Chapter Twenty Nine
Sepuluh Tahun, Diringkas
POV: Eliza
Aku duduk di mobil di depan Toko Sinar Jaya selama dua puluh menit setelah keramiknya dimuat.
Mesin menyala. AC menyala. Aku tidak menjalankannya.
Yang aku lakukan selama dua puluh menit itu adalah memegang setir dengan dua tangan dan mengulang satu kalimat di kepalaku, dan kalimatnya bukan kalimat yang bagus, dan aku akan menuliskannya apa adanya:
Kenapa masih di sini.
Bukan kok bisa ketemu. Bukan dia apa kabar.
Kenapa masih di sini.
Aku malu setengah mati mengakuinya. Tapi kalau aku tidak menuliskan yang itu, sisanya jadi bohong.
Aku harus meringkas sepuluh tahunku dulu, supaya jelas siapa yang sedang duduk di mobil itu.
Aku lulus SMA di Surabaya. Nilaiku bagus. Aku diterima Arsitektur di Surabaya juga, kampus negeri, dan aku menyukainya dari semester pertama sampai semester terakhir, yang mana kata teman-temanku hampir mustahil di jurusan itu.
Lulus lima tahun. Standar untuk arsitektur.
Aku kerja di biro konsultan di Surabaya enam tahun. Naik dua kali. Tahun terakhir aku memimpin tim empat orang untuk proyek renovasi hotel di Malang dan aku ingat berdiri di lobi yang baru selesai dan menangis di toilet karena bangga.
Aku punya pacar empat tahun. Namanya Adit, arsitek juga, orangnya baik. Kami putus dua tahun lalu karena — dan ini jawaban yang selalu kuberikan dan selalu benar — kami sudah selesai.
Ibuku menanyakan kapan menikah setiap lebaran sejak umurku dua puluh lima. Aku sudah menemukan tiga cara berbeda untuk menjawabnya.
Bapak stroke ringan bulan Februari. Tangan kirinya lemah, jalannya harus pakai tongkat, dan dokternya bilang kalau ada yang kedua, kemungkinannya jauh lebih buruk.
Ibu tidak bisa mengurus sendiri.
Adikku di Balikpapan, sudah menikah, punya dua anak.
Jadi aku yang pulang.
Aku resign bulan Maret dan pindah bulan April dan sekarang aku freelance, mengerjakan dua proyek kecil sambil mengurus rumah kami sendiri yang sudah tiga puluh lima tahun dan tidak pernah disentuh.
Itu sepuluh tahunku.
Dan yang harus aku tulis sekarang adalah bagian yang tidak enak:
Aku tidak pulang untuk mencarinya.
Aku tidak memikirkannya waktu memutuskan pindah. Aku tidak memikirkannya waktu mengepak. Aku tidak memikirkannya waktu melewati SMA kami di hari kedua dan melihat gerbangnya sudah dicat ulang warna hijau.
Ada tahun-tahun — betul-betul bertahun-tahun — aku tidak memikirkannya sama sekali.
Itu yang membuat dua puluh menit di mobil itu jadi tidak tertahankan.
Karena kalau aku sudah melupakannya, kenapa aku memindahkan kertas itu ke tiga dompet.
Aku ke warung itu sore harinya.
Aku bilang pada diriku sendiri aku cuma mau memastikan nomornya. Aku bahkan berlatih kalimatnya di mobil: Bu, saya mau pastiin nomor teleponnya, buat urusan proyek.
Warung itu masih di tempat yang sama, di mulut gang, dengan etalase kaca yang sama dan kursi panjang dari papan.
Ibu itu lebih tua. Wajar. Sepuluh tahun.
Beliau melihatku dari balik panci dan berhenti mengaduk.
Lalu beliau menaruh sutilnya, mengelap tangan ke celemek, dan berkata — tanpa aku sempat mengucapkan satu kata pun:
“Eliza.”
Aku berdiri di trotoar itu dan hampir menangis di depan orang yang belum kutemui sepuluh tahun.
“Bu Ratih inget?”
“Lha yo eling.” Beliau menarik kursi. “Lungguh.” (“Ya ingat. Duduk.”)
Aku di sana dua jam empat puluh menit.
Aku memesan teh. Beliau tidak mengizinkanku membayar apa pun, tidak sekali pun, dan waktu aku memaksa beliau bilang kalau aku memaksa lagi beliau tidak akan bercerita.
Jadi aku diam dan mendengarkan.
Dan aku akan menuliskannya di sini seperti beliau menceritakannya, karena aku menghabiskan sepuluh tahun membayangkan versi yang salah dan aku ingin versi yang benar tercatat sekali saja.
Tahun pertama, dia bekerja di pasar dari jam dua pagi. Bu Ratih tahu jamnya karena beliau membuka warung jam lima dan anak itu lewat jam tujuh, tiap hari, dengan celana basah sampai lutut.
Tahun pertama juga, dia beli nasi dua bungkus. Selalu dua. Tidak pernah tiga.
“Sepuluh taun, Nduk,” kata beliau. “Aku ngenteni sepuluh taun. Tak kira suk-suk ana owah-owahan. Ora tau.” (“Sepuluh tahun, Nak. Saya menunggu sepuluh tahun. Saya kira suatu saat akan berubah. Tidak pernah.”)
Tahun kedua ada gosip di gang. Beliau tidak menceritakan isinya. Beliau cuma bilang bahwa sejak itu, anak itu berhenti menyentuh kedua keponakannya di tempat umum, dan bahwa yang kecil butuh tiga minggu untuk berhenti bertanya kenapa.
Tahun ketiga majikannya menahan gaji tiga bulan. Anak yang besar, umur tiga belas, berlatih suara orang dewasa di kamar mandi umum selama dua puluh menit sebelum menelepon dinas tenaga kerja dari telepon di warung ini.
Aku meletakkan gelas tehku waktu beliau bercerita bagian itu.
Tahun keempat sampai kesembilan beliau ringkas dalam satu kalimat, dan kalimatnya begini:
“Kerja, kerja, kerja.”
Pasar jam dua sampai enam. Proyek jam delapan sampai empat. Cuci piring jam enam sampai sebelas malam.
“Sepuluh taun?” tanyaku.
“Sing cuci piring kuwi wiwit taun kapindho. Nganti saiki.” (“Yang cuci piring itu mulai tahun kedua. Sampai sekarang.”)
Yang besar, Kanaya, lulus SMA dengan nilai tertinggi kedua di angkatannya, kuliah negeri di Semarang dengan beasiswa penuh, dan wisuda tahun ini sebagai lulusan terbaik program studi.
Yang kecil, Alina, sekarang semester satu di STIE Wonoyoso.
“Wisudane wingi kae,” kata Bu Ratih. “Neng Semarang.” (“Wisudanya kemarin itu. Di Semarang.”)
“Bu Ratih ikut?”
“Ora. Aku njaga warung.” Beliau mengaduk pancinya. “Tapi bocahe balik jam setengah enem sore, terus langsung nyuci piring.”
Aku tidak mengerti.
“Maksudnya?”
“Wisudane jam sanga esuk neng Semarang. Bocahe bali jam setengah enem, langsung kerja nganti jam sewelas bengi.” (“Wisudanya jam sembilan pagi di Semarang. Anaknya pulang jam setengah enam, langsung kerja sampai jam sebelas malam.”)
Aku duduk di kursi papan itu dan merasakan sesuatu yang tidak bisa kunamai.
“Dia nggak ikut foto?”
Bu Ratih mengangkat bahu, dan gerakan itu — gerakan orang yang sudah sepuluh tahun menyaksikan hal-hal seperti ini dan sudah berhenti terkejut — adalah hal paling menyedihkan yang kulihat sepanjang hari itu.
Aku bertanya satu hal sebelum pulang.
Aku sudah menahannya dua jam.
“Bu.”
“Hm?”
“Dia nggak pernah sekolah lagi?”
Bu Ratih berhenti.
Beliau menatapku agak lama, dan aku merasa ditimbang, dan aku tidak tahu untuk apa.
“Ora,” katanya. “Sepisan wae ora tau ngomongke.” (“Tidak. Sekali pun tidak pernah membicarakannya.”)
“Nggak pernah nyebut sama sekali?”
“Ora tau.”
Dan lalu beliau melakukan sesuatu yang tidak kumengerti waktu itu.
Beliau menoleh ke rak paling atas di belakangnya. Rak yang isinya kaleng-kaleng kerupuk yang sudah tidak dijual lagi, dan toples-toples kosong, dan barang-barang yang sudah lama tidak disentuh siapa pun.
Beliau menatapnya selama mungkin tiga detik.
Lalu beliau berbalik lagi ke pancinya.
“Wis, Nduk. Mengko soremu keburu.” (“Sudah, Nak. Nanti sorenya keburu.”)
Aku pulang dan duduk di kamarku di rumah yang atapnya bocor di tiga titik.
Aku mengeluarkan dompetku.
Surat itu di belakang kartu identitas, tempatnya sejak dompet ini kubeli empat tahun lalu.
Kertasnya sudah cokelat di lipatan. Kalau kubuka terlalu cepat, dia akan sobek di garis tengah; aku tahu itu karena aku sudah hampir merobeknya dua kali.
Sembilan baris.
Kepada Yth. Bapak Kepala SMA Negeri 1 Wonoyoso, di tempat.
Tulisan tangannya masih sama. Aku melihatnya lagi hari ini, di catatan spesifikasi keramik yang dia pegang di toko, dan aku memastikannya tanpa berani melihat terlalu lama.
Huruf-hurufnya masih berdiri lurus.
Sepuluh tahun mengangkat karung, mengangkat beton, membongkar tembok, dan tulisan tangan orang itu tidak berubah sedikit pun.
Aku duduk di lantai kamarku dan aku menangis untuk pertama kalinya dalam mungkin dua tahun, dan aku menangis dengan sangat tidak elegan, dan aku bersyukur bapakku sudah tidur dan ibuku menonton televisi keras-keras di bawah.
Dan waktu aku selesai, aku duduk di lantai dan menyusun sesuatu.
Bukan rencana. Aku belum berani menyebutnya rencana.
Cuma daftar hal-hal yang tidak akan kulakukan.
Satu. Aku tidak akan mengasihaninya. Orang itu bisa mencium bau kasihan dari jarak lima puluh meter dan akan langsung hilang.
Dua. Aku tidak akan memberikan apa pun yang mahal. Dia tidak akan memakainya. Dia akan menyimpannya di kotak dan bilang sayang.
Tiga. Aku tidak akan membawakan makanan untuk mereka bertiga. Itu bagiannya orang lain. Kalau aku bawa untuk bertiga, dia yang akan tidak kebagian, dan dia akan bilang dia sudah makan.
Empat. Aku tidak akan menyebut soal sekolah. Belum. Mungkin lama.
Dan yang kelima, yang kutulis paling akhir dan paling lama kupikirkan:
Lima. Aku tidak akan menanyakan tentang dua anak itu, tentang uang, tentang kerjaan, atau tentang apa pun yang selama sepuluh tahun sudah ditanyakan seluruh dunia kepadanya.
Aku akan menanyakan hal lain.
Aku belum tahu apa.
Tapi aku sudah tahu, sambil duduk di lantai kamar itu dengan surat pengunduran diri berumur sepuluh tahun di pangkuanku, bahwa dalam dua jam empat puluh menit di warung itu aku sudah mendengar seluruh isi hidup seorang laki-laki berumur dua puluh tujuh tahun.
Setiap jamnya. Setiap rupiahnya. Setiap orang yang dia tanggung.
Dan tidak ada satu pun kalimat, dari dua jam empat puluh menit itu, yang menyebutkan apa yang dia suka.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas reading
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku