tertutup penutup kepala kertas.

Dengan punggung tanganku.

Bukan telapak.

Punggung tangan, karena telapakku sekarang juga sudah tidak halus — sepuluh bulan mengetik dan sepuluh tahun mencuci dan menyetrika dan menyapu — dan aku tidak mau menggores kulitnya.

Aku tidak memutuskan itu.

Tanganku yang tahu.

Sepuluh tahun aku berbaring memunggungi pintu dengan mata terbuka di dalam gelap sambil merasakan gerakan itu di keningku sendiri, dan ternyata badanku menghafalnya tanpa pernah kuizinkan.


Dia sadar penuh jam setengah enam sore.

Yang pertama dia tanyakan, dengan suara yang hampir tidak keluar, dengan selang di dada dan oksigen di hidung, tiga jam setelah lima jam di meja operasi:

“Alina udah makan?”