Chapter Seven
Kata yang Baru
POV: Alina
Sinta punya tempat pensil dua tingkat dan aku tidak.
Itu tidak apa-apa. Aku sudah memikirkannya dan aku memutuskan itu tidak apa-apa, soalnya tempat pensilku ada gambar kelincinya dan tempat pensil Sinta cuma warna biru polos. Jadi kalau dihitung-hitung, kami seri.
Yang tidak seri adalah bagian jemputan.
Sinta dijemput ayahnya setiap hari pakai motor yang ada joknya panjang. Ayahnya pakai jaket ojek walaupun bukan ojek. Kalau Sinta keluar gerbang, ayahnya bilang “Yak!” terus Sinta lari.
Aku pulang jalan kaki, soalnya rumahku delapan menit.
Hari Rabu, waktu kami baris mau pulang, Sinta bertanya.
“Lin, kok kamu nggak pernah dijemput?”
“Rumahku dekat.”
“Ayahmu kerja?”
Aku bilang, “Ayahku nggak ada.”
Terus Sinta bilang, “Ibumu?”
Terus aku diam.
Ini bagian yang aneh. Aku tahu jawabannya. Aku tahu jawabannya sejak hari waktu semua orang datang ke rumah dan pakai baju hitam dan aku disuruh duduk di depan. Cuma kadang jawabannya tidak mau keluar. Kayak kalau kita tahu ejaan sebuah kata tapi tangan kita tidak mau menulisnya.
Jadi aku bilang, “Aku sama Om Damar.”
“Om itu apa?”
“Om itu adiknya ibu.”
Sinta mikir. Terus dia bilang, “Berarti kamu nggak punya ayah sama nggak punya ibu.”
Dia tidak jahat waktu bilang itu. Aku tahu Sinta tidak jahat. Dia cuma menjumlahkan, kayak di pelajaran.
Cuma waktu dijumlahkan begitu, hasilnya jadi terdengar besar sekali.
Aku memikirkan itu sepanjang jalan pulang. Delapan menit itu lama kalau dipakai mikir.
Yang aku pikirkan bukan soal ayah. Soalnya aku tidak ingat ayahku sama sekali, jadi tidak ada yang bisa dipikirkan. Kalau tidak ada di kepala, tidak bisa hilang.
Yang aku pikirkan adalah kenapa kata “Om” itu terdengar kecil.
“Om” itu kayak orang yang datang pas lebaran. Kayak orang yang kasih uang terus pulang. Om itu bukan orang yang bangunin kamu, bukan orang yang nyuci seragammu, bukan orang yang tidur di depan pintu.
Om Damar tidur di depan pintu.
Setiap malam, di tikar, di depan pintu, dan aku pernah tanya kenapa dan dia bilang di depan ada angin. Cuma di depan itu tidak ada angin. Aku pernah cek. Aku duduk di situ lima menit dan tidak ada angin sama sekali.
Terus aku sampai rumah dan aku belum selesai mikir.
Kejadiannya hari Jumat.
Aku sedang menggambar di lantai. Om Damar pulang kerja terus mandi terus keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut pakai handuk kecil.
Aku mau minta tolong. Krayonku yang warna cokelat masuk ke kolong lemari plastik dan tanganku tidak sampai.
Aku panggil.
“Ayah.”
Terus ruangannya jadi sepi.
Aku tidak sengaja. Sumpah aku tidak sengaja. Kata itu keluar sendiri, kayak kalau kita mau bilang “Bu Guru” terus malah bilang “Ibu”. Anak-anak di kelasku sering begitu terus semua ketawa.
Cuma di sini tidak ada yang ketawa.
Om Damar berhenti mengeringkan rambutnya. Handuknya masih di kepala, cuma tangannya berhenti.
Aku takut. Aku takut banget, dua detik itu, sampai perutku sakit.
Terus aku buru-buru bilang, “Eh. Om. Om Damar.”
Dia menurunkan handuknya.
Terus dia bilang, “Kenapa, Lin?”
Suaranya biasa saja. Kayak tidak terjadi apa-apa.
“Krayonku masuk kolong.”
Dia jongkok, memasukkan tangannya ke kolong lemari, mengeluarkan krayon cokelatku yang sekarang ada debunya. Dia mengelapnya di celananya sendiri sebelum dikasih ke aku.
“Nih.”
“Makasih.”
Dia berdiri. Dia mau jalan ke dapur.
Terus aku bilang, pelan banget, “Om marah nggak?”
Dia berhenti. Dia balik badan dan jongkok lagi supaya mukanya sama tinggi sama mukaku, dia selalu begitu, aku suka.
“Marah kenapa?”
“Tadi aku salah panggil.”
Om Damar diam agak lama.
Terus dia mengusap kepalaku. Bukan pakai telapak, pakai punggung tangan, dia selalu begitu juga, tanganku pernah aku coba tapi tidak enak, jadi mungkin cuma enak kalau tangannya dia.
“Nggak,” katanya. “Nggak salah.”
Terus dia berdiri dan masuk ke dapur, dan tidak bicara lagi.
Aku duduk di lantai sambil pegang krayon cokelat.
Aku ingat aku merasa senang sekali. Senang yang bikin dada penuh. Soalnya aku sudah siap dimarahi, terus ternyata tidak, terus dia bilang tidak salah.
Kalau tidak salah, artinya boleh.
Kan?
Aku mencobanya lagi hari Sabtu. Sekali. Waktu minta tambah nasi.
“Ayah, nasinya masih?”
“Masih.”
Dia bilang “masih” biasa saja, terus dia menyendokkan nasinya ke piringku, terus dia duduk lagi.
Terus aku mencobanya lagi Minggu, dua kali. Terus Senin, lebih banyak, aku tidak hitung.
Setiap kali, dia menjawab biasa saja.
Dan setiap kali dia menjawab biasa saja, dadaku penuh lagi.
Aku ingat aku berpikir, waktu itu: gampang banget, ternyata. Selama ini aku pikir untuk punya ayah kita harus dikasih. Ternyata tinggal dipanggil.
Yang aku tidak tahu adalah bagian Mbak Kanaya.
Aku baru tahu hari Selasa malam.
Aku bangun karena haus. Di kamar cuma ada aku, soalnya Mbak biasanya belajar dulu di ruang depan sampai malam.
Aku keluar buat ambil minum, terus aku lihat ruang depan gelap dan tikarnya kosong. Berarti Om Damar belum pulang, dia kadang pulang jam sepuluh.
Terus aku dengar suara.
Suaranya dari kamar mandi luar, yang di ujung deretan, yang pintunya kayu terus ada celah di bawahnya.
Aku ke sana. Aku pikir ada kucing.
Ternyata bukan kucing.
Ternyata Mbak Kanaya, di dalam, sendirian, dan Mbak sedang menangis.
Bukan menangis yang keras. Mbak menangis yang ditahan, yang bunyinya kayak orang cegukan tapi lebih dalam, dan ada suara air keran dinyalakan kecil, aku sekarang tahu itu supaya suaranya ketutup.
Aku berdiri di depan pintu itu lama sekali.
Aku mau mengetuk. Sumpah aku mau. Tanganku sudah naik.
Cuma terus aku ingat sesuatu.
Aku ingat kalau Mbak Kanaya tidak pernah menangis. Tidak waktu di pemakaman. Tidak waktu semua orang menangis dan memelukku sampai aku sesak. Tidak waktu lemari Ibu diangkat keluar sama Pak Sarwo.
Kalau orang yang tidak pernah menangis akhirnya menangis, dan dia melakukannya di kamar mandi, dan dia menyalakan keran—
Berarti dia tidak mau ada yang tahu.
Jadi aku turunkan tanganku dan aku balik ke kamar dan aku berbaring dan aku tidak jadi minum.
Mbak masuk sekitar dua puluh menit kemudian. Aku pura-pura tidur. Aku pura-puranya bagus, aku sudah latihan waktu Ibu masih ada, dulu buat menghindari disuruh mandi.
Mbak berbaring di sebelahku. Rambutnya basah di depan, mungkin dia cuci muka.
Napasnya belum benar. Kayak masih ada yang tersangkut.
Aku berbaring diam dan aku mikir keras-keras.
Kenapa Mbak nangis?
Aku bikin daftar di kepala. Aku suka bikin daftar.
Satu, mungkin dimarahi guru. Tapi Mbak tidak pernah dimarahi guru.
Dua, mungkin ada yang jahat di sekolah. Tapi Mbak besar, kalau ada yang jahat pasti Mbak yang menang.
Tiga, mungkin karena Ibu.
Tapi kalau karena Ibu, kenapa baru sekarang? Ibu sudah lama.
Terus aku ingat sesuatu.
Aku ingat kalau seminggu ini ada satu hal yang berubah di rumah ini, dan cuma satu, dan itu aku yang bikin.
Terus aku mengerti.
Aku mengerti dengan sangat jelas, kayak waktu Bu Guru menjelaskan soal cerita dan tiba-tiba angkanya masuk semua.
Mbak Kanaya pengin manggil “Ayah” juga.
Cuma Mbak malu. Mbak kan besar. Kalau anak besar manggil “Ayah” ke orang yang bukan ayahnya, pasti malunya lebih. Makanya Mbak nangis sendirian di kamar mandi.
Aku senang sekali waktu mengerti itu. Aku merasa pintar.
Jadi aku miring, menghadap Mbak, dan aku bisikin.
“Mbak.”
Napasnya berhenti sebentar. “Kamu belum tidur?”
“Mbak, besok Mbak panggil Ayah aja juga.”
Mbak Kanaya tidak menjawab.
“Nggak apa-apa kok,” kataku. “Aku udah coba. Om Damar nggak marah. Beneran. Dia bilang nggak salah.”
Mbak masih tidak menjawab.
Aku menunggu. Aku pikir mungkin dia tidur.
Terus aku merasakan kasurnya bergerak.
Bergerak sedikit, terus berhenti, terus bergerak lagi, dan aku bisa dengar Mbak menarik napas lewat mulut dengan cara yang aneh, sekali, dua kali.
“Mbak?”
“Tidur, Lin.”
“Mbak kenapa?”
“Tidur.”
Suaranya biasa. Cuma di akhir kata “tidur” itu ada yang naik sedikit, kayak lantai yang tidak rata.
Aku tidak mengerti kenapa.
Aku tidak mengerti waktu itu, dan aku tidak mengerti sampai bertahun-tahun sesudahnya, dan waktu akhirnya aku mengerti, aku sudah delapan belas tahun dan aku menangis di kamar mandi yang sama persis dengan cara yang sama persis, dengan keran dinyalakan kecil, supaya tidak ada yang dengar.
Tapi malam itu aku cuma delapan tahun.
Jadi aku bilang, “Ya udah. Aku tidur.”
Terus aku bilang lagi, karena aku ingin Mbak senang:
“Mbak jangan sedih. Sekarang kita punya lagi, kok.”
Dan aku tidur.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru reading
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku